27 Januari 2011

Amerika menembus China, Management Innovasi dan Indonesia

Beberapa saat setelah mengirimkan proposal dengan judul "Satellite Based Business for Balancing Global Economy" kepada The Economist-Innocentive, terlihat mulai bermunculan beberapa langkah mengatasi resesi global yang sejalan dengan dengan proposal. Salah satunya adalah pemanfaatan satelit cuaca untuk yang diberikan melalui beberapa teknologi elektronik selain komputer dan seluler. Salah satunya adalah melalui media televisi yang dipelopori oleh Stasiun TV internet Hulu.

Resesi global kali ini disebabkan karena kegiatan ekonomi riil yang dilancarkan oleh China dengan produk super murahnya. Namun ada yang janggal dalam penanganan resesi ini dimana penanganan resesi yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui institusi perbankan adalah melalui kegiatan ekonomi yang tidak riil, yaitu melalui sektor finansial.

Sektor finansial memang berperan dalam menjadikan China sebagai raksasa produsen barang murah, tapi sektor finansial ini hanyalah sebagai katalisator saja. Dan katalisator itu telah diberikan sehingga perkembangan China menjadi tak terbendung. Mencoba mengendalikan katalisator akan menjadi sia-sia karena sistem manufaktur dan SDM China sudah menjadi naga yang amat kuat.

Dalam pidato terakhir Obama mengenai Union State ( atau State Union, yah? :) ) menyebutkan bahwa innovasi teknologi yang akan menyelamatkan perekonomian Amerika. Tentu saja hal ini merupakan berita yang menggembirakan, meskipun pentingnya inovasi ini sudah disadari oleh Blog Titen sejak tahun 2009. Yang penting, masih ada waktu bagi Amerika untuk menyelamatkan ekonominya dan mengembalikan keseimbangan perekonomian global.

Apa musuh terbesar inovasi? Tak lain dan tak bukan adalah Sistem Kapitalis. Sudah banyak korporat-korporat besar yang tanpa malu-malu mencuri hasil inovasi para peneliti independen. Maka jangan heran jika Tuhan menghancurkan korporat-korporat tersebut saat negara China gantian mencuri hasil inovasi tersebut. Tuhan akan selalu menyeimbangkan alam, bukan?

Lain halnya dengan sistem komunis yang katanya tidak menghargai hak azasi manusia. Negeri komunis seperti Uni Soviet memberikan penghargaan terhadap seorang manusia bernama Anthony Kalashnikov untuk mekanisme senapan ciptaannya. Dari huruf A dan K, seluruh dunia bisa tahu bahwa penemu senapan AK-47 adalah Anthony Kalashnikov. Tapi bagaimana dengan penemu senapan Amerika yang juga tak kalah terkenal, M-16? Apakah nama penemunya diawali dengan huruf M? Tidak. Demokrasi Amerika tidak menganggap bahwa setiap individu adalah diciptakan Tuhan sebagai satu entitas unik yang berberbeda dengan yang lain. Amerika menganggap satu individu adalah satu suara, tak jauh beda dengan individu lainnya. Itulah demokrasi.

Salah satu sejarah inovasi yang kelam di Amerika adalah tentang penemuan kontrol kecepatan wiper mobil. Kontrol kecepatan itu ditemukan oleh seorang peneliti independen kemudian dicuri oleh Ford Motor Company. Sialnya lagi, Ford malah mengklaim bahwa kontrol kecepatan tersebut adalah hasil temuannya. Sang penemu harus berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinyalah penemunya.

Budaya mencuri hasil inovasi a la Amerika ini pun sekarang kena batunya ketika China melakukan hal yang sama. Satu persatu, korporasi Amerika yang selama ini besar dengan cara mencuri hasil inovasi, rontok dalam sekejap oleh para buruh dari China.

Kunci untuk managemen inovasi adalah memelihara originalitas ide, atau dengan kata lain memelihara sang penemunya. Sebagaimana Thomas Alva Edison yang memelihara kemampuan inovatifnya sehingga memiliki banyak hak paten. Atau seperti Anthony Kalashnikov yang membuat senapan jenis AK jauh lebih baik daripada pesaingnya M-16, sehingga prajurit Amerika di Vietnam sering membuang M-16-nya dan mengambil AK-47 yang ditinggalkan pejuang Vietcong.

Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah Indonesia adalah pemerintah yang baik karena tidak pernah mencuri ide/inovasi dari anak bangsa, tapi juga tidak memeliharanya, sehingga anak bangsa harus berkarya di luar negeri! Hahaha ......

24 Januari 2011

Agus Martowardoyo: Kebijakan yang Mantap, Pak Lik!

Sueneng rasanya, ternyata aku engga salah pilih orang, jauh-jauh hari sebelum Pak Lik Agus Martowardoyo diangkat jadi Menteri Keuangan dan masih menjabat sebagai direktur Bank Mandiri, aku udah yakin klo Pal Lik Agus memiliki mental sebagai problem solver. Pak Lik Agus Martowardoyo emang mantap abissss....!

Kebijakan untuk mengurangi biaya perjalanan berdasarkan analisis manfaat perjalanan adalah jenis kebijakan yang sangat dinanti-nanti oleh Blog Titen. Sudah terlalu banyak program-program sampah di negeri ini, pembersihan program sampah yang dimulai dari program perjalanan dinas adalah cara yang efektif! Blog Titen berharap, kelak akan ada program peningkatan SDM PNS yang efektif untuk membabat habis mental "hidup malas dengan biaya negara".

Jujur saja, aku engga tahu pasti kenapa aku begitu memuji Pak Lik Agus saat menulis tentang kasus Bank Century. Mungkin karena tiba-tiba aku merasa sreg dan cocog saat melihat Pak Lik Agus bersuara lantang dalam rapat rahasia bersama Mbok Dhe Sri Mulyani. Suara lantang itu adalah suara yang paling logis dari hasil analisis tajam diantara suara-suara buta yang penuh nafsu iblis.

Mungkin pula karena Pak lik Agus memiliki latar belakang pendidikan teknik yang berarti sama dengan Blog Titen ... the engineering brotherhood! Hahaha ... Yang jelas, latar belakang teknik ini menjamin bahwa Pal Lik Agus belum teracuni oleh penyelewengan ilmu ekonomi, karna semula ilmu ekonomi adalah untuk kesejahteraan bersama tapi kini digunakan untuk mengeruk keuntungan yang menyisakan kemiskinan di tempat lain.

Mungkin, Pak Lik Agus adalah satu-satunya menteri yang memiliki kapasitas sebagai problem solver atau penyelesai masalah. Coba bandingkan dengan 'logika hukum' yang menghukum para petugas pemeriksa paspor imigrasi yang dianggap lalai membiarkan Gayus lolos ke luar negeri. Apakah sanksi pada para petugas imigrasi ini akan menyelesaikan masalah? Sama sekali tidak. Akar lolosnya Gayus adalah karena sistem pengawasan penjara yang jebol dan sama sekali engga ada hubungannya dengan petugas pemeriksa paspor imigrasi.

Jika 'logika hukum' di atas hendak bertujuan untuk mencegah pelarian narapidana, maka seluruh petugas pemeriksa paspor imigrasi harus menghafal wajah seluruh narapidana di Indonesia. Hanya dengan cara ini maka petugas imigrasi bisa mencegah larinya narapidana ke luar negeri. Hanya saja, hanya orang idiot yang akan menyuruh seorang manusia untuk mengerjakan sesuatu yang hampir mustahil yaitu menghafal ribuan wajah narapidana!

Jadi, petugas pemeriksa paspor imigrasi sama sekali tidak bisa disalahkan, yang patut dikejar adalah petugas yang terlibat dalam pembuatan paspor Gayus ... itupun kalo ada.

Dan negeri ini ternyata emang negeri yang lucu. Di saat kiat mencoba meluruskan cara berpikir seperti di atas, kita dianggap sedang memperkeruh suasana. Sing guoblok ki sopo, coba .... Jika saja penyelesaian masalah negara terus menerus konyol seperti di atas, tidak tertutup kemungkinan misi Black Case Ops akan dilancarkan di Indonesia seperti yang sudah terlaksana di Tunisia dan kini di Mesir dan Yaman. Jika Black Case Ops gagal, maka akan menjadi misi teror publik seperti yang terjadi di Moscow.

