07 Agustus 2011

Newmont versus Rakyat Jelata: Above The Law

Intelejen tidak harus beraksi layaknya James Bond, yang penting mampu melakukan tindakan-tindakan terobosan untuk mengatasi berbagai hambatan. Dari hambatan berwujud kekuatan musuh maupun hambatan-hambatan yang sengaja dibuat.

Misalnya, pemblokiran jalan akses PT Newmont oleh masyarakat diatasi dengan membentuk tim kerja untuk mengelola sebagian pajak dari PT Newmont untuk mempekerjakan warga masyarakat yang sakit hati tidak mendapatkan pekerjaan, untuk mengerjakan proses pembangunan di wilayah Nusa Tenggara. Ide gila ini bakal banyak melanggar aturan hukum. Dan itu tugas pejabat yang memiliki jiwa intelejen untuk dapat mengatasi hambatan hukum tersebut.

Sayangnya, ksepertinya engga banyak pejabat kita yang memiki kemampuan menjalankan proses intelejen. Contoh paling nyata adalah dapat dilihat dalam Kasus Century yang bisa diobrak-abrik sehingga mengendapkan dendam dalam diri bangsa.

Huft ...

02 Juni 2011

Jangan merendahkan Simbol-simbol Negara, Please ...

Kita smua tahu, Bapak Presiden juga manusia, bukan Superman. Jadi sangat wajar kalo mengeluhkan keadaan.

Tapi kalo bisa ya jangan mengeluh dengan menggunakan simbol-simbol kepresidenan, lengkap dengan atribut Garuda Pancasila dan Merah-Putih.
Khan sbagai simbol negara, Garuda Pancasila seharusnya menjadi ruh agar kita menjadi bangsa yang kuat dan memiliki cita-cita tinggi. Merah-Putih harusnya memancarkan keberanian dan kesucian,

Sebagai simbol negara, kepresidenan seharusnya menjadi simbol pemersatu seluruh komponen negeri, bukan untuk mengeluh, bukan pula untuk mengungkapkan adanya anak bangsa yang menjadi pengecut. Mungkin kita bisa belajar dari Soekarno, meskipun tuntutan pembubaran PKI sangat gencar namun Soekarno menggunakan lembaga kepresidennya untuk mempertahankan PKI karena walau bagaimanapun orang PKI adalah Warga Negara Indonesia.
 
Kalo belajar dari Soekarno udah kesulitan karena orangnya udah di alam baka, mungkin kita harus belajar pada adik-adik kita yang masih duduk di SMA ...
Adik-adik ini sedang mengerahkan segala kemampuannya untuk dapat memberikan penghormatan terbaik bagi simbol-simbol negara sebagai Paskibraka. Sedemikian keras mereka berusaha sampe-sampe ada yang pingsan,

JANGAN KITA KECEWAKAN MEREKA!!!!!!

15 Mei 2011

Perencanaan Pembangunan Karakter Bangsa ... bingung neh ....

Tugas untuk membangun fasilitas pembangunan karakter bikin aku browsing kemana-mana mencari sumber literatur bagaimana bentuk nyata proses pembangunan karakter. Ternyata engga mudah, alias engga ada contoh ... maklum, sarjana instant khas Indonesia yang engga bisa kerja kalo ga ada contoh!

Hampir semua tulisan tentang pembangunan karakter yang aku temukan hanya berkisar tentang definisi, tak menyinggung yang ngomong soal implementasi secara nyata. Jadilah aku kebingungan sendiri. Di sisi lain, aku sudah terlanjur memberikan konsep proposal pengembangan Youth Center Jogja sebagai kawasan pengembangan karakter pemuda, kepada Bapeda DIY. Di dalam proposal itu aku menuliskan proses pengembangan karakter hasil pemikiranku sendiri yang dibikin secara sedikit terburu-buru karna mengejar tenggat waktu.

