07 Agustus 2011

Newmont versus Rakyat Jelata: Above The Law

Intelejen tidak harus beraksi layaknya James Bond, yang penting mampu melakukan tindakan-tindakan terobosan untuk mengatasi berbagai hambatan. Dari hambatan berwujud kekuatan musuh maupun hambatan-hambatan yang sengaja dibuat.

Misalnya, pemblokiran jalan akses PT Newmont oleh masyarakat diatasi dengan membentuk tim kerja untuk mengelola sebagian pajak dari PT Newmont untuk mempekerjakan warga masyarakat yang sakit hati tidak mendapatkan pekerjaan, untuk mengerjakan proses pembangunan di wilayah Nusa Tenggara. Ide gila ini bakal banyak melanggar aturan hukum. Dan itu tugas pejabat yang memiliki jiwa intelejen untuk dapat mengatasi hambatan hukum tersebut.

Sayangnya, ksepertinya engga banyak pejabat kita yang memiki kemampuan menjalankan proses intelejen. Contoh paling nyata adalah dapat dilihat dalam Kasus Century yang bisa diobrak-abrik sehingga mengendapkan dendam dalam diri bangsa.

Huft ...

02 Juni 2011

Jangan merendahkan Simbol-simbol Negara, Please ...

Kita smua tahu, Bapak Presiden juga manusia, bukan Superman. Jadi sangat wajar kalo mengeluhkan keadaan.

Tapi kalo bisa ya jangan mengeluh dengan menggunakan simbol-simbol kepresidenan, lengkap dengan atribut Garuda Pancasila dan Merah-Putih.
Khan sbagai simbol negara, Garuda Pancasila seharusnya menjadi ruh agar kita menjadi bangsa yang kuat dan memiliki cita-cita tinggi. Merah-Putih harusnya memancarkan keberanian dan kesucian,

Sebagai simbol negara, kepresidenan seharusnya menjadi simbol pemersatu seluruh komponen negeri, bukan untuk mengeluh, bukan pula untuk mengungkapkan adanya anak bangsa yang menjadi pengecut. Mungkin kita bisa belajar dari Soekarno, meskipun tuntutan pembubaran PKI sangat gencar namun Soekarno menggunakan lembaga kepresidennya untuk mempertahankan PKI karena walau bagaimanapun orang PKI adalah Warga Negara Indonesia.
 
Kalo belajar dari Soekarno udah kesulitan karena orangnya udah di alam baka, mungkin kita harus belajar pada adik-adik kita yang masih duduk di SMA ...
Adik-adik ini sedang mengerahkan segala kemampuannya untuk dapat memberikan penghormatan terbaik bagi simbol-simbol negara sebagai Paskibraka. Sedemikian keras mereka berusaha sampe-sampe ada yang pingsan,

JANGAN KITA KECEWAKAN MEREKA!!!!!!

15 Mei 2011

Perencanaan Pembangunan Karakter Bangsa ... bingung neh ....

Tugas untuk membangun fasilitas pembangunan karakter bikin aku browsing kemana-mana mencari sumber literatur bagaimana bentuk nyata proses pembangunan karakter. Ternyata engga mudah, alias engga ada contoh ... maklum, sarjana instant khas Indonesia yang engga bisa kerja kalo ga ada contoh!

Hampir semua tulisan tentang pembangunan karakter yang aku temukan hanya berkisar tentang definisi, tak menyinggung yang ngomong soal implementasi secara nyata. Jadilah aku kebingungan sendiri. Di sisi lain, aku sudah terlanjur memberikan konsep proposal pengembangan Youth Center Jogja sebagai kawasan pengembangan karakter pemuda, kepada Bapeda DIY. Di dalam proposal itu aku menuliskan proses pengembangan karakter hasil pemikiranku sendiri yang dibikin secara sedikit terburu-buru karna mengejar tenggat waktu.

Berdasarkan pengamatan sekilas tentang proses pembobrokan karakter bangsa, di dalam proposal aku menulis:

......
Pembangunan karakter bukanlah proses pendidikan dalam kelas, melainkan proses tumbuhnya kesadaran yang dibangun dalam interaksi antar individu. Oleh karena itu, metode pengembangan karakter ini menggunakan filosofi pembangunan dari pemerintahan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Hamangku, Hamengku dan Hamengkoni. Hamangku adalah proses yang ditujukan agar generasi muda dapat menampung segala masukan dan perbedaan (open minded). Hamengku adalah proses untuk melatih generasi muda untuk dapat menemukan unsur-unsur penyatuan dari elemen-elemen yang berbeda (creativity), dan Hamengkoni adalah proses pelatihan untuk dapat menemukan nilai tambah dari sinergi elemen-elemen yang berbeda (inovation).

Penciptaan Proses Hamangku
Pada saat ini, BPO telah memulai menciptakan proses Hamangku di lingkungan Youth Center melalui kerja sama dengan Forum Paseban Budaya Nusantara (FPBN). FPBN dalam kerja sama ini mendapatkan fasilitas kantor sekretariat bersama di Youth Center Yogyakarta untuk mewadahi para putra daerah yang kini berada di Yogyakarta.
Dengan hadirnya para putra daerah maka akan tercipta suasana perbedaan sehingga dapat memberikan pengalaman tentang perbedaan kepada setiap pemuda yang datang ke Youth Center. Pengalaman ini akan menjadi dasar penting bagi tumbuhnya sikap menerima perbedaan dimana sikap ini tidak bisa diajarkan sebagaimana pelajaran di sekolah melainkan harus diresapi melalui pengalaman langsung. Dengan memiliki dasar-dasar untuk menerima perbedaan maka akan mudah menumbuhkan cara pikir yang terbuka (open minded) untuk menuju Hamengku dan Hamengkoni.

Kawasan Penciptaan Proses Hamengku
Proses Hamengku merupakan proses aktualisasi dan komunikasi agar sesama pemuda dapat menunjukkan karaker pribadi dan keahlian masing-masing. Untuk mendukung proses aktualisasi dan interaksi ini maka diperlukan sarana kegiatan diluar ruangan seperti track sepeda, lapangan olahraga permainan, dan sejenisnya.

Kawasan Penciptaan Proses Hamengkoni
Merupakan proses pembentukan karakter masing-masing individu seperti kemampuan mengendalikan atau melawan rasa takut, mengungkapkan hasil pemikiran dan sejenisnya. Untuk mendukung terwujudnya proses ini maka perlu sarana penunjang seperti flying fox, sarana pentas, teknologi multi media dan sejenisnya.
.............

Aku engga yakin apakah proses pembentukan karakter di atas dapat bekerja ato engga, makanya malam ini aku browsing kian kemari mencari jawabanya. Tapi sayangnya engga nemu juga ... payah!

Ya sudahlah, berdo’a aja mudah-mudahan Tuhan kasih inspirasi, mudah-mudahan pula aku bisa ikhlas, karna aku mlakukan semua ini tanpa terima slip gaji ato dijanjikan dapet duit banyak, tapi demi Indonesia yang lebih baik bagi anak perempuanku. Kalo aku bisa bener-bener ikhlas, aku yakin inspirasi dari Tuhan bakal tok cer!

BTW, salah satu petunjuk implementasi pembangunan karaker yang paling mendekati proses nyata diberikan oleh seorang profesor, dia menulis begini:

.........
Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri individu peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar (learning experiences) yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur (structured learning experiences). Agar proses pembelajaran tersebut berhasilguna peran guru sebagai sosok anutan (role model) sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistent-life situation), dan penguatan (reinforcement) yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berprilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis.
........

Aku ternyata terlalu bodoh untuk bisa menyerap paragraf di atas dan mewujudkannya menjadi rencana riil. Jadi, ada pembaca Blog Titen yang mau bantu menjelaskan paragraf di atas dengan bahasa yang lebih sederhana? Please .......

10 Mei 2011

Proses Pembobrokan Karakter Bangsa

Masyarakat Indonesia mendapatkan pelayanan sewenang-wenang dari berbagai pihak. Dari dibohongi pulsa telpon, tauladan buruk sinetron, sampai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Perilaku sewenang-wenang itu terus tumbuh tapi masyarakat Indonesia terkesan diam saja alias engga protest ataupun menuntut secara hukum. Paling cuman satu dua aja yang protes dan tidak menimbulkan efek yang luas.

Tapi benarkah masyarakat Indonesia diam saja? Tidak! Dalam diam itu masyarakat kita meniru tindakan bohong, perilaku sinetron hingga perilaku tak bertanggung jawab. Akhirnya, jadilah kita bangsa berkarakter buruk!

Kita ambil contoh PLN. Udah berapa banyak masyarakat yang dirugikan oleh pelayanan PLN selama bertahun-tahun? Tak terhitung. Apakah ada bentuk tanggung jawab PLN terhadap kerugian masyarakat? Tidak ada, seakan PLN tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ia timbulkan. Tapi gimana jika hak PLN mendapatkan iuran listrik mengalami keterlambatan? PLN akan memutus aliran listrik.

Nah, sekarang kita lihat perilaku masyarakat kita. Berapa banyak masyarakat kita yang banyak melalaikan kewajiban tapi banyak menuntut hak? Berapa banyak penumpang angkutan umum yang ikut merasa bertanggung jawab atas kebersihan terminal?

Selama berbagai bentuk praktek perilaku buruk itu berlangsung, pembangunan karakter akan mengalami tantangan berat. Satu satunya jalan adalah dengan membangun sistem pembangunan karakter yang dapat memunculkan kesadaran dari dalam diri pribadi masing-masing generasi bangsa, bukan cuman dari ceramah atau pemaksaan peraturan.

19 Maret 2011

Pemanfaatan Terror Secara Tidak Langsung

Udah banyak yang kasih analisis tentang kejadian terror bom belakangan ini. Mengingat aksi terror bom adalah misi konspirasi intelejen maka disorientasi menjadi sangat dominan, tak ayal lagi analisis pun beraneka ragam. Untuk mengetahui apa sesungguhnya terror bom tersebut  maka diperlukan analsis intelejen pula, bukan analisis metode ilmiah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Teror bom di Indonesia akhir-akhir ini dikategorikan sebagai konspirasi karena tidak ada satupun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas terror tersebut. Pada awal-awal aksi terrorisme muncul di muka bumi, para pelaku terror akan mengklaim bahwa merekalah yang berada dibalik aksi terror kemudian menyampaikan beberapa tuntutan. Dengan kata lain, para teroris memanfaatkan dampak langsung dari serangan terror.

Aksi terror juga dimanfaatkan mencapai tujuan secara tidak langsung. Sepanjang pengetahuan, pemanfaatan secara tidak langsung umumnya dilakukan oleh pihak negara untuk mencapai tujuan tertentu. Bagaimana negara menggunakan aksi terror? Menjelang Perang Dunia I, Sekretaris Negara AS William Jennings mencatat: Banyak para bankir yang tertarik dengan perang karena keuntungan yang diperoleh akan sangat besar. Selanjutnya dalam pembicaraan yang terdokumentasi antara Staf Ahli Presiden Woodrow Wilson yaitu Kolonel Edward House dengan Menteri Luar Negeri  Inggris Sir Edward Grey, disimpulkan bahwa jika ada kapal sipil Amerika ditenggelamkan oleh Jerman maka rakyat AS akan menghendaki perang. Sehingga pada tanggal 15 Mei 1915 Kapal Pesiar AS Lusitania diperintahkan untuk memasuki perairan yang dikuasai Jerman. Angkatan Laut Jerman menenggelamkan kapal tersebut menewaskan 1200 penumpangnya, kemudian AS pun mulai terlibat dalam Perang Dunia I.

Begitulah konspirasi terror yang dilakukan oleh negara akibat ulah para bankir.  Sebanyak 232.000 orang AS tewas dalam Perang Dunia I. JD Rockefeller mengeruk keuntungan sampai dengan 200 juta dolar. Pemerinta Amerika dililit utang sebesar 30 Milyar dolar.

Apakah kejadian yang memicu AS terlibat Perang Dunia I adalah kebetulan belaka? Jika memang kebetulan maka konspirasi terror di atas tidak akan berulang pada Perang Dunia II. Henry Stimson, Menteri Angkatan Perang AS pada tanggal 25 November 1941 membuat cacatan jurnal tentang percakapan Presiden Roosevelt yang membahas bagaimana cara memancing pihak Jepang untuk mulai menyerang Amerika. Kemudian berbagai cara diterapkan oleh Roosevelt demi memancing Jepang, contohnya seperti pembekuan aset-aset Jepang di AS. Dan beberapa hari sebelum serangan ke Pearl Harbor, Intelejen Australia memperingatkan adanya pergerakan pasukan Jepang menuju Pearl Harbor. Peringatan itu tidak dihiraukan sehingga 7 Desember 1941 Pearl Harbor diserbu Jepang menewaskan 2.400 tentara Amerika.

