19 Agustus 2010

Berdamai dengan Mental Korup dan Budaya Suap

Saat diskusi tentang unemployments di Facebook The Economist sampai pada pembahasan tentang korupsi sebagai salah satu penyebab pengangguran, aku sadar kalo aku sedang mencoba berdamai dengan Mental Korup dan Budaya Suap.

Pada dasarnya, budaya patron-klien Indonesia yang tidak mengenal pemisahan antara kepemilikan publik dengan kepemilikan privat. Sehingga ketika VOC memperkenalkan sistem pemisahan kepemilikan, maka terjadilah berbagai salah urus yang berujud korupsi dan suap serta nepotisme. Mental korup dan budaya suap tidak dihilangkan oleh VOC, justru untuk melancarkan politik adu domba (Devide et Impera). Jadilah mental korup dan budaya suap makin berurat berakar. Tak heran jika di tahun 60-an saja sudah ada ekonom kondang, Benjamin Higens, yang menilai Indonesia sebagai bangsa yang sulit berkompetisi dalam percaturan global dan kesulitan ini menurutnya bersifat kronis.  

Jelang kemerdekaan, Soekarno dan Hatta sempat ragu memproklamirkan kemerdekaan. Aku yakin, keraguan mereka bukan karena takut terhadap Jepang, Belanda maupun sekutu, melainkan khawatir dengan kelemahan bangsa sendiri.
Disisi lain, sebagai seorang muslim yang memahami sikap dzalim sebagai sikap tidak menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, aku percaya bahwa korupsi dan suap adalah salah satu bentuk kedzaliman karena merusak tatanan birokrasi. Dan sebagai orang yang pernah terpaksa mengeluarkan uang pungli kepada aparat pemerintah, berarti aku juga termasuk orang yang dzalim. Karena orang dzalim bukan saja orang yang melakukan perbuatan dzalim, orang yang diam membiarkan perbuatan dzalim pun sudah dianggap sebagai orang yang dzalim. Jadi, jika seluruh anak di Indonesia mendapatkan akte kelahiran dengan memberikan uang kepada aparat atau instansi pemerintah, berarti sudah tidak ada lagi orang yang tidak dzalim di Indonesia.

Pertentangan batin akibat perilaku dzalim ini sangat mengganggu, terlebih aku kadang harus bekerja  sama dengan instansi pemerintah dalam pekerjaan pengadaan. Untunglah, tidak semua instansi meminta upeti. Namun untuk yang meminta upeti, aku berusaha untuk meminimalkan perilaku dzalim ini dengan cara yang unik yaitu dengan menggantikan uang yang hilang akibat upeti menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual.

Contohnya, jika ada instansi yang memiliki anggaran 50 juta untuk pengadaan mesin terus minta disisihkan 5 juta untuk keperluan lain, maka aku menyusun penawaran dengan harga 45 juta untuk harga mesin ditambah 5 juta untuk biaya konsutan. Sehingga aku tidak hanya memberikan mesin seharga 45 juta tapi juga memberikan laporan analisis konsultan yang senilai dengan 5 juta. Sehingga instansi harus membayar aku penuh 50 juta kemudian aku memberikan sumbangan untuk instansi sebesar 5 juta. Laporan analisis konsultan sendiri berisi tentang prosedur operasi, instalasi, perawatan dan upgrade yang disesuaikan dengan kemampuan instansi, termasuk potensi pengembangannya yang berguna untuk pengembangan instansi itu sendiri. 

Entahlah, apakah caraku berdamai dengan mental korup dan budaya suap ini dibenarkan atau tidak oleh agamaku, Islam. Yang penting, aku merasa lebih nyaman karena aku bukan pengkhianat negeri sendiri. 

16 Agustus 2010

Insiden Kepulauan Riau: Jalan Lebar Menuju Kudeta?

Dalam tulisan “Suksesi Terhadap SBY” dengan penuh keyakinan aku menyebutkan bahwa usaha penggulingan SBY takkan berhasil karena faktor-faktor pendukungnya belum lengkap, yaitu faktor jalur unik yang tak terbantahkan. Insiden di kepulauan Riau melengkapi factor-faktor pendukung kudeta.

