29 Desember 2010

Negeri yang Masih Dicintai Tuhan

Piala boleh diboyong Malaysia, tapi bangsa Indonesia bangga dengan kesungguhan dan sportifitas TIMNAS. Ini menunjukkan timbulnya ikatan untuk menuntut kejujuran, ikatan yang akan menjadi kekuatan bagi bangsa untuk mengubur hidup-hidup para pemimpin bangsa yang busuk.


Terima kasih, Tuhan. Engkau memang perencana yang jenius! Namun, berikanlah kesempatan bagi para pemimpin busuk untuk bertobat sebelum tentaraMu membantai mereka. 

17 Desember 2010

Nasionalisme Tumbuh via PSSI ... So what?

Euforia nasionalisme berkembang pesat seiring dengan prestasi PSSI ... engga sia-sia dweh bikin artikel tentang inspirasi nasional dan inspirasi dari olah raga. Tapi sayangnya kok sepertinya pemerintah engga tahu apa yang harus dilakukan setelah euforia nasionalisme itu tumbuh ... Lalu apa sesungguhnya tujuan pemerintah menumbuhkan nasionalisme?

Blog Titen sebagai salah satu pengusung ide untuk menumbuhkan nasionalisme tentunya memiliki tujuan sendiri, yaitu memanfaatkan euforia nasionalime untuk mencegah ancaman disintegrasi bangsa. Jauh-jauh hari usah kelihatan kalo kasus ancaman perpecahan nasional seperti kasus Keistimewaan DIY, bakan nongol. Nah, meskipun warga DIY marah dengan keangkuhan pemerintah pusat, namun sense of belonging terhadap PSSI masih tersisa. Masih banyak warga DIY yang juga bangga dengan kemenangan atas Philipina. Tinggal kita rencanakan untuk melakukan kegiatan yang dapat menularkan ikatan nasionalisme warga DIY dengan pemerintah pusat, bukan?

Apa yang dilakukan pemerintah justru sebaliknya, bukannya menyebarkan spirit nasionalime tapi malah menaikkan harga tiket masuk untuk melipatgandakan keuntungan materi. Ini tanda bahwa pengelolaan negara masih dikuasai mental kapitalis ... mungkin karena kita menganut "demokrasi yang harus balik modal" kali yah ...

Di China, uang udah tidak lagi diperhitungkan dalam pembangunan. Demi menciptakan lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya, pemerintah China mau menanggung dua pertiga dari 1300 perusahaan tidak dapat balik modal sesuai prakiraan, masih ditambah lagi 20% kredit bank bermasalah, dan entah masalah apa lagi. Dengan fenomena seperti ini, dengan enteng Presiden Beijing National Accounting Institute mengatakan, "Kami memang harus berkorban (sacrifice) banyak."

Kaum kapitalis takkan mengenal istilah sacrifice, berkorban untuk diri sendiri ada susah minta ampun apalagu berkorban untuk negara. Makanya, contoh pengorbanan itu seharusnya diberikan oleh pemerintah, bukan malah memanfaatkan momentum untuk menaikkan harga!

Di sisi lain, banyak orang yang ngaku-ngaku sebagai orang bijak mengatakan, berkorbanlah untuk negara dimulai dari diri sendiri. Kalau pemerintah sendiri justru memanfaatkan momentum untuk mengambil keuntungan bukannya berkorban ... apakah kita juga harus berkorban? Orang-orang "bijak" itu tak lain adalah para iblis bertopeng malaikat yang mendukung pemiskinan bangsa yang mengarah pada kekufuran!

Atau jangan-jangan pemerintah seperti biasanya ... hanya copy-paste ide nasionalisme melalui olah raga tanpa memahami secara mendalam maksud dan tujuan ide ini yah ...

Udah ah, ... aku lagi ga berminat membahas isyu-isyu nasional ....

03 November 2010

Mariyuana Merecovery Ekonomi Amerika?

alam diskusi di di website forum diskusi BBC dan forum internasional lainnya, aku selalu mengatakan bahwa kebijakan moneter takkan mampu menyelamatkan  Amerika dari resesi. Amerika harus membuat kebijakan yang besifat riil dan tidak berhadapan langsung dengan bangsa Asia Selatan maupun Asia Timur. Kebijakan ini bisa ditempuh dengan menciptakan peradaban baru, ya, peradaban baru dan bukan sekedar gaya hidup baru.

Peradaban baru yang aku maksudkan adalah penemuan teknologi baru yang mengubah struktur interaksi sosial masyarakat. Namun sepertinya Amerika bener-bener bangkrut dan tak mampu membiayai riset untuk penemuan baru. Jadinya, mereka mencoba menciptakan peradaban baru dengan cara yang murah meriah yaitu dengan cara melegalkan mariyuana!

