24 Oktober 2010

Pelajaran dari Para Raja Pendahulu



Menyaksikan kijang-kijang di sebuah Rumah Dinas Bupati membuat aku sadar bahwa sesungguhnya para raja jaman dahulu memiliki kebiasaan memelihara berbagai hewan adalah untuk membaca tanda-tanda alam. Hewan-hewan akan mendadak berisik atau justru mendadak terdiam ketika suatu bencana mengancam.

Para pawang yang memelihara hewan-hewan kesayangan raja, akan segera memberitahukan pada raja  jika heran-hewan menyampaikan pesan dari alam. Sehingga raja bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada rakyatnya. Inilah sebuah bagian kecil dari ilmu yang dimiliki oleh para raja, yakni ilmu weruh sak durunge winarah (mengetahui sebelum peristiwa terjadi). Namun, tidak semua raja memiliki kemampuan untuk membaca alam, terlebih jika raja sudah mulai terusik oleh berbagai ancaman pemberontakan.  Jiwanya tidak lagi tenang dan penilaiannya tidak lagi objektif.

Ilmu kepemimpinan jaman doeloe ini mungkin sudah jarang ditemukan dalam era demokrasi saat ini. Bahkan mungkin sudah hilang. Sebab kepemimpinan saat ini hanya ditentukan oleh mayoritas suara terbanyak tanpa mempedulikan kualitas intelektual dan spiritual calon pemimpin.

19 Oktober 2010

Bukti Ilmu Ekonomi Salah Kaprah: Sedih atau Senang yah ….

Hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2010 ternyata diberikan kepada para ekonom yang melawan arus ilmu ekonomi yang berkembang.   Dan para ekonom tersebut meneguhkan hasil analisis ilmu ekonomi Blog Titen.

Komite pemberian hadiah Nobel mengatakan bahwa paham ilmu ekonomi klasik mengajarkan hubungan antara suplay dan demand berkorelasi langsung padahal kenyataannya tidak demikian.  Jadi mengasumsikan semua baik-baiik saja menggunakan indikator ekonomi makro adalah sebuah usaha menggali kuburan sendiri. Statement komite hadiah Nobel  ini dapat anda temukan pula di artikel Blog Titen bukan?

Blog Titen mulai tertatik membuat analisa ekonomi setelah kasus krisi subprime mortgage. Mungkin  karena latar belakang pendidikan Blog Titen adalah teknik mesin, sehingga benar-benar menerapkan logika berpikir tanpa dipengaruhi oleh asumsi-asumsi umum ekonomi. Jadi maaf klo Blog Titen dengan narsis mengatakan bahwa analisisnya lebih objektif … hahahaha.

Asumsi-asumsi yang sudah terlanjur meracuni pamahaman para ekonom membuat para ekonom tidak mudah memahami pernyataan Blog Titen bahwa krisis subprime mortgage telah menghancurkan sendi-sendi/struktur ekonomi Amerika Serikat sehingga tidak akan mudah bangkit. Mungkin salah satu anggota Komite Hadiah Nobel yang bernama Tore Ellingsen telah berhasil membebaskan diri dari asumsi ilmu ekonomi klasik sehingga dia juga mengatakan hal yang sama dengan Blog Titen.

Pada saat Blog Titen membuka topic diskusi seperti ini di beberapa forum diskusi internasional seperti BBC Message-Board, pada umumnya tanggapannya positif. Dengan kata lain, sesungguhnya para ekonom sudah menyadarinya namun masih terpenjara dalam sumsi-asumsi yang dipercayainya.

DI awal tahun 2010, Blog Titen mencoba mengangkat tema bahwa pelaksanaan FTA serta berbagai bencana akan meruntuhkan struktur ekonomi Indonesia. Tapi sayang, tema ini sepi tanggapan pada saat itu. Baru akhir-akhir ini bermunculan peringatan akan runtuhnya struktur ekonomi kita setelah ada berita tentang ancaman kekurangan bahan pangan akibat bencana alam. 

Sayangnya, para penerima hadiah nobel bidang ekonomi ini hanya membeberkan betapa ngawur asumsi-asumsi dalam ilmu ekonomi, tapi tidak memberikan solusi bagi krisis subprime mortgage. Blog Titen pernah mengusulkan solusi dengan cara “membangun peradaban baru” untuk mengatasi keruntuhan struktur ekonomi. Tapi sayang, solusi ini sepi tanggapan. Mungkin karena solusi ini harus mendobrak berbagai imu pengetahuan yang selama ini kita asumsikan benar, membuat banyak pihak merasa alergi.

