30 Juli 2010

How to Train Indonesia Become a Tiger : Sebuah Pertanyaan Moral.

Dengan kredo “Tidak ada kebenaran absolute kecuali Tuhan´maka kita bisa membenarkan realitas yang buruk serta menyalahkan realitas yang baik. Berdasarkan hal inilah maka diperlukan seorang “Raja Tega” untuk mengubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat.

Soekarno adalah salah satu Raja Tega yang baik. Ia menahan diri untuk tidak segera mengekploitasi kekayaan alam dengan bantuan kapitalis asing. Ia menjawab kelaparan masyarakat dengan batu beton seperti Tugu Monas. Semua ini dilakukan demi menunggu kepulangan para putra-putri bangsa yang tengah belajar di negeri orang untuk mengekploitasi kekayaan alam sendiri.

Rencana Soekarno tak pernah terwujud, kekayaan alam kita udah terlanjur jatuh ke tangan kapitalis asing. Hal ini karena Soekarno tidak dapat mengambil jalan lain selain konfrontasi dan akhirnya kalah.

Raja Tega Soeharto tidak dapat mewujudkan sinergi saling mengutungkan antara bangsa ini dengan para kapitalis asing. Kegagalan Soeharto dikarenakan “Mafia Barkeley” miskin ide dan kreatifitas untuk membangun sinergi , alias hanya menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. Kerbau-kerbau inilah yang membuat hubungan Indonesia dengan kapitalis global berakhir menyakitkan di tahun 1998.

Sulit melihat bahwa krisis 98 adalah upaya kapitalis global mengeruk keuntungan, sepertinya emang dirancang untuk menurunkan Soeharto. Terlebih lagi, ujung tombak kapitalis global di Indonesia, yaitu para Mafia Barkeley, sempat tersingkir di pemerintahan Gus Dur.  Jika krisis 98 adalah untuk mengeruk keuntungan, tentunya para Mafia Barkeley takkan sempat tersingkir dan rencana kapitalis global takkan pernah terendus sedemikian gamblang.

Kini, bangsa ini berada diantara dua raksasa yaitu raksasa China dan raksasa kapitalis global. Raksasa China merontokkan daya saing pengusaha local, raksasa kapitalis global menguasai berbagai sumber kekayaan alam. Bangsa ini hanya menjadi kuli yang memungut remah-remah sisa kedua raksasa tersebut.

Pepatah mengatakan,” Dua gajah bertarung, pelanduk mati ditengahnya”. Inilah yang aku khawatirkan. Terlebih lagi, situasi “peperangan” ini mudah membawa situasi menjadi tak terkendali. Ditambah lagi, kita berada dalam transisi sistem kalender bintang Suku Maya tahun 2012.Kepada raksasa kapitalis global, bisa kita sampaikan, “You need our local power to control when the situation is beyond your control”. Kepada raksasa China, bisa kita sampaikan, “Cingcao capcay kwetiau bakpao bakwan fuyunghay (artinya: you need our local power to keep purchasing your products)”. .


Sayangnya, membangun kekuatan local bukan perkara mudah karena diperlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Saat ini, berbagai pengorbanan itu sudah berlangsung. Kebakaran, banjir, wabah dan berbagai bencana lainnya akan menjadi proses untuk mematikan sendi-sendi ekonomi dan mengurangi jumlah penduduk (penduduk makin sedikit brarti makin mudah diatur, bukan?). Juga ada ”kematian” akibat kalah bersaing yang menghasilkan PHK.

Untunglah Tuhan maha adil sehingga prinsip Ketidakpastian Heisenberg (Heisenberg Uncertainty) berlaku di setiap peristiwa, orang sering mengatakannya sebagai “Blessing in Disguise” alias “Ndilalah” orang Jawa bilang. Sehingga, dalam pengorbanan bangsa Indonesia ini juga akan ditemukan fenomena ndilalah ini, kalau kita mau objektif mencarinya sambil mengusir politisi dengan mengacungkan jari tengah. Selama ada politisi, selama itu pula kita tidak akan pernah menemukan akar masalah secara objektif dan terus menerus didera konlik kepentingan.

Dari semua pengorbanan di atas, dapat dipetakan struktur ekonomi mana yang masih bertahan, hancur atau justru meningkat potensinya. Struktur yang hancur dibiarkan hancur, struktur yang bertahan difasilitasi pertahanannya tapi engga perlu didukung pengembangannya, sedang struktur yang meningkat potensinya harus dieksploitasi sesegera mungkin.