Jika mariyuana dilegalkan di California dan disertai dengan peraturan ketat yang mengatur bahwa hanya mariyuana yang ditanam di California saja yang boleh beredar, maka lahan pertanian California akan berubah menjadi ladang mariyuana. Petani California tidak perlu lagi menanam produk pertanian yang hanya akan dikalahkan oleh produk sejenis dari China. Majulah para petani California. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia akan berduyun-duyun menghamburkan uangnya di California untuk menikmati mariyuana secara legal.  Ekonomi California pun akan membaik.

Secara ekonomi legalisasi mariyuana adalah sebuah rencana yang bagus, tapi mariyuana bukanlah suatu hal yang bagus. Dan itulah wajah asli ekonomi yang tidak mengenal kemanusiaan dan hanya mengenal uang.

Sistem untuk Indonesia

Berita tentang seorang anak yang meninggal di pengungsian Mentawai mungkin hanyalah sebuah berita kecil yang tidak penting. Derita seorang ibu pengungsi Mentawai yang luka-lukanya mengalami infeksi akibat keterlambatan bantuan tim medis, mungkin juga hanya berita pojok yang tak berarti. Namun, kedua berita ini sudah cukup membuat aku pribadi merasa marah.

Tak cukup sampai di situ, emosi makin mendidih tatkala mendengar pengakuan seorang ibu rumah tangga yang mengatakan bahwa Pemerintah Daerah Mentawai sudah tidak peduli dengan bantuan dari pusat sebab bantuan yang dijanjikan saat gempa 2007 tak kunjung datang. Ada apa dengan negeri ini?

Cuaca buruk menjadi alasan konyol keterlambatan bantuan ke Mentawai. Bukankah  TNI AL punya kapal-kapal besar yang sanggup melawan keganasan Samudera Hindia? Bukankah TNI AL memiliki kapal-kapal perang yang dilengkapi dengan system kemudi sirip ikan hiu yang didesain untuk menaklukkan kekejaman ombak Samudera Hindia? Bukankah kita punya pasukan marinir yang gagah berani dan terlatih untuk melakukan pendaratan logistic di wilayah pantai?

Bukankah pangkalan-pangkalan militer negara adi daya berada di sekitar kita? Kenapa tidak meminta bantuan mereka yang punya kapal-kapal induk? Apakah peraturan penanggulangan bencana menghalangi ini semua? Jika peraturannya engga bener, kenapa anggota DPR tidak meninjau pelaksanaan peraturan itu malah justru studi banding ke luar negeri?

Hukum buatan manusia tidak akan sesempurna hukum buatan Tuhan, oleh karena itu harus selalu dipantau, dievaluasi dan direvisi. Dan kita saat ini tengah dilanda kesesatan yang nyata karena mematuhi dan memuja hukum buatan manusia melebihi kepatuhan dan pemujaan kita terhadap hukum Tuhan. Sudah banyak kasus diselesaikan dengan hukum buatan manusia yang sama sekali tidak manusiawi, padahal hukum Tuhan adalah hukum yang sangat manusiawi. Pantas saja klo Tuhan menjatuhkan hukuman bagi kita.

Sudahlah, engga perlu dipedulikan tingkah polah para anggota DPR. Sebagai pembuat aturan hukum, mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding hakim. Jika Tuhan mengatakan bahwa hukuman bagi hakim nakal jauh lebih menyakitkan daripada hukuman bagi orang biasa, maka hukuman bagi anggota DPR nakal akan lebih menyakitkan daripada hukuman bagi hakim nakal. Tidak perlu kita menunggu karena kita tidak akan pernah tahu kapan para nggota DPR busuk merasakan penderitaan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tapi yakinlah bahwa hukuman itu benar-benar akan datang.

Negeri ini benar-benar membutuhkan hasil observasi yang jernih alias benar-benar objektif untuk direalisasikan menjadi langkah nyata yang positif. Usulan untuk mengadakan lembaga Observatory Command Center (OCC) sudah bergulir sejak lama, bahkan sudah terrealisasi di bekas kantor Bina Graha, dikenal dengan nama Situasion Room atau disingkat Sit Room.