Akhir-akhir ini, Blog Titen berusaha merumuskan solusi yang tidak mendobrak ilmu pengetahuan, yaitu konsep ekonomi berbasis komunitas. Tapi solusi ini juga masih sepi peminat. Jadi, Blog Titen cuman berharap bahwa masih banyak orang yang mau memandang ekonomi dengan benar-benar objektif dan merumuskan solusi lebih efektif demi dunia yang lebih baik kelak dikemudian hari.

Blog Titen merasa senang dengan klarifikasi hasil analisis ekonominya, tapi sekaligus juga sedih karena menyaksikan keruntuhan struktur ekonomi Indonesia. Jadi harus gemana ne? Sedih atau senang?

16 Oktober 2010

Menciptakan Perubahan dengan Profesionalitas, bukan Loyalitas.

Munculnya lagu SBY dalam ujian CPNS yang menuai cemooh, meneguhkan artikel Blog Titen yang ditulis pada Februari 2010. Kita pun tentunya masih ingat saat SBY berpesan agar para pembantunya memiliki loyalitas terhadap dirinya. Loyalitas yang menuai cemooh seperti inikah yang diharapkan SBY?

Loyalitas kepada pimpinan memang penting, terlebih bagi organisasi kejahatan macam Mafioso, Yakuza ataupun Triad. Sedang untuk menyelenggarakan Negara, lebih diutamakan profesionalitas dimana loyalitas ditujukan kepada bangsa dan Negara, bukan kepala negaranya.

Kenapa loyalitas kepada pemimpin negara tidak begitu penting? Karena struktur kepemimpinan Negara sudah diatur oleh undang-undang. Jadi tidak bisa seenaknya mengambil alih pimpinan. Sedangkan dalam organisasi mafioso, setiap saat anggota mafioso bisa membunuh pemimpinnya dan merebut kekuasaan.

Sistem loyalitas buta dapat membentuk system yang tak jauh beda dengan system kartel gaya mafia obat bius. Jadi Blog Titen merasa khawatir jika budaya loyalitas buta berkembang di Indonesia dan menginspirasi tumbuhnya berbagai macam organisasi kejahatan.

Setiap ada perkembangan budaya buruk di sekitar kita, sebagian dari kita akan menyarankan agar melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Namun sayangnya, tidak ada bukti empiris yang dapat menerangkan bagaimana perubahan individu dapat menciptakan sebuah perubahan besar dalam waktu singkat. Yang ada adalah bukti empiris yang menggambarkan bagaimana pemerintahan dapat mengubah budaya bangsanya.

Kelemahan besar dari anjuran untuk memulai perubahan dari diri sendiri adalah adanya resistensi dari system social yang dibentuk oleh pemerintah. Contoh yang paling nyata adalah Aung San Syu Kia atau Che Guevara, mereka memiliki pandangan moral untuk menciptakan perubahan namun pandangan tersebut baru sebatas konsep dan belum diimplementasi.

Mengapa Muhammad ditempatkan sebagai orang yang paling berpengaruh dalam peradaban manusia, padahal sebagian besar penduduk bumi memeluk agama yang berbasis pada ajaran Isa (Yesus)? Adalah karena Muhammad sendiri berhasil melembagakan pandangan moralnya di dalam Negara Islam yang ia pimpin sendiri. Sedangkan Isa (Yesus) sudah keburu dibunuh oleh tentara Romawi akibat fintah dari Bani Israel (Yahudi). Diperlukan pengorbanan yang tidak sedikit serta pertumpahan darah yang panjang sebelum ajaran Isa (Yesus) dilembagakan oleh Kerajaan Romawi.

Melembagakan perubahan tidak hanya dilaksanakan oleh Muhammad, Nelson Mandela pun melakukannya. Demikian pula dengan Winston Churchill, Mao Zedong, Chiang Kai Sek, dan seterusnya. Bahkan Soekarno dan Soeharto pun melakukannya di awal-awal pemerintahan, sebelum mereka berdua terjebak oleh loyalis-loyalis buta yang merangkap pula sebagai opportunis.

