19 Maret 2011

Pemanfaatan Terror Secara Tidak Langsung

Udah banyak yang kasih analisis tentang kejadian terror bom belakangan ini. Mengingat aksi terror bom adalah misi konspirasi intelejen maka disorientasi menjadi sangat dominan, tak ayal lagi analisis pun beraneka ragam. Untuk mengetahui apa sesungguhnya terror bom tersebut  maka diperlukan analsis intelejen pula, bukan analisis metode ilmiah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Teror bom di Indonesia akhir-akhir ini dikategorikan sebagai konspirasi karena tidak ada satupun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas terror tersebut. Pada awal-awal aksi terrorisme muncul di muka bumi, para pelaku terror akan mengklaim bahwa merekalah yang berada dibalik aksi terror kemudian menyampaikan beberapa tuntutan. Dengan kata lain, para teroris memanfaatkan dampak langsung dari serangan terror.

Aksi terror juga dimanfaatkan mencapai tujuan secara tidak langsung. Sepanjang pengetahuan, pemanfaatan secara tidak langsung umumnya dilakukan oleh pihak negara untuk mencapai tujuan tertentu. Bagaimana negara menggunakan aksi terror? Menjelang Perang Dunia I, Sekretaris Negara AS William Jennings mencatat: Banyak para bankir yang tertarik dengan perang karena keuntungan yang diperoleh akan sangat besar. Selanjutnya dalam pembicaraan yang terdokumentasi antara Staf Ahli Presiden Woodrow Wilson yaitu Kolonel Edward House dengan Menteri Luar Negeri  Inggris Sir Edward Grey, disimpulkan bahwa jika ada kapal sipil Amerika ditenggelamkan oleh Jerman maka rakyat AS akan menghendaki perang. Sehingga pada tanggal 15 Mei 1915 Kapal Pesiar AS Lusitania diperintahkan untuk memasuki perairan yang dikuasai Jerman. Angkatan Laut Jerman menenggelamkan kapal tersebut menewaskan 1200 penumpangnya, kemudian AS pun mulai terlibat dalam Perang Dunia I.

Begitulah konspirasi terror yang dilakukan oleh negara akibat ulah para bankir.  Sebanyak 232.000 orang AS tewas dalam Perang Dunia I. JD Rockefeller mengeruk keuntungan sampai dengan 200 juta dolar. Pemerinta Amerika dililit utang sebesar 30 Milyar dolar.

Apakah kejadian yang memicu AS terlibat Perang Dunia I adalah kebetulan belaka? Jika memang kebetulan maka konspirasi terror di atas tidak akan berulang pada Perang Dunia II. Henry Stimson, Menteri Angkatan Perang AS pada tanggal 25 November 1941 membuat cacatan jurnal tentang percakapan Presiden Roosevelt yang membahas bagaimana cara memancing pihak Jepang untuk mulai menyerang Amerika. Kemudian berbagai cara diterapkan oleh Roosevelt demi memancing Jepang, contohnya seperti pembekuan aset-aset Jepang di AS. Dan beberapa hari sebelum serangan ke Pearl Harbor, Intelejen Australia memperingatkan adanya pergerakan pasukan Jepang menuju Pearl Harbor. Peringatan itu tidak dihiraukan sehingga 7 Desember 1941 Pearl Harbor diserbu Jepang menewaskan 2.400 tentara Amerika.

Sebelum penyerbuan Pearl  Harbor, 83% rakyat Amerika tidak menghendaki perang. Setelah penyerbuan, satu juta relawan Amerika mendaftar untuk terjun ke Perang Dunia II. Padahal pesawat-pesawat Jerman yang membunuh tentara Amerika takkan bisa terbang tanpa bahan bakar yang disuplay oleh perusahan dari Amerika sendiri, Standart Oil. Transaksi suplai bahan bakar pesawat ini dikelola oleh organisasi Union Banking Corp.  yang bermarkas di New York dan dipimpin oleh Prescott Bush yang tak lain adalah kakek dari mantan Presiden George W Bush.

Apakah konspirasi terror negara cuma pada Perang Dunia I dan II? Pada tahun 1964 dikabarkan dua kapal perusak Amerika diserang oleh Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Dengan alasan inilah Amerika terlibat dalam perang Vietnam. Namun beberapa tahun kemudian, mantan Menteri Pertahanan McNamara menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah suatu kesalahan. Disusul pernyataan beberapa mantan perwira yang menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah kebohongan yang ditujukan agar Amerika terjun ke Perang Vietnam.  Insiden Teluk Tonkin sebenarnya tidak pernah ada!

Mengapa Amerika dipancing terjun perang di Vietnam? Seperti yang sudah-sudah, alasan bisnis. Rockefeller membiayai pabrik-pabrik senjata di Rusia untuk mensuplai senjata pada pihak Vietnam Utara. Pihak perbankan menjadi jalan tol mulus untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari perang. Keterlibatan perbankan mengeruk keuntungan juga dapat ditemukan dalam Perang Korea, Perang Irak-Iran, Perang Mujahidin Afghanistan dan perang-perang lain.