Blog Titen berharap agar Pak Lik Agus tetap menjaga diri dari para politisi, karena politisi akan mempengaruhi objektifitas analisis. Juga harus menjaga diri dari orang-orang di lingkaran istana yang hanya memikirkan kekuasaan dan pasti juga akan merusak ketajaman pisau analisis. Dan yang paling penting adalah menjaga hati agar tidak ketularan budaya "hidup malas dengan biaya negara".

Blog Titen berarap Pak Lik Agus Martowardoyo memiliki kualitas analisis yang sebanding dengan Economic Hit Man dan nasionalisme yang sebanding dengan Soekarno!

22 Januari 2011

Black Case Op: Musim Intelejen terus Berganti

Ternyata banyak yang mengira klo intelejen asing dalam kasus Gayus adalah orang seperti James Bond yang melakukan aksi heroik secara rahasia. Padahal intelejen asing itu lebih mirip John Perkins yang beraksi terang-terangan mempengaruhi orang lain untuk bertindak seperti yang ia inginkan. Makanya, Blog Titen bisa mengidentifikasinya meski engga detail.

Sedangkan perbedaan antara John Perkins dengan intelejen asing kasus Gayus adalah klo John Pekins memiliki akses langsung ke pemerintah sedangkan Intelejen asing kasus gayus tidak memilikinya.

John Perkins lebih sering disebut sebagai Economic Hit Man (EHM) daripada Intelejen. Rezim Soeharto memanfaatkan jasa EHM ini dalam pemerintahannya. Namun pada tahun 1992, Amerika mulai mengurangi anggaran intelejen sehingga berakhir pulalah fungsi EHM di Indonesia. Yang tersisa hanyalah antek-anteknya alias sebagai Mafia Berkeley yang tidak memiliki kapasitas sebagai EHM. Makanya pasca Soeharto pembangunan negeri kita terkesan stagnan. Orang-orang yang bergantung pada kreativitas EHM yang kini menduduki pemerintahan tak lain adalah mereka-mereka yang tidak tahu arah. Jadi jangan heran klo bangsa ini bertanya-tanya, mau dibawa kemana negeri ini?

Tahun 1992 adalah tahun yang penting dalam dunia intelejen dimana perang dingin telah berakhir. CIA diminta untuk merumuskan fungsi intelejen dalam 15 tahun kedepan, dan hasilnya adalah 3 jenis ancaman yaitu senjata pemusnah massal, terorisme dan perdagangan global. Ancaman ketiga, perdagangan global, membuat korporat-korporat global mulai membangun kesatuan intelejen swasta.

Sayangnya, kebanyakan kekuatan intelejen swasta dibangun oleh perwira-perwira intelejen yang dibesarkan dalam situasi perang dingin. Intelejen masa perang dingin dihadapkan pada musuh yang "nyata" sehingga menjadi error ketika membaca kekuatan laten ekonomi China. Walhasil, banyak korporasi kolaps saat kekuatan ekonomi China bangkit.

Para analis intelejen yang pada tahun 90-an masih berusia 20-an tahun, kini sudah mulai bisa membaca situasi. Mereka menyadari bahwa operasi-operasi intelejen seperti sabotase, penyadapan, penculikan dan sejenisnya, sudah tidak lagi efektif. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah berulang kali mengecoh agen-agen intelejen saat menjalankan operasi rahasia. Ada yang masih ingat dengan tewasnya lima perwira CIA di Afghanistan yang tertipu oleh informan Taliban?

Intelejen saat ini sadar bahwa pekerjaan mengumpulkan informasi secara rahasia sudah bukan lagi pekerjaan utama, alias sudah menjadi kisah klasik dunia intelejen. Kini pekerjaan intelejen benar-benar membutuhkan intelegensia/kecerdasan dimana mereka harus bisa memanfaatkan informasi yang ada guna menyebarkan pengaruh agar pihak lain melaksanakan misi sesuai keinginan para intelejen. Sasaran mereka adalah para politisi dan pejabat negara.