Sebelum penyerbuan Pearl  Harbor, 83% rakyat Amerika tidak menghendaki perang. Setelah penyerbuan, satu juta relawan Amerika mendaftar untuk terjun ke Perang Dunia II. Padahal pesawat-pesawat Jerman yang membunuh tentara Amerika takkan bisa terbang tanpa bahan bakar yang disuplay oleh perusahan dari Amerika sendiri, Standart Oil. Transaksi suplai bahan bakar pesawat ini dikelola oleh organisasi Union Banking Corp.  yang bermarkas di New York dan dipimpin oleh Prescott Bush yang tak lain adalah kakek dari mantan Presiden George W Bush.

Apakah konspirasi terror negara cuma pada Perang Dunia I dan II? Pada tahun 1964 dikabarkan dua kapal perusak Amerika diserang oleh Vietnam Utara di Teluk Tonkin. Dengan alasan inilah Amerika terlibat dalam perang Vietnam. Namun beberapa tahun kemudian, mantan Menteri Pertahanan McNamara menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah suatu kesalahan. Disusul pernyataan beberapa mantan perwira yang menyatakan bahwa serangan di Teluk Tonkin adalah kebohongan yang ditujukan agar Amerika terjun ke Perang Vietnam.  Insiden Teluk Tonkin sebenarnya tidak pernah ada!

Mengapa Amerika dipancing terjun perang di Vietnam? Seperti yang sudah-sudah, alasan bisnis. Rockefeller membiayai pabrik-pabrik senjata di Rusia untuk mensuplai senjata pada pihak Vietnam Utara. Pihak perbankan menjadi jalan tol mulus untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari perang. Keterlibatan perbankan mengeruk keuntungan juga dapat ditemukan dalam Perang Korea, Perang Irak-Iran, Perang Mujahidin Afghanistan dan perang-perang lain.

Pada tahun 2000, hampir tidak ada peperangan yang berarti hingga peristiwa 11 September menjadi pemicu perang besar di Afghanistan dan Irak. Dan tentu dunia sudah mahfum siapa sesungguhnya yang berada dibalik peristiwa 11 September. Di tahun 2011, aksi Revousi Jasmine berlangsung damai di negara-negara sekutu AS tapi menjadi pertumpahan darah di negara yang bukan sekutu seperti Libya. Sehingga melegalkan Angkatan Udara sekutu membombardir Libya. Apakah demokrasi memang harus dibentuk dengan pengeboman dan kematian?  

Kembali ke Indonesia, apa tujuan terror bom yang dilancarkan akhir-akhir ini? Jika terror ini sengaja dilancarkan untuk mencapai tujuan tertentu secara tidak langsung, apakah merupakan jenis terror para bankir seperti terror-terror di atas? Mengingat Indonesia memiliki kasus perbankan yang tidak terselesaikan hingga saat ini, yaitu Kasus Century.

Hingga saat ini, terror bom di Indonesia baru memakan korban satu perwira polisi. Masih jauh lebih kecil dibanding 2.400 tentara Amerika yang dibiarkan tewas oleh pemerintahnya di Pearl Harbor, ataupun 232.000 tentara Amerika yang dikirimkan untuk tewas pada Perang Dunia I. Akankah kita harus berkorban lebih banyak?

03 Maret 2011

Iblis Reshuffle

Hak prerogatif diberikan kepada Presiden untuk menjalankan amanah demi kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan koalisi partai. Fasilitas negara juga digunakan untuk kepentingan negara dan bukan kepentingan partai. Jika wewenang tidak digunakan untuk bangsa dan negara melainkan untuk kepentingan partai pendukungnya, maka yang terjadi adalah berbagai salah urus.

Mana yang lebih mendesak untuk dibahas, kemacetan di Pelabuhan Merak atau koalisi yang pecah? Mana yang lebih mulia, memastikan pembangunan rumah murah atau merayu partai koalisi? Mana yang lebih bijak, pidato realitas bangsa atau menggertak koalisi yang bandel? Dan mana yang lebih penting, jabatan presiden atau nasib bangsa dan negara?

Daripada ribut-ribut saling tuduh, mendingan kita renungkan ucapan Nelson Mandela, "In order to build the nation, We should use every available bricks that we have." Mandela sangat konsisten dengan ucapannya ini sehingga ia tidak membalas dendam atas perlakuan orang kulit putih pada dirinya. Justru Mandela mengorbitkan ikon orang kulit putih yaitu Tim Rugby Afrika Selatan, hingga meraih juara dunia. Tak cukup sampai disitu, Mandela juga berhasil membuat bangsa Afrika Selatan menjadi layak sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepak Bola.

Mandela begitu pemaaf hingga mampu membawa Afrika Selatan mencapai persatuan, baik sebagai bangsa atupun sebagai kekuatan pengembangan pembangunan. Padahal saat itu Nelson berada dibawan ancaman perang antara kulir hitam vs Kulit putih. Mengapa Mandela bisa sedemikain pemaaf? Jawabnya bukan karena Mandela memiliki gelar profesor doktor melainkan karena Mandela memiliki kualitas spiritual yang tinggi.

Tanpa spiritualitas, manusia akan mudah diperbudak oleh nafsu kekuasaan yang keji. Nafsu kekuasaan di dalam diri Soeharto telah membuat Soekarno diperlakukan bagai binatang meskipun sudah jelas-jelas Soeharto berhasil merebut kekuasaan. Nafsu kekuasaan pula yang membuat Bani Umayyah membunuh Hasan bin Ali  meskipun Hasan sudah menyerahkan penuh kekuasaan pada Bani Umayyah. Tidak cukup sampai di situ, saudara kembar Hasan, yaitu Husein, pun dipenggal oleh Bani Umayyah. Itulah nafsu kekuasaan yang bisa membuat iblis kalah keji dibanding manusia.

Dalam iklim demokrasi, sangat berat mengharapkan munculnya penguasa yang amanah karena siapa pun yang menjadi penguasa harus diawali dengan nafsu kekuasaan demi memenangkan pemilu. Namun kita masih bisa melakukan usaha-usaha untuk mengingatkan agar penguasa tidak diperbudak oleh nafsu kekuasaan. Kita juga bisa mengembangkan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas spiritual pemimpin saat ini ataupun para calon pemimpin masa depan.

02 Maret 2011

Pergeseran Peradaan Global

Blog Titen sering mendapat cemooh saat menceritakan pertarungan antara  kekuatan ekonomi baru sebagai penantang konspirasi kekuatan ekonomi lama. Wawancara dengan perusahaan perikanan multinasional MPG di Metro TV menunjukkan kekuatan ekonomi baru sedang tumbuh di wilayah timur dengan konsep yang jauh berbeda dengan konsep barat. Jika kekuatan lama berorientasi pada usaha memanipulasi informasi agar terkesan baik, kekuatan baru justru muncul apa adanya dengan segala kebaikan dan keburukannya.

Terus terang, Blog Titen baru mengetahui tentang perusahaan bernama MPG dari wawancara di Metro TV tersebut. Selama ini, Blog Titen hanya membaca sistem perekonomian dunia yang mengarah pada persaingan dua buah kekuatan. Itu saja.

Kesamaan pandangan antara Blog Titen dengan MPG adalah bahwa krisis ekonomi yang terjadi di barat telah meruntuhkan struktur ekonomi. Sedangkan perbedaan utama antara Blog Titen dengan MPG adalah MPG tidak percaya bahwa pergeseran kekuatan ekonomi ini adalah sebuah siklus.  MPG mengganggap bahwa cara-cara manipulasi untuk menciptakan pencitraan atau kesan suatu produk atau merek hanya bisa dijalankan di barat, sedangkan di wilayah timur harus dengan pendekatan jiwa yang berakar pada kebenaran  informasi. Pendekatan MPG ini mungkin didasari pada pemahaman mengenai perbedaan cara pandang antara barat dan timur.

Jika kita perhatikan lebih mendalam perjalanan sejarah peradaban manusia, maka kita bisa melihat benang merah hubungan pasang surut antara spiritualitas dengan rasionalitas. Spiritualitas akan membuka cara pandang kita terhadap berbagai permasalahan, rasionalitas akan menterjemahkan cara pandang menjadi utilitas untuk mengatasi masalah. Sehingga kualitas spiritualitas dan rasionalitas akan terus berkembang, hanya saja tidak dapat dilakukan bersamaan melainkan secara bergantian dalam skala tertentu.

Spiritualitas telah membuat bangsa Mesir mengembangkan rasionalitas untuk membangun Piramid namun rasionalitas tak mampu menjawab misteri wabah yang melanda Mesir kala itu, sehingga peradaban Mesir mengalami kemunduran oleh spiritualitas baru yang dikenal sebagai ajaran Nabi Musa. Kebangkitan spiritualitas jaman aksial telah melahirkan rasionalitas tata kota bagi kerajaan Romawi namun rasionalitas tak mampu menata wilayah jajahan Romawi yang sudah sedemikian luas, sehingga Romawi mengalami kemunduran kemudian muncul spiritualitas baru yaitu Kristen dan Islam. Perkembangan spiritualitas Islam telah melahirkan rasionalitas tata pemerintahan bagi kerajaan islam namun rasionalitas justru menimbulkan perpecahan di kalangan muslim sendiri, sehingga Kerajaan Islam mengalami kemunduran kemudian spiritualitas Kristen mengalami kegairahan Renaisance.

Gairah spiritualisme Kristen abad ke lima belas telah melahirkan rasionalisme industri hingga ke era informatika, namun banjirnya informasi yang masuk ke otak tidak membuat kita semakin bijak. Banjirnya informasi malah justru dapat membuat kita terjebak dalam paradoks dimana di saat berbagai informasi semakin terungkap justru membuat kita mudah terjebak dalam pandangan-pandangan yang sempit.  Informasi tentang susu formula bisa membuat kita merasa tidak perlu memperhatikan perkembangan kecerdasan si anak karena sudah diyakini cerdas berkat susu. Informasi kurikulum sekolah bisa membuat kita merasa tidak perlu memberikan pendidikan di rumah. Dan seterusnya.

Rasionalitas dalam ilmu ekonomi modern mengajarkan agar kita berusaha seminimal mungkin untuk mendapatan hasil maksimal mungkin. Rasionalitas ini sangat bertentangan dengan hukum alam yang selalu seimbang. Keseimbangan ini yang tidak menjadi dasar petimbangan bagi pengambil kebijakan moneter Amerika Serikat ketika perekonomiannya tengah booming kredit kepemilikan rumah sehingga pada akhirnya menghasilkan kebijakan yang berakhir dengan krisis Subprime Mortgage.

Fase rasionalitas modern segera berakhir, para top manager dan pemimpin negara telah disibukkan oleh berbagai tuntutan dan kepentingan sehingga mulai kehilangan kemampuan rasionalitas, padahal permasalahan makin kompleks untuk di rasionalkan. Kini, kemajuan peradaban tengah beralih ke belahan bumi timur yang masih teguh memegang prinsip-prinsip spiritualitas.

Spiritualitas di belahan bumi timur memang belum menemukan bentuk untuk dapat memecahkan kompleksitas era informasi. Namun spiritualitas sudah mulai memberikan petunjuknya yaitu betapa penting sebuah transparansi.

Apakah kekuatan ekonomi lama yang bermain dengan pencitraan akan mengubah pola untuk mengikuti tuntutan transparansi ataukah akan terus melawan hingga titik darah penghabisan? Mari kita saksikan bagaimana panggung dunia menayangkannya.

26 Februari 2011

Peti Es untuk Century dan Gayus

Dalam kasus Century, pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa dana Century mampir ke luar negeri.  Baru-baru ini pemerintah juga melemparkan pernyataan  bahwa harta Gayus juga mampir ke luar negeri. Keduanya sama-sama menghadapi permasalahan yang sama yaitu masalah hukum yang berlaku di negara tersebut. Seakan masalah perbedaan hukum menjadi modus operandi untuk menempatkan kedua kasus dalam peti es.

Melemparkan dana keluar negeri dan menempatkan kasus dalam peti es bukanlah modus operandi baru dalam dunia kejahatan konspirasi. Pernyataan resmi menyebutkan bahwa sumber dana untuk serangan WTC  11 September juga dikatakan dari Pakistan kemudian disertai pernyataan bahwa penelusuran sumber dana tidak lagi relevan. Jadilah kasus terror 11 September masuk ke dalam peti es.

Mungkin sebagian besar pembaca Blog Titen tidak percaya adanya kejahatan konspirasi tingkat tinggi. Tapi perhatikan fakta berikut: Dari 19 pembajak pesawat dalam terror 11 september, 6 diantaranya masih hidup dan sama sekali tidak ada usaha menangkapnya karena sudah dinyatakan tewas oleh FBI. Gedung WTC runtuh dengan percepatan lebih besar daripada percepatan alami gravitasi yang berarti ada unsur kesengajaan untuk diruntuhkan. Laporan resmi menyebutkan bahwa struktur baja meleleh akibat terbakarnya bahan bakar pesawat, padahal BBM pesawat terbakar dengan suhu 500 Fahrenheit sedangkan baja baru meleleh pada suhu 2000 Fahrenheit.

