27 Januari 2010

Demo 28 Januari 2010 dan Antisipasi Pemerintah

Pada hari ke-100 pemerintahan, logikanya pemerintah akan mengadakan rapat evaluasi program kerja 100 hari yang sudah dicanangkan pemerintah sendiri. Jadinya, para kritikus dan pihak oposisi memanfaatkan momentum ini untuk melakukan demonstrasi besar-besaran. Tapi apa lacur, Presiden tidak berada di tempat alias tidak ada rapat evaluasi.

Gembar-gembor bahwa Presiden akan meresmikan Pembangkit Listrik dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama adalah bahwa gembar-gembor ini dapat menurunkan jumlah demonstran, sebab para demonstran akan berpikir buat apa demo kalo yang didemo ngacir entah kemana. Ini merupakan strategi cerdas untuk menghindari pelimpahan massa yang makin banyak berarti makin tak terkendali.

Di sisi lain, menyisakan satu pertanyaan besar, mengapa pemerintah tidak melakukan evaluasi programnya sendiri?

Yah, sudahlah. Tulisannya dilanjutkan besok lagi aja. Terlalu banyak membahas demo 28 Januari 2010 sebelum hari H bisa memancing demo anarkhis ato malah demonya jadi batal. Bahkan tulisan ini pun diterbitkan menjelang tengah malam 27 Januari, biar engga banyak dibaca calon demonstran ...

Yang pasti, ancaman demo adalah bentuk represi publik yang menuntut pemerintah memberikan pertanggungjawaban moral. Dan memang sebaiknya pemerintah tidak tinggal diam ...

UP DATE 30/01/10

Dan ternyata memang Program 100 Hari dilupakan begitu saja. Gembar-gembor peresmian Pembangkit Listrik telah sukses mengurangi jumlah demonstran. Bahkan berlanjut menjadi strategi klasik dari China, yaitu "Strategi Mengosongkan Istana". Strategi yang berhasil membuat tujuan demonstrasi menjadi tumpul. Sebuah strategi yang berkali-kali berhasil dilaksanakan oleh SBY ...

Namun perlu diwaspadai bahwa tuntutan moral akan terus bergulir. Pembakaran photo presiden dan caci-maki kepada para pejabat negara yang sangat vulgar diperlihatkan oleh para demonstran, telah memasuki alam bawah sadar banyak rakyat Indonesia. Pemerintah akan menjadi sasaran utama jika kehidupan rakyat jadi makin sulit ...

26 Januari 2010

Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan

Bisakah kita membenarkan kebijakan yang baik namun dilaksanakan dengan cara yang salah? Bisa pulakah kita membenarkan kebijakan yang buruk meskipun dilaksanakan dengan cara yang benar?

Kedua pertanyaan di atas adalah garis pemisah antara pandangan konsekuensialis dan pandangan deontologis. Pandangan konsekuensialis adalah bahwa tujuan yangbaik dapat dicapai dengan cara apapun. Pandangan ini memperbolehkan kita berbohong demi tujuan yang baik. Sedang pandangan deontologis digambarkan oleh Immanuel Kant bahwa cara sama pentingnya dengan tujuan. Pandangan deontologis akan menilai bahwa berbohong adalah salah meskipun kebohongan tersebut menyelamatkan banyak nyawa.

Pembahasan sebuah kebijakan dengan dua pandangan yang berbeda di atas dapat menjadi perdebatan berkepanjangan. Terlebih jika pandangan pembahasan kedua pandangan tersebut disertai dengan unsur-unsur emosional, padahal unsur emosional adalah usur yang tak terpisahkan dari dunia pengambilan keputusan kebijakan, alias dunia politik.
 >> read more >>

25 Januari 2010

FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?

Sektor informal adalah sektor yang paling fleksibel dalam menghadapi berbagai ancaman krisis. Dengan mudah sektor ini mengalihkan usaha demi beradaptasi dengan perubahan sehingga sektor ini tetap hidup.

Sektor informal ini berjumlah puluhan juta jiwa. Mereka menanam sayuran dengan memanfaatkan lahan kosong di sudut-sudut pemukiman untuk mengekploitasi Sumber Daya Alam tanpa polusi. Mereka mengelola sampah residu aktivitas kita yang untuk menjadi uang.

Jika hanya mengamati satu orang pekerja informal, jumlah uang yang mereka dapatkan tidaklah seberapa. Tapi, jutaan pekerja informal dapat mengumpulkan milyaran rupiah. Angka milyaran inilah yang mengalir ke produk rokok, mie instant, sabun, shampo, bensin, retribusi parkir, PPN, dan sebagainya. Sadarkah kita bahwa angka milayaran ini turut menghidupi sektor induistri manufaktur, pendapatan daerah hingga pendapatan nasional?

Jika dalam satu hari ada sepuluh juta pekerja informal yang membeli rokok senilai lima ribu rupiah, maka pemerintah pada hari itu mendapatkan pendapatan dari cukai rokok sebesar dua puluh milyar rupiah. Bukan jumlah yang sedikit bukan?

Pada krisis tahun 1998, banyak yang memperhitungkan bahwa NKRI akan pecah. Namun, kemampuan survival kaum marginallah yang turut membuat roda pemerintahan tetap berjalan sehingga terjaga keutuhan NKRI. Merekalah yang turut memberikan pendapatan bagi negara sehingga dapat membeli peluru untuk ditembakkan kepada para mahasiswa.

Sayangnya, jasa kaum marginal ini tidak pernah diakui. Pemerintah hanya mengakui bahwa penyelamat krisis 1998 adalah UKM, sektor informal dari kaum marginal diabaikan sama sekali. Lebih menyakitkan lagi, peranan para orang kaya yang sebelumnya mengekploitasi kaum marjinal ini, tergambar dalam BLBI.