Dan sudah kita saksikan bagaimana seorang pejabat tinggi negara menimbulkan kekisruhan dengan meng-upload gambar paspor. Atau pegawai pemerintah yang lebih rendah membuat pernyataan yang menggegerkan usai vonis. Atau paspor Guyana yang ditinggalkan di email.  

Para pejabat sudah barang tentu akan berkelit kalo mereka dikerjai intelejen, dan itulah yang diharapkan oleh intelejen untuk menutupi keterlibatannya. Bahkan pejabat orde baru yang dengan jelas disebut-sebut oleh McAvoy dalam sebuiah wawancara terbuka  di tahun 2005 pun menolak tuduhan telah direkrut. Sehingga jika ada beberapa kelompok intelejen yang bersaing, maka satu sama lain akan saling berusaha membongkar kedok. Jadi jangan heran klo ada yang mengaku ke Gayus bahwa dirinya agen rahasia karena memang tujuannya untuk membongkar kedok intelejen lawan.

Apa yang dilaksanakan oleh intelejen jaman sekarang sebenarnya berasal dari misi intelejen di Jakarta tahun 1965-1966, atau dikenal dengan Black Case Operation (klo ga salah, hehehe ... ). Inilah misi CIA yang paling sukses dimana bisa menggerakkan berjuta-juta rakyat indonesia untuk berpesta pora membantai jutaan anggota PKI, tanpa perintah langsung dari CIA! Marshall Green menggambarkan kesuksesan ini dengan mengatakan, "Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu, kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai."

Black Case Operation telah menjadi kitab sucinya intelejen jaman sekarang. Kini, ribuan anggota CIA yang telah mempelajari metode pelaksanaan Black Case Operation telah tersebar seantero jagad, bekerja untuk berbagai negara maupun berbagai perusahaan. Siap melaksanakan metode tersebut dimana saja, termasuk di Indonesia. Itulah sebabnya, dokumen misi CIA di Indonesia pada tahun 1965-1966 tidak pernah di-decassified sampai sekarang, karena mengandung unsur yang sangat vital bagi kelangsungan dunia intelejen.

Oleh karena itu, pembahasan intelejen jaman sekarang sudah tidak lagi membahayakan. justru para intelejen itu menggunakan pembahasan semacam ini sebagai masukan baru untuk meng-upgrade misi mereka agar lebih adaptable, dan kita sendiri menjadi lebih aware. Dunia intelejen saat ini bukan lagi masalah kerahasiaan, melainkan masalah adu kecerdasan. Sebab kalo cuman main rahasia-rahasiaan, bakal dibobol oleh wikileaks!

Saat ini, para intelejen sepertinya tengah berundur diri mengingat ada banyak pejabat penting negara-negara maju yang digantikan, dipecat atau mengundurkan diri. Hal ini dapat berdampak pada kebijakan negara-negara maju yang akan mempengaruhi tujuan misi mereka. Mereka akan melihat perkembangan situasi dan melakukan adaptasi dengan misi masing-masing.

So, let's wait and see ...

BTW, tebak-tebakan yuk .... Amerika yang tiba-tiba membuka diri pada produk China adalah hasil pemikiran pemerintahan Obama atau hasil kerja intelejen ekonomi, hayo ....

19 Januari 2011

Sense of Economic Science

Ibnu Kaldhun began to build basic economic science to balance the social development. But modern economists use the science to gain more provit for their own and leave a lot of poverties in the other sides ...  cmiiw :)


Setelah mengirimkan proposalku ke The Economist agar Amerika membuka pasarnya bagi teknologi High End dari China, aku jadi sering mengamati bagemana perkembangan ekonomi Amerika. Dan memang, Amerika bergegas membuka diri terhadap China. Dengan terang-terangan Presiden Hu Jintau pun menyatakan harapannya agar produk high end China masuk ke Amerika. Aku pun berharap semoga produk high end China bisa menjadi "barang modal" bagi amerika untuk kembali membuka lapangan kerja baru dan menumbuhkan perekonomiannya sehingga perekonomian global kembali pada keadaan seimbang.