Buku “Coud d’Etat: A Practical Handbook” karangan dari peneliti senior CSIS Washington, Edward Luttwak, menyebutkan mengenai factor-faktor pendukung kudeta, strategi kudeta dan proses berjalannya kudeta. Untuk factor pendukung kudeta, Luttwak menyebutkan tiga hal, yaitu factor keterpurukan ekonomi, pemerintahan yang independen serta dominasi aliran politik tertentu.

Dalam hal strategi kudeta, Luttwak menyatakan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menjatuhkan wibawa sang pemimpin, disusul dengan perubahan struktur kekuasaan dan dilanjutkan dengan pengambilalihan kekuasaan pada kondisi status quo. Sedang proses berjalannya kudeta ditandai dengan pernyataan-pernyataan para pejabat resmi yang mendua. Hal ini ditujukan untuk memecah kekuatan pemerintah resmi karena akan ada pihak yang pro maupun kontra.

Anyway, kudeta gaya Luttwak udah engga lagi ngetrend-ngetrend amat. Ada dua factor yang bikin calon pemberontak harus berpikir dua kali  sebelum melancarkan kudeta, faktor pertama yaitu dukungan internasional. Tanpa dukungan ini, dijamin pasca kudeta bakal susah. Padahal, engga mudah mendapatkan dukungan internasional. Hal ini dicontohkan oleh kudeta di Republic of Fiji oleh Panglima Bainimara (mudah-mudahan ga salah nulis namanya) di tahun 2006. Kudeta Bainimara ini menghasilkan kecaman dari Australia, Selandia Baru, AS dan PBB. Bahkan kudeta di tahun 2004 terhadap Pemerintah Guinea digagalkan bukan oleh Guinea sendiri, melainkan oleh oleh Zimbabwe!

Sedangkan faktor kedua adalah faktor intelejen.

Kudeta yang cukup berhasil terjadi di Thailand, hal ini karena kudeta mendapat dukungan dari raja dan rakyat. Dan penentu utama keberhasilan kudeta Thailand adalah fakta bahwa Thailand tidak punya minyak sehingga tidak banyak campur tangan asing.

Apakah kudeta yang sukses selalu didukung oleh Amerika? Tidak juga. Para pemimpin negara-negara kaya minyak di Amerika Selatan, Ortega, Chaves, Castro dan  Morales, terus-menerus diserang oleh gerakan-gerakan anti-pemerintah yang didukung Amerika. Banyak tuduhan mendera mereka, dari pendukung ladang obat bius sampai simpatisan komunis yang mengancam demokrasi. Tapi mereka dapat terus bertahan. Hanya Presiden Noriega yang berhasil diciduk oleh Divisi Lintas Udara ke 82 Amerika Serikat.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejarah mencatat kesuksesan kudeta tahun 1965 yang didahului dengan kondisi ekonomi yang buruk. Inilah faktor pertama dalam bukunya Luttwak. Bagaimana kondisi perekonomian Indonesia saat ini?

Faktor kedua adalah pemerintahan yang independen serta dominasi aliran politik tertentu. Bagaimana dengan arogansi koalisi partai yang dibangun presiden? Sudahkan memenuhi criteria ini?

Sedangkan strategi kudeta yang pertama adalah menurunkan wibawa pemimpin. Bagaimanakah wibawa presiden dengan kasus insiden di kepulauan Riau?

Salah satu ciri dari pelaku kudeta adalah mereka bermuka dua. Bagaimana dengan para staff SBY sekarang?

Boleh jadi jalan menuju kudeta makin lebar. Tapi ada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu siapakah yang mau melakukan kudeta? Dengan situasi dunia yang seperti sekarang ini, hanya orang yang cukup gila yang mau merebut kursi presiden.

14 Agustus 2010

Dunia Intelejen: Sinyal-sinyal Kekacauan?