Tidak hanya itu, group TIME dan FOX merilis film-film bertemakan nasionalime Amerika  seperti film Pearl Harbor. Hal ini ditujukan agar publik Amerika tidak lagi terfokus pada kejanggalan terror 11 September dan fokus pada upaya penyerbuan ke Afghanistan dan Iraq. Tapi sayangnya, pola intelejen era perang dingin ini sudah tidak relevan dilancarkan di era informasi. Hasilnya justru makin banyak warga Amerika yang menjadi muslim setelah terror 11 September.

Ada banyak hal janggal dalam peristiwa 11 September. Jika kejanggalan tersebut ditanyakan pada pemerintahan Bush saat itu maka akan dijawab dengan jawaban aneh. Jawaban khas pengalihan isyu ala media konservatif Amerika. Persis seperti pertanyaan “Apakah Anda menangis saat rapat?” dijawab dengan “Saya menangis kalau mendengar lagunya Betharia Sonata.”

Pola pengalihan ala media konservatif Amerika juga terlihat dari pertanyaan, "Apakah pernyataan pemblokiran media adalah dari pemerintah?" dijawab dengan "Pertama, pemerintah tidak bermaksud membungkan kebebasan pers. Kedua, marilah kita saling menasehati dalam kebaikan. Ketiga, bla ... bla ... bla ..." akhirnya esensi pertanyaan tidak terjawab. Jawaban-jawaban macam ini sudah jamak di negeri ini yang menunjukkan bahwa semakin banyak pihak yang berhasil dicuci otaknya sehingga menggunakan pola-pola sejenis.

Sama juga seperti pertanyaan, “Perlukah Pansus Mafia Pajak?”. Pertanyaan ini tidak dijawab dengan jawaban perlu atau tidak perlu, justru dijawab dengan, “Pansus Mafia Pajak hanya menguntungkan partai tertentu.” Memang benar jawaban tidak langsung berkesan menunjukan tingkat kecerdasan tinggi, yaitu kecerdasan untuk mengelabui dan mendisorientasi parlemen. Banyak pakar hukum yang ikut menari bersama irama pendisorientasian ini. Ini tidak cuman terjadi di Indoensia, jadi tak heran jika media internasional yang masih belum terkontaminasi konspirasi global mengangkat pertanyaan "Apakah Psy-Ops dilancarkan ke parlemen?"

Jika Pansus Mafia Pajak memang menguntungkan satu pihak secara nyata, apakah kita boleh sirik iri dan dengki sehingga berhak membatalkan pembentukan Pansus dan membiarkan pengkhianat bangsa berkeliaran mempecundangi negara? Ingat! Kita sudah dipecundangi sehingga kita diproyeksikan menjadi pengimpor beras sementara Amerika akan menjadi eksportir beras nomor tiga dunia!

Setelah Hak Angket Mafia Pajak resmi ditolak, pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa harta Gayus tersebar di empat negara. Namun pernyataan pemerintah ini dibantah oleh Gayus. Kita engga tahu bagaimana cara pemerintah menelusuri dana Gayus sehingga Gayus sebagai pemilik dana justru membantahnya. Coba kalau Pansus Mafia Pajak benar-benar terwujud, pemerintah dan Gayus dapat diselidiki oleh DPR dan disiarkan langsung melalui televisi. Rakyat Indonesia dapat menilai, siapa yang benar dan siapa yang menjadi pengkhianat bangsa.

Secara pribadi, aku engga masalah jika para pengkhianat bangsa berhasil menutupi kebusukannya. Toh bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf. Tapi aku mengharapkan ada perubahan dalam system pemerintahan agar negeri ini tidak mati lemas melayani nafsu syahwat iblis pihak-pihak yang mempecundangi negara yang aku sebut sebagai Mafia Berkeley.

Jaman Soeharto mungkin kita bisa ikut makmur meskipun menjadi budak Mafia Berkeley yang tak lain adalah antek konspirasi global. Tapi jaman sudah berubah, konspirasi global yang semula bisa mendominasi tanpa lawan kini mendapatkan lawan yang sepadan. Kita harus memiliki kemandirian agar tidak larut terurai dan mati, karena saat ini sudah mulai berkembang wacana di media-media milik konspirasi global mengenai skenario matinya sebuah pemerintahan. Dan skenario yang paling favorit adalah skenario revolusi Prancis yang terkenal karena pemancungan leher Maria Antoinette dengan pisau Guilotine. Skenario ini menjadi favorit karena para konspirator bisa menutupi jejaknya dengan cara membiarkan antek-anteknya dibantai. Jadi wajar kalo pemerintahan yang disetir oleh antek-antek konspirasi akan terus memupuk kebencian rakyat kepada pemerintahnya yang tujuannya tak lain agar para antek juga ikut terbantai. Kebijakan membantai antek sendiri ini diambil setelah antek-antek di Mesir dan Tunisia dibiarkan hidup malah justru mengancam konspirasi mereka.

Membantai antek sendiri bukanlah hal yang baru. Semua yang mempelajari sejarah intelejen perang Afghanistan pasti tahu benar bahwa Al-Qaeda adalah pos penjagaan buatan CIA di Celah Kaibar untuk mengawasi suplay sejata dari Uni Soviet. Pendirian pos ini merupakan salah satu bantuan CIA untuk mendukung Pejuang Mujahidin. Akhirnya para Pejuang Mujahidin Afghanistan berhasil mengusir Tentara Soviet pada Februari 1989. Para Pejuang Mujahidin yang semula bersembuyi di gua-gua segera turun ke kota-kota untuk memproklamirkan kekuatan baru yang disebut Al-Qaeda. Kini, Amerika tengah terang-terangan dan mati-matian mencoba membantai antek mereka sendiri, bukan?

23 Februari 2011

Nasib Master Plan 2011-2025 yang malang

Harus diakui bahwa Raker Istana Bogor ini tidak dikomunikasikan dengan baik sehingga terkesan menjadi informasi angin lalu. Padahal siapapun yang ingin melihat bangsa ini maju maka Master Plan ini akan menjadi pusat perhatian. Tapi apa hendak dikata, banyak hal yang harus disadari oleh pemerintah. Menyadari bahwa pemerintah berada dalam posisi kepercayaan publik yang rendah adalah kesadaran pertama. Dengan menyadari akan hal ini, maka dapat disusun metode komunikasi untuk memanfaatkan momen-momen secara efektif.

Selain momen komunikasi, ada pula hal lain yang perlu diperhatikan yaitu cara komunikasi internal. Terlihat jelas bahwa presiden menjaga jarak dengan para audiens. Memang, gaya pidato yang menjaga jarak bukanlah gaya yang jelek, namun gaya seperti ini lebih cocok diberikan dalam urusan militer. Hal tersebut karena militer tidak perlu mengkaji perintah dari atasannya dan sang atasan sendiri akan memberikan perintah yang jelas sesuai dengan pangkat penerima perintah. Sedangkan dalam urusan pembangunan, diperlukan dialog, baik untuk mempertemukan pemahaman antara pemberi dan penerima perintah ataupun mengukur kemampuan penerima perintah.

Pidato Presiden akan menjadi lebih menarik dan memberikan pemahaman jika Presiden memberikan contoh. Tapi sepanjang pidato yang sekilas aku tongkrongin di TVRI, sama sekali tidak menyinggung contoh. Padahal kita harus mengakui kenyataan bahwa sebagian besar sarjana di Indonesia tidak dapat bekerja kalau tidak ada contoh!

Jadi, perkenankan aku kasih contoh. Misalnya pada saat Presiden menyinggung tentang insentif bagi kegiatan usaha industri yang memakai banyak tenaga kerja. Disini bisa diambil salah satu contoh jenis industri, misalnya industri rokok yang masih manual. Kemudian mulai diajak interaksi dengan audien dengan mengatakan, "Contohnya industri rokok. Ini banyak di daerah Kudus. Mana yang dari perwakilan kota kretek ini silakan acungkan jari ... bagaimana industri rokok di sana? Berapa banyak tenaga kerja terserap? Bagaimana kehidupan keseharian para tenaga kerja? Bagaimana siklus ekonomi di daerah pabrik rokok? Bagaimana pemerintah daerah mendukung pabrik rokok? ... Bagaimana dengan daerah lain? Surabaya misalnya ... berapa tenaga kerja yang terserap di Gang Dolly ..." (Eh jangan ding! ini contoh yang tidak boleh dicontoh! Koplak tenan ya ... :)

Tapi tidak adil kalo kita menuntut supaya Presiden menyisipkan sentuhan dialogis dalam pidatonya, toh Presiden memiliki gaya pidatonya sendiri. Tapi presiden 'kan bisa memiliki banyak staf yang bisa mewakili tipe pidato seperti di atas. Lagian usaha untuk melakukan pidato dialogis sudah dicontohkan oleh Menteri Negara BUMN yang meminta agar seluruh staf kementriannya dan para pimpinan BUMN untuk berdiri selama ia membacakan komitmen BUMN. Kalo perlu, putar kembali rekaman cara Soeharto berdialog dengan para petani, pasti dapat kita temukan bagaimana Soeharto memberikan contoh cara-cara pertanian sehingga kita bisa berswasembada beras kala itu.

Yang tidak kalah penting adalah bahwa hasil raker itu tidak terangkum dengan baik. Hasil raker masih terpecah-pecah dalam banyak program tanpa menyebutkan 'ruh' yang menjiwai keseluruhan program. Misalnya program kesejahteraan nelayan, program transport massal di DKI, program rumah sangat murah, program insentif industri penyerap tenaga kerja. Keempat program ini disampaikan sebagai point-point yang seakan masing-masing punya 'ruh' sendiri-sendiri. Sedangkan menurut pengamatanku yang cuma sekilas, raker itu sepertinya memiliki 'ruh' sebagai INVESTASI SOSIAL. Ingat, ini hanya pengamatan yang sekilas dan belum mencakup keseluruhan acara raker! Jangan di copy-paste kayak biasanya hehehe ...

Kita pasti pernah mendengar istilah "BERDIKARI" di jaman Soekarno, kita juga mendengar istilah "ERA TINGGAL LANDAS" di jaman Soeharto. Itulah ruh utama yang menjadi mainstream pembangunan yang ditanamkan oleh Soekarno dan Soeharto. Ruh utama itu disertai dengan ruh yang menjadi proses mencapai tujuan, diantaranya JAS MERAH dan STABILITAS NASIONAL. Jas Merah membuat Soekarno merangkul semua pihak yang berjasa dalam sejarah termasuk PKI. Stabilitas Nasional membuat Soeharto bisa menerapkan militerisme dalam setiap lini struktur masyarakat. INVESTASI SOSIAL adalah ruh proses juga yang bisa menginsiprasi persatuan antara kaum investor dengan masyarakat agar iklim usaha tidak didemo terus-terusan, karena investasi untuk kepentingan sosial bukannya kapitalis. Lalu apa menjadi ruh utama pembangunan kita saat ini?

Apakah REFORMASI bisa menjadi ruh sebuah pembangunan? Sayangnya tidak, reformasi hanya menggambarkan proses dan bukan hasil yang hendak di capai. Cobalah pemerintah menemukan ruh menjadi sumber seluruh kebijakan yang sudah dan akan diambil. Sebuah ruh yang bisa disebarkan melalui Twitter ataupun Facebook sehingga memberikan gambaran kemana pemerintah akan menuju. Ingat, ruh itu harus benar-benar menggambarkan kondisi pemerintah karena jika tidak maka hanya akan menjadi bahan tertawaan dan cemo'oh.

Lalu, ruh macam apa yang bisa dipakai pemerintahan sekarang? Sulit mencarinya karena selama ini pemerintah senang mengatakan hukum hukum dan hukum. Hukum ditujukan untuk menciptakan tatanan atau keteraturan sedangkan pembangunan adalah mendobrak satu tatanan untuk tercipta tatanan yang lebih baik dan berlangsung terus-menerus. Diperlukan kajian yang mungkin bisa mencapai waktu sampai dua bulan untuk merumuskannya. Masih ditambah lagi, cara penyampaian ruh tersebut juga harus melihat situasi dan kondisi agar tidak menjadi cemo'oh.

Wedeh ... kok lama-lama aku sok pinter yah ... ngga apa-apa dweh, buat promo iklan, sapa tahu ada pembaca Blog Titen yang jadi presiden, sapa tahu juga ada butuh konsultan methodist, hehehe ... *Jin iklan rokok pun berkata "Ngimpi!"

Penghambat Pembangunan: Indonesia Banget, Gitu Loh ...

Pidato presiden yang mengeluhkan kinerja Pemerintah Daerah sebagai pengambat pembangunan bukanlah hal yang baru. Sialnya, keluhan Presiden engga jadi heboh seperti keluhan Presiden tentang gaji dan kalah oleh riuhnya hak angket mafia pajak. Engga banyak media yang membahas mafia kebijakan pembangunan di daerah. Hal ini bisa dimaklumi karena mafia kebijakan pembangunan kelas kakap di pemerintah pusat masih bercokol, jadi wajar kalo mafia kebijakan kelas teri di daerah bukanlah hal yang menarik. Lebih keren kalo membahas mafia kebijakan pemerintah pusat yang telah menimbulkan ironi lebih dahsyat karena sukses menjebak Indonesia diproyeksi menjadi pengimpor beras tanpa ada perlindungan terhadap petani. 