Salah satu struktur ekonomi yang meningkat adalah bidang pertanian. Para korban PHK banyak yang kembali ke desa dan menjadi petani. Mereka  berpengalaman di kota sehingga memiliki adaptasi yang lebih baik terhadap teknologi dibanding yang asli petani. Jumlahnya pun banyak, murah lagi.  Jadi, bisa dirancang sebuah system untuk memobilisasi potensi ini guna menciptakan Swa Sembada Beras. Atau klo pemerintah masih senang dengan profit impor beras, bisa dimobilisasi untuk membangun struktur ekonomi perdagangan energy biofuel pengganti minyak tanah. Dan masih banyak alternative laen.  Tugas kayak gini adalah tugas Situasion Room (OCC) Bina Graha. How are you Sit Room?

However, tulisan ini hanya bermaksud menunjukkan kebenaran “No pain, no gain” dan berharap agar pengorbanan masyarakat saat ini kelak akan ada hasilnya, bukan pengorbanan sia-sia.  Engga kembali ke Jaman Belanda di tahun 1942, dimana para prajurit pribumi yang direkrut pemerintah Kolonial Belanda   berjuang sia-sia meregang nyawa di Subang menahan serbuan Jepang, sementara para petinggi militer dan para pejabatnya melakukan pesta dansa di Sositet Bandung. Dan akhirnya Hindia Belanda pun tetap jatuh ke tangan Jepang. Sia-sia banget, khan?

Namun pertanyaannya adalah, apakah kebjakan untuk membuat rakyat menderita demi masa depan yang lebih baik dibenarkan secara moral? Ini yang aku engga tahu jawabannya.

Adakah usaha yang selalu mengikuti penilaian moral yang baik?  Tuhan sendiri tidak mengguyuri orang beriman dengan anugerah kenikmatan, kadang juga dihujani cobaan dan ujian.



(dalam artikel ini ada joke yang disisipkan sebelum pemaparan realitas, joke dapat membuat Anda tersenyum dan menyetujui justifikasi realitas yang disampaikan. Jadi, jangan terkecoh!)

di edit pada 1 agustus 2010 

Update 22 Sept 2010


Inilah alasan mengapa aku pake istilah TIGER:

McKinsey Quarterly:  Riding Asia’s digital tiger

Asia is the world’s hottest area of Internet growth, but the dynamics on the ground vary widely by nation.
SEPTEMBER 2010 • Vikash Daga, Nimal Manuel, and Laxman Narasimhan
Source: Marketing & Sales Practice
 
Asia’s emerging markets are poised for explosive digital growth. The region’s two largest economies—China and India—already boast some 500 million Internet users, and we forecast nearly 700 million more will be added by 2015 (Exhibit 1). Other emerging Asian nations have the potential to grow at a similarly torrid pace. We estimate that within five years, this billion-plus user market may generate revenues of more than $80 billion in Internet commerce, access fees, device sales, and so forth (Exhibit 2).
To better understand the consumers, growth prospects, and problems, we surveyed more than 13,000 individuals across China, India, and Malaysia—countries at very different stages of their digital evolution.1 The key finding? While there were some notable differences in the types of content consumers favor and the devices they use, significant demand is waiting to be unlocked in all three nations. That could lead to growing markets for digital content and services and to new opportunities around digital marketing, including efforts to reach consumers via Internet sales channels.
..............................................

Fisika Quantum , Pornografi dan Konsultan Salon Kecantikan, endang ……

Sungguh engga pernah terlintas di benak klo aku bakan didatengin pengelola salon kecantikan dan meminta supaya aku jadi kosultannya. Benar-benar gila!

Bidang per-salon-an adalah bidang yang jauh dari field of expertise-ku, engineering. Tapi apa hendak dikata, namanya juga teman yang minta tolong jadinya ya…  dibantu semampunya.

Pengetahuanku tentang kecantikan masih nol besar. Sepertinya baru kemarin dalam sebuah pembicaraan semi formal tentang mode baju, aku dengan lugunya bertanya, “G-String itu apa?”.

Pertanyaan itu disambut tawa, harap maklum karena pertama kali mengetahui istilah “G-String” adalah dari ilmu Fisika Quantum dimana terdapat teori alam semesta yang bernama  “G-String Theory”. Jadi kupikir G-String dalam dunia fashion adalah sejenis aksesori seperti halnya kain Asmina.

Setelah tahu G String dalam dunia fashion, aku jadi curiga nih, jangan-jangan ilmuwan fisika quantum penggemar pornografi, soalnya nama-nama theory alam semesta sering pake nama pakaian dalam perempuan. Contohnya, ya itu tadi, G String Theory, trus ada lagi Bikini String Theory ….