Perhatikan Firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Kenapa Allah menggunakan kata ganti “kaum” dan bukan menggunakan kata ganti individu?
Kelak, jika aku berkesempatan bisa ketemu sama Quraish Shihab, aku akan menanyakannya dan menuliskannya di Blog Titen ini hehehe ….. (ngomong-ngomong soal Shihab, aku pernah usul ke Metro TV untuk mewancarai kesulitan yang dialami Foke. Beberapa hari kemudian Najwa Shihab mewancarainya. Kayaknya aku harus berterima kasih pada keluarga Shihab kali ya …. Dan Metro TV tentunya! Hahahaha …….)

15 Oktober 2010

Memantau Kinerja Kemenhut: Wasior Pasca Eksplorasi Via Google Earth

Blog Titen tidak tahu apakah penggunaan Google Earth oleh Pak Dhe Menteri Kehutanan terinspirasi oleh Blog Titen atau tidak. Tapi walau bagaimanapun, salut Buat Pak Dhe Menteri karena sepertinya baru satu menteri ini yang membuat terobosan dalam pekerjaannya. Biasanya para menteri melaksanakan pekerjaan secara seremonial, tapi kali ini Pak Dhe Menteri Kehutanan sepertinya tidak disertai dengan tai-tai protokoler. Ini benar-benar angin segar bagi kinerja kementrian KIB II.

Seperti yang disiarkan Metro TV saat Pak Menteri muter-muter pake helikopter di langit Wasior, terlihat banyak tempat telah mengalami erosi yang parah. Jika emang engga ada pembalakan liar maka areal erosi di wilayah Wasior ini adalah laboratorium yang sangat berharga untuk menyelidiki proses erosi alamiah. (Terima kasih Metro TV udah menayangkan gambar perbukitan Wasior dari udara).

Mungkin Blog Titen kurang ajar, karena melalui artikel ini Blog Titen menyarankan agar Pak Dhe Menteri menyempurnakan pekerjaanya dengan turun ke areal erosi dan menyelidiki areal erosive perbukitan Wasior. Penyelidikan juga akan mengklarifikasi pernyataan Pak Dhe Mentri Lingkungan Hidup yang menuduh gempa sebagai biang kerok erosi. Jika benar tanah menjadi rawan erosi akibat gempa, apakah daerah lain selain Wasior juga mengalami erosi parah yang sama? Tentunya dampak gempa engga bakal terlokalisir di area sekitar Wasior saja, bukan?

Pak Dhe Menteri Kehutanan juga harus bisa menjelaskan asal kayu-kayu gelondongan yang membentuk “bendungan erosi” dan membuktikan bahwa kayu-kayu tersebut bukan hasil pembalakan liar. Penjelasan yang logis dapat membungkam pihak-pihak yang berspekulasi tentang adanya pembalakan liar, bukan?

Hasil penyelidikan yang paling penting adalah identifikasi karakter perbukitan yang rawan erosi. Hasil identifikasi ini akan sangat berguna untuk mengkaji resiko hutan di perbukitan di seluruh Indonesia, selanjutnya bisa disusun rencana pencegahan agar tragedy Wasior tidak terulang. Sebenarnya pekerjaan ini lebih cocok dilaksanakan oleh Situasion Room (OCC) Bina Graha karena melibatkan banyak pihak. Tapi kelihatannya Eyang Kuntoro sudah terlalu sepuh untuk bertindak gesit dalam memimpin Bina Graha, jadi Pak Dhe Menteri Kehutanan-lah yang bisa menggantikannya untuk satu masalah ini. Dan mungkin Pak Dhe Mentri Kehutanan akan menjadi “pahlawan” bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Terakhir, Blog Titen mendukung terobosan-terobosan untuk menunjukkan bahwa bekerja untuk negara bukanlah rangkaian seremonial, membual dan  tidur di dalam ruangan ber-AC. Bekerja untuk Negara juga harus berani kotor,  berkeringat, mengalami keletihan serta tidak manja minta diperlakukan sebagai warga terhormat.

By the way any way bus way, kalo Pak Dhe Menteri Kehutanan terinspirasi oleh Blog Titen maka harus dikaji ulang penilaian bahwa pemerintah tuli terhadap masukan dari anak negeri. Ini merupakan berita bagus sebab anak negeri sendirilah yang tahu kebutuhan negeri sendiri, bukan para ahli dari Harvard maupun Oxford.