Pada tahun 2000, hampir tidak ada peperangan yang berarti hingga peristiwa 11 September menjadi pemicu perang besar di Afghanistan dan Irak. Dan tentu dunia sudah mahfum siapa sesungguhnya yang berada dibalik peristiwa 11 September. Di tahun 2011, aksi Revousi Jasmine berlangsung damai di negara-negara sekutu AS tapi menjadi pertumpahan darah di negara yang bukan sekutu seperti Libya. Sehingga melegalkan Angkatan Udara sekutu membombardir Libya. Apakah demokrasi memang harus dibentuk dengan pengeboman dan kematian?  

Kembali ke Indonesia, apa tujuan terror bom yang dilancarkan akhir-akhir ini? Jika terror ini sengaja dilancarkan untuk mencapai tujuan tertentu secara tidak langsung, apakah merupakan jenis terror para bankir seperti terror-terror di atas? Mengingat Indonesia memiliki kasus perbankan yang tidak terselesaikan hingga saat ini, yaitu Kasus Century.

Hingga saat ini, terror bom di Indonesia baru memakan korban satu perwira polisi. Masih jauh lebih kecil dibanding 2.400 tentara Amerika yang dibiarkan tewas oleh pemerintahnya di Pearl Harbor, ataupun 232.000 tentara Amerika yang dikirimkan untuk tewas pada Perang Dunia I. Akankah kita harus berkorban lebih banyak?

03 Maret 2011

Iblis Reshuffle

Hak prerogatif diberikan kepada Presiden untuk menjalankan amanah demi kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan koalisi partai. Fasilitas negara juga digunakan untuk kepentingan negara dan bukan kepentingan partai. Jika wewenang tidak digunakan untuk bangsa dan negara melainkan untuk kepentingan partai pendukungnya, maka yang terjadi adalah berbagai salah urus.

Mana yang lebih mendesak untuk dibahas, kemacetan di Pelabuhan Merak atau koalisi yang pecah? Mana yang lebih mulia, memastikan pembangunan rumah murah atau merayu partai koalisi? Mana yang lebih bijak, pidato realitas bangsa atau menggertak koalisi yang bandel? Dan mana yang lebih penting, jabatan presiden atau nasib bangsa dan negara?

Daripada ribut-ribut saling tuduh, mendingan kita renungkan ucapan Nelson Mandela, "In order to build the nation, We should use every available bricks that we have." Mandela sangat konsisten dengan ucapannya ini sehingga ia tidak membalas dendam atas perlakuan orang kulit putih pada dirinya. Justru Mandela mengorbitkan ikon orang kulit putih yaitu Tim Rugby Afrika Selatan, hingga meraih juara dunia. Tak cukup sampai disitu, Mandela juga berhasil membuat bangsa Afrika Selatan menjadi layak sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepak Bola.

Mandela begitu pemaaf hingga mampu membawa Afrika Selatan mencapai persatuan, baik sebagai bangsa atupun sebagai kekuatan pengembangan pembangunan. Padahal saat itu Nelson berada dibawan ancaman perang antara kulir hitam vs Kulit putih. Mengapa Mandela bisa sedemikain pemaaf? Jawabnya bukan karena Mandela memiliki gelar profesor doktor melainkan karena Mandela memiliki kualitas spiritual yang tinggi.

Tanpa spiritualitas, manusia akan mudah diperbudak oleh nafsu kekuasaan yang keji. Nafsu kekuasaan di dalam diri Soeharto telah membuat Soekarno diperlakukan bagai binatang meskipun sudah jelas-jelas Soeharto berhasil merebut kekuasaan. Nafsu kekuasaan pula yang membuat Bani Umayyah membunuh Hasan bin Ali  meskipun Hasan sudah menyerahkan penuh kekuasaan pada Bani Umayyah. Tidak cukup sampai di situ, saudara kembar Hasan, yaitu Husein, pun dipenggal oleh Bani Umayyah. Itulah nafsu kekuasaan yang bisa membuat iblis kalah keji dibanding manusia.

Dalam iklim demokrasi, sangat berat mengharapkan munculnya penguasa yang amanah karena siapa pun yang menjadi penguasa harus diawali dengan nafsu kekuasaan demi memenangkan pemilu. Namun kita masih bisa melakukan usaha-usaha untuk mengingatkan agar penguasa tidak diperbudak oleh nafsu kekuasaan. Kita juga bisa mengembangkan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas spiritual pemimpin saat ini ataupun para calon pemimpin masa depan.

02 Maret 2011

Pergeseran Peradaan Global

Blog Titen sering mendapat cemooh saat menceritakan pertarungan antara  kekuatan ekonomi baru sebagai penantang konspirasi kekuatan ekonomi lama. Wawancara dengan perusahaan perikanan multinasional MPG di Metro TV menunjukkan kekuatan ekonomi baru sedang tumbuh di wilayah timur dengan konsep yang jauh berbeda dengan konsep barat. Jika kekuatan lama berorientasi pada usaha memanipulasi informasi agar terkesan baik, kekuatan baru justru muncul apa adanya dengan segala kebaikan dan keburukannya.