Masih mendingan ilmuwan cuaca, mereka engga pake pakaian dalam perempuan melainkan menggunakan nama-nama perempuan. Contohnya, badai Kathrina, badai Sandy dan sederet penyebab bencana cuaca lainya. Alasan para ilmuwan cuaca memberi nama perempuan adala karena perilaku badai-badai tersebut sulit ditebak, mirip seperti perilaku kaum perempuan. Trus kaum perempuan pun protes.

Akhirnya fenomena cuaca juga dikasih nama laki-laki. Contohnya seperti El Nino untuk fenomena bencana cuaca kering. Tapi, dasar laki-laki, fenomena bencana basah dikasih nama perempuan, La Nina. Sebab bencana basah lebih destruktif persis seperti perempuan kalo lagi bocor ....  

BTW, untungnya aku engga perlu kursus kecantikan untuk menjadi konsultan salon, cukup mengaplikasi kredonya marketing, “Give what they want and they’ll need us.”  

22 Juli 2010

NEOLIBERALISME, KENAIKAN TDL dan SITUASION ROOM (OCC) BINA GRAHA: TITEN’S CONFESSION

Sudah bukan rahasia lagi jika para pelaku bisnis global menginginkan sumber-sumber energy yang menguasai hajat hidup manusia tidak dikuasai oleh Negara, melainkan dijadikan sebagai komoditas dagang yang menguntungkan. Makanya, jangan heran jika subsidi berbagai sumber energy harus dicabut di pemerintahan manapun.  Sehingga pengelolaan energy dapat dikendalikan sepenuhnya oleh swasta.

Cobalah untu membuat penghitungan singkat biaya operasional, maintenance dan investasi genset 500 KVA yang dijual kepada penduduk. Jangan heran kalo harga jual ke penduduk dengan tarif dari PLN bisa sangat kompetitif. Inilah yang diharapkan oleh pelaku bisnis global.

Mengingat kita udah engga lagi hidup di jaman Majapahit,  maka energy listrik adalah energy yang menguasai hajat hidup kita. Dan sepertinya, swasta perlahan-lahan dapat menguasai energy listrik ini.

Menguasai sumber hajat hidup adalah kekuasaan yang sesungguhnya, bukan presiden maupun raja. Presiden dan Raja tidak bisa secara langsung mendikte kita. Tapi orang-orang yang menguasai hajat hidup akan dengan mudah mengatur keseharian kita. Tidak mudah melawan apa yang menjadi kehendak para pelaku bisnis global, perencanaan mereka mendekati sempurna sehingga resistance is futile (jadi inget film Star Trek neh). Engga perlu susah-susah melawan kesempurnaan rencana strategi mereka karena sebuah rencana strategy sempurna akan dikalahkan oleh rencana strategy itu sendiri (a Heisenberg Uncertainty, welcome to quantum world!).

Kita perlu membangun kekuatan tawar. Jaman akan berubah dan kita tidak tahu apakah kaum pebisnis global akan menang atau kalah. Jika menang, mungkin kita akan kecipratan, tapi kalo kalah maka kita kita juga lebur. Adanya kekuatan tawar memungkinkan kita bisa bertahan jika mereka kalah, dan tetap kecipratan klo mereka menang. (Licikkah?)

Jaman akan segera berubah, era Mesias akan segera berakhir sesuai dengan system penanggalan suku Maya yaitu tahun 2012. Sistem penanggalan suku Maya berdasakan siklus konstelasi bintang-bintang di angkasa, berbeda dengan system penganggalan Masehi dan Komariah yang menggunakan siklus matahari dan bulan. Siklus bulan menyebabkan adanya siklus pasang surut air laut, siklus matahari menimbulkan perubahan musim. Lalu, siklus konstelasi bintang menyebabkan apa? Mungkin hanya suku Maya yang mengetahuinya.  
Yang pasti, saat ini kita tengah merasakan struktur geografis bumi mengalami pergeseran, seperti yang diumumkan oleh MUI bahwa arah kiblat udah berubah. Penggalian berbagai mineral bumi udah menggeser titik pusat berat planet bumi, dan pergeseran ini otomatis akan mengubah poros putaran planet bumi seperti yang dapat dipelajari dalam mekanisme putaran giroskop (ini ilmunya insinyur mesin yang diterapkan pada ilmu astronomi … hehehe). Berbagai pergeseran ini akan mengubah berbagai siklus di muka bumi. Dan tak ayal lagi, struktur social masyarakat pun bisa berubah, tak ada jaminan kaum pebinis global akan dapat menguasai keadaan.