Jika mafia kebijakan pemerintah pusat adalah orang-orang pintar menciptakan aturan hukum untuk melanggengkan kepentingan mereka, maka seharusnya pemerintah lebih cerdas memanfaatkan kepentingan mereka. Beruntung Indonesia memiliki banyak tukang kritik sehingga pembangunan masih ada yang memperhatikan, engga kayak Nigera yang ancur habis-habisan akibat ulah mafia kebijakan pemerintah pusatnya.

Pertanyaan terbesarnya, jika pemerintah pusat tidak bisa mengatasi mafia kebijakan kelas teri di daerah maka gimana mau mengatasi mafia kebijakan kelas kakap di pemerintah pusat?

Kegagalan pemerintah untuk mengatasi mafia kebijakan kelas kakap sudah terlihat ketika pemerintah mulai membonsai fungsi intelejen spionase. Hanya intelejen spionase yang mampu mengimbangi maupun menggembosi mafia kebijakan. Disamping itu, di dalam pemerintahan yang efektif, "sarapan utama" tiap pagi seorang Kepala Pemerintahan adalah President Daily Briefing yang dibuat oleh badan intelejennya. Dan dapat kita lihat bahwa badan intelejen kita dipimpin orang dari kepolisian, padahal kepolisian dididik sebagai intel reserse bukan intelejen spionase.

Coba kita liha Amerika Serikat. Di negeri ini ada banyak institusi negara yang menggunakan cara-cara intelejen. Dimulai dari CIA, NSA dan FBI. Meskipun sama-sama menjalankan pekerjaan intelejen, namun semua institusi tersebut tidak bisa digabung. FBI menjalankan tugas kepolisian dengan model intel reserse. Ketika FBI mencoba memasuki wilayah kerja CIA dengan menangkap orang-orang yang dicurigai sebagai anggota komunis, ribuan orang tak bersalah ditangkap dan dihukum tanpa proses peradilan yang adil. Kelakuan bodoh FBI ini menjadi sejarah buruk kepolisian Amerika Serikat. Akhirnya, FBI tidak diperkenankan melakukan kegiatan intelejen spionase dan terbatas pada intel reserse. Nah, di Indonesia, Badan Intelejen Negara malah diserahkan kepada kepolisian. Aneh bukan? Oleh karena itu, Mantan Kepala Badan Intelejen Negara, AM Hendropriyono menyatakan bahwa ada kesalahan manajemen badan intelejen kita.

Perbedaan utama antara intelejen ala CIA dengan dengan intelejen ala kepolisian adalah bahwa intelejen CIA bertujuan untuk menguasai keadaan atau menciptakan kondisi sedangkan intel-reserse polisi adalah untuk menangkap pejahatnya. Nah, dengan bercampur aduknya tugas kepolisian dan intelejen maka kita melihat kenyataan pahit di negeri ini, penjahatnya tak kunjung ditangkap dan keadaan pun diluar kendali! Hahaha ...

Intelejen spionase dan intelejen kepolisan memang tidak boleh dicampur aduk tapi harus dapat bekerja sama. Hal ini dicontohkan oleh kepolisan dan intelejen China dalam menghadapi aroma Jasmine Revolution. Dalam mencegah aksi demonstrasi Jasmine Revolution, polisi China tidak menggunakan peluru dan gas air mata serta pentungan. Hal ini tak lepas dari peran intelejen spionase yang memberikan gambaran mengenai bagaimana mengendalikan keadaan. Dengan keadaan yang terkendali, intel reserse dapat dengan mudah menjalankan tugasnya menangkap provokator.

Intelejen spionase akan menjalankan pendekatan-pendekatan ilmiah seperti ekonomi dan sosial, dengan pendekatan paling utama adalah pendekatan budaya. Pendekatan-pendekatan ini akan buyar jika disertai tuntutan untuk menangkap penjahat dengan pendekatan hukum. Sangat kecil kemungkinan intelejen spionase akan menggunakan pendekatan hukum sebab pendekatan ini adalah wewenang kepolisian. Sehingga sangat mengagetkan ketika AM Hendropriyono mengaku bahwa intelejen indonesia belum dapat bekerja karena menunggu aturan hukum! Apa-apaan ini? Sejak kapan dinas intelejen bergerak dalam aturan hukum? Bukankah Dinas Intelejen dibentuk karena disadari bahwa tidak ada hukum buatan manusia yang sempurna? Bener-bener negara sudah dipencundangi habis-habisan!

Mari menengok kembali ke jaman orde baru. Kebijakan ABRI Masuk Desa adalah usaha intelejen secara kultural untuk mencegah bentrok horizontal. Namun sayangnya pemerintah pusat tak mampu mengimbangi nafsu birahi mafia kebijakan alias mafia Berkeley sehingga pingsan di tahun 1998. Sialnya lagi, Mafia Barkeley berhasil menjadikan usaha-usaha mencegah bentrok sosial oleh militer sebagai tindakan represif anti demokrasi penyebab kegagalan pembangunan. Padahal otak udang para Mafia Berkeley yang engga mampu antisipasi kedatangan arus teknologi informasi itulah penyebab hancurnya struktur ekonomi tahun 1998. Jadilah militer sebagai kambing hitam kegagalan Orde Baru. Lebih sial lagi, Mafia Barkeley tetap bisa melenggang genit hingga sekarang sembari mempermainkan kasus Century dan Gayus.

Pertanyaan paling mendasar: Apakah sistem demokrasi menjamin pembangunan yang adil dan merata? Bukanlah demokrasi yang bertanggung jawab atas munculnya mafia demokrasi penyebab bentrok horizotal? Kenapa China yang tidak menerapkan demokrasi justru dapat mengalahkan pembangunan ekonomi di Amerika?

Perlu disadari perbedaan mendasar antara kebanyakan orang Amerika dengan kebanyakan orang Asia. Kebanyakan orang Amerika menilai bahwa agama adalah untuk mengatur kehidupan dunia yang tak jauh beda dengan aturan hukum undang-undang. Sedang kebanyakan orang Asia meyakini bahwa agama adalah jalan untuk mencapai kehidupan sesudah kematian.

Secara pribadi, aku lebih memilih jalan sebagai orang Asia karena dilandasi dengan semangat spiritualisme. Jika evolusi Darwin adalah benar maka hasil evolusi tertinggi spesies manusia adalah spiritualisme bukan cara berjalan diatas dua kaki maupun berpikir logika. Kalo manusia cuman bangga dengan kemampuan logikanya, maka ia sama seperti monyet yang juga bisa dilatih cara berpikir logika.

Pemblokiran Media dan Raker Istana Bogor: Antara Program dan Strategi

Raker Presiden, menteri, BUMN dan Kepala Daerah di Istana Bogor bertepatan dengan kisruh Hak Angket Mafia Pajak di DPR. Tak pelak lagi, stasiun televisi swasta menyiarkan riuhnya Hak Angket Mafia Pajak, sementara berita raker Master Plan menjadi angin lalu yang engga penting. Kemana para pakar komunikasi dan pakar intelejen Presiden?

Apa hendak di kata, bukan Master Plan yang keluar dari Istana Bogor tapi malah pernyataan Sekretaris Kabinet Dipo Alam yang menghiasi media. Tak ada angin dan hujan, tiba-tiba Dipo Alam mengeluarkan pernyataan tentang pemblokiran media yang kritis terhadap pemerintah. Maka kemungkinan besar pernyataan Dipo Alam adalah taktik intelejen agar media massa lebih memperhatikan Istana Bogor daripada senayan yang sedang sidang Hak Angket Mafia pajak. Jika benar ini adalah taktik intelejen maka tak diragukan lagi bahwa taktik ini disusun dengan cara berpikir media konservatif ala Amerika atau cara berpikir intel reserse polisi, bukan seperti analis intelejen spionase yang bertugas menciptakan kondisi. Makanya jangan heran kalo yang dituju kelinci malah dapatnya musang!

Apakah arus pemberitaan yang justru fokus pada hal-hal yang tidak mendukung pemerintah adalah semata-mata karena agenda setting? Kalaupun ada agenda setting, tetap saja tidak akan terwujud jika situasinya tidak mendukung. Misalnya stasiun berita konservatif di Amerika Fox News memiliki agenda setting untuk menyebarkan kebencian terhadap umat muslim, tapi yang muncul justru ungkapan "Anda benci muslim? Berarti Anda pemirsa TV Fox News". Agenda setting Fox News tidak berhasil karena situasinya memang tidak mendukung, bahkan Fox Group direndahkan oleh publik Amerika yang mulai menerima keberadaan kaum muslim. Maklum, Fox Group tidak sadar bahwa mereka hidup dalam dunianya sendiri seperti di era perang dingin! :PJadi kalo media nasional saat ini banyak berita buruk tentang pemerintah, ya karena situasinya emang mendukung!

Saat ini, pemerintah berada dalam situasi sulit karena berada di titik rendah kepercayaan publik. Jika menghendaki Master Plan dari Istana Bogor ini menjadi headline berita di berbagai media maka pertama-tama pemerintah harus siap dihujani dengan berbagai kritik. Kenapa? Karena dalam kondisi yang lemah, perhatian yang diberikan oleh publik adalah dalam bentuk kritik. Jangan sekali-kali mengharapkan pujian karena justru akan berubah menjadi cemo'oh. Dan setiap analis intelejen spionase pasti tahu akan hal ini. 

Jika ada analis intelejen spionase yang ditugaskan untuk membuat raker pemerintah ini menjadi headline berita maka para mahasiswa yang berdemo  dipancing untuk melakukan tindakan anarkis seperti merusak pagar Istana Bogor. Bahkan ditambah jumlah demonstran sambil menghembuskan isyu bahwa raker hanyalah pemborosan anggaran negara. Dengan demikian, media akan penasaran apa sesungguhnya isi raker sehingga dituduh sebagai pemborosan anggaran negara. Jadi, tercapailah tujuan menjadikan hasil raker sebagai headline sekaligus mendapat perhatian dari publik berupa kritik! :P

Mungkin, hilangnya berita tentang Master Plan ini akan ada baiknya juga kalau pemerintah belum juga menemukan metode yang baik untuk melaksanakan pembangunan era reformasi. Hal ini terlihat dalam Acara Talk Show Suara Anda di metro TV 22/02. Dalam acara itu dipaparkan ada program untuk mengatasi hambatan di pemerintahan daerah dalam jangka waktu dari 2011 hingga 2025. Sekilas, kelihatannya program ini sangat menjanjikan adanya penanggulangan hambatan pembangunan. Tapi sebagai methodist, harus aku sampaikan bahwa untuk mengatasi hambatan diperlukan STRATEGI, bukan PROGRAM! :P

Program adalah mengubah input menjadi output yang memiliki value. Strategi adalah bagaimana mengkondisikan input supaya dapat dimasukkan ke dalam program ataupun mengkondisikan program agar sesuai dengan input. Di atas program dan strategi adalah metode. Metode inilah yang memisahkan antara program dan strategi. Pemisahan ini sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu oleh pakar strategy militer, Sun Tzu. Sangat tegas Sun Tzu memisahkan antara program dan strategy dengan menyatakan bahwa seorang raja tidak boleh mencampuri strategi yang disusun oleh para jenderal dalam keadaan perang. Pemikiran Sun Tzu ini sudah terbukti dari sejak perang saudara di Amerika hingga perang di Vietnam!

Mantan Kepala Badan Intelejen Negara, AM Hendropriyono, mengatakan bahwa pihak user (pemerintah/swasta) tinggal menyebutkan kondisi apa yang diinginkan dan biarkan intelejen mewujudkan dengan caranya sendiri. Ungkapan ini tentulah didasari dengan pengetahuan yang tepat mengenai program dan strategi. Namun sayangnya ada ungkapan "dengan caranya sendiri" yang memang tidak sesuai dengan semangat penegakan hukum karena terkesan menghalalkan segala cara. Tapi begitulah realitas. Hukum itu ada untuk menciptakan tatanan sedangkan pembangunan justru mengubah tatanan. Lha terus gemana mau membangun kalo justru mengubah tatanan adalah pelanggaran hukum? Untunglah ada Mahkamah Konstitusi yang bertugas meng-edit hukum supaya selaras dengan pembangunan.

Makanya, dalam artikel sebelumnya, Blog Titen menyarankan agar kepemimpinan Badan Intelejen Negara dikembalikan kepada militer. Karena militerlah yang memiliki kepakaran dalam hal strategi. Jadi akan lebih mudah bagi pemerintah untuk menyusun target-target yang menjadi program dan tidak terjebak dalam target-target yang seharusnya diatasi dengan strategi.

Padahal melalui raker penyusunan Master Plan Indonesia, patut disyukuri bahwa pemerintah saat ini sudah mulai sadar dengan masalah-masalah krusial di negeri ini. Hanya saja sepertinya Pemerintah masih tersandung oleh pertanyaan "Bagaimana melaksanakannya?". Master Plan, pembangunan terintegrasi, hambatan di daerah dan seterusnya sudah menjadi topik basi di Blog Titen ini. Kini Blog Titen lebih sering menulis tentang intelejen karena memang cara-cara intelejen itulah yang bisa digunakan untuk melaksanakannya.