Terus terang, Blog Titen baru mengetahui tentang perusahaan bernama MPG dari wawancara di Metro TV tersebut. Selama ini, Blog Titen hanya membaca sistem perekonomian dunia yang mengarah pada persaingan dua buah kekuatan. Itu saja.

Kesamaan pandangan antara Blog Titen dengan MPG adalah bahwa krisis ekonomi yang terjadi di barat telah meruntuhkan struktur ekonomi. Sedangkan perbedaan utama antara Blog Titen dengan MPG adalah MPG tidak percaya bahwa pergeseran kekuatan ekonomi ini adalah sebuah siklus.  MPG mengganggap bahwa cara-cara manipulasi untuk menciptakan pencitraan atau kesan suatu produk atau merek hanya bisa dijalankan di barat, sedangkan di wilayah timur harus dengan pendekatan jiwa yang berakar pada kebenaran  informasi. Pendekatan MPG ini mungkin didasari pada pemahaman mengenai perbedaan cara pandang antara barat dan timur.

Jika kita perhatikan lebih mendalam perjalanan sejarah peradaban manusia, maka kita bisa melihat benang merah hubungan pasang surut antara spiritualitas dengan rasionalitas. Spiritualitas akan membuka cara pandang kita terhadap berbagai permasalahan, rasionalitas akan menterjemahkan cara pandang menjadi utilitas untuk mengatasi masalah. Sehingga kualitas spiritualitas dan rasionalitas akan terus berkembang, hanya saja tidak dapat dilakukan bersamaan melainkan secara bergantian dalam skala tertentu.

Spiritualitas telah membuat bangsa Mesir mengembangkan rasionalitas untuk membangun Piramid namun rasionalitas tak mampu menjawab misteri wabah yang melanda Mesir kala itu, sehingga peradaban Mesir mengalami kemunduran oleh spiritualitas baru yang dikenal sebagai ajaran Nabi Musa. Kebangkitan spiritualitas jaman aksial telah melahirkan rasionalitas tata kota bagi kerajaan Romawi namun rasionalitas tak mampu menata wilayah jajahan Romawi yang sudah sedemikian luas, sehingga Romawi mengalami kemunduran kemudian muncul spiritualitas baru yaitu Kristen dan Islam. Perkembangan spiritualitas Islam telah melahirkan rasionalitas tata pemerintahan bagi kerajaan islam namun rasionalitas justru menimbulkan perpecahan di kalangan muslim sendiri, sehingga Kerajaan Islam mengalami kemunduran kemudian spiritualitas Kristen mengalami kegairahan Renaisance.

Gairah spiritualisme Kristen abad ke lima belas telah melahirkan rasionalisme industri hingga ke era informatika, namun banjirnya informasi yang masuk ke otak tidak membuat kita semakin bijak. Banjirnya informasi malah justru dapat membuat kita terjebak dalam paradoks dimana di saat berbagai informasi semakin terungkap justru membuat kita mudah terjebak dalam pandangan-pandangan yang sempit.  Informasi tentang susu formula bisa membuat kita merasa tidak perlu memperhatikan perkembangan kecerdasan si anak karena sudah diyakini cerdas berkat susu. Informasi kurikulum sekolah bisa membuat kita merasa tidak perlu memberikan pendidikan di rumah. Dan seterusnya.

Rasionalitas dalam ilmu ekonomi modern mengajarkan agar kita berusaha seminimal mungkin untuk mendapatan hasil maksimal mungkin. Rasionalitas ini sangat bertentangan dengan hukum alam yang selalu seimbang. Keseimbangan ini yang tidak menjadi dasar petimbangan bagi pengambil kebijakan moneter Amerika Serikat ketika perekonomiannya tengah booming kredit kepemilikan rumah sehingga pada akhirnya menghasilkan kebijakan yang berakhir dengan krisis Subprime Mortgage.

Fase rasionalitas modern segera berakhir, para top manager dan pemimpin negara telah disibukkan oleh berbagai tuntutan dan kepentingan sehingga mulai kehilangan kemampuan rasionalitas, padahal permasalahan makin kompleks untuk di rasionalkan. Kini, kemajuan peradaban tengah beralih ke belahan bumi timur yang masih teguh memegang prinsip-prinsip spiritualitas.

Spiritualitas di belahan bumi timur memang belum menemukan bentuk untuk dapat memecahkan kompleksitas era informasi. Namun spiritualitas sudah mulai memberikan petunjuknya yaitu betapa penting sebuah transparansi.

Apakah kekuatan ekonomi lama yang bermain dengan pencitraan akan mengubah pola untuk mengikuti tuntutan transparansi ataukah akan terus melawan hingga titik darah penghabisan? Mari kita saksikan bagaimana panggung dunia menayangkannya.

Ada kesalahan di dalam gadget ini