Maju trus Kemenhut!

14 Oktober 2010

Bangsa yang Haus akan Inspirasi

Menyaksikan upaya penyelamatan 33 penambang emas-tembaga di Chili yang sedemikian dramatis mendapat perhatian seluruh bangsa Chili, mengingatkan aku pada kemenangan Tim Rugby Afrika Selatan.  Penyelamatan penambang dan kemenangan tim rugby sama-sama menjadi inspirasi bagi ikatan nasionalisme warga negara. Inspirasi seperti inilah yang kini sangat dibutuhkan oleh Indonesia.

Inspirasi nasionalisme akan menjadi ‘bahan bakar’ utama bagi setiap elemen bangsa dalam melawan berbagai keterbatasa demi untuk membangun Negara. Persis seperti pertanyaan Nelson Mandela yang berbunyi How to get them to be better than they think they can be? dan Mandela menjawab sendiri pertanyaannya dengan “Inspiration”. Sehingga puisi berjudul “Invictus” yang menginspirasi Nelson Mandela untuk membangun Afrika Selatan, menjadi judul film yang mengisahkan perjuangan Nelson Mandela dalam memberikan inspirasi bagi warga Afrika Selatan.

Kini, Afrika Selatan yang semula terancam oleh perang sudara akibat perbedaan warna kulit, telah mampu mensejajarkan diri dengan Negara-negara maju dengan dipercaya sebagai penyelenggara World Cup 2010. Tingginya kriminalitas Afrika Selatan di tahun 90-an membayangi pelaksanaan World Cup 2010 sehingga dunia sinis dengan pelaksanaannya. Ternyata, FIFA pun mengakui bahwa prestasi keamanan World Cup South Africa 2010 adalah yang terbaik. Ini tak lepas dari hasil kerja keras Nelson Mandela dalam membangun ikatan nasional sehingga bangsa Afrika Selatan dapat bersatu padu mengamankan penyelenggaraan World Cup 2010.

Tak heran jika Theme Song World Cup 2010 yang berjudul “Waving Flag”, sangat terasa ‘sentuhan’ Nelson Mandela-nya. Dan Waving Flag bukan hanya untuk menginspirasi Afrika Selatan tapi untuk menginspirasi dunia:

Give me freedom, give me fire, give me reason, take me higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin , as we lose our inhabition,
Celebration its around us, every nation, all around us

Singin forever young, singin songs underneath that sun
Lets rejoice in the beautiful game.
And together at the end of the day.

WE ALL SAY

When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom Just like a wavin’ flag
And then it goes back
Membaca kisah perjuangan Mandela pula, kita bisa menyadari bahwa Mandela tidak menunggu rakyat kulit hitam maupun putih  Afrika Selatan untuk berubah dari semula bermusuhan menjadi bersatu padu. Mandela sendirilah yang mendorong, mempelopori dan memberikan contoh bagi perubahan rakyatnya. Sedangkan di Indoensia kadang muncul pemikiran bahwa pembangunan sangat sulit dilaksanakan karena budaya rakyat Indonesia yang jelek. Pemikiran seperti ini harus segera disingkirkan, Nelson Mandela telah membuktikan bahwa sebuah pemerintahan dapat mengubah budaya rakyatnya.

Sangat jelas terlihat bahwa Indonesia sangat membutuhkan inspirasi yang dapat mendorong seluruh elemen bangsa untuk berubah dan mendobrak segala keterbatasan untuk membangun Negara. Selama ini kita sering mendengar para birokrat yang berkilah “kekurangan anggaran” sehingga membenarkan tindakannya untuk tidak maksimal dalam melaksanakan pembangunan. Kebiasaan ini harus segera dimusnahkan, kita tidak bisa terus menerus mengharap hujan emas dari langit, kita harus bisa memanfaatkan setiap “batu bata” yang ada untuk membangun negeri.

Bisa kita saksikan saat ini, betapa sebagian elemen bangsa Indonesia saling tawuran satu sama lain. Kita juga saksikan banyak pihak yang menunda dan menghindar dengan berkilah “menurut peraturan” atau “menunggu dari pusat” dan sejenisnya. Dimanakah inspirasi yang mempererat nasionalisme dan membangun effort untuk mendobrak segala keterbatasan?