Bisnis informasi intelejen palsu kini mulai terjadi di Indonesia, dan bukan cuma satu kali Presiden kita dibuat malu oleh kesalahan informasi intelejen. Kini sepertinya intelejen telah menjalankan operasi yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh CIA, sebuah operasi “Asal Bapak Senang” dengan kode sandi  “Operasi Gantung Diri”.

Bukan lagi sebuah isu, melainkan telah dikonfirmasi sebagai fakta, bahwa CIA telah mengalami kehancuran parah sejak peristiwa 11 September. Kehancuran itu dimulai dengan sikap CIA yang memberikan informasi-informasi bohong demi menyenangkan atasannya terutama Presiden Bush. Seluruh informasi itu menjadi senjata makan tuan yang membuat CIA luluh lantak.

Bagi orang yang memahami fungsi intelejen, pasti akan setuju dengan David Kay, Kepala Pengawas Utama Persenjataan CIA. Dia mengatakan bahwa manfaat intelejen adalah untuk mencegah terjadinya perang. Tapi menurutku, manfaat itu belum lengkap karena intelejen bukan hanya untuk mencegah perang, tapi juga untuk meraih kemenangan tanpa perang. Orang Jawa bilang, menang tanpo ngasorake alias fungsi intelejen adalah meraih kemenangan tanpa membuat pihak yang kalah merasa kalah.

Agen-agen terbaik CIA tentulah paham dengan manfaat intelejen. Sehingga pada saat bos CIA, George Tenet,  memberikan informasi palsu yang mendukung kebijakan Bush untuk menyerbu Afghanistan dan Iraq, satu demi satu agen-agen terbaik CIA mengundurkan diri dan bergabung dengan korporat-korporat kaya seperti Lockheed Martin dan Booz Allen Hamilton. Orang-orang dari korporat kaya ini tanpa tedeng aling-aling merekrut agen-agen  CIA di kafetaria markas CIA sendiri. Akhirnya, yang tersisa di CIA hanyalah para agen lapangan dan analis intelejen dengan pengalaman kurang dari lima tahun.

Dengan kualitas sumber daya manusia yang terbatas, CIA tak mampu lagi menempatkan para agen lapangan untuk mengumpulkan informasi yang benar. Para analis intelejennya cuma membuat analisis berdasarkan berita dari CNN, BBC dan sejenisnya, engga jauh berbeda dengan apa yang aku lakukan sekarang. Sehingga CIA harus melakukan outsourcing demi mendapatkan agen intelejen yang memadai.

Di sisi lain, agen-agen intelejen korporat semakin Berjaya. Dengan terbuka, Lockheed Martin mengumumkan iklan lowongan pekerjaan bagi para analis kontraterorisme untuk menginterograsi tawanan teroris di penjara Guantanamo. Kejayaan intelejen swasta makin berkibar ketika pada Februari 2007 berdiri sebuah perusahaan intelejen swasta dengan nama Total Intelligence Solution.

Total Intelligence Solution, atau singkatnya Total Intel, didirikan oleh para petinggi intelejen CIA yang semula tergabung dengan operasi melawan terror pada pemerintahan Bush. Pada tahun 2005, mereka meninggalkan jabatannya dan bergabung dengan Blackwater USA, sebuah perusahaan jasa keamanan elit gaya Romawi, Praetorian Guard, yang berkerja di wilayah Baghdad. Setahun kemudian mereka meninggalkan Blackwater dan mendirikan Total Intel. Dan Total Intel ini tidak hanya bekerja di wilayah Timur Tengah, tapi juga di sini, di Asia Tenggara.

Cobalah amati struktur perekonomian Indonesia, Anda akan menyadari bahwa struktur distribusi produk China tengah dibikin kacau balau. Inilah usaha untuk mematahkan dominasi kapitalisme China di Indonesia. Padahal struktur distribusi produk China di Indonesia membonceng struktur distribusi produk lokal. Akibatnya, distribusi produk lokal pun terganggu, harga-harga bergejolak tak karuan. 