Mudah-mudahan FTA ASEAN-China tidak mempersempit ruang gerak kaum marjinal, mereka tetap bisa memberikan pemasukan anggaran bagi negara. Karena jika kau marginal ini lumpuh, maka dampak sistemik yang sesungguhnya akan benar-benar terjadi.

Masih banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan FTA dengan mengandalkan kaum marginal ini. Dana BLT yang jumlahnya gedhe dapat dimanfaatkan untuk mengekploitasi potensi kaum marginal ini. Ada banyak kaum marginal yang bersedia meluangkan waktu dua - tiga jam untuk merawat fasiltas umum di perkotaan sebagai syarat menerima BLT. Kaum marginal juga bersedia melakukan perbaikan kecil pada fasilitas infrastruktur. Dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan kecil yang dapat diselesaikan dalam rangka menghadapi FTA yang dapat dikerjakan oleh kaum marginal.

Sudah saatnya kaum marginal ditempatkan pada lokasi, kondisi dan situasi yang layak. Bukan asal digusur atau diperlakukan seperti Nenek Minah ataupun Pak Dhe Lanjar, Jamkesmas saja belumlah cukup ...

[kutipan dari buku "PARADOKS ANATOMI DAMPAK SISTEMIK" hehehe .... ]

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

23 Januari 2010

BUKU PRIBADI: PARADOKS ANATOMI DAMPAK SISTEMIK


Dongeng tentang ketidakpastian sebagai ungkapan ketidakmampuan kita dalam memahami perkembangan jaman dengan cara yang benar, karena jaman sekarang sudah terlalu kompleks untuk dipahami dengan metode ilmiah biasa.

- Marketing - Hukum - Militer - Bencana -

Karya: Alifadian Yuhaniz
Ukuran: 105 x 140mm
Tebal: 74 halaman


Kata Pengantar
Akhir-akhir ini, banyak orang menilai segala sesuatu berdasarkan arus utama (mainstream). Padahal penilaian ini tak ubahnya seperti mengamati aliran sungai di bagian hilir tanpa memahami kondisi di hulu sungai. Untuk menjelaskan hulu dan hilir ini, maka buku ini diawali dengan kisah kegagalan Boeing dalam mengembangkan teknologi Anti-gravitasi.

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan kita salah dalam melakukan analisis pengamatan, pertama adalah penempatan persepsi faktor eksternal yang tidak pada tempatnya. Hal ini diceritakan dalam kisah gempa di Jogja, pembunuhan orang tak bersalah di Wheeler Avenue oleh polisi dan kisah Blue Team dalam latihan perang Millenium Challenge.

Kesalahan kedua adalah penanganan yang kurang tepat. Kisah persaingan antara Pepsi vs Coke adalah contoh yang bagus, juga kisah tentang perilaku polisi usai menyelesaikan tugas yang justru memancing kerusuhan.

Untuk menghindari kedua hal di atas, maka diperlukan dua jenis proses. Proses pertama adalah proses pembangunan persepsi. Kerja para intelejen Inggris di masa Perang Dunia II menjadi contoh menarik tentang bagaimana mereka membangun persepi terhadap pasukan Jerman. Juga kisah perusahaan finansial dari Australia, Credit Farm, yang berhasil membangun persepsi dalam menentukan konsumen potensialnya.

Proses kedua adalah proses penanganan yang tepat. Penanganan krisis tidak seperti menjawab soal matematika maupun fisika. Penanganan krisis adalah proses yang flksibel dan adaptif dalam satu mainstream. Kisah pemadam kebakaran yang tiak terkecoh oleh api di dapur menjadi salah satu contoh yang menarik.

Bagian akhir buku ini ditutup dengan gambaran pelatihan bagi orang-orang yang dipersiapkan untuk menghadapi situasi krisis. Tahukah Anda, apa parameter keberhasilan pelatihan ini? Jumlah denyut jantung permenit!

19 Januari 2010

FTA ASEAN CHINA: Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita

Melihat sedemikian sistemik dan agresif penetrasi produk China di pasar lokal, pernahkan terlintas di benak Anda bahwa Chinese Marketing Intelligence sudah merambah hingga ke sudut pasar tradisional?

Fenomena munculnya produk China di sentra perdagangan dan sentra industri, seperti produk batik di pasar klewer Solo maupun produk konveksi di Bandung, menunjukkan bahwa produk China telah berada di dalam jantung urat nadi distribusi barang lokal.

Sebagai pemuja ekonomi makro, tentu tidak mudah bagi pemerintah untuk menyadari adanya anomali dalam kondisi mikro riil ekonomi kita. Padahal, penetrasi produk China melalui sistem distribusi lokal hanyalah sebagian kecil masalah ekonomi riil. Masalah lain seperti banyaknya kegiatan industri lokal yang terbakar selama musim penghujan ini yang melumpuhkan potensi industri lokal juga membuyarkan beberapa sistem ekonomi mikro.

Strategi yang sering diunggulkan dalam menghadapi FTA mengembangkan industri yang tidak mungkin disaingi China, yaitu industri berbasis Sumber Daya Alam. Pada level makro, strategi ini sangatlah realistis, namun dalam level mikro kita masih berhadapan dengan pengelolaan lingkungan yang berujung pada banjir dan tanah longsor. Singkat kata, perlu 'reformasi' untuk menjalankan strategi ini yang berarti makin berat kerja pemerintah. Jika tantangan mikro jauh diluar perhitungan, apakah strategi ini akan tetap dilaksanakan?

Sepertinya konsentrasi pemerintah kita masih pada usaha pengembangan hasil sumber daya alam. Padahal FTA tidak hanya sebatas distribusi pertukaran barang. FTA juga aka mengubah struktur ekonomi kita, yang berarti juga mengubah kehidupan sosial kita.