Yang bisa kita lakukan adalah membangun kekuatan tawar yang fair dengan kekuatan bisnis global.  Cara termudah adalah dengan mulai meniru apa yang dilakukan oleh kaum pebisnis global. Observatory Command Center (OCC) yang dibahas dalam Blog Titen ini, dan telah terwujud menjadi Situasion Room di Bina Graha, adalah satu cara kerja kaum bisnis global dalam menguasai hajat hidup orang banyak. OCC diusulkan disini dengan tujuan agar pemerintahan kita bisa mengetahui dan memahami bagaimana kaum bisnis global ini bekerja. Dan seperti yang diajarkan oleh para filsuf yang mengatakan “Knowing yourself and your enemy, you’ll win the war”.

Seperti yang sudah diperhitungkan sebelumnya, kaum pebisnis global takkan melepaskan kesempatan untuk menguasai OCC Bina Graha. Jadi jangan heran jika OCC Bina Graha dipegang oleh “Mafia Barkeley” dan justru itu yang aku harapkan. Kaum pebisnis global sudah sangat ahli menggunakan piranti ini, aku berharap ada sebagaian nasionalis yang belajar dari para pebisnis global dalam menggunakan piranti OCC Bina Graha. Sehingga jika situasi kaum pebisnis global terpuruk maka para nasionalis kita dapat mengatasi keadaan.
Dengan demikian, kita bisa membangun kekuatan tawar yang fair dengan mereka. ( wuih, kayak aku ini pakar strategy ajah … maklum barusan memenangkan game ROME: TOTAL WAR dan mendapat julukan (trait)  sebagai Unbeatable Strategic Commander, padahal bukan karena aku selalu menang dalam setiap pertempuran pada kondisi apapun, melainkan hanya memilih untuk terjun dimana  aku bisa menang dan pergi dimana aku akan kalah).

After all, OCC bukanlah perencanaan yang berorientasi pada hasil melainkan sebuah usaha untuk menciptakan peluang. Peluang yang besar tentunya.

Namun jika hendak menyusun strategy yang mengarah pada hasil, bangunlah kekuatan dalam bidang yang belum banyak tersentuh oleh bisnis global, yaitu pertanian dan perikanan.

21 Juli 2010

Asam Sulfat Penyebab Melelehnya Fuel Pump?

Berita tentang banyaknya mobil yang mogok secara serentak akibat Fuel Pump yang meleleh benar-banar menarik perhatian. Engga Cuma menarik perhatian, tapi juga membuat aku merenung. Maklum, ini kasus mesin dan aku sendiri seorang mechanical engineer, sih.

Renungannya sederhana, begini:

Fakta: Fuel Pump meleleh dan terjadi endapan.
Ini kemungkinan karena terjadi reaksi antara bahan bakar dengan komponen fuel pump, sejenis reaksi oksidasi atau korosi.

Pertanyaan: Apa yang menjadi penyebab reaksi oksidasi?
Karena bahan bakar mengandung sulfur, maka akan mudah menjadi asam sulfat (H2SO4) jika ‘kawin’ dengan air.  Asam sulfat inilah yang bikin komponen fuel pump meleleh.

Pertanyaan: Bagemana Asam Sulfat bisa hadir dalam bahan bakar?
Akhir-akhir ini Indonesia dilanda hobby banjir, kemungkinan tanki-tangki SPBU kemasukan air dan bereaksi dengan bahan bakar premium. Bisa juga tangki-tangki mobilnya yang kemasukan air. Trus,uap airnya bereaksi dengan kandungan sulphur menjadi Asam Sulfat (H2SO4). Sehingga terjadilah Acid induced stress corrosion cracking alias SCC (sebuah istilah yang aku temukan saat menyelidiki korosi suhu tinggi pada Turbin Gas akibat kandungan vanadium dalam BBM)

Jadi solusinya: Check tangki penampung SPBU, tangki-tangki pertamina dan mobil-mobil yang mogok.

BTW, menurut pemantauan OCC (Situasion Room) Bina Graha gimana neh? Apakah kasus fuel pump ini hanya terjadi di daerah langganan banjir? Jika jawabannya "ya", maka pemeriksaan kandungan air perlu dilakukan ....

Update:

Hasil penelitian lab dari Thailand menyebutkan bahwa premiun Indonesia memiliki kandungan sulfur yang terlalu tinggi. Jika penelitian ini benar, maka kita engga cuma terancam rusak fuel pump massal, tapi juga ada ancaman hujan asam.

Ada kesalahan di dalam gadget ini