21 Februari 2011

Perang Intelejen Global dan Mafia Barkeley!

Pada awalnya, Jasmine Revolution dilatarbelakangi oleh kemiskinan di Tunisia namun kini berkembang menjadi isu demokrasi yang merambah ke daratan China. Bunga kecil Jasmine sebagai simbol gerakan yang berdasarkan realitas kemiskinan telah berubah menjadi gerakan bermotif politik demokrasi. Ini adalah perkembangan revolusi yang tidak berasal dari pencetus Jasmine Revolution sendiri.

Bergesernya pergerakan dari semula isu kemiskinan menjadi isu demokrasi adalah sesuatu hal yang tidak baik dalam kacamata Blog Titen. Isu kemiskinan adalah isu yang nyata sehingga dapat menghasilkan solusi yang nyata pula. Sedangkan demokrasi adalah konsep buatan manusia yang tidak tertutup kemungkinan mengandung kekeliruan. Memang demokrasi berjalan dengan baik di Amerika, tapi apakah kultur orang Asia sama seperti orang Amerika sehinga menjamin demokrasi ala Amerika juga berjalan baik di Asia?

Negara-negara Arab yang sedang dilanda perubahan akan mencari model atau contoh pemerintahan bagi negaranya. Sentimen 'anti Amerika' akan membuat sistem demokrasi ala Amerika akan mendapat tantangan keras. Sehingga tak tertutup kemungkinan negara-negara arab tersebut akan meniru cara pemerintahan China. Terlebih mayoritas penduduk Arab adalah kaum muslim yang tentunya akrab dengan hadist "Tuntutlah ilmu walau ke negri China". Sehingga, kehebatan semangat demokrasi perlu dicetuskan di China agar mengalahkan citra hadist, jadi tak heran jika aroma Jasmine Revolution sepertinya juga tercium di Beijing untuk mendiskreditkan model pemerintahan China.

Dan seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya, bahwa China adalah tempat tumbuhnya kekuatan ekonomi baru yang melawan demokrasi korup dan demokrasi represif. Jasmine revolution di Beijing adalah sebuah serangan balik yang sudah diramalkan sebelumnya.

Tanda bahwa Jasmine Revolution mulai terkontaminasi adalah sejak diangkatnya isu minoritas-mayoritas antar kelompok Sunni dan Syiah. Kemudian berkembang menjadi isu demokrasi yang merambah negara-negara yang bukan sekutu Amerika, yaitu Iran dan Libya. Di negara-negara sekutu Amerika, kelompok oposisi baru nongol setelah revolusi berjalan, sedangkan di Iran dan Libya kaum oposisi berada di garis depan.

Amerika sebagai promotor demokrasi mulai mendapat tuduhan sebagai dalang Jasmine Revolution. Namun tuduhan ini sepi-sepi saja karena sangat tidak logis jika Jasmine Revolution didalangi Amerika sementara negara-negara yang diobrak-abrik adalah sekutu Amerika sendiri. Tapi tuduhan ini tentulah bukan tanpa dasar karena memang ada pihak-pihak yang akhirnya membonceng Jasmine Revolution untuk kepentingan demokrasi. inilah bentuk perang urat-syaraf (psy-war) intelejen.

Jika tekanan terhadap China semakin kuat maka Indonesia akan menjadi lahan empuk untuk pengalihan ataupun pembalasan dari kekuatan ekonomi baru. Hal tersebut karena Indonesia adalah representasi sistem demokrasi yang hanya menghasilkan para pejabat korup yang justru kian parah setelah mereformasi diri di tahun 1998. Dan kekuatan-kekuatan itu sudah memulai psy-war di Indonesia bukan?

Kita harus memiliki intelejen yang sejati dan mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Misalnya jika Washington Post mengabarkan adanya penurunan significant dari populasi ikan-ikan predator di laut maka orang awam akan berfikir bahwa mereka mungkin harus mengganti ikan Tuna dengan ikan teri. Sedangkan seorang intelejen akan mendatangi pakar biologi dan memperhitungkan adanya skenario jika kadar oksigen air laut berkurang akibat terputusnya siklus ekosistem laut!

Kemampuan intelejen itu juga sangat berguna bagi pembangunan. Perubahan iklim sudah mendapat perhatian serius di kalangan Intelejen sejak awal tahun 2010. Sementara itu, intelejen kita justru malah di-downgrade. Jadi tak heran jika Indonesia diramalkan menjadi importir beras  sedangkan Amerika akan menjadi eksportir beras nomor tiga di dunia! Dan tentu saja Indonesia adalah pangsa pasar beras yang menggiurkan, bukan? Itulah hasil kerjaan para Mafia Berkeley dalam mempecundangi pemerintah ... :(

Percuma kalo mau menyalahkan para Mafia Berkeley karena mereka "bertindak sesuai dengan aturan hukum". Yang bisa kita lakukan adalah menyeimbangkan nafsu birahi para Mafia Berkeley tersebut agar bangsa ini tidak mati lemas karena melayaninya. Jadi, pernah ditulis dalam blog Titen ini mengenai upaya mengembangkan lahan pertanian untuk tanaman non-beras yang ditujukan untuk industri bio-fuel atau sejenisnya. Upaya ini bisa digunakan sebagai alternatif agar petani tetap hidup dengan lahannya, bukan kalah bersaing harga besar.

Jadi, di Indonesia, kekuatan lama berada di dalam lingkaran pemerintahan sedangkan kekuatan baru berada di luar lingkaran pemerintahan. Mudah-mudahan pemerintah bisa bijak dalam mengelola negeri sehingga terhindar dari hal-hal yang buruk!

17 Februari 2011

Kondisi Indonesia, Februari 2011

Apa hendak dikata, dunia sudah berubah. Isyu-isyu sistem monopoli kapitalis seperti semakin menunjukkan kebenaran sehingga gerakan-gerakan melawan korporatokrasi semakin mudah mendapatkan dukungan. Rezim-rezim represif dan sistem pemerintahan korup yang selama ini menjadi anjing penjaga setia korporatokrasi semakin mendapatkan tantangan, baik dari masyarakat maupun dari kekuatan ekonomi baru yang dibangun di negri yang menerapkan hukuman mati bagi pelaku korupsi dan suap, China.

Setelah melihat negara diperdaya oleh kerusuhan Cikeusik dan Temanggung, rasanya semakin kasihan melihat Pak Presiden yang terdiam dengan ancaman dari organisasi massa FPI. Kasihan pula dengan para pejabat Bank Century yang divonis bertahun-tahun dan denda bermilyar-milyar padahal tak menikmati dana kucuran Bailout. Kasihan pula dengan para ibu yang bingung memilih susu formula untuk balitanya. Kasihan pula dengan para cerdik cendekia yang dibikin pusing memikirkan Ahmadiyah. Kasihan dengan lembaga pengadilan yang sidangnya sering disertai kisruh di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Kasian, kasian, kasian ... betul, betul, betul?

Mendiamkan ancaman FPI adalah pilihan yang cukup bijak, tapi sayangnya, apapun reaksinya maka hasilnya akan sama saja. Jika pemerintah menanggapi maka akan muncul kesan bahwa FPI adalah organisasi yang sangat kuat dan mampu mengguncang pemerintahan. Mendiamkan ancaman dari FPI akan membuat masyarakat yang semula geram kepada FPI menjadi geram pula terhadap pemerintah. Kesan FPI kuat dan rasa geram itu akan muncul di kalangan masyarakat kelas menengah. Dan itulah rencana tahap kedua, bukan? Inilah yang disebut Blog Titen dengan "Perencanaan Strategis".

Ibu-ibu pejabat Bank Century yang didakwa penjara dan denda akan menjadi ikon kambing hitam akibat pemerintah yang engga becus ngurus Bank Century. Ibu-ibu yang khawatir dengan bakteri susu formula dilanda rasa jengkel akibat ulah pemerintah yang tak kunjung terbuka dan engga becus ngurus kesehatan warganya. Kaum ibu adalah pembujuk paling ampuh bagi kaum bapak. Ibu-ibu juga memiliki ikatan perasaan yang sangat kuat. Lagi-lagi, para ibu tersebut dari kalangan kelas menengah! Ingat kasus Bunda Prita?

Usaha agar pemerintah melakukan perbaikan iklim investasi yang fair udah dilancarkan sejak kasus Centrury, tapi ... udah ah ... segini dolo ...

14 Februari 2011

Akar Kesuburan Radikalisme

Sistem demokrasi yang kuncinya terletak pada kampanye, membuat pengerahan massa menjadi bisnis yang menarik. Munculah profesi Makelar Demokrasi  yang pekerjaannya adalah mengerahkan massa. Seiring dengan perkembangan dinamika politik, pengerahan massa tidak lagi ditujukan hanya untuk kampanye, melainkan juga untuk berdemonstrasi bahkan menciptakan radikalisme. Parahnya lagi, sepak terjang makelar demokrasi ini sudah juga dikenal oleh intelejen asing!

Jadi, apakah yang menyebabkan suburnya radikalisme di Indonesia pasca Reformasi? Maaf kalo aku memberikan jawaban “Demokrasi Kebablasan”. Tak heran jika Soekarno pernah membuat istilah “Demokrasi Terpimpin” dan Soeharto menelurkan kebijakan demokrasi represif yang tak lain adalah untuk mencegah terjadinya demokrasi yang kebablasan dan munculnya Makelar Demokrasi. BTW, di jaman orde baru, makelar demokrasi ini diberi nama oleh Soeharto dengan nama OTB alias Organisasi Tanpa Bentuk.

Para makelar demokrasi biasanya bergerak dengan tujuan-tujuan yang spesifik dan jelas, dari sekedar mendapatkan kekuatan tawar secara politis hingga mengangkat atau menjatuhkan seseorang atau kelompok. Tapi pada kerusuhan di Cikeusik dan Temanggung, sulit sekali ditemukan tujuan spesifiknya. Jika dilihat dari dampak peristiwa tersebut maka kita hanya menemukan bahwa negara semakin terlihat tak berdaya. Dan ini merupakan langkah awal untuk sebuah rencana besar mempengaruni masyarakat kelas menengah. Dampak lain adalah adanya pergantian jabatan di Kepolisian RI, klo yang satu ini no comments aja dweh!

Awalnya, makelar demokrasi bisa dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah makelar instan, mereka mengumpulkan massa dan memberikan upah kepada peserta massa. Makelar tipe ini bisanya bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana masyarakat hanya memikirkan uang. Makelar tipe kedua adalah makelar yang berbahaya karena bekerja dengan cara menghembuskan isu yang menghasut. Mereka biasanya bergerak di kantong-kantong radikalisme di daerah. Jadi jangan heran, demo yang berakhir ricuh dan bentrok kebanyakan terjadi di daerah, bukan di pusat.

Namun, sepertinya makelar tipe pertama sudah mulai mempelajari pola-pola radikal dan mereka mempelajarinya di Cikeusik. Para penyerang di Cikeusik bergerak dengan sedemikian terorganisir dan sangat berbeda dengan pelaku kerusuhan di Temanggung. Semangat militansi lebih terlihat di Temanggung daripada di Cikeusik. Kelihatannya, kerusuhan di Temanggung di gerakkan oleh makelar demokrasi tipe kedua, sedangkan di Cikeusik oleh makelar demokrasi tipe pertama yang mempelajari pola-pola radikalisme. Makelar demokrasi tipe pertama merasa perlu mempelajari radikalisme karena saat ini diperkotaan sudah banyak konflik tawuran yang potensial untuk digarap sebagai komoditas radikal.

Perbedaan yang paling mencolok antara Cikeusik dan Temanggung adalah jika para wartawan Metro TV yang mencoba meliput kerusuhan mendapat ancaman dari para perusuh di Temanggung, sedangkan cameramen di Cikeusik sepertinya tidak berusaha untuk melindungi diri, bahkan mencoba mencari sudut pengambilan gambar yang menarik. Para perusuh yang digerakkan oleh makelar tipe kedua biasanya memang akan menghindari kamera, sedangkan perusuh di Cikeusik justru malah merasa punya tampang photogenic. (Perhatikan tayangan tawuran di kota besar, para pelaku tawuran umumnya tidak berusaha menghalangi wartawan, bukan?)

Kerusuhan Cikeusik adalah tanda kemunculan pola baru dari Makelar Demokrasi perkotan yang harus dicermati karena berkaitan dengan radikalisme. Aku rasa, para pembaca blog ini tahu, ada momen besar yang berpotensi melanjutkan pelajaran Cikeusik ini, bukan?. Demikian pula dengan kerusuhan Temanggung yang menunjukkan bahwa makelar demokrasi radikal sudah tidak lagi bergerak di kantong-kantong radikal, melainkan sudah bisa menciptakan kerusuhan di daerah yang aman damai.

Sulit untuk mengetahui siapa-siapa yang menjadi pelaku makelar demokrasi. Yang pasti, mereka adalah kelompok-kelompok orang pintar yang menghabiskan waktu untuk mempelajari kondisi masyarakat. Sepertinya mereka tidak tergabung dalam satu kelompok jaringan sehingga aksi-aksi anarkis bersifat random. Akan menjadi berbahaya jika mereka tergabung dalam satu jaringan yang dikoordinir oleh intelejen asing, bukan?