Produk elektronik yang makin murah akan membuat kebutuhan energi listrik di masyarakat meningkat pesat. Makin banyak peralatan kerja murah yang akan meningkatkan kebutuhan infrastruktur. Makin banyak produk murah maka makin banyak orang yang berbisnis ritel di setiap sudut kota, akan menimbulkan permasalahan lalu lintas tersendiri. Mengingat prestasi ekspor komoditas pangan, holtikultura dan peternakan jeblok maka akan banyak lahan pangan dikonversi menjadi lahan kakao, karet dan sejenisnya karena pangsa ekspornya lebih menjanjikan. Dan seterusnya.

Eh, ngomong-ngomong soal karet, aku pernah bikin desain dan prototype kendaraan mini off-road untuk membantu pekerjaan di perkebunan karet. Desain ini sebenernya untuk program workshop di sekolah kejuruan. Karena sekolah ini dekat dengan perkebunan karet, maka aku mengusulkan buat memproduksi kendaraan ini. Dilengkapi dengan sistem yang aku ciptakan, Clutch Control Differential (CCD), maka kendaraan ini bisa mengatasi selip di medan berat perkebunan.

Bayangkan, sebuah sekolah kejuruan pun memiliki potensi untuk mendukung negeri ini dalam mengembangkan sumber daya alam untuk bersaing di FTA. Jadi, mari kita kembangkan potensi-potensi lainnya agar transformasi struktur sosial berjalan mulus tanpa kekacauan.

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan Lembaga Integrasi Pembangunan UKP3R?

Pembahasan Kasus Century tak lepas dari UKP3R di dikomandani Eyang Kakung Marsillam Simanjuntak. Ternyata UKP3R memiliki peranan hampir sama dengan konsep Observatory Command Center yang ditulis di Blog ini. Permasalahannya, kenapa Century tetap menjadi masalah meski sudah disupport oleh UKP3R?

Meski hanya sebagian, aku sempat menyaksikan tayangan rapat pansus Century dengan saksi Eyang Kakung Marsillam. Kebetulan tepat saat salah seorang anggota Pansus menyinggung UKP3R. Jadinya kau langsung tertarik mencari tahu lebih jauh tentang UKP3R yang sebelumnya aku engga ngerti sama sekali.

Ternyata UKP3R adalah lembaga yang dibentuk jauh sebelum aku berminat membaca berita-berita seputar pemerintahan. Dukungan pendirian lembaga ini engga cuma dari dalam negeri, Lee Kuan Yew dan McKinsey & Co juga memberikan support. Mungkin, kebutuhan akan adanya lembaga observasi dan koordinasi integrasi di Indonesia di mata Lee Kuan Yew dan McKinsey, sama seperti pandanganku ( hehehe .... narsis dikit).

Hanya saja, dalam kasus bailout Century, sepertinya UKP3R belum ditempatkan sebagaimana layaknya lembaga observasi dan koordinasi integrasi. UKP3R haruslah diintegrasikan dulu dengan lembaga lain sebelum mengintegrasi pembangunan. Tidak seperti KPK yang justru harus diisolasi agar tidak tertular virus korupsi. UKP3R haruslah bertindak sebagai virus yang menularkan sistem integrasi pembangunan ke semua lembaga pelaksana pembangunan.

Pengakuan Eyang Kakung Marsillam bahwa beliau diundang sebagai narasumber doang dalam Rapat Kosultasi KSSK tanpa penjelasan lebih lanjut, menunjukkan bahwa KP3R hanya diundang sebagai pelengkap. Makanya, tak heran jika Eyang Kakung Marsillam mengaku tidak memberikan kontribusi berarti dalam proses bailout.

Mungkin, undangan untuk Eyang Kakung Marsillam sebaiknya dicantumkan deskripsi maksud dan tujuan undangan disertai lampiran data-data bahan pertimbangan yang akan dibahas dalam rapat. Undangan yang tidak disertai materi ini membuat Eyang Kakung Marsillam tidak dapat melakukan kajian awal dengan data-data di UKP3R. Dengan kata lain, rapat konsultasi KSSK tak ubahnya seperti obrolan pepesan kosong di warung kopi angkringan.

Lain halnya jika setiap narasumber diberikan data dan deskripsi permasalahan, maka masing-masing narasumber dapat memiliki solusi. Sehingga rapat akan membahas berbagai alternatif solusi, bukannya berputar-putar membahas penjelasan masalah.

Tak heran jika Dirut Bank Mandiri baru dapat memberikan alternatif solusi setelah rapat berhasil memberikan deskripsi permasalahan. Sayangnya, alternatif solusi itu muncul ketika waktu udah mulai habis. Jadi, tidak ada pembahasan solusi lain secara komprehensif, yang ada hanyalah solusi bailout oleh LPS.

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang bodoh, ada banyak potensi di negeri ini. Cuman, kadang kita sendiri yang tidak dapat menempatkan potensi itu sebagaimana mestinya. Sehingga kita sering ketinggalan dalam banyak hal.

Jadi, apakah bangsa Indonesia sudah belajar dari Kasus Bank Century ataukah akan terus menjadi serial sinetron politik?


oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

13 Januari 2010

Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan Pembangunan Terjawab!

Sejak 10 September 2009, aku menunggu jawaban atas kejanggalan yang bermain di benakku. Kini terjawab sudah dengan pernyataan Mbok Dhe Sri Mulyani bahwa data dari Bank Indonesia tidak memuaskan ...

Pernyataan Mbok Dhe Sri Mulyani menjawab kecurigaanku bahwa perencanaan pelaksanaan bailout Bank Century tidaklah komplet. Ada sesuatu yang kurang. Dan ternyata sesuatu itu adalah "data dari bank Indonesia ..."