Berdasarkan pengamatan sekilas tentang proses pembobrokan karakter bangsa, di dalam proposal aku menulis:

......
Pembangunan karakter bukanlah proses pendidikan dalam kelas, melainkan proses tumbuhnya kesadaran yang dibangun dalam interaksi antar individu. Oleh karena itu, metode pengembangan karakter ini menggunakan filosofi pembangunan dari pemerintahan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Hamangku, Hamengku dan Hamengkoni. Hamangku adalah proses yang ditujukan agar generasi muda dapat menampung segala masukan dan perbedaan (open minded). Hamengku adalah proses untuk melatih generasi muda untuk dapat menemukan unsur-unsur penyatuan dari elemen-elemen yang berbeda (creativity), dan Hamengkoni adalah proses pelatihan untuk dapat menemukan nilai tambah dari sinergi elemen-elemen yang berbeda (inovation).

Penciptaan Proses Hamangku
Pada saat ini, BPO telah memulai menciptakan proses Hamangku di lingkungan Youth Center melalui kerja sama dengan Forum Paseban Budaya Nusantara (FPBN). FPBN dalam kerja sama ini mendapatkan fasilitas kantor sekretariat bersama di Youth Center Yogyakarta untuk mewadahi para putra daerah yang kini berada di Yogyakarta.
Dengan hadirnya para putra daerah maka akan tercipta suasana perbedaan sehingga dapat memberikan pengalaman tentang perbedaan kepada setiap pemuda yang datang ke Youth Center. Pengalaman ini akan menjadi dasar penting bagi tumbuhnya sikap menerima perbedaan dimana sikap ini tidak bisa diajarkan sebagaimana pelajaran di sekolah melainkan harus diresapi melalui pengalaman langsung. Dengan memiliki dasar-dasar untuk menerima perbedaan maka akan mudah menumbuhkan cara pikir yang terbuka (open minded) untuk menuju Hamengku dan Hamengkoni.

Kawasan Penciptaan Proses Hamengku
Proses Hamengku merupakan proses aktualisasi dan komunikasi agar sesama pemuda dapat menunjukkan karaker pribadi dan keahlian masing-masing. Untuk mendukung proses aktualisasi dan interaksi ini maka diperlukan sarana kegiatan diluar ruangan seperti track sepeda, lapangan olahraga permainan, dan sejenisnya.

Kawasan Penciptaan Proses Hamengkoni
Merupakan proses pembentukan karakter masing-masing individu seperti kemampuan mengendalikan atau melawan rasa takut, mengungkapkan hasil pemikiran dan sejenisnya. Untuk mendukung terwujudnya proses ini maka perlu sarana penunjang seperti flying fox, sarana pentas, teknologi multi media dan sejenisnya.
.............

Aku engga yakin apakah proses pembentukan karakter di atas dapat bekerja ato engga, makanya malam ini aku browsing kian kemari mencari jawabanya. Tapi sayangnya engga nemu juga ... payah!

Ya sudahlah, berdo’a aja mudah-mudahan Tuhan kasih inspirasi, mudah-mudahan pula aku bisa ikhlas, karna aku mlakukan semua ini tanpa terima slip gaji ato dijanjikan dapet duit banyak, tapi demi Indonesia yang lebih baik bagi anak perempuanku. Kalo aku bisa bener-bener ikhlas, aku yakin inspirasi dari Tuhan bakal tok cer!

BTW, salah satu petunjuk implementasi pembangunan karaker yang paling mendekati proses nyata diberikan oleh seorang profesor, dia menulis begini:

.........
Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri individu peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar (learning experiences) yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur (structured learning experiences). Agar proses pembelajaran tersebut berhasilguna peran guru sebagai sosok anutan (role model) sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistent-life situation), dan penguatan (reinforcement) yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berprilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis.
........

Aku ternyata terlalu bodoh untuk bisa menyerap paragraf di atas dan mewujudkannya menjadi rencana riil. Jadi, ada pembaca Blog Titen yang mau bantu menjelaskan paragraf di atas dengan bahasa yang lebih sederhana? Please .......