Jika sebuah kampung yang penghuninya memiliki perbedaan latar belakang SARA dan hidup dengan damai, apakah itu berarti bahwa kampung ini bebas dari potensi konflik? Jika Anda mempelajari tulisan-tulisan Snouck Hurgronje, maka Anda akan memberikan jawaban “sama sekali tidak!”.  Jika disebarkan desas desus kemudian diskenariokan kejadian sebagai pemicu, maka kerusuhan kemungkinan akan pecah. Jika tulisan Hurgronje dipelajari ( DIPELAJARI bukan DIINGAT-INGAT layaknya pendidikan sejarah di sekolah!) maka kita akan sadar bahwa kerukunan kita pada dasarnya dilandasi oleh semangat menjaga ketentraman, bukan oleh sikap menerima perbedaan! Ingat itu!

Tidaklah sulit mendapatkan buku-buku Snouck Hurgronje.  Terlebih, buku ini sudah beredar secara internasional. Buku-buku ini pulalah yang menjadi dasar penyusunan operasi intelejen “Black Case” yang dilancarkan ke Indonesia pada tahun 60-an.

Pertanyaannya, apakah sebuah Surat Keputusan Bersama dapat mencegah munculnya aksi makelar demokrasi? Perlu disadari bahwa para makelar demokrasi itu beraksi karena uang dalam system demokrasi yang telah menumbuhkan hubungan “supply and demand”. Dan ini adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan karena sekali jiwa-jiwa radikal berhasi ditumbuhkan pada suatu komunitas maka akan sulit untuk menghapus radikalisme tersebut.

Lalu bagaimana melawan pertumbuhan radikalisme ini? Jika radikalisme ini ditumbuhkan dengan cara mempelajari tulisan Snouck Hurgronje maka untuk menemukan cara mengatasinya juga dengan cara mempelajari tulisan Snouck Hurgronje. Belanda dapat menjajah negeri kita sedemikian lama adalah juga tak lepas dari tulisan-tulisan Snouck Hurgronje. Kalau saja kita tidak dikuasai oleh Jepang, mungkin Indonesia akan menjadi negara seperti Australia dimana penduduk asli termarginalkan.

Mungkinkah kita bisa melawan pertumbuhan radikalisme? Soekarno berhasil mengendus kemunculan radikalisme melalui perjalanan panjang mengenal bangsanya sendiri. Soeharto mengendusnya melalui informasi dari para Economic Hit Man (EHM). Dan keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu keduanya memiliki jiwa sebagai negarawan yang dicirikan dengan tidak menunjukkan sikap takut kehilangan jabatan. Sehingga keduanya selalu berusaha mendengar dan merangkul semua pihak daripada sibuk membantah kritik dengan cara-cara konyol!

Sebagai penutup, perlu disampaikan bahwa "Jika sebuah pemerintahan mulai sering menyangkal pembeberan opini dan fakta dari warganya, itu adalah tanda bahwa analis intelejennya sudah tidak lagi bekerja. Karena analis intelejen tidak akan menyangkal informasi apapun kecuali aksinya sendiri."

Tahukah Anda, kenapa Obama memotong anggaran untuk dinas intelejennya di tahu 2011 ini? Karena dinas intelejen negara sudah dipencundangi oleh intelejen swasta! Kita juga perlu sadar, mengapa Obama memilih untuk memotong anggaran daripada meningkatkannya untuk melawan intelejen swasta.

10 Februari 2011

Kerusuhan Terorganisir Berkedok Agama menuju Jasmine Revolution

Akhirnya, “Pita Biru” yang disematkan pada para penyerang Jama’ah Ahmadiyah di Pandeglang ,mulai diangkat sebagai berita oleh Metro TV. Benar-benar jeli rupanya kini Metro TV, detail peristiwa memang harus di amati dengan objektif, tidak perlu buru-buru menyimpulkan “konflik antar umat beragama” sebelum kita tahu benar siapa sesungguhnya “Pasukan Pita Biru” ini.

Pasca bentrok di Pandeglang dan Temanggung, para analis banyak berdebat tentang konflik agama, hampir tidak ada yang mengatakan bahwa agama hanya dimanfaatkan untuk menciptakan kerusuhan. Makanya, pada saat acara Suara Anda di Metro TV membahas tentang konflik agama sebagai gejala revolusi senyap bangkitnya keyakinan bahwa agama lain adalah musuh, aku malah nge-tweet ke account @SUARAANDA_ begini: “Bukan Revolusi Senyap, tapi potensi konflik yang dikontrol”. Kini, jika Metro TV menayangkan adanya “Pasukan Biru” maka semua akan paham maksud dari tweet tersebut.

Lalu dari mana aku tahu kalo kerusuhan di Pandeglang adalah penyerbuan yang terencana? Gampang saja. Pertama, aku melihat pita biru itu sewaktu televisi menyangkan bentrokan meskipun aku tidak yakin. Kedua, orang yang kalap mengamuk karena merasa dihina tidak akan berperilaku seperti para penyerang di Pandeglang.  Yang kedua inilah yang bikin aku yakin klo penyerangan itu sesungguhnya tidak bermotif agama.

Pertanyaannya adalah, untuk apa menimbulkan konflik? Pertanyaan ini sesungguhnya harus dijawab oleh Badan Intelejen Negara, tapi sulit. Perlu diingat, polisi dididik untuk selalu curiga karena harus menjaga kemanan dan ketertiban. Tanpa kecurigaan, polisi takkan dapat melaksanakan tugasnya. Makanya jangan jengkel klo Anda tertangkap di lampu merah kemudian polisi akan mencari cacat kendaraan Anda. Karena memang seperti itulah seharusnya polisi bekerja!

Masalahnya, bisakah kita mengharapkan analisis intelejen dari seorang polisi? (kepala BIN dari kepolisian, ‘kan?). Sayang sekali, jawabannya adalah TIDAK! (dengan huruf besar plus tanda pentung). Intel polisi memiliki tugas yang observatif (memata-matai untuk mencari bukti) dan bukan analisis! Karena analsis harus dilakukan secara benar-benar objektif dan tidak boleh berdasarkan kecurigaan. Jadi jangan heran kalo di Twitter saya menulis: Maklum, kepala BIN-nya polisi, disuruh cari kelinci malah bawa musang babak belur yang mengerang “Oke, oke, aku kelinci!”
Lalu apa sebenarnya tujuan dari adanya kerusuhan berkedok agama itu?  Benarkah hanya untuk pengalihan isu? Tidak, pengalihan isu tidak menggunakan tema kerusuhan. Pengalihan isu mafia pajak adalah dengan menghidupkan lagi kambing hitam lama, yaitu Eyang Kakung Bibit dan Pak Lik Candra. Sedangkan kerusuhan justru lebih dilancarkan oleh kelompok yang menginginkan dibongkarnya kasus mafia pajak.

Kenapa kelompok pembongkar mafia memilih jalan kekerasan? Semula mereka melakukan pembongkaran kasus Gayus dengan harapan akan muncul system pemerintahan yang lebih fair. Namun karena kasus Gayus sudah hampir dapat dipastikan akan masuk peti es, maka itu dipilih jalan radikal. Kerusuhan itu dirancang untuk menunjukkan betapa buruk kinerja kepolisian dan negara. Dan rencana tersebut sangat berhasil, bukan? Hampir semua pihak mengumpat bahwa polisi telah bertindak bodoh dan negara tidak mampu memberikan perlindungan bagi warganya. Berbagai media massa berhasil mengangkat kasus di Pandeglang dan mengundang amarah banyak pihak. Tapi kasus tawuran pelajar yang juga menimbulkan korban jiwa di Sumatera seperti hilang dari media massa sehingga tidak ada yang prihatin dengan kondisi generasi muda bangsa.

Bagaimana cara menggiring media massa? Sekarang, kita lihat kasus Gayus yang nonton tenis di Bali. Wartawan olah raga yang memotretnya mengaku ada yang membicarakan wajah mirip Gayus di barisan penonton.  Wartawan inipun mencari wajah tersebut dan menemukannya. Akhirnya, foto Gayus nonton tenis pun beredar di media massa. Pertanyaannya, siapakah yang mulai mengatakan bahwa ada wajah mirip Gayus di barisan penonton? Seberapa besar kemungkinan Anda dapat mengenali wajah Gayus padahal benak Anda berisi pertandingan tenis? Ataukah ada seorang agen intelejen yang mulai menyebarkan desas-desus adanya wajah Gayus, sehingga seorang wartawan olah raga yang jauh dari kasus hukum dan politik, menjadi  terdorong untuk mencari wajah Gayus?

Dengan cara yang sama seperti di Bali, wajah Gayus  dapat tersimpan dengan baik di dalam benak orang Indonesia yang melihat wajah Gayus di luar negeri. Dengan cara yang sama pula, kasus wajah Gayus dapat mendominasi media massa. Dan itu semua adalah kerja kelas intelejen, bukan kelas intel polisi. Jika polisi mencoba melakukan tugas intelejen maka hasilnya akan seperti proses penangkapan Gayus di Singapura, tersiar kemana-mana.

Apakah agen intelejen yang menyebarkan desas-desus adanya wajah mirip Gayus dapat dituntut secara hukum? Tidak, bukan? Begitulah cara kerja intelejen. Jika polisi yang bekerja dalam ranah aturan hukum mencoba mengejar intelejen ini maka akan sangat sulit, bahkan mendekati mustahil. Kalau mengejar agen intelejen hasilnya cuma sia-sia, maka hal itu sebenarnya sudah lebih baik. Karena mengejar agen intelejen malah justru bisa menjadi boomerang bagi kepolisian. Hal ini sudah terlihat dalam penanganan kasus kerusuhan di Pandeglang, dimana polisi baru menahan beberapa ulama untuk dimintai keterangan namun sudah mendapatkan ancaman dari sebagian besar jawara dan ulama Banten.

Untuk melawan aksi intelejen, tidak mungkin dilakukan dalam ranah hukum, oleh karena itu kita mengenal istilah counter-intelligence.

Lalu, jika keburukan pemerintah sudah dipaparkan dan kerusuhan sudah dipancing, apa yang hendak dilakukan?  Tak lain dan tak bukan adalah untuk mempengaruhi kelompok masyarakat kelas menengah yang mudah digerakkan dengan social-media seperti Facebook dan Twitter. Sehingga bisa dilancarkan misi seperti pada Jasmine Revolution di Jazirah Arab. Tidaklah mudah untuk menggerakkan masyarakat kelas menengah. Terlebih dengan membanjirnya produk murah dari China sehingga membuat kelompok kelas menengah lebih bisa bertahan dalam ekonomi sulit dan malas bergerak melawan pemerintah. Namun dengan adanya berbagai kerusuhan, akan mudah memancing kelas menengah untuk turun ke jalan.

Yang menjadi masalah adalah jika terjadi gerakan besar-besaran dari kelompok kelas menengah maka masyarakat kelas bawah akan menjadi martir yang sempurna. Pada situasi saat ini, nelayan sudah berani mempertaruhkan nyawa untuk menantang ombak besar demi sesuap nasi. Tidak diperlukan waktu lama untuk membuat nelayan berani mati ini membawa bom dan berlari ke Istana Negara jika melihat adanya harapan dari gerakan masyarakat kelas menengah. Mereka berpikiran sederhana, daripada mati sia-sia di tengah laut lebih baik mati memperjuangkan harapan. Dan mereka ini bukan hanya dari kalangan nelayan, ada banyak kelompok masyarakat kelas bawah yang dapat melakukannya dalam kondisi inflasi global seperti sekarang ini.

Kelompok yang menghendaki pembongkaran mafia berkeinginan untuk bisa melaksanakan kegiatan ekonomi secara fair di Indonesia. Mereka akan mengikuti semua aturan dan taat membayar pajak asalkan dana pajak digunakan benar-benar untuk mensejahterakan masyarakat di lingkungan sekitar tempat mereka melakukan kegiatan ekonomi. Sehingga, kegiatan ekonomi mereka takkan terganggu oleh masyarakat sekitar. Inilah kredo kekuatan ekonomi baru yang tumbuh pasca tahun 2000.

Sedangkan kelompok yang melindungi mafia adalah kelompok lama yang menggunakan cara-cara kotor untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Kelompok ini sangat senang dengan pemerintahan yang represif sehingga kegiatan usahanya akan diamankan secara represif pula. Kelompok seperti ini tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga di Mesir dan Tunisia. Kelompok lama ini sudah terbukti tak mampu menahan serangan dari kelompok baru di Jazirah Arab meskipun pemerintah Amerika dan Israel sampai harus turun tangan langsung.

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel-artikel Blog Titen sebelumnya bahwa Indonesia bagaikan pelanduk diantara dua gajah yang sedang bertarung. Jika tidak berhati-hati, maka pelanduk dapat kegencet dan mati.