Berdasarkan ilmu yang mempelajari tentang dampak sistemik, data-data makro tidak dapat dijadikan sebagai bahan untuk menentukan dampak sistemik. Dalam artikel ini diceritakan tentang pembunuhan orang tak bersalah oleh polisi karena polisi hanya menggunakan asumsi makro. Ketakutan otoritas moneter saat itu sama seperti ketakutan empat polisi pada artikel ini.

Ilmu yang mempelajari dampak sistemik, atau chaotic science, adalah ilmu yang masih baru. Penelitian-penelitian baru dikembangkan pada tahun 80-an. Aplikasi chaotic science baru dilaksanakan setelah tahun 2000. Kecil kemungkinan para pelaku bailout Bank Century sudah pernah mempelajari ilmu ini.

Aku kini bisa memaklumi bahwa aku engga mungkin menyatakan Mbok Dhe Sri Mulyani bersalah, karena Mbok Dhe Sri engga tahu ilmunya kok.

Kini tinggal memberikan pertanyaan kepada pemerintah, maukah pemerintah mempelajari ilmu baru ini?

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

FTA ASEAN-CHINA: Penetrasi Itu sudah Dilancarkan

Solo, salah satu jantung batik di Indonesia, telah menerima suplay batik dengan label “made in China”. Dan seorang pedagang batik mengatakan, “Sebenarnya kain batik produk China itu, pada era 1980-an sudah beredar di Pasar Klewer, namun tidak begitu laku seperti saat ini.” Sepertinya ‘Batik Made In China’ mulai membentuk pangsa pasarnya …

Menteri Negara Koperasi dan UKM menyatakan optimismenya bahwa produk lokal dapat bersaing dengan produk China setelah mengunjungi pabrik sepatu dan sentra perdagangan garmen Tanah Abang. Menteri juga menganalisis, khusus di Pasar Tanahabang, komposisi produk yang dipasarkan sampai saat ini adalah 53 persen buatan lokal dan 47 persen buatan impor (sebagian besar China).

Lebih lanjut, menteri menyatakan akan membina pelaku UKM agar dapat meningkatkan produktivitasnya supaya harga perunit dapat ditekan lebih rendah. Masalahnya adalah adanya kata AKAN dalam kegiatan pembinaan tersebut, padahal penetrasi produk China udah dimulai, bukan lagi AKAN dimulai …

Sepertinya cara klasik untuk mengajarkan UKM berhadapan langsung dengan produk China sudah terlambat. Mungkin saatnya kita mengambil langkah alternatif, seperti memperluas maupun membuka peluang usaha-usaha baru di bidang-bidang yang tidak harus berhadapan langsung dengan China.

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

12 Januari 2010

Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, Dokter dan Bank Century

Marilah kita mulai pelajaran dengan menelaah tiga kasus:

Kisah pertama tentang Empat anggota polisi dari Street Crime Unit, New York Police Department,yang melakukan patroli malam di daerah rawan kriminalitas, Wheeler Avenue. Mereka melihat seseorang yang mencurigakan. Mereka segera menghampiri orang tersebut. "Police! Can we have your word?". Orang yang mencurigakan itu tidak menjawab dan mulai merogoh kantong sakunya. Para polisi pun berteriak, "Show me your hands!". Namun orang itu malah mencabut sesuatu berwarna hitam dari dalam kantongnya. "Gun! He's got a gun!" teriak salah seorang polisi. Tembakan polisi pun dilepaskan. Orang yang mencurigakan itu pun roboh. Sesuatu yang ia cabut dari dalam kantongnya adalah sebuah dompet!

Kisah kedua diceritakan oleh seorang pensiunan polisi. Ia dan partnernya tengah mengejar anggota geng remaja. Ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di area TKP, salah seorang anggota geng tiba-tiba berada pada jarak sekitar 5 meter di depan mobilnya. Ia dan partnernya segera keluar dari mobil dan menghampiri sambil memperhatikan anggota geng yang sedang berusaha mengambil sesuatu yang terselip di pinggang. Anggota polisi ini tahu bahwa anggota geng itu tengah berusaha mengambil senjata Crome .25 Auto. Tapi para polisi bergerak mendekati anggota geng tanpa mengarahkan pistolnya, hanya berteriak "Stop! Don't Move!" Bahkan ketika anggota geng tersebut telah berhasil menggenggam senapannya pada jarak kurang dari 3 meter, kedua polisi tetap tidak menembakkan pistolnya. Dan ternyata sang anggota geng tersebut melemparkan senapannya ke tepi jalan.

Kisah ketiga adalah kisah pemadan kebakaran. Sebuah kebakaran terjadi di sebuah rumah yang besar. Api berkobar di dapur. Para petugas pemadam masuk melalui pintu depan dan menyemprotkan air ke arah dapur dari ruang tengah. Tapi api tetap menyala dan tidak bereaksi dengan air yang disemprot. Pemimpin pasukan pemadam tiba-tiba berteriak, "Get out from the house! Now!". Seluruh anggota pemadam segera keluar dari rumah. Beberapa saat kemudian, lantai rumah tsb runtuh dan menunjukkan bahwa sesungguhnya sumber kebakaran ada di ruang bawah tanah. Jika para pemadam terus berusaha memadamkan api di dapur, mereka semua akan tewas terpanggang.

Kisah pertama menunjukkan bahwa para polisi terpengaruh oleh situasi sehingga melakukan penilaian yang salah, mengingat mereka sadar berada di lingkungan kriminal dan baru saja terjadi perampokan bersenjata. Kisah kedua, para polisi mengaku bahwa ia tidak memperhatikan ancaman kekejaman sebuah gang tapi lebih fokus pada ketakutan di raut wajah anggota geng yang sedang dikejar. Sedang dalam kisah ketiga, pemimpin pemadam merasa heran kenapa api di dapur tidak bereaksi dengan air yang ia semprotkan sehingga memerintahkan anak buahnya keluar dari rumah.