Mungkin karena negeri ini sedang berorientasi pada pembangunan ekonomi sehingga semuanya ditujukan pada peningkatan kekayaan materi sehingga mengabaikan pembangunan untuk kekayaan jiwa. Pembangunan yang beorientasi pada materi hanya akan menyuburkan korupsi. Ada baiknya jika para pakar ekonomi kita didampingi oleh budayawan dan pakar sosiologi, agar dapat membangun jiwa bangsa Indonesia, agar dapat memahami makna “efek psikologis yang berdampak sistemik” hahaha …

By the way any way bus way, klo artikel ini ditutup sampe sekian kayaknya Blog Titen cuman bisa mbacot (ngomong) dan engga bisa kasih usulan solusi yah ….. Oke deh, kita lanjutkan artikelnya.

Dalam artikel sebelumnya, Blog Titen mengusulkan agar pembangunan beorientasi pada pertanian dan kelautan. Jadi artikel ini dilanjutkan dengan pembahasan bidang pertanian.

Apakah ada penelitian yang menunjukkan berapa minimal luas tanah garapan pentani agar petani bisa hidup layak? Rasanya, penelitian semacam ini dapat menjadi pangkal pengambilan kebijakan yang bertujuan untuk mensejahterakan petani (atau jangan-jangan malah belum ada penelitian macam ini). Jadi usaha-usaha untuk memperlancar distribusi pupuk maupun penelitian bibit unggul takkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani jika luas tanah garapan petani tidak cukup untuk mensejahterakannya.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan garapan petani, mungkin kita bisa bikin system penanaman dalam pot seperti gambar berikut:
 
Dengan penanaman sesuai gambar di atas, maka jumlah tanaman yang ditanam bisa jauh lebih banyak. Tapi bukan berarti gambar di atas bisa diaplikasikan begitu saja, perlu kajian dari varietas tanaman yang bisa ditanam dalam pot, kemungkinan pola serangan hama, peraturan perundangan yang berlaku hingga keberpihakan pemerintah. Jadi jangan dicopy-paste seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Karena penulis Blog Titen adalah Sarjana Mesin, maka kurang afdol jika konstruksi penanaman di atas tidak dikaji oleh Sarjana Pertanian. Sarjana Mesin cuma dapat menyumbangkan konstruksi untuk mengatasi keterbatasan lahan, lahan yang engga subur, sistem distribusi air termasuk konstruksi untuk mengolah limbah pupuk dan pestisida. Lagian, konstruksi ini membuat tanaman yang di atas bisa bebas kebanjiran, hahaha ….

Jika pola penanaman dalam pot itu berhasil, maka bangsa Indonesia bisa menjadi pioneer dalam menangani masalah pengalihan fungsi hutan untuk tanaman bahan biofuel yang akhir-akhir ini banyak diprotes oleh aktivis lingkungan hidup dunia. Peningkatan hasil pertanian harus diikuti dengan industry pengolahan hasil pertanian sehingga semakin banyak eleman bangsa yang terlibat dalam pembangunan berbasis pertanian ini. Makin banyak elemen bangsa yang terlibat, makin kuat pula ikatan nasionalisme kita.

Saat ini, kebanggaan bangsa Indonesia atas kekayaan alamnya telah luntur akibat penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis asing. Peningkatan industry berbasis pertanian ini bisa menjadi sumber inspirasi bangsa  untuk membangkitkan lagi kebanggaan atas kekayan alam Indonesia.

Ah sudahlah, capek nulis terus. Dengerin Waving Flag aja yuks ….

11 Oktober 2010

Google Earth: Mencari Penyebab Banjir Wasior adalah Tugas OCC Bina Graha.

Kontroversi penyebab banjir bandang Wasior cuman bikin ribut dan semkin menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang cuma bisa mbacot (ngomong) dan tak bisa kerja! Daripada ikut-ikutan nambah ribut, mendingan buka Google Earth untuk mengkaji lingkungan sekitar Wasior.

Dan inilah dari gambar Google Earth yang diunduh tanggal 10 Oktober 2010.