Hingga saat ini, aku belum bisa melihat seperti apa perlawanan para intelejen China. Aku Cuma menduga bahwa para intelejen China mengembangkan metode spionase yang jauh berbeda dengan ilmu-ilmu spionase standar. Dugaanku, mereka mengembangan ilmu spionase berbasis pada ilmu paradox budaya timur atau sejenis dengan synchronicity-nya Carl Gustav Jung sehingga bisa sedemikian smooth and undetected. Ah, rasa penasaan ini bikin aku pengen bergabung dengan Total Intel untuk menguraikan metode spionase China. Ada yang bisa merekomendasikan aku? Hehehe .... (Dolar Booooo ......)

Kini, pada saat intelejen-intelejen global berperang di Indonesia, justru intelejen Indonesia berkutat dengan isu yang sudah mulai basi, yaitu terorisme. Parahnya lagi, ada usaha-usaha untuk menciptakan industri terror yang justru akan membuat pengawasan intelejen ekonomi menjadi lemah. Persis seperti industri terror di Amerika pasca peristiwa 11 September yang berakhir dengan krisis Mortgage.

Mungkin belum terlambat bagi kita untuk berhenti bermain tipu muslihat dan mulai menatap kenyataan bahwa kita adalah bangsa dengan Sumber Daya Manusia yang besar dalam kuantitas namun terlalu sedikit yang berkualitas. Persis seperti yang dialami oleh Inggris pada Perang Dunia II, yang juga terjepit diantara dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Sehingga Winston Churchill pun mengatakan, “Never in the field of human conflict was so much owed by so many to so few". Pada akhirnya, ketika Jerman bertekuk lutut, seluruh asset Jerman diambil oleh Amerika dan Rusia, tidak menyisakan sedikitpun untuk Inggris.

Tapi ada satu pelajaran menarik dari Inggris, yaitu bahwa meskipun sumber dayanya sangat minim namun memberikan sumbangan besar terhadap kemenangan Perang Dunia II. Sumbangan yang dimaksud adalah sumbangan hasil kerja para analis intelejen Inggris yang sangat akurat memberikan informasi pergerakan pasukan Jerman.

Sepertinya, memang, dalam kondisi yang serba terbatas maka kita harus banyak bergantung pada kinerja para analis intelejen untuk menemukan potensi tersembunyi dalam kondisi yang serba kekurangan. Jadi kepada intelejen Indonesia, mohon agar tidak mencurahkan seluruh energy pada kasus terorisme, sisakan juga untuk ekonomi kita.

Para intelejen ekonomi harus bisa menemukan sisi positif ditengah kondisi terburuk sekalipun. Contohnya, kondisi penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis asing sekilas merupakan kondisi terburuk bagi Indonesia. Tapi coba pertimbangkan hal berikut: jika sumur Lapindo dibor oleh perusahaan asing, hampir bisa dipastikan pemerintah dan rakyat bersatu padu menuntut ganti rugi sehingga ganti rugi akan sepadan. Nah, klo dibor oleh perusahaan nasional, justru malah menyedot APBN buat mengatasinya dan ganti ruginya engga kunjung beres.

Berkaitan dengan terorisme, ada baiknya kita kaji pernyataan mantan menteri Luar negeri AS, Colin Powell, setelah menyadari apa yang telah ia kerjakan bersama Bush, “Apakah ancaman terbesar yang kita hadapi saat ini? Orang akan menjawab terorisme. Namun adakah teroris di dunia ini yang dapat mengubah cara hidup orang Amerika atau sistem politik kita? Tidak. Bisakah mereka merobohkan gedung? Ya. Bisakah mereka bisa membunuh seseorang? Ya. Tapi apakah mereka bisa mengubah kita? Tidak. Hanya kita yang bisa mengubah diri kita sendiri …” 
  

Memang, musim sudah berganti dalam dunia intelejen, tak ada salahnya kita mulai menyadari bahwa musuh kita tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri.

My Enemy is Myself: Puncak Proses Belajar Manusia?