Orang mencurigakan dalam kasus pertama tidak berdampak sistemik. Namun karena para polisi terpengaruh oleh pemikiran perampokan bersenjata, maka orang mencurigakan itu dianggap memiliki dampak sistemik. Penanganannya pun fatal.

Anggota geng yang tengah dikejar polisi berpotensi menembakkan senapannya secara sporadis. Kasus kedua sekilas memang menyimpan dampak sistemik. Namun pengamatan yang lebih detail membuat para polisi dapat menyadari bahwa anggota geng tersebut tidak berdampak sistemik. Penanganan menjadi bijak.

Kebakaran di dapur pada umumnya dianggap sebagai kegiatan rutin pemadam kebakaran. Kebakaran akibat kompor meledak sudah biasa dan tidak sistemik. Namun, berbekal pengalaman, pemimpin pemadam dapat menyadari bahwa api di dapur terhubung dengan sumber api yang jauh lebih besar dan berpotensi sistemik. Sehingga penyelamatan api di dapur akan menjadi sia-sia, bahkan dapat membunuh seluruh anggota pemadam.
>> read more >>

Strategi Perdagangan dari Strategi Militer: Modal untuk menghadapi FTA?

Dalam latihan perang Millenium Challenge, pasukan Amerika dengan kode Blue Team, dibantai habis oleh pasukan teroris dengan kode Red Team. Tahukah Anda, siapa yang menginspirasi para komando Red Team? Para trader dari Wall Street!

Blue Team yang merepresentasikan tentara Amerika memiliki database dan matrix untuk mengetahui kekuatan lawan. Sedangkan Red Team tidak dapat mengetahui kekuatan Blue Team yang sesungguhnya. Red Team mengandalkan kemampuan observasi langsung yang diadopsi dari strategi Perang Dunia II. Meskipun menggunakan strategi klasik, Red Team berhasil menenggelamkan 16 kapal Blue Team tanpa perlawanan berarti pada hari kedua latihan.

Pada Perang Dunia II, tentara Kerajaan Inggris menyadap komunikasi morse tentara Jerman. Tak ada satupun analis intelejen yang dapat mengetahui isi pesan komunikasi tersebut dan tidak bisa membaca seberapa besar kekuatan pasukan Jerman. Analis intelejen hanya dapat melakukan analisis pola pemberian pesan. Hanya dengan mengobservasi pola, tentara inggris dapat membaca 'pergerakan' pasukan Jerman.

Ketika kita harus menghadapi FTA, sudah tidak ada waktu lagi untuk memperkirakan dengan cermat kekuatan perdagangan China. Namun kita masih bisa mengobservasi perkembangan perdagangan dengan China. Hanya saja masih ada yang kurang, yaitu instrumen untk observasi. Red Team menyebar pasukannya untuk melakukan observasi lapangan. Intelejen Inggris memasang radar di sepanjang pantai timur Inggris untuk mengobservasi komunikasi Jerman. Jadi, instrumen apa yang akan dipakai oleh pemerintah kita dalam menghadapi serbuan produk murah China?

Apakah instrumen observasi harus bisa memperkirakan kekuatan lawan? Tidak. Observasi yang dilakukan Red Team tidak pernah menghasilkan kesimpulan seberapa besar kekuatan Blue Team. Observasi intelejen Inggris tidak pernah tahu kekuatan pasukan Jerman. Tapi Blue Team dan pasukan Jerman dapat ditaklukkan. Kenapa? Karena observasi langsung akan memberikan data action yang lebih akurat dan tidak menimbulkan bias asumsi-asumsi eksternal yang membingungkan.

Namun ada sedikit perbedaan antara observasi militer dengan observasi persaingan dagang. Observasi persaingan perdagangan tidak ditujukan untuk menghancurkan kompetitor, tapi hanya untuk merebut sebagian pangsa pasar. Seperti yang pernah ku lakukan ketika harus merebut pangsa pasar dari sebuah perusahaan besar yang sudah memiliki jaringan secara nasional. Aku cukup menemukan celah kecil yang tidak sempat diperhatikan oleh perusahaan besar. Dengan intensifikasi, celah kecil ini pun sedikit melebar.

Kenapa aku tak melanjutkan pelebaran pangsa pasar hingga mengalahkan perusahaan nasional? Jawabnya sederhana, perusahaan yang kutangani adalah perusahaan kecil yang akan menemukan banyak kesulitan untuk mengelola pangsa pasar nasional. Jadi, harus tahu diri la yaw ...

Integrasi Perencanaan: Gunung Es Permasalahan Bangsa?

Aku hanya bisa menghela nafas panjang ketika mendengar keluhan Dirut PLN bahwa menurut keterangan dari ESDM, PLN tidak mendapatkan pasokan gas untuk bahan bakar pembangkit listrik hingga 2015. Apakah tidak ada koordinasi perencanaan antara perusahaan minyak dengan perusahaan listrik sehingga terjadi hal konyol seperti ini?

Sejak masih kuliah aku sudah menduga bahwa ketiadaan perencanaan terintegrasi di negeri tercinta ini akan membuat reformasi lebih parah daripada Orde Baru. Kini, sepertinya dugaan itu tidak lagi sekedar dugaan melainkan sudah mulai menjalar menjadi indikasi.

Pada saat UKM-UKM harus menghadapi FTA, mereka dihadapkan pula dengan krisis suplai energy listrik yang menggerakkan peralatan industri mereka. Padahal merekalah yang menjadi tulang punggung perekonomian di masa krisis. Ketika kita harus bersiap menghadapi serbuan produk murah China, justru penghitungan pertumbuhan ekonomi berbasis konsumsi dipuja mati-matian. Padahal serbuan produk China mengancam produksi lokal ... Dan yang paling parah adalah bahwa FTA sudah disepakati sejak 2002 namun sampai dengan pelaksanaan di 2010, tidak ada persiapan yang nyata!