10 Mei 2011

Proses Pembobrokan Karakter Bangsa

Masyarakat Indonesia mendapatkan pelayanan sewenang-wenang dari berbagai pihak. Dari dibohongi pulsa telpon, tauladan buruk sinetron, sampai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Perilaku sewenang-wenang itu terus tumbuh tapi masyarakat Indonesia terkesan diam saja alias engga protest ataupun menuntut secara hukum. Paling cuman satu dua aja yang protes dan tidak menimbulkan efek yang luas.

Tapi benarkah masyarakat Indonesia diam saja? Tidak! Dalam diam itu masyarakat kita meniru tindakan bohong, perilaku sinetron hingga perilaku tak bertanggung jawab. Akhirnya, jadilah kita bangsa berkarakter buruk!

Kita ambil contoh PLN. Udah berapa banyak masyarakat yang dirugikan oleh pelayanan PLN selama bertahun-tahun? Tak terhitung. Apakah ada bentuk tanggung jawab PLN terhadap kerugian masyarakat? Tidak ada, seakan PLN tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ia timbulkan. Tapi gimana jika hak PLN mendapatkan iuran listrik mengalami keterlambatan? PLN akan memutus aliran listrik.

Nah, sekarang kita lihat perilaku masyarakat kita. Berapa banyak masyarakat kita yang banyak melalaikan kewajiban tapi banyak menuntut hak? Berapa banyak penumpang angkutan umum yang ikut merasa bertanggung jawab atas kebersihan terminal?

Selama berbagai bentuk praktek perilaku buruk itu berlangsung, pembangunan karakter akan mengalami tantangan berat. Satu satunya jalan adalah dengan membangun sistem pembangunan karakter yang dapat memunculkan kesadaran dari dalam diri pribadi masing-masing generasi bangsa, bukan cuman dari ceramah atau pemaksaan peraturan.

19 Maret 2011

Pemanfaatan Terror Secara Tidak Langsung

Udah banyak yang kasih analisis tentang kejadian terror bom belakangan ini. Mengingat aksi terror bom adalah misi konspirasi intelejen maka disorientasi menjadi sangat dominan, tak ayal lagi analisis pun beraneka ragam. Untuk mengetahui apa sesungguhnya terror bom tersebut  maka diperlukan analsis intelejen pula, bukan analisis metode ilmiah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Teror bom di Indonesia akhir-akhir ini dikategorikan sebagai konspirasi karena tidak ada satupun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas terror tersebut. Pada awal-awal aksi terrorisme muncul di muka bumi, para pelaku terror akan mengklaim bahwa merekalah yang berada dibalik aksi terror kemudian menyampaikan beberapa tuntutan. Dengan kata lain, para teroris memanfaatkan dampak langsung dari serangan terror.

Aksi terror juga dimanfaatkan mencapai tujuan secara tidak langsung. Sepanjang pengetahuan, pemanfaatan secara tidak langsung umumnya dilakukan oleh pihak negara untuk mencapai tujuan tertentu. Bagaimana negara menggunakan aksi terror? Menjelang Perang Dunia I, Sekretaris Negara AS William Jennings mencatat: Banyak para bankir yang tertarik dengan perang karena keuntungan yang diperoleh akan sangat besar. Selanjutnya dalam pembicaraan yang terdokumentasi antara Staf Ahli Presiden Woodrow Wilson yaitu Kolonel Edward House dengan Menteri Luar Negeri  Inggris Sir Edward Grey, disimpulkan bahwa jika ada kapal sipil Amerika ditenggelamkan oleh Jerman maka rakyat AS akan menghendaki perang. Sehingga pada tanggal 15 Mei 1915 Kapal Pesiar AS Lusitania diperintahkan untuk memasuki perairan yang dikuasai Jerman. Angkatan Laut Jerman menenggelamkan kapal tersebut menewaskan 1200 penumpangnya, kemudian AS pun mulai terlibat dalam Perang Dunia I.

Begitulah konspirasi terror yang dilakukan oleh negara akibat ulah para bankir.  Sebanyak 232.000 orang AS tewas dalam Perang Dunia I. JD Rockefeller mengeruk keuntungan sampai dengan 200 juta dolar. Pemerinta Amerika dililit utang sebesar 30 Milyar dolar.