Jika kita bisa memahami Synchronicity-nya Carl Gustav Jung dari sudut pandang Fisika Quantum, kita akan menyadari bahwa perjalanan sang waktu diawali dan diakhiri pada “titik” yang sama. Sebagaimana ajaran agama yang mengajarkan surga sebagai tempat awal perjalanan umat manusia (Adam dan Hawa) sekaligus menjadi tempat akhir manusia setelah kiamat nanti. Tapi, memahami kedua ilmu tersebut dapat membuat kita melakukan kegiatan yang lebih berdosa daripada kegiatan syirik. Kalo syirik cuman menyembah selain Tuhan, sedang pemahaman ilmu ini membuat kita tidak ingin menyembah siapa-siapa karena kita sendirilah yang ingin menjadi Tuhan! Pada kondisi seperti inilah kita baru menyadari bahwa musuh kita bukanlah teroris, Bani Israel, kaum Kapitalist, kemiskinan, penindasan  dan bukan pula setan. Musuh kita adalah diri kita sendiri.

03 Agustus 2010

Pengumuman Redenominasi Rupiah: A Call of “War” for Global Unification?

Jiiiaaahh! …… Gertakan Blog Titen terhadap Mafia Barkeley mendapat tantangan dengan gertakan yang jauh lebih hebat, yaitu redenominasi Rupiah! Apakah ini memang karena rencana kaum Kapitalis Global tak terbendung lagi, atau keberhasilan strategy “memancing harimau turun gunung” sehingga bisa lebih gamblang menjelaskan background Century Gate? Entahlah, yang jelas tak ada angin tak ada badai, wacana redenominasi Rupiah sudah mulai diwacanakan oleh Gubernur BI. .

Redenominasi Rupiah akan memarginalkan uang receh. Padahal belum lama Menteri Perdagangan mencanangkan Gerakan Cinta Koin untuk meningkatkan fungsi uang receh. Lhadalah … kok saling bertubrukan. Redenominasi Rupiah akan menguntungkan Kapitalis Global seperti yang akan dijelaskan di paragraf-paragraf akhir artikel ini, tapi akan menjadi berita buruk bagi Kapitalis China yang jago dalam hal produk berharga receh.  Apakah gajah kapitalis China sedang bertempur dengan gajah Kapitalis Global?

Sekilas, takkan terjadi apa-apa dalam redenominasi Rupiah, tapi redenominasi Rupiah akan menyederhanakan transaksi yang berarti dapat mengurangi jumlah peredaran uang di masyarakat yang selanjutnya akan membuat ekonomi melambat dan timbul kekacauan alias chaos. Usaha untuk mengurangi jumlah dana masyarakat sudah dilakukan sejak lama melalui suku bunga yang gila-gilaan. Tapi sayang usaha ini belum membuahkan hasil. Bahkan Bank Century sebagai salah satu asset penyedot dana masyarakat sudah dipertahankan sedemikian rupa, tetap saja perekonomian Indonesia tumbuh. BTW, [mupeng mode: on] tentunya banyak yang masih inget bagaimana marketing Bank Century memberikan “on bed extra service” kepada para nasabahnya, bukan? Slurp, ah …. [mupeng mode: off] 

Mengurangi peredaran uang pernah dilakukan pada tahun 1929 dan menghasilkan Malaise alias kelesuan ekonomi global. Berbagai institusi keuangan mengalami kebangkrutan sehingga  jatuh ke tangan kelompok-kelompok tertentu dengan harga sangat murah.  Tahun 1998, perbankan Indonesia juga mengalami kebankrutan namun tidak jatuh ke tangan kelompok tersebut, justru berada di tangan Negara dengan nama Bank Mandiri. Mungkin, Bank Mandiri adalah kegagalan kerbau-kerbau Mafia Barkeley dalam mengabdi pada tuannya.

Apakah Operasi Malaise 1929 akan dilancarkan di Indonesia?

Jika redenominasi dilaksanakan oleh seorang nasionalis sejati, maka tidak akan melalui tahap membuat pernyataan dan tidak juga mengumumkannya melalui media. Semua dilaksanakan secara diam-diam tanpa menimbulkan gejolak. Sebab, pengumuman redenominasi melalui berbagai media massa dapat menciptakan kepanikan, apalagi jika plus dikompori  dengan melambatnya perekonomian.