PLN dan PERTAMINA: Apakah Pemerintah sudah Memberikan yang Terbaik?

"Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who read too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking."
- Albert Einstein -

Ketika mendengar penjelasan bahwa bahan bakar untuk pembangkit listrik di Semarang diimpor dari arab, aku mera sedikit heran. Kenapa bahan bakar hasil bumi Indonesia yang lebih bagus justru diekspor sedang untuk kepentingan bangsa sendiri diimporkan bahan bakar berkualitas lebih rendah?

Kabar burung menjelaskan bahwa selisih harga BBM diatas dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan negara. Okelah, aku bisa menerima meskipun menyisakan satu hal. Yaitu ada kesan bahwa kekayaan alam kita dikelola dengan mental pedagang, bukan mental negarawan, sehingga mengutamakan keuntungan meskipun kebutuhan negeri sendiri terkatung-katung.

Pengakuan Dirut PLN bahwa ESDM menjelaskan tidak adanya bahan bakar gas untuk PLN hingga 2015, adalah bukti adanya mental dagang. Ironisnya, pembangkit listrik di Semarang mendapat suplay gas hasil bumi Indonesia melalui pengelolaan oleh PETRONAS Malaysia! Dan akan makin ironis jika kita mendengar pengakuan pendiri PETRONAS Malaysia bahwa dia mendirikan PETRONAS setelah belajar dari PERTAMINA!

Makanya dalam artikel "Mimpi Menghancurkan PLN" aku mengkaitkan pula dengan mimpi menghancurkan PERTAMINA. Karena aku menduga bahwa pengelolaan energi di Indonesia masih perlu banyak pembenahan.

Bagaimanapun, aku engga pengen lihat PLN dan PERTAMINA hancur. Aku sudah cukup puas dengan pelayanan teknisi PLN dan petugas Pom Bensin PERTAMINA. Hanya saja, kok bisa Pembangkit Listrik PLN Tambak Lorok Semarang bergantung pada PETRONAS Malaysia dan bukannya PERTAMINA? Untuk siapakah PERTAMINA itu ada? Apakah akan dibiarkan bangsa Indonesia menjadi pangsa pasar perusahaan asing bukannya perusahaan sendiri?

Kini, perusahaan swasta bisa membangun jaringan kabel bawah tanah antar kota maupun dalam kota, gimana kalo swasta membangun pembangkit dan mendistribusikan kepada masyarakat untuk menyaingi PLN?

11 Januari 2010

FTA ASEAN-CHINA: Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.

Kekuatan China ternyata tak sebatas "murah". China berhasil mengembangkan seni strategi perang warisan leluhurnya untuk menaklukan dunia. Bagaimana dengan Indonesia yang justru tabu dengan budayanya sendiri?

Dalam sebuah pertempuran di medan berkabut, seorang panglima mengerahkan orang-orangan yang terbuat dari jerami untuk maju di garis depan. Musuh pun menyambut pasukan jerami dengan ribuan anak panah. Setelah dirasa cukup, sang Panglima menarik mundur pasukan jerami dan mengambil ribuan anak panah yang tertancap. Anak panah tersebut kini bisa dipakai sang panglima dan pasukannya sebagai amunisi untuk menyerang musuh.

Strategi pasukan jerami di atas sudah tidak asing lagi dalam sejarah seni strategi perang China. Inilah strategi yang efektif untuk mendapatkan amunisi dari musuhnya sendiri. Strategi ini pula kini diterapkan oleh China dalam dalam FTA dengan ASEAN.

Negara-negara ASEAN kaya akan bahan mentah hasil pertambangan dan perkebunan yang merupakan "amunisi" bagi industri China. Negara-negara ASEAN bisa kaya dengan menjadi suplier bagi industri China, bahkan bisa mengontrol Industri China. Agar industrinya tidak dikontrol oleh negara lain, China menerapkan kuota impor untuk mencegah ketergantungan yang terlalu tinggi.

FTA ASEAN-China tak lain adalah strategi orang-orangan jerami, dimana negara-negara ASEAN diperkenankan untuk mengekspor bahan baku sebanyak-banyaknya ke China. Sama seperti pasukan musuh yang melepaskan ribuan anak panah ke pasukan jerami. Tak ubanya seperti memanfaatkan anak panah yang tertancap pada orang-orangan jerami, China akan memanfaatkan bahan baku dari ASEAN untuk menjalankan roda produksinya kemudian mengekspor hasilnya ke ASEAN. Dan ASEAN tidak boleh menolak ekspor China ini. Cerdas, bukan?

FTA ASEAN-China bukanlah aksi tipu-tipu, tapi murni adu kecerdasan di 'medan pertempuran'.

Mungkin Indonesia akan terseok-seok dalam menghadapi FTA. Ancaman kelumpuhan dunia usaha nasional tidak hanya datang dari China, bencana alam dan kebakaran satu demi satu melumpuhkan dunia usaha. Tapi, dengan memandang memandang perkembangan situasi secara jernih, tentu akan dapat kita temukan sebentuk "blessing in disguise". Kuncinya, jangan tabu dengan budaya sendiri ...

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

07 Januari 2010

Belajarlah Walau Sampai ke Negeri China.

Sebagai orang yang memiliki sekedar pengalaman marketing di perusahaan manufaktur dan perdagangan, ancaman FTA begitu terasa. Entah udah berapa kali aku dikalahkan oleh kompetitor yang bisa menawarkan dengan harga jauh lebih murah.

Murah memang bukan komponen mutlak yang akan dijadikan pertimbangan bagi konsumen dalam memberi barang. Namun, murah adalah bagian dari strategi pemasaran yang sangat seksi, menggairahkan dan tentunya, cerdas. Secara sederhana, strategi pemasaran mereka adalah "Buat apa beli produk mahal kalo modelnya akan segera ketinggalan jaman".