Sayangnya, gambar pemukiman Wasior tidak terlihat pada gambar di atas, jadi cuman bisa kira-kira. Namun, dari gambar di atas dapat dilihat adanya areal terbuka di daerah A. Jika terjadi hujan deras, tanah di daerah A bisa erosi dan mengendap di daerah B. Endapan ini akan membendung air yang datang dari daerah C. Karena ‘bendungan’ ini dibuat dari lumpur erosi, maka tidak akan kuat menahan aliran air yang terus-menerus dari daerah C, makanya ‘bendungan’ itupun jebol dan mengakibatkan banjir bandang.

Pertanyaannya, apakah areal terbuka di daerah A sudah ada sebelum banjir bandang? Ataukah areal itu terbuka setelah terjadi banjir bandang?  Coba kita pakai Google Earth History untuk mengetahui kondisi sebelum terjadinya banjir bandang. Ternyata ...





Gambarnya makin tidak jelas! Brengsek! Padahal kalau saja seluruh gambar bisa terlihat jelas, kita bisa memperkirakan apakah banjir bandang ditimbulkan akibat pembalakan liar, bencana alam, atau hal lain ...

Sebenernya, semua daerah rawan bisa dikaji dengan pencitraan satelit. Tekstur tanah Jakarta juga bisa dikaji untuk menentukan pembangunan jalur saluran air yang membebaskan Jakarta dari banjir ataupun air menggenang ...

Katanya, pemerintah kita sudah punya "Situsion Room" di Kantor Bina Graha Jakarta, yang katanya bisa mengamati kondisi di seluruh wilayah tanah air. Aku membayangkan Situasion Room ini seperti sebuah Observatory Commads Center (OCC) yang juga bisa menganalisa kondisi geografis tiap meter persegi wilayah NKRI.

Tapi mungkin kita harus maklum, OCC Bina Graha ini masih terlalu muda usianya sehingga belum bisa menjangkau analisa geografis di daerah terpencil seperti Wasior. Yah, setidaknya artikel ini bisa memberikan gambaran tentang harapan seorang warna negara kelas teri mengenai apa yang bisa dilakukan oleh OCC Bina Graha. Mohon agar masukan ini tidak dikategorikan sebagai omong doang, toh Blog Titen udah berusaha melalui akses Google Earth dan mengeluarkan biaya untuk sewa di warnet, tapi yah harap maklum kalo emang cuman segitu kemampuan aksesnya.

Memang OCC Bina Graha ini berdiri atas masukan dari pakar asing, Lie Kuan Yew dan McKinsey. Blog Titen membuat tulisan tentang OCC setelah pemerintah terlebih dahulu menerima usulan yang sama dari kedua pihak asing tersebut.  Apakah gambaran pekerjaan OCC Bina Graha yang dipaparkan di artikel ini juga menunggu dukungan dari pakar asing untuk dilaksanakan?

Selanjutnya: Memantau Kinerja Kemenhut: Wasior Pasca Eksplorasi Via Google Earth

10 Oktober 2010

Kekacauan Sosial: Peringatan yang tidak Diindahkan

Membaca lagi artikel FTA ASEAN-CHINA: Terlambatkah Kita Menyadari Perubahan Struktur Sosial? membuat aku bertanya-tanya, kenapa tanda-tanda perubahan struktur sosial yang sedemikian gamblang tidak mendapatkan respon yang layak?

Apakah cuma Blog Titen yang memberikan peringatan sehingga tidak bisa menjangkau para pengambil kebijakan? Kayaknya banyak kok yang kasih peringatan. Tapi kok ya engga ada respon yah ...

Harus diakui, peringatan di Blog Titen engga kasih gambaran yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan perubahan struktur sosial. Ini emang karena Blog Titen belum menemukan cara bagaimana menunjukkan perubahan struktur sosial melalui media blog. Apakah karena hal seperti ini sehingga peringatan akan adanya perubahan struktur sosial menjadi tidak tersampaikan?

Disisi lain, klo ngeliat pemerintah yang hobinya membela diri demi pencitraan, wajar saja klo peringatan dari pinggiran macam ini engga dipedulikan. Pembelaan diri pemerintah adalah wujud penolakan terhadap berbagai masukan dan peringatan dari anak negeri. Engga cukup membela diri, justru acapkali pemerintah menuduh para pemberi masukan, peringatan dan kritikan sebagai Barisan Sakit Hati. Pemberian label Barisan Sakit Hati ini adalah bentuk pernyataan bermusuhan terhadap para pemberi masukan peringatan dan kritikan, padahal katanya pemerintah menerapkan zero enemy policy. Dimana konsistensi antara hati, mulut dan tindakan?