Inilah sesumbar Juru Bicara Presiden tentang Sit Room yang dimuat di Bataviase.com tanggal 4 mei 2010:

"Ini kalau di AS itu seperti National Situasion Room di Gedung Putih. Ada beberapa ruangan, ada yang khusus melihat secara langsung dari hasil foto udara, ada yang dari foto satelit. Pesawat televisi juga banyak. Bukan CCTV, ini teknologi satelit. Google juga ada karena Google juga menyediakan fasilitas foto udara," papar Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha saat menjelaskan fasilitas baru istana itu, kemarin.Dicontohkannya, jika sebuah kabupaten dilaporkan sedang membangun sebuah jembatan, perkembangan pelaksanaan proyek jembatan itu akan bisa diawasi langsung lewat fasilitas itu, apakah sudah 100%, 90%, atau justru belum terlaksana sama sekali.
"Di situ ada proses monitoring, pelaporan, dan verifikasi. Untuk mengecek kebenaran laporan yang masuk, fasilitas ini bisa untuk cross check secara langsung," terangnya.Proyek yang merupakanide Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2007 itu dibangun di bekas kantor mantan Presiden Soeharto, Bina Graha. Kemarin siang. Presiden menyempatkan diri meninjau langsung kesiapan Situation Room itu sebelum diresmikan dalam waktu dekat. Ruangan itu nantinya akan menjadi pusat penyedia informasi bagi pengambilan keputusan pemerintah."Diharapkan, ruangan itu bisa menjadi ruang kerja Presiden untuk mendapatkan informasi terkini, lengkap, dan akurat," tambah Julian.

Hasilnya?  TAI KUCING! Kenapa Sit Room engga membuat pemerintah sadar bahwa untuk menembus ke Mentawai diperlukan kapal-kapal besar untuk melawan keganasan ombak? Kenapa Sit Room tidak bisa menjelaskan penyebab banjir Wasior?

Sit Room adalah sistem yang dasar yang sangat dibutuhkan di negeri ini. Perangkat untuk menjalankan sistem ini sudah tersedia di Bina Graha. Tapi apalah arti sistem yang bagus jika operatornya tidak pas? Ini sama saja memberikan seperangkat komputer kepada operator mesin ketik manual! Tak heran jika ramalan blog titen benar bahwa Sit Room ini menjadi SHIT ROOM.



Jubir Presiden juga mengatakan kalo Situasion Room adalah ide SBY. Ini jelas bulshit, ide ini juga melibatkan McKinsey dan Lie Kuan Yew. Keliatan banget kalo SHIT ROOM ini tak lain adalah hasil politik pencitraan yang menelan biaya sebesar Rp. 8 milyar. Karena emang buat pencitraan doang maka hasil kerjanya pun nol besar.

Secara teknis, ada dua dugaan atas kegagalan Sit Room, pertama orang-orang yang duduk di Sit Room  adalah orang yang tidak memahami maksud dan tujuan didirikannya Sit Room. Kedua, adanya PERATURAN/HUKUM yang membatasi ruang gerak Sit Room. Dan dua hal inilah yang menjadi batu penghalang besar bagi kemajuan negeri ini, yaitu SDM dan peraturan/hukum yang tidak sesuai.


Secara mendasar, kegagalan Sit Room adalah karena pembangunan yang berlandaskan pada PENCITRAAN!


Note:
Salah satu pengusul OCC/Sit Room adalah McKinsey. Mungkin ada baiknya jika pemerintah meminta McKinsey untuk mengkaji kinerja Sit Room. Lebih lanjut lagi, mungkin dapat ditempatkan orang-orang McKinsey di dalam Sit Room tapi jangan banyak-banyak, karena orang McKinsey adalah orang ekonomi dan ekonomi tidak mengenal moral dan kemanusiaan.

24 Oktober 2010

Pelajaran dari Para Raja Pendahulu



Menyaksikan kijang-kijang di sebuah Rumah Dinas Bupati membuat aku sadar bahwa sesungguhnya para raja jaman dahulu memiliki kebiasaan memelihara berbagai hewan adalah untuk membaca tanda-tanda alam. Hewan-hewan akan mendadak berisik atau justru mendadak terdiam ketika suatu bencana mengancam.

Para pawang yang memelihara hewan-hewan kesayangan raja, akan segera memberitahukan pada raja  jika heran-hewan menyampaikan pesan dari alam. Sehingga raja bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada rakyatnya. Inilah sebuah bagian kecil dari ilmu yang dimiliki oleh para raja, yakni ilmu weruh sak durunge winarah (mengetahui sebelum peristiwa terjadi). Namun, tidak semua raja memiliki kemampuan untuk membaca alam, terlebih jika raja sudah mulai terusik oleh berbagai ancaman pemberontakan.  Jiwanya tidak lagi tenang dan penilaiannya tidak lagi objektif.

Ilmu kepemimpinan jaman doeloe ini mungkin sudah jarang ditemukan dalam era demokrasi saat ini. Bahkan mungkin sudah hilang. Sebab kepemimpinan saat ini hanya ditentukan oleh mayoritas suara