Mungkin belum terlambat bagi pemerintah untuk memperbaiki kinerja Badan Intelejen Negara agar bisa mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang bertarung di Indonesia. Sehingga dapat dirancang misi counter-intelligence ataupun tawaran kompromi untuk mencegah hal-hal yang jauh lebih buruk. Untuk melaksanakannya, maka langkah pertama adalah mengembalikan kepemimpinan BIN kepada militer.

Revolusi Mesir menjelang usai. Entah akan kemana lagi kekuatan Revolusi Jasmine akan bergerak. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan bergerak ke Indonesia, bukan?

05 Februari 2011

Ilmu Kebenaran di era Informasi

Sueneng buanget rasanya mendengar kabar bahwa Harvard mulai mengubah kurikulumnya persis seperti Note yang aku tulis di account Facebook. Kritik pedas terhadap "Pertumbuhan Ekonomi" pun sudah direspon oleh Bernake yang mengatakan "Growth alone won't solve fiscal problems." Strategy recovery Amerika pun sudah mulai berubah, tidak lagi terlalu egois dengan kepentingan-kepetingannya. Bahkan mulai mempertimbangkan "Innovation Management" sebagai strategy mengusir resesi. Aku harap, para pengambil kebijakan dunia sudah mulai mengarahkan perubahan global pada bentuk keseimbangan baru alih-alih menciptakan persaingan baru, karena ancaman dunia bukanlah dari persaingan dagang melainkan perubahan iklim!

Meskipun latar belakang pendidikanku adalah engineering, tapi aku seneng bergaul dengan orang ekonomi karena orang-orang ekonomi lebih agresif, lebih mudah menyesuaikan diri dibanding orang-orang fisika. Makanya, pemikiranku tentang fisika sering berhadapan dengan jalan buntu sedang pemikiran ekonomi sedemikian mudah cair. Dengan catatan, "mudah cair" ini di luar negeri, bukan di negeri sendiri! Hahaha ... Kampret! :(

Dunia akan berubah dengan cepat, sedemikian cepat hingga kadang kita tak paham apa yang menjadi penyebab perubahan. Dapat dilihat dalam Revolusi Jasmine yang kini bergejolak di Jazirah Arab. Tak ada yang tahu, siapa yang berada di balik Revolusi Jasmine. Sekarang bukan lagi jaman dimana hanya perkataan orang-orang ternama yang akan didengar, namun perkataan yang mengandung kebenaran yang akan menjadi kekuatan massa. Tak peduli siapapun yang mengatakannya.

Di jaman informasi ini, informasi bohong dan palsu sangat mudah dikonfirmasi kepalsuannya. Informasi yang benar akan menjadi komoditas yang mahal, karena bisa menggerakkan massa seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir. Mungkin, era informasi ini adalah era dimana manusia dapat semakin mendekat pada kebenaran, yang berarti semakin mendekat kepada Tuhan.

01 Februari 2011

Tunisia, Mesir ... akankah Indonesia?

Setelah memperhatikan perkembangan Mesir dan aku hanya bayangkan kalo aku ingin merebut kekuasaan Presiden Hosni Mubarak, maka aku akan melibatkan kekuatan militer baik di jalanan maupun dalam lingkaran kekuasaan Presiden. Sehingga dengan lugunya aku mengatakan kepada ke Economist Intelligence Unit (EIU) bahwa konfliknya kurang meruncing karena belum melibatkan kekuatan politik maupun militer. Dalam waktu kurang dari tiga hari, markas polisi di bakar dan ribuan narapidana meloloskan diri dari penjara. Kejadian ini memaksa pemerintah Mesir untuk meningkatkan peran militer.

Seperti sebuah aba-aba, masuknya peran militer membuat banyak negara segera mengevakuasi warganya dari Mesir. Mengapa menunggu peran militer untuk engevakuasi warga dari Mesir? Sederhana, jika krisis di Mesir adalh sesuatu yang natural, maka militer hanya berperan di jalanan mengamankan warga. Namun pembakaran markas polisi dan pengangkatan Wakil Presiden dari kalangan militer menunjukkan bahwa krisis ini ditunggangi oleh kekuatan-kekuatan besar. Dan selanjutnya, Uni Eropa menghimbau Prsiden Mubarak mengikuti keinginan masyarakat Mesir sedang Israel mendukung Presiden Mubarak. Konflik kekuatan besar pun terbuka.

Jika saja konflik yang timbul di Mesir udah bikin Amerika dan Israel kalang kabut, maka kemungkinan konflik tersebut engga didalangi oleh Amerika sendiri. Tapi oleh sebuah kekuatan baru yang masih rapih tersembunyi, meski sudah berhasil melancarkan aksinya di Tunisia.

Makanya, para mafia di Indonesia akan meningkatkan kewaspadaannya dengan munculnya kekuatan baru yang anti otoritarian dan anti mafia ini. Hosni Mubarak yang sangat menjamin kepentingan Amerika saja bisa digoyang kayak gitu, khan?

Bahkan Profesionalitas KPK pun Bisa dimanfaatkan

Kisruh antara KPK dan DPR langsung muncul ke permukaan pada Rapat Dengar Pendapat pasca penangkapan para politisi. Akhirnya, negara harus membiayai debat kusir sah dan tidaknya dua pimpinan KPK hadir di DPR.

Jika ada anggota DPR yang keberatan dengan kehadiran dua pimpinan KPK, maka KPK bisa saja mempersilakan dua pimpinannya untuk meninggalkan ruang sidang. Toh Eyang Kakung Bibit juga udah paham klo rapat ini adalah rapat politik, jadi ga masalah. Tapi ada anggota dewan lain yang ngotot "membela KPK" agar tidak memulangkan dua pimpinannya. Maka, jadilah perdebatan antar anggota dewan sendiri, KPK hanya menjadi boneka. Sehingga proses pemberantasan korupsi di Indonesia malah tidak dibahas sama sekali. Lebih jauh lagi, konflik awal antar anggota dewan ini akan terbawa-bawa sehingga membuat pembahasan selanjutnya  akan sulit untuk fokus pada proses pemberantasan korupsi.

Sulit diabaikan fakta bahwa protes anggota dewan terhadap pimpinan KPK adalah dampak dari ditangkapnya para politisi dalam kasus pemilihan gubernur Bank Indonesia. Dan inilah sesungguhnya akar dari tidak fokusnya pembahasan dewan terhadap proses pemberantasan korupsi di Indonesia karena parta-partai yang selama ini ngotot membongkar kasus Century akan kehilangan konsentrasinya. Pertanyaannya, apakah penangkapan ini adalah unsur yang sengaja atau tidak?

Jika melihat usia kasus suap pemilihan gumbernur BI ini, maka tak tertutup bagi munculnya kecurigaan bahwa penangkapan itu sengaja dilakukan untuk mendisorientasi pemberantasan korupsi di Indonesia. Posisi KPK yang mendapatkan kepercayaan besar dari masyarakat sebagai satu-satunya lembaga yang bersih dan profesional, akan menjadi pintu masuk yang ampuh untuk melakukan disorientasi pemberantasan korupsi.

Jika saja ada pihak-pihak yang sengaja membuka bukti-bukti penerimaan uang suap kepada para politisi dan menutup rapat bukti si pemberi suap, maka seprofesional apapun lembaga KPK tentu akan termakan olehnya. Maka timbullah konflik yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tapi engga perlu nyesel-nyesel amat, toh konflik ini akan bisa menggiring pada pembongkaran kasus korupsi antar anggota dewan sendiri meskipun menutupi kasus yang jauh lebih besar.

Melawan mafia yang sudah sedemikian kuat berurat berakar memang susah. Dan sudah menjadi 'hukum alam' bahwa mengalahkan pihak yang jauh lebih kuat adalah dengan cara-cara yang membuat pihak kuat merasa tidak kalah. Dan itu bukan perkara mudah.

27 Januari 2011

Amerika menembus China, Management Innovasi dan Indonesia

Beberapa saat setelah mengirimkan proposal dengan judul "Satellite Based Business for Balancing Global Economy" kepada The Economist-Innocentive, terlihat mulai bermunculan beberapa langkah mengatasi resesi global yang sejalan dengan dengan proposal. Salah satunya adalah pemanfaatan satelit cuaca untuk yang diberikan melalui beberapa teknologi elektronik selain komputer dan seluler. Salah satunya adalah melalui media televisi yang dipelopori oleh Stasiun TV internet Hulu.

Resesi global kali ini disebabkan karena kegiatan ekonomi riil yang dilancarkan oleh China dengan produk super murahnya. Namun ada yang janggal dalam penanganan resesi ini dimana penanganan resesi yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui institusi perbankan adalah melalui kegiatan ekonomi yang tidak riil, yaitu melalui sektor finansial.

Sektor finansial memang berperan dalam menjadikan China sebagai raksasa produsen barang murah, tapi sektor finansial ini hanyalah sebagai katalisator saja. Dan katalisator itu telah diberikan sehingga perkembangan China menjadi tak terbendung. Mencoba mengendalikan katalisator akan menjadi sia-sia karena sistem manufaktur dan SDM China sudah menjadi naga yang amat kuat.

Dalam pidato terakhir Obama mengenai Union State ( atau State Union, yah? :) ) menyebutkan bahwa innovasi teknologi yang akan menyelamatkan perekonomian Amerika. Tentu saja hal ini merupakan berita yang menggembirakan, meskipun pentingnya inovasi ini sudah disadari oleh Blog Titen sejak tahun 2009. Yang penting, masih ada waktu bagi Amerika untuk menyelamatkan ekonominya dan mengembalikan keseimbangan perekonomian global.

Apa musuh terbesar inovasi? Tak lain dan tak bukan adalah Sistem Kapitalis. Sudah banyak korporat-korporat besar yang tanpa malu-malu mencuri hasil inovasi para peneliti independen. Maka jangan heran jika Tuhan menghancurkan korporat-korporat tersebut saat negara China gantian mencuri hasil inovasi tersebut. Tuhan akan selalu menyeimbangkan alam, bukan?

Lain halnya dengan sistem komunis yang katanya tidak menghargai hak azasi manusia. Negeri komunis seperti Uni Soviet memberikan penghargaan terhadap seorang manusia bernama Anthony Kalashnikov untuk mekanisme senapan ciptaannya. Dari huruf A dan K, seluruh dunia bisa tahu bahwa penemu senapan AK-47 adalah Anthony Kalashnikov. Tapi bagaimana dengan penemu senapan Amerika yang juga tak kalah terkenal, M-16? Apakah nama penemunya diawali dengan huruf M? Tidak. Demokrasi Amerika tidak menganggap bahwa setiap individu adalah diciptakan Tuhan sebagai satu entitas unik yang berberbeda dengan yang lain. Amerika menganggap satu individu adalah satu suara, tak jauh beda dengan individu lainnya. Itulah demokrasi.

Salah satu sejarah inovasi yang kelam di Amerika adalah tentang penemuan kontrol kecepatan wiper mobil. Kontrol kecepatan itu ditemukan oleh seorang peneliti independen kemudian dicuri oleh Ford Motor Company. Sialnya lagi, Ford malah mengklaim bahwa kontrol kecepatan tersebut adalah hasil temuannya. Sang penemu harus berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinyalah penemunya.

Budaya mencuri hasil inovasi a la Amerika ini pun sekarang kena batunya ketika China melakukan hal yang sama. Satu persatu, korporasi Amerika yang selama ini besar dengan cara mencuri hasil inovasi, rontok dalam sekejap oleh para buruh dari China.

Kunci untuk managemen inovasi adalah memelihara originalitas ide, atau dengan kata lain memelihara sang penemunya. Sebagaimana Thomas Alva Edison yang memelihara kemampuan inovatifnya sehingga memiliki banyak hak paten. Atau seperti Anthony Kalashnikov yang membuat senapan jenis AK jauh lebih baik daripada pesaingnya M-16, sehingga prajurit Amerika di Vietnam sering membuang M-16-nya dan mengambil AK-47 yang ditinggalkan pejuang Vietcong.

Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah Indonesia adalah pemerintah yang baik karena tidak pernah mencuri ide/inovasi dari anak bangsa, tapi juga tidak memeliharanya, sehingga anak bangsa harus berkarya di luar negeri! Hahaha ......

24 Januari 2011

Agus Martowardoyo: Kebijakan yang Mantap, Pak Lik!

Sueneng rasanya, ternyata aku engga salah pilih orang, jauh-jauh hari sebelum Pak Lik Agus Martowardoyo diangkat jadi Menteri Keuangan dan masih menjabat sebagai direktur Bank Mandiri, aku udah yakin klo Pal Lik Agus memiliki mental sebagai problem solver. Pak Lik Agus Martowardoyo emang mantap abissss....!

Kebijakan untuk mengurangi biaya perjalanan berdasarkan analisis manfaat perjalanan adalah jenis kebijakan yang sangat dinanti-nanti oleh Blog Titen. Sudah terlalu banyak program-program sampah di negeri ini, pembersihan program sampah yang dimulai dari program perjalanan dinas adalah cara yang efektif! Blog Titen berharap, kelak akan ada program peningkatan SDM PNS yang efektif untuk membabat habis mental "hidup malas dengan biaya negara".