Selain strategi pemasaran, China juga membuka fasilitas murah bagi kita untuk mengadakan transaksi. Support dari tenaga marketing dari China juga luar biasa. Sewaktu masih bekerja, aku yang sama sekali belum punya pengalaman impor, bisa mendatangkan satu kontainer dari China.

Bahkan setelah aku mengatakan bahwa aku keluar dari pekerjaan karena menjalani proses penyembuhan selama beberapa bulan, para marketing itu tetap mengirim email sekedar "say hello" serta mengucapkan selamat natal dan tahun baru (padahal aku muslim hehehe ...).Yang mengagumkan lagi, para marketing itu mendorongku supaya membuka usaha sendiri sebagai distibutor untuk produk mereka, jika aku sudah sehat. Sayangnya, mereka cuma kasih dorongan, bukan modal, wakakakaka ....

Tidak perlu belajar dalam waktu lama untuk bisa mendatangkan produk dari China. Para tenaga marketing di China sudah akan mengurus semuanya dalam waktu singkat. Sebagai perbandingan, untuk mengetahui biaya pengapalan, aku bertanya pada dua pihak, yaitu pihak markting dari China dan perusahaan freight forwarder di Jogja dalam waktu hampir bersamaan. Ternyata Marketing dari China memberikan jawaban lebih cepat (terpaut satu hari) dan biaya yang lebih murah (terpaut 120 US dollar). Dan, siapa sih yang engga seneng sama yang seksi, menggairahkan dan cerdas?

Tapi, yang paling konyol dari pengalamanku berhubungan dengan marketing dari China adalah bahwa aku baru tahu adanya FTA Asean-China di akhir tahun 2009! Padahal kesepakatan udah ditandatangani sejak 2004. Dodol!

06 Januari 2010

Perdagangan Bebas China: Jangan Terlena!

"Why does this applied science, which saves work and makes life easier, bring us so little happiness? The simple answer runs: Because we have not yet learned to make sensible use of it."
- Albert Einstein -

Punah sudah optimisme bahwa pemerintah sudah siap dengan perdagangan bebas China dalam artikel "Perdagangan Bebas China: Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia". Sebab, pemberitaan media massa menunjukkan bahwa pemerintah baru mau akan berencana membuat rencana penyusunan tim perencana ...

Gambaran dampak serbuan produk China di Amerika Serikat belum tentu sama dengan di Indonesia. Bisa jadi memiliki dampak positif, bisa pula berdampak lebih buruk dari Amerika.

Salah satu dampak positif yang disampaikan menteri perdagangan adalah hilangnya kuota impor terhadap produk CPO dari Indonesia. Di sisi pengusaha CPO, tentulah hal ini sangat menguntungkan. Tapi apakah kebutuhan minyak gorang dalam negeri akan aman? Jika ekspor CPO jauh lebih menguntungkan maka suplay minyak goreng dalam negeri bisa menurun.

Naiknya harga minyak goreng di daerah Banyumas harus dikaji secara serius, apakah kenaikan ini terkait dengan FTA atau tidak. Oleh karena itulah Blog ini pernah mengusulkan sebuah Observatory Command Center (OCC) sebagai pusat kendali kebijakan yang dapat bergerak cepat mengidentifikasi berbagai permasalahan bangsa. Sayangnya, aku baru mendengar tentang FTA saat libur akhir tahun kemaren, sehingga engga bisa mengkaitkan pentingnya OCC di era FTA ini.

Negeri China yang pertumbuhan ekonominya tinggi tentulah haus akan energy, sehingga engga cuman masalah minyak goreng saja yang perlu diperhatikan. Masalah suplay energy juga harus diidentifikasi dengan cepat. Madia massa sudah mulai memberitakan kelangkaan energy di daerah. OCC atau lembaga sejenis makin dibutuhkan peranannya.

Tidak sepenuhnya salah jika pemerentah belum menyusun strategi menghadapi FTA. Strategi yang disusun pada saat FTA sudah berjalan akan mempermudah pengkajian karena dampak FTA sudah menjadi nyata, bukan lagi prediksi atau perkiraan. Dengan demikian kebijakan yang dihasilkan harus benar-benar efektif dan tidak boleh salah, tidak ada waktu lagi untuk belajar dari kesalahan.

Perlu disadari, penyusunan strategi yang bersamaan dengan FTA sangat mudah terjebak dalam kesalahan yang fundamental. Seperti strategi pembentukan Satgas Anti Mafia Hukum. Satgas ini bekerja dalam ranah hukum saja, padahal fenomena mafia hukum lahir bukan karena masalah hukum saja, tapi ada faktor ekonomi, politik, budaya, dsb. Persis seperti gambaran Gunung Es oleh Eyang Kakung Bibit. Jika satgas hanya berkutat dengan aturan-aturan maka para mafia hukum akan bermetamorfosa dan berevolusi untuk menjaga eksistensinya, karena masih dibutuhkan keberadaannya oleh oknum-oknum tertentu.

Kembali ke FTA, pelaku ekonomi rill akan bergerak tanpa menunggu kebijakan pemerintah, baik bergerak untuk menuju situasi kondusif maupun ke arah yang lebih buruk. Dan pemerintah harus mengontrol semuanya.

Bukan kasus Century, KPK, Anggodo dan kasus-kasus hukum lainnya yang akan menjadi sumber referensi utama untuk menjatuhkan Presiden, karena kekuatan-kekuatan konstitusi sudah terpetakan dengan baik. Tapi kasus gula, minyak dan sejenisnya yang akan menyentuh pemegang konstitusi tertinggi di Indonesia, yaitu rakyat Indonesia.

Secara pribadi, aku lebih seneng Presiden terpilih mengadakan perbaikan-perbaikan riil daripada dilengserkan dan diganti. Resikonya lebih kecil dan prosesnya (seharusnya) akan lebih cepat.