Walaupun demikian, scenario chaos memiliki probabilitas yang relative kecil secara konsepsi. Prediksi  yang paling akurat adalah bahwa mata uang regional ASEAN akan relative sama nilai tukarnya dengan US Dollar. Hal ini akan memuluskan rencana Kapitalis Global dalam membentuk mata uang bersama seperti halnya Euro. Dengan adanya mata uang tunggal ASEAN maka makin mudah mengontrol perekonomian Asia Tenggara.

Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diperhatikan yaitu factor China. Kapitalisme China memiliki struktur yang lebih kuat di Indonesia dan Asia Tenggara dibanding kapitalis barat, dan akan menadi lawan yang sangat berat. Jadi kepada kapitalisme barat bisa kita tanyakan, “Can you beat Chinese Capitalists in South East Asia?

Apakah kita hanya akan berjongkok sambil bertopang dagu dengan mulut sedikit ternganga melihat pertarungan kedua gajah kapitalis ini? ( ih, ini posisi  jelek banget sih! :P ).

01 Agustus 2010

Renungan Jelang Ramadhan 3: Mengapa Islam disamakan dgn terroris?

Kita semua bisa memahami bahwa hampir semua peradaban manusia di muka bumi biasanya mengikuti suatu siklus, pertumbuhan kemudian kehancuran. Makanya, peradaban Fir’aun Mesir engga bertahan sampe sekarang karena emang sudah masuk fase kehancurannya. Begitu pula dengan peradaban Mesopotamia, Mohenjodaro dan Harappa, Yunani, Maya, Aztec. Mungkin hanya peradaban China yang sanggup bertahan selama ribuan tahun.  Mungkin karena daya tahan peradaban yang luar biasa inilah, dalam agama Islam terdapat hadist Rasul yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”

Pertanyaannya, apa yang membuat peradaban China dapat bertahan sedemikian lama? Jawabnya adalah, “Karena peradaban China memiliki kemajuan luar biasa dalam hal filosofi strategy perang.” Beda dengan bangsa-bangsa penakluk lainnya seperti Sparta atau  Viking, mereka dikenal karena keberaniannya dan bukan karena strateginya.

Begitu maju filosofi ilmu perang di China hingga hampir setiap manusia di muka bumi ngerti apa itu Sun Tzu.  Dan kapitalis global, yang membangun struktur strategy  penguasaan ekonomi dunia, dibikin kalang kabut oleh permainan strategy China.  Startegy Yunani “Divide and conquer”, mendapat persaingan sepadan dengan filosofi Sun Tzu, “A good General not only know how to win the battle, but he also know when the winning is impossible.”

Tak ubahnya seperti peradaban China, Islam juga mengajarkan seni filosofi perang kepada umatnya. Inilah yang ditakutkan oleh pihak-pihak yang tidak ingin melihat Islam menjadi agama yang besar dan kuat. Maka dibuatlah program agar umat muslim tidak mempelajari seni filosofi perang dalam Al Quran. Caranya? Dengan mengidentikkan Islam sebagai agama terrorist sehingga umat Islam merasa sungkan belajar filosofi perang.

Anyway, kemungkinan Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan seni filosofi perang. Tapi bukan berarti Islam dikembangkan melalui jalan pedang. Karena seni filosofi perang bukan hanya untuk melakukan pertempuran, tapi juga untuk berdagang, bercocok tanam (perang melawan hama), menjalankan roda pemerintahan, dan masih banyak lagi.

Dan sebuah filosofi kuno menyatakan, “If you want to make a peace, build a very strong army.” Bahkan perdamaian pun diraih dengan seni filosofi perang, bukan?

Welcome to the Quantum World!

Renungan Jelang Ramadhan 2: Al Quran dan Fisika Quantum

Dalam satu kesempatan, aku nonton Tafsir Al Misbah yang dibawakan Quraish Sihab di Metro TV.  Saat itu dibahas ayat-ayat Al Quran yang menceritakan kisah Isra’ Mi’raj. Alhamdulillah, sebuah pengetahuan kecil menambah keimananku pada Al Quran.