Masih ada sisi lain yang membuat pemerintah tidak peka dengan permasalahan domestik, yaitu kebiasaan untuk lebih patuh terhadap intelektual produk asing daripada negeri sendiri. Hal ini terlihat dari kebijakan BLT yang dihentikan setelah ada penilaian dari intelektual asing, padahal sudah banyak intelektual negeri sendiri yang sudah memperingatkan sebelumnya.

Mereka-mereka yang belajar di negeri asing sesungguhnya cukup mempelajari cara berpikirnya atau metodanya saja, bukan memperdalam materi pelajarannya. Sebab materi pelajaran mereka adalah materi untuk negeri mereka sendiri, bukan untuk negeri kita. Klo materi itu dipaksakan ke negri kita maka hasilnya adalah berbagai macam salah urus.

Para intelektual produk asing memang cerdas, tapi belum tentu pintar mengaplikasikan di negeri sendiri. Sebab mereka lebih memahami bangsa asing, bukan bangsa sendiri. Sialnya lagi, mereka bisa-bisa lebih memuja bangsa asing daripada bangsa sendiri.


Mungkin keberhasilan China menguasai perdagangan dunia adalah karena menteri perdagangannya tidak pernah makan genteng kampus yang memuja Adam Smith dan Keynesian, sehingga ia bisa melihat kelemahan negara-negara yang memuja doktrin ekonomi liberal.

09 Oktober 2010

Bola dan Politik: Pencitraan yang Gagal?

Melihat senyum SBY yang sedemikian lebar manakala Timnas PSSI berhasil membobol gawang Tim Uruguay, membuatku berpikir, jangan-jangan SBY mencoba meniru strategy pencitraan ala Nelson Mandela.

Pada awal masa pemerintahannya, Nelson Mandela menghadapi situasi  yang berpotensi menimbulkan  perpecahan perang saudara antara kaum kulit putih dengan kaum kulit hitam. Mandela pun melakukan berbagai kebijakan simpatik, mulai dari memotong gajinya sendiri untuk disumbangkan pada kaum miskin kulit hitam hingga melawan mayoritas kulit hitam di DPR yang mencoba menyudutkan kaum kulit putih.

Salah satu strategy yang paling efektif adalah dengan memanfaatkan semangat olah raga. Saat itu, tim Rugby yang didominasi orang kulit putih, memiliki prestasi buruk di tingkat internasional. Presiden Mandela memberikan dukungan penuh pada tim Rugby dan akhirnya berhasil menjuarai turnamen internasional, dimana Mandela menyaksikan secara langsung pertandingan finalnya. Ia menyalami pemain Afrika Selatan maupun pemain lawan (klo ga salah dari New Zealand) sebelum pertandingan, persis seperti yang dilakukan SBY.

Hasilnya, tim Afrika Selatan berhasil memenangkan pertandingan. Rakyat Afrika Selatan, baik yang berkulit hitam maupun putih, membaur dalam euphoria kemenangan dan membentuk ikatan nasionalisme yang tidak membedakan warna kulit. Sebuah strategy yang hebat untuk menyatukan sebuah bangsa yang terancam pecah akibat perbedaan warna kulit.

Tapi hasil antara Timnas Indonesia dan Timnas Uruguay tidak seperti hasil di Afrika Selatan. Timnas Indonesia dibantai habis-habisan di depan mata Presiden. Pencitraan ala Nelson Mandela pun buyar tak karuan.

Menyusun strategi pencitraan melalui olah raga tidak akan sama seperti menyusun strategi kemenangan pemilu, sebab kemanangan pemilu bisa dibeli dengan uang sedangkan sportifitas tidak berorientasi pada uang. Penyusunan rencana strategy pemanfaatan kegiatan olahraga adalah sebuah perencanaan strategis, bukan perencanaan model juru masak.

Dalam hal strategy pencitraan ala Nelson Mandela, SBY bukanlah sosok yang tepat untuk menirunya.  Terlalu banyak perbedaan karakter antara SBY dengan Nelson Mandela.  Disamping itu, pertandingan bola antara Indonesia vs Uruguay bukanlah jenis pertandingan yang dapat dimanfaatkan untuk strategy pencitraan. Lagi pula, para pembantu SBY sepertinya tidak memahami perencanaan strategis. Jadi wajar jika dalam penyusunan rencana pencitraan melalui laga Indonesia vs Uruguay, para penyusun rencana tidak mempertanyakan "Apa yang akan dilakukan Mandela jika Tim Afrika Selatan kalah?"