Apakah kejadian yang memicu AS terlibat Perang Dunia I adalah kebetulan belaka? Jika memang kebetulan maka konspirasi terror di atas tidak akan berulang pada Perang Dunia II. Henry Stimson, Menteri Angkatan Perang AS pada tanggal 25 November 1941 membuat cacatan jurnal tentang percakapan Presiden Roosevelt yang membahas bagaimana cara memancing pihak Jepang untuk mulai menyerang Amerika. Kemudian berbagai cara diterapkan oleh Roosevelt demi memancing Jepang, contohnya seperti pembekuan aset-aset Jepang di AS. Dan beberapa hari sebelum serangan ke Pearl Harbor, Intelejen Australia memperingatkan adanya pergerakan pasukan Jepang menuju Pearl Harbor. Peringatan itu tidak dihiraukan sehingga 7 Desember 1941 Pearl Harbor diserbu Jepang menewaskan 2.400 tentara Amerika.

Sebelum penyerbuan Pearl  Harbor, 83% rakyat Amerika tidak menghendaki perang. Setelah penyerbuan, satu juta relawan Amerika mendaftar untuk terjun ke Perang Dunia II. Padahal pesawat-pesawat Jerman yang membunuh tentara Amerika takkan bisa terbang tanpa bahan bakar yang disuplay oleh perusahan dari Amerika sendiri, Standart Oil. Transaksi suplai bahan bakar pesawat ini dikelola oleh organisasi Union Banking Corp.  yang bermarkas di New York dan dipimpin oleh Prescott Bush yang tak lain adalah kakek dari mantan Presiden George W Bush.

Apakah konspirasi terror negara cuma pada Perang Dunia I dan II? Pada tahun 1964 dikabarkan dua kapal perusak Amerika diserang oleh Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Dengan alasan inilah Amerika terlibat dalam perang Vietnam. Namun beberapa tahun kemudian, mantan Menteri Pertahanan McNamara menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah suatu kesalahan. Disusul pernyataan beberapa mantan perwira yang menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah kebohongan yang ditujukan agar Amerika terjun ke Perang Vietnam.  Insiden Teluk Tonkin sebenarnya tidak pernah ada!

Mengapa Amerika dipancing terjun perang di Vietnam? Seperti yang sudah-sudah, alasan bisnis. Rockefeller membiayai pabrik-pabrik senjata di Rusia untuk mensuplai senjata pada pihak Vietnam Utara. Pihak perbankan menjadi jalan tol mulus untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari perang. Keterlibatan perbankan mengeruk keuntungan juga dapat ditemukan dalam Perang Korea, Perang Irak-Iran, Perang Mujahidin Afghanistan dan perang-perang lain.

Pada tahun 2000, hampir tidak ada peperangan yang berarti hingga peristiwa 11 September menjadi pemicu perang besar di Afghanistan dan Irak. Dan tentu dunia sudah mahfum siapa sesungguhnya yang berada dibalik peristiwa 11 September. Di tahun 2011, aksi Revousi Jasmine berlangsung damai di negara-negara sekutu AS tapi menjadi pertumpahan darah di negara yang bukan sekutu seperti Libya. Sehingga melegalkan Angkatan Udara sekutu membombardir Libya. Apakah demokrasi memang harus dibentuk dengan pengeboman dan kematian?  

Kembali ke Indonesia, apa tujuan terror bom yang dilancarkan akhir-akhir ini? Jika terror ini sengaja dilancarkan untuk mencapai tujuan tertentu secara tidak langsung, apakah merupakan jenis terror para bankir seperti terror-terror di atas? Mengingat Indonesia memiliki kasus perbankan yang tidak terselesaikan hingga saat ini, yaitu Kasus Century.

Hingga saat ini, terror bom di Indonesia baru memakan korban satu perwira polisi. Masih jauh lebih kecil dibanding 2.400 tentara Amerika yang dibiarkan tewas oleh pemerintahnya di Pearl Harbor, ataupun 232.000 tentara Amerika yang dikirimkan untuk tewas pada Perang Dunia I. Akankah kita harus berkorban lebih banyak?

Ada kesalahan di dalam gadget ini