Dalam salah satu ayat Al Quran diceritakan bagimana malaikat Jibril “turun” ke bumi untuk menjemput Baginda Nabi Muhammad S.A.W. Tapi istilah yang dipakai dalam Al Quran tidak tepat kalo diartikan “turun”. Sebab kata ‘turun” sepertinya malaikat Jibril datang dari luar angkasa di atas sana dan turun ke hadapan Baginda Nabi layaknya pesawat UFO.  Tidak, Al Quran tidak menggambarkan demikian.

Yang dikatakan Al Quran lebih tepat digambarkan begini: Malaikat Jibril menjulurkan tubuhnya dari tempat dimana ia berada menuju ke hadapan Baginda Nabi Muhammad S.A.W. Jadi malaikat Jibril tidak meninggalkan tempat asalnya, hanya menjulurkan tubuhnya. Mentiung, Orang Jawa bilang.

Penjelasan dalam bahasa Al Quran ini sejalan dengan teori relativitas ruang dan waktu. Malaikat Jibril berasal dari dimensi yang berbeda dengan dimensi dimana kita berada, sehingga kehadirannya dimuka bumi secara fisik, tidak sesuai dengan sunatullah. Jadi satu-satunya jalan bagi Jibril untuk menjemput Baginda Nabi adalah dengan menembus ruang dan waktu, engga kayak pesawat angkasa luar kita. Jadi, Al Quran sudah menggambarkan ilmu fisika modern dengan tepat.

Udah ah, engga mudah bikin penjelasan Fisika Quantum. Yang pasti, aku cuman pengen menyampaikan bahwa belajar ilmu pengetahuan dapat menambah keimanan kita jika kita benar-benar objektif mempelajarinya.

 Kepada Bapak Quraish Sihab dan Metro TV, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’a) yang terus menerus mengalirkan pahala. Amien.

Renungan Jelang Ramadhan 1: Spiritual Quotient

Usai menuliskan divine experience yang aku temukan dalam lagu gereja meskpun aku seorang muslim, aku jadi berfikir, adakah ulama Islam yang sejalan denganku? Bahwa Allah tetap bisa ditemukan di dalam Gereja, Pura, Klenteng, Kuil, Pagoda, Sinagoga …

Tersesatkah keimananku?

Ternyata ada! Dia adalah Muhyiddin Ibn Al Arabi (1165-1240) atau yang dikenal dengan nama Syaikh Akbar. Dia menuliskan begini:

“Hatiku mampu menerima berbagai bentuk. Biara bagi Sang Rahib, Kuil bagi arca-arca, padang rumput bagi rusa-rusa, peziarah bagi Ka’bah, lembaran Taurat, Al Qur’an.”

“Jangan ikat dirimu pada sebuah keyakinan secara eksklusif sehingga engkau mungkin mengingkari  yang lain. Karena dengan demikian engkau akan kehilangan banyak kebaikan, tidak, engkau gagal mengenali kebenaran yang sejati. Tuhan Yang Maha Ada dan Maha Berkuasa, tidak dibatasi oleh keyakinan apapun, sebab dia berfirman, ‘Kemanapun engkau memalingkan pandanganmu, maka disanalah ada wajah Allah’ (QS Al Baqarah: 115)

Semua orang akan mengagungkan apa yang dipercayainya, Tuhannya adalah apa yang diciptakannya sendiri. Dan memujinya berarti memuji diri sendiri. Akibatnya dia akan menyalahkan keyakinan orang lain,y ang takkan dilakukannya jika seandainya dia adil, tetapi kebenciannya didasarkan pada kebodohan.”

Membaca tulisan Al Arabi di atas, sepertinya keimanan menuntut kecerdasan dan objektifitas. Bahkan mungkin kecerdasan dan objektifitas adalah parameter kualitas keimanan kita.

Makanya Allah mengangkat derajad orang yang berilmu alias ilmuwan, sebab mereka selalu bersikap objektif dalam memandang berbagai persoalan.

REVISI: Semula artikel ini menyebutkan QS Al Baqarah 109, yang benar adalah QS Al Baqarah 115. Mohon maaf atas kesilapan ini.

Ada kesalahan di dalam gadget ini