Jika Tim Afrika Selatan kalah, mungkin Mandela akan mengatakan kepada rakyatnya, "Kini kita rasakan getirnya kalah sebagai satu Negara, Afrika Selatan".  Pernyataan ini bisa mendorong rakyat Afrika Selatan untuk bahu membahu agar tidak kalah di tahun mendatang, nasionalisme dan persatuan tetap akan terbangun meski kalah dalam pertandingan.  Jika SBY mengatakan hal yang sama pasca dibantai Uruguay, justru cacian dan makian yang akan ia dapatkan. Itulah perbedaan Mandela dengan SBY, dan itulah uniknya perencanaan strategis ...

04 Oktober 2010

Secara Ekonomi, Kita Tersesat ....

Orang dari dari Harvard membuat kesimpulan penelitian yang ngawur tentang ukuran negara yang berkorelasi negatif terhadap keterbukaan perdagangan. Naskah dari Journal of Public Economy dengan judul “Openness, Country Size and Government” yang diterbitkan tahun 1997, menyatakan kesimpulan tersebut.

Pada awalnya, seorang mahasiswi cantik asal India yang kukenal lewat Facebook The Economist meminta tolong agar aku memberikan pandangan tentang artikel penelitian Harvard tersebut, untuk membantu dirinya dalam menyusun thesis tentang ekonomi Pakistan. Aneh juga mahasiswi satu ini, udah tahu klo aku jebolan Teknik Mesin tapi masih juga percaya dengan logika analisis ekonomiku, hehehe … Terserahlah, yang pasti mahasiswi ini terlalu cantik untuk diabaikan begitu saja ... (gubraks!)

Kepada mahasiswiku yang cantik ini, aku sampaikan bahwa penelitian dalam artikel Harvard itu mengasumsikan semua Negara di muka bumi menggunakan mahzab ekonomi kapitalis-liberal. Hal ini terlihat dari dasar persamaan yang dibangun berdasarkan utilitas individual dan mengabaikan utilitas komunal. Padahal kenyataannya, tidak semua Negara takluk oleh ilmunya Adam Smith, negara besar seperti China yang komunis sudah barang tentu menolak mentah-mentah paham kapitalis-liberalis. Sehingga pada kenyataannya, justru Negara besar bernama China menunjukkan betapa ngawur hasil penelitian Harvard tersebut.

Memang, persamaan yang dibangun dalam penelitian Harvard tersebut engga salah. Negara besar yang mencoba mati-matian mengadopsi paham ekonomi kapitalis-liberal terbukti harus terseok-seok menghadapi perdagangan bebas. Negara besar tersebut tak lain dan tak bukan adalah negeri kita sendiri, Indonesia. Dan Negara kecil terbukti meraih sukses besar dalam perdagangan bebas, dan Negara itu tak lain adalah tetangga kita sendiri, Singapura.

Mungkin ada baiknya kita belajar kepada China yang mampu menyatukan komunitas UKM menjadi satu industri besar yang kuat. Strategi penyatuan komunitas ini sebenarnya bukan hal yang asing di Indonesia, hanya saja termarginalkan oleh kelompok Mafia Barkeley yang memaksakan paham kapitalis-liberal yang cenderung individualis. Penyatuan komunitas ala Indonesia yang aku maksudkan di sini adalah KOPERASI.


Yah, mungkin Indonesia udah terlalu tersesat dalam rimba ekonomi. Aku harap negeri seperti India tidak akan mengalami pengalaman pahit yang sama. Jadi, kepada mahasiswiku yang cantik, aku akan mendorong dia agar tidak takut melawan arus pemikiran ekonomi barat. Siapa tahu dia bisa menyusul pendiri Greemen Bank, mendapat hadiah Nobel!

Sekarang saatnya menikmati lagu Kuch Kuch Hota Hai sambil baca-baca berita dari Pakistan untuk menulis kajian ekonomi Pakistan ... Setidaknya pemikiranku masih laku meskipun di negeri orang ....

Ada kesalahan di dalam gadget ini