Engga cuman sampe di situ, pejabat moneter Amerika yang aku kritik karena mengambil kebijakan yang 'menyerang' ekonomi China pun sepertinya mulai dirombak. Tak heran jika penasehat Obama pun diganti.

Tentu saja perkembangan-perkembangan di atas disertai dengan harapan agar sekiranya ilmu ekonomi dapat kembali kepada fitrahnya, yaitu berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Konsekuensi yang harus dilaksanakan dalam rangka mewujudkan fitrah di atas, tentunya adalah perubahan parameter-parameter ekonomi yang radikal. Maka dari itu, aku mulai melempar ide untuk menyusun "distribution factor" dalam diskusi ekonomi global untuk mengukur hubungan pendapatan perkapita dengan pemerataan kesejahteraan.

Semoga ide ini akan bergerak ke arah yang benar, engga kayak ideku agar Amerika membuka diri terhadap produk high end China yang ditangkap masyarakat Amerika dengan istilah "Sputnik Fever". Padahal konsep awal ide sangatlah berbeda dengan "Sputnik Fever".

Bukan pertama kali sebuah ide dipelintir, dipolitisir, dibelokkan, dan apapun istilahnya. Blog Titen pernah mengusulkan untuk membentuk Observation and Command Center (OCC) yang kemudian terwujud menjadi Situasion Room di Bina Graha. OCC yang diusulkan adalah lembaga yang secara aktif mengkaji perkembangan, namun menjadi Situasion Room yang pasif menunggu laporan kinerja para menteri untuk diberi nilai. Cara kerja ini malah bikin situasi makin kisruh karena menjadi isu sentral dalam isu politis tentang reshufle kabinet.

Blog Titen cuma bisa maklum, toh blog ini ditulis oleh Sarjana Mesin yang lulus dengan IPK 2.4! sementara IPK adalah parameter umum untuk menilai apakah tulisan/omongan kita cerdas ato engga. Sudah gitu, tidak ada jabatan bergengsi yang melekat pada Blog Titen. Jadi klo idenya cuman dibajak dan disalahgunakan ... wwwaaaajjjaaaarrrrr! Lumayan bisa jadi bahan tertawaan!

Bagaimana pun, aku senang berucap, "Terimakasih Tuhan, telah Engkau damparkan aku di Teknik Mesin, ilmu yang mengkaji kebenaran pasti, bukan kebenaran atas dasar opini maupun statistik, sehingga mendekatkan aku pada kebenaran sejati-Mu."

17 Januari 2011

Intelejen Asing dan Instruksi Presiden

Sewaktu memberikan komentar via FB ke Metro TV tentang keterlibatan intelejen asing dalam kasus Gayus, aku dikatain tolol dan lebay. Tapi kemudian nongol berita bahwa calo pembuat paspor untuk gayus adalah warga negara asing! Nah lo, ada apa gerangan? Hehehe ...

Adalah tidak mungkin bngi seorang analis untuk bisa menunjuk hidung karena cuma mengamati perkembangan dan mengidentifikasi adanya sistem yang engga sewajarnya ada. Dengan sedikit memperhatikan detail, dapat disimpulkan bahwa ada unsur-unsur intelejen asing yang berekerja dalam kasus Gayus dan sudah jauh menyusup ke dalam sistem.

Ingat Adam Malik? Keluarganya menolak mentah-mentah bahwa ia adalah agen CIA tapi dokumen CIA jelas-jelas menunjuk dia sebagai agennya. Dan seperti itulah cara intelejen merekrut agennya dimana agen yang direkrut kadang tidak merasa direkrut.

Kekuatan intelejen asing yang bermain di Indonesia engga cuman satu. Tapi ada baiknya juga, kekuatan-kekuatan intelejen itu menghendaki Indonesia memiliki pemerintahan yang efektif dan efisien. Hanya saja masing-masing menghendaki cara-cara yang berbeda.

Masing-masing kekuatan sudah menyadari betapa parah sistem pemeritahan di Indonesia akibat reformasi yang tidak terkontrol dengan baik, yang hanya bisa melahirkan kebijakan transaksional. Mengharapkan seorang pemimpin yang memiliki karakter diktator cukup sulit sebab jalan konstitusi menuju RI 1 adalah jalan yang penuh lika-liku politik transaksional kotor.