Jujur saja, aku engga tahu pasti kenapa aku begitu memuji Pak Lik Agus saat menulis tentang kasus Bank Century. Mungkin karena tiba-tiba aku merasa sreg dan cocog saat melihat Pak Lik Agus bersuara lantang dalam rapat rahasia bersama Mbok Dhe Sri Mulyani. Suara lantang itu adalah suara yang paling logis dari hasil analisis tajam diantara suara-suara buta yang penuh nafsu iblis.

Mungkin pula karena Pak lik Agus memiliki latar belakang pendidikan teknik yang berarti sama dengan Blog Titen ... the engineering brotherhood! Hahaha ... Yang jelas, latar belakang teknik ini menjamin bahwa Pal Lik Agus belum teracuni oleh penyelewengan ilmu ekonomi, karna semula ilmu ekonomi adalah untuk kesejahteraan bersama tapi kini digunakan untuk mengeruk keuntungan yang menyisakan kemiskinan di tempat lain.

Mungkin, Pak Lik Agus adalah satu-satunya menteri yang memiliki kapasitas sebagai problem solver atau penyelesai masalah. Coba bandingkan dengan 'logika hukum' yang menghukum para petugas pemeriksa paspor imigrasi yang dianggap lalai membiarkan Gayus lolos ke luar negeri. Apakah sanksi pada para petugas imigrasi ini akan menyelesaikan masalah? Sama sekali tidak. Akar lolosnya Gayus adalah karena sistem pengawasan penjara yang jebol dan sama sekali engga ada hubungannya dengan petugas pemeriksa paspor imigrasi.

Jika 'logika hukum' di atas hendak bertujuan untuk mencegah pelarian narapidana, maka seluruh petugas pemeriksa paspor imigrasi harus menghafal wajah seluruh narapidana di Indonesia. Hanya dengan cara ini maka petugas imigrasi bisa mencegah larinya narapidana ke luar negeri. Hanya saja, hanya orang idiot yang akan menyuruh seorang manusia untuk mengerjakan sesuatu yang hampir mustahil yaitu menghafal ribuan wajah narapidana!

Jadi, petugas pemeriksa paspor imigrasi sama sekali tidak bisa disalahkan, yang patut dikejar adalah petugas yang terlibat dalam pembuatan paspor Gayus ... itupun kalo ada.

Dan negeri ini ternyata emang negeri yang lucu. Di saat kiat mencoba meluruskan cara berpikir seperti di atas, kita dianggap sedang memperkeruh suasana. Sing guoblok ki sopo, coba .... Jika saja penyelesaian masalah negara terus menerus konyol seperti di atas, tidak tertutup kemungkinan misi Black Case Ops akan dilancarkan di Indonesia seperti yang sudah terlaksana di Tunisia dan kini di Mesir dan Yaman. Jika Black Case Ops gagal, maka akan menjadi misi teror publik seperti yang terjadi di Moscow.

Blog Titen berharap agar Pak Lik Agus tetap menjaga diri dari para politisi, karena politisi akan mempengaruhi objektifitas analisis. Juga harus menjaga diri dari orang-orang di lingkaran istana yang hanya memikirkan kekuasaan dan pasti juga akan merusak ketajaman pisau analisis. Dan yang paling penting adalah menjaga hati agar tidak ketularan budaya "hidup malas dengan biaya negara".

Blog Titen berarap Pak Lik Agus Martowardoyo memiliki kualitas analisis yang sebanding dengan Economic Hit Man dan nasionalisme yang sebanding dengan Soekarno!

22 Januari 2011

Black Case Op: Musim Intelejen terus Berganti

Ternyata banyak yang mengira klo intelejen asing dalam kasus Gayus adalah orang seperti James Bond yang melakukan aksi heroik secara rahasia. Padahal intelejen asing itu lebih mirip John Perkins yang beraksi terang-terangan mempengaruhi orang lain untuk bertindak seperti yang ia inginkan. Makanya, Blog Titen bisa mengidentifikasinya meski engga detail.

Sedangkan perbedaan antara John Perkins dengan intelejen asing kasus Gayus adalah klo John Pekins memiliki akses langsung ke pemerintah sedangkan Intelejen asing kasus gayus tidak memilikinya.

John Perkins lebih sering disebut sebagai Economic Hit Man (EHM) daripada Intelejen. Rezim Soeharto memanfaatkan jasa EHM ini dalam pemerintahannya. Namun pada tahun 1992, Amerika mulai mengurangi anggaran intelejen sehingga berakhir pulalah fungsi EHM di Indonesia. Yang tersisa hanyalah antek-anteknya alias sebagai Mafia Berkeley yang tidak memiliki kapasitas sebagai EHM. Makanya pasca Soeharto pembangunan negeri kita terkesan stagnan. Orang-orang yang bergantung pada kreativitas EHM yang kini menduduki pemerintahan tak lain adalah mereka-mereka yang tidak tahu arah. Jadi jangan heran klo bangsa ini bertanya-tanya, mau dibawa kemana negeri ini?

Tahun 1992 adalah tahun yang penting dalam dunia intelejen dimana perang dingin telah berakhir. CIA diminta untuk merumuskan fungsi intelejen dalam 15 tahun kedepan, dan hasilnya adalah 3 jenis ancaman yaitu senjata pemusnah massal, terorisme dan perdagangan global. Ancaman ketiga, perdagangan global, membuat korporat-korporat global mulai membangun kesatuan intelejen swasta.

Sayangnya, kebanyakan kekuatan intelejen swasta dibangun oleh perwira-perwira intelejen yang dibesarkan dalam situasi perang dingin. Intelejen masa perang dingin dihadapkan pada musuh yang "nyata" sehingga menjadi error ketika membaca kekuatan laten ekonomi China. Walhasil, banyak korporasi kolaps saat kekuatan ekonomi China bangkit.

Para analis intelejen yang pada tahun 90-an masih berusia 20-an tahun, kini sudah mulai bisa membaca situasi. Mereka menyadari bahwa operasi-operasi intelejen seperti sabotase, penyadapan, penculikan dan sejenisnya, sudah tidak lagi efektif. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah berulang kali mengecoh agen-agen intelejen saat menjalankan operasi rahasia. Ada yang masih ingat dengan tewasnya lima perwira CIA di Afghanistan yang tertipu oleh informan Taliban?

Intelejen saat ini sadar bahwa pekerjaan mengumpulkan informasi secara rahasia sudah bukan lagi pekerjaan utama, alias sudah menjadi kisah klasik dunia intelejen. Kini pekerjaan intelejen benar-benar membutuhkan intelegensia/kecerdasan dimana mereka harus bisa memanfaatkan informasi yang ada guna menyebarkan pengaruh agar pihak lain melaksanakan misi sesuai keinginan para intelejen. Sasaran mereka adalah para politisi dan pejabat negara.

Dan sudah kita saksikan bagaimana seorang pejabat tinggi negara menimbulkan kekisruhan dengan meng-upload gambar paspor. Atau pegawai pemerintah yang lebih rendah membuat pernyataan yang menggegerkan usai vonis. Atau paspor Guyana yang ditinggalkan di email.  

Para pejabat sudah barang tentu akan berkelit kalo mereka dikerjai intelejen, dan itulah yang diharapkan oleh intelejen untuk menutupi keterlibatannya. Bahkan pejabat orde baru yang dengan jelas disebut-sebut oleh McAvoy dalam sebuiah wawancara terbuka  di tahun 2005 pun menolak tuduhan telah direkrut. Sehingga jika ada beberapa kelompok intelejen yang bersaing, maka satu sama lain akan saling berusaha membongkar kedok. Jadi jangan heran klo ada yang mengaku ke Gayus bahwa dirinya agen rahasia karena memang tujuannya untuk membongkar kedok intelejen lawan.

Apa yang dilaksanakan oleh intelejen jaman sekarang sebenarnya berasal dari misi intelejen di Jakarta tahun 1965-1966, atau dikenal dengan Black Case Operation (klo ga salah, hehehe ... ). Inilah misi CIA yang paling sukses dimana bisa menggerakkan berjuta-juta rakyat indonesia untuk berpesta pora membantai jutaan anggota PKI, tanpa perintah langsung dari CIA! Marshall Green menggambarkan kesuksesan ini dengan mengatakan, "Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu, kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai."

Black Case Operation telah menjadi kitab sucinya intelejen jaman sekarang. Kini, ribuan anggota CIA yang telah mempelajari metode pelaksanaan Black Case Operation telah tersebar seantero jagad, bekerja untuk berbagai negara maupun berbagai perusahaan. Siap melaksanakan metode tersebut dimana saja, termasuk di Indonesia. Itulah sebabnya, dokumen misi CIA di Indonesia pada tahun 1965-1966 tidak pernah di-decassified sampai sekarang, karena mengandung unsur yang sangat vital bagi kelangsungan dunia intelejen.

Oleh karena itu, pembahasan intelejen jaman sekarang sudah tidak lagi membahayakan. justru para intelejen itu menggunakan pembahasan semacam ini sebagai masukan baru untuk meng-upgrade misi mereka agar lebih adaptable, dan kita sendiri menjadi lebih aware. Dunia intelejen saat ini bukan lagi masalah kerahasiaan, melainkan masalah adu kecerdasan. Sebab kalo cuman main rahasia-rahasiaan, bakal dibobol oleh wikileaks!

Saat ini, para intelejen sepertinya tengah berundur diri mengingat ada banyak pejabat penting negara-negara maju yang digantikan, dipecat atau mengundurkan diri. Hal ini dapat berdampak pada kebijakan negara-negara maju yang akan mempengaruhi tujuan misi mereka. Mereka akan melihat perkembangan situasi dan melakukan adaptasi dengan misi masing-masing.

So, let's wait and see ...

BTW, tebak-tebakan yuk .... Amerika yang tiba-tiba membuka diri pada produk China adalah hasil pemikiran pemerintahan Obama atau hasil kerja intelejen ekonomi, hayo ....

19 Januari 2011

Sense of Economic Science

Ibnu Kaldhun began to build basic economic science to balance the social development. But modern economists use the science to gain more provit for their own and leave a lot of poverties in the other sides ...  cmiiw :)


Setelah mengirimkan proposalku ke The Economist agar Amerika membuka pasarnya bagi teknologi High End dari China, aku jadi sering mengamati bagemana perkembangan ekonomi Amerika. Dan memang, Amerika bergegas membuka diri terhadap China. Dengan terang-terangan Presiden Hu Jintau pun menyatakan harapannya agar produk high end China masuk ke Amerika. Aku pun berharap semoga produk high end China bisa menjadi "barang modal" bagi amerika untuk kembali membuka lapangan kerja baru dan menumbuhkan perekonomiannya sehingga perekonomian global kembali pada keadaan seimbang.

Engga cuman sampe di situ, pejabat moneter Amerika yang aku kritik karena mengambil kebijakan yang 'menyerang' ekonomi China pun sepertinya mulai dirombak. Tak heran jika penasehat Obama pun diganti.

Tentu saja perkembangan-perkembangan di atas disertai dengan harapan agar sekiranya ilmu ekonomi dapat kembali kepada fitrahnya, yaitu berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Konsekuensi yang harus dilaksanakan dalam rangka mewujudkan fitrah di atas, tentunya adalah perubahan parameter-parameter ekonomi yang radikal. Maka dari itu, aku mulai melempar ide untuk menyusun "distribution factor" dalam diskusi ekonomi global untuk mengukur hubungan pendapatan perkapita dengan pemerataan kesejahteraan.

Semoga ide ini akan bergerak ke arah yang benar, engga kayak ideku agar Amerika membuka diri terhadap produk high end China yang ditangkap masyarakat Amerika dengan istilah "Sputnik Fever". Padahal konsep awal ide sangatlah berbeda dengan "Sputnik Fever".

Bukan pertama kali sebuah ide dipelintir, dipolitisir, dibelokkan, dan apapun istilahnya. Blog Titen pernah mengusulkan untuk membentuk Observation and Command Center (OCC) yang kemudian terwujud menjadi Situasion Room di Bina Graha. OCC yang diusulkan adalah lembaga yang secara aktif mengkaji perkembangan, namun menjadi Situasion Room yang pasif menunggu laporan kinerja para menteri untuk diberi nilai. Cara kerja ini malah bikin situasi makin kisruh karena menjadi isu sentral dalam isu politis tentang reshufle kabinet.

Blog Titen cuma bisa maklum, toh blog ini ditulis oleh Sarjana Mesin yang lulus dengan IPK 2.4! sementara IPK adalah parameter umum untuk menilai apakah tulisan/omongan kita cerdas ato engga. Sudah gitu, tidak ada jabatan bergengsi yang melekat pada Blog Titen. Jadi klo idenya cuman dibajak dan disalahgunakan ... wwwaaaajjjaaaarrrrr! Lumayan bisa jadi bahan tertawaan!

Bagaimana pun, aku senang berucap, "Terimakasih Tuhan, telah Engkau damparkan aku di Teknik Mesin, ilmu yang mengkaji kebenaran pasti, bukan kebenaran atas dasar opini maupun statistik, sehingga mendekatkan aku pada kebenaran sejati-Mu."

Ada kesalahan di dalam gadget ini