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

05 Januari 2010

Politik Pencitraan: Pilar Utama Demokrasi?

"If you are out to describe the truth, leave elegance to the taylor"
 - Albert Einstein -
Sewaktu musim kampanye di Amerika, pada Maret 2007 Wall Street Journal memuat berita tentang citra para kandidat presiden. Seberapa pentingkah Pencitraan itu sehingga The Times, The Post dan The Journal juga memuat berita pencitraan kandidat presiden? Kemanakah arah demokrasi sesungguhnya?

Membuka kembali berita-berita lama selama musim pemilu presiden di Amerika membuat aku geleng-geleng kepala. Setidaknya ada dua kubu analisis kandidat presiden. Kubu pertama adalah kubu yang membahas pencitraan personal. Sedang kubu yang kedua membahas program kerja para kandidat terkait dengan berbagai isu yang berkembang.

Percaya atau tidak, justru kubu pertama-lah yang dimotori oleh para American Professor dan American PhD. Pembahasan kubu pertama ini bertengger di harian bergengsi sekelas New York Time, Times dan Washington Post. Sedang pembahasan kubu kedua hanya nongol di Cleveland Plain Dealer ataupun Kansas City Star.

Jadi, Lebih penting mana antara merk dasi presiden atau masalah pengangguran?

Mungkin para profesor dan PhD engga mau kasih penilaian kinerja kandidat presiden karena jika penilaian itu salah maka akan menghancurkan kredibilitasnya sendiri. Sehingga, alih-alih memberikan analisa sesuai bidang keilmuannya, malah berkomentar tentang kepribadian kandidat.

Mungkin pula penilaian kinerja kandidat akan menjadi perdebatan berkepanjangan yang engga efektif buat kampanye.

Pencitraan kepribadian sangat efektif jika diajukan pada orang-orang yang sudah hidup serba berkecukupan atau orang miskin yang bermimpi terlalu tinggi. Jadi, pencitraan akan efektif untuk menjaring orang-orang kaya penyumbang dana kampanye, dan menarik dukungan suara dari orang-orang yang belum beruntung.

Sebatas untuk kampanye sajalah pencitraan itu efektif. Jika musim kampanye berlalu, semua orang mulai terbangun dari mimpi. Orang pun menjadi makin sadar. Makanya, pencitraan Obama yang sangat bagus di masa kampanye tercabik-cabik dalam waktu singkat setelah terpilih jadi presiden. Penjiplaknya dari Indonesia juga mulai kehilangan kepercayaan publik sebelum seratus hari menikmati kemenangan kampanye.

Jika sudah tidak punya kepentingan untuk berkampanye lagi, tak ada salahnya jika berteriak di hadapan bangsanya sendiri, "Kini saatnya kita berkorban demi masa depan bangsa!"

03 Januari 2010

Perdagangan Bebas China: Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia

"The only reason for time is so that everything doesn't happen at once"  
- Albert Einstein -
Kekhawatiran sebagian orang bahwa produk murah China dapat membunuh produksi lokal dan berdampak pada peningkatan pengangguran adalah hal yang logis. Namun produk murah China juga dapat berdampak pada terbukanya lahan-lahan bisnis baru dalam perekonomian kita. Yang pasti, perdagangan bebas akan mengubah struktur perekonomian Indonesia. Jadi, tinggal kita hitung-hitung, positif atau negatifkah dampak perdagangan bebas dengan China?

Dampak negatif serbuan produk murah China dapa dilihat pada krisis Subprime Mortgage di Amerika. Dengan pelan tapi pasti, produk murah China mengubah pola konsumsi dan investasi masyarakat Amerika. Didukung dengan fasilitas kredit murah hasil kebijakan ekonomi makro Bank Sentral Amerika, ancaman krisis terakumulasi bagai bola salju. Dan akhirnya bola salju berhasil meluluh-lantakkan perekonomian Amerika.

Pengalaman Amerika di atas tidak perlu membuat kita jadi paranoid. Lihatlah Vietnam yang telah melakukan antisipasi serbuan produk asing murah dengan peraturan standarisasi harga produk asing (sumber: Wall Street Journal). Dengar-dengar, Singapura udah menurunkan standar gaji pegawai dalam rangka menghadapi krisis global. Kebijakan Singapura ini otomatis dapat menahan laju konsumsi produk murah. Dan mungkin semua negera ASEAN telah membuat persiapan masing-masing menghadapi perdagangan bebas China ini.

Hanya saja, aku belum menemukan kebijakan pemerintah Indoensia terkait dengan perdagangan bebas ini. Yang aku temukan justru kebijakan yang akan mendorong konsumsi masyarakat terhadap serbuan produk murah asing. Kebijakan BLT dan PNPM Mandiri adalah contoh pembagian dana untuk kegiatan konsumtif tersebut. Aku berharap, Pemerintah sudah melakukan kebijakan tersendiri namun tidak terdeteksi akibat riuhnya panggung KPK dan Bank Century.

Sebagai salah satu warga mayarakat ekonomi Indonesia, aku pun berusaha mencari informasi seputar dampak perdagangan bebas ini. Setidaknya, jika aku menemukan solusi untuk menghadapi perubahan ini, maka aku dapat berbagi dengan masyarakat mengenai peluang-peluang investasi dan karir yang akan berkembang seiring dengan perubahan struktur ekonomi kita.

Sayangnya, aku tidak mendapatkan informasi yang memadai. Ada banyak data yang ingin aku ketahui, mulai dari data trend produk berkembang dan pola distribusinya, perkembangan produk ekspor, perkembangan produk impor termasuk yang black market, hingga data kredit investasi dan kredit macet sejak tahun 1998. Juga data kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Dan semua data yang berkaitan dengan kondisi ekonomi mikro.

Wel, ada yang mau berbagi data-data tersebut?

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

Ada kesalahan di dalam gadget ini