Macetnya recovery ekonomi dunia membuat Indonesia menjadi negeri yang amat seksi sehingga kekuatan asing tergoda untuk meminangnya. Lihat saja kelakuan vendor Blackberry yang langsung menyetujui tuntutan Menkominfo Tifatul Sembiring, ini adalah bukti bahwa Indonesia menjadi sangat diperhitungkan. RIM dengan blackberrynya udah terlanjur masuk sehingga engga ada pilihan lain. Di luar sana, masih banyak yang ingin masuk ke Indoesia, tapi nunggu pemerintahannya efektif dolo ...

Indonesia adalah negara berpenduduk besar yang tidak punya basis manufaktur yang kuat, tidak seperti India dan China. Dengan kata lain, Indonesia adalah perawan yang seksi dengan kekayaan alamnya.

Dengan penduduk banyak tanpa basis manufaktur tapi tetap mencetak pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia adalah market yang bener-bener bikin horny. Tapi di jaman penuh ketidakpastian ini, siapa yang berani menjamin bahwa konsumen Indonesia bakal tidak bernasib sama dengan konsumen Amerika yang luluh lantak akibat sub-prime mortgage? Apalagi dengan kualitas pemerintahan saat ini yang ..... (silakan komen sendiri)

Mudah-mudahan, Instruksi Presiden 17 Januari 2011 kemarin tidak seperti instruksi sebelumnya dalam kasus century dan KPK, tenggelam dalam retorika tanpa ada perbaikan sistem sama sekali. Seperti instruksi-instruksi sebelumnya, instrukti itu terasa mengambang. Entah untuk mengaburkan permasalahan sesunguhnya atau emang engga ngerti duduk perkaranya ... entahlah.

Terakhir, untuk bisa mengelola Indonesia dengan baik maka diperlukan orang-orang yang bener-bener memahami bangsa Indonesia. Jadi, kalo Anda mengaku sebagai orang jawa, apakah Anda memahami tentang jawa melebihi pemahaman Clifford Geertz?

07 Januari 2011

Saatnya Berkata Jujur tentang Para Pejabat ....

Listrik PLN mati saat lagi saving, dan file kerjaan pun rusak. Nah, klo kayak gini, apakah PLN mau mengganti rugi kerjaan yang udah aku kerjakan selama seharian? Tentu tidak. PLN hanya mau dibayar atas layanannya dan tidak mau bertanggung jawab jika pelayanannya justru merugikan. Perilaku busuk inilah yang menginsiprasi para pejabat kita untuk tidak bertanggung jawab terhadap jabatannya, cuman jadi lintah darat.


Hal ini terbukti dengan munculnya berita tentang seorang menteri yang seharusnya bertanggung jawab terhadap perekonomian Indonesia tapi malah justru angkat tangan ketika harus mengatasi kenaikan harga cabe. Dan kenyataannya memang semudah itu menghamburkan uang negara untuk gaji dan fasilitas mewah, dan semudah itu pulalah lari dari tanggung jawab. Sialnya lagi, banyak para pejabat kita tidak cuma lari dari tanggung jawab, tapi juga melakukan perampokan terhadap uang negara secara sistematis.

Lihatlah program-program kegiatan pemerintah yang tidak efektif untuk membangun negara. Kenapa program-program itu tidak efektif? Karena program-program itu tidak disusun untuk membangun negara melainkan untuk bisa membelanjakan uang negara dimana sebagian bisa masuk ke kantong pribadi para pejabat. Lihatlah kasus-kasus korupsi yang terjadi, semua berhulu pada kesepakatan antara pejabat dan pengusaha. Jadi, program pemerintah disusun agar pengusaha bisa menjual barang/jasa dan pejabat dapet fee, bukan disusun agar terjadi pembangunan di negeri ini ...

Itu baru konspirasi sistematis perampokan uang negara dengan kedok pembangunan. Belum perampokan yang dilakukan dengan sistematika politik oleh para politisi ...

Udah ah, engga usah dilanjutin lagi ... bisa-bisa pembaca Blog Titen angkat senjata ....   

Ada kesalahan di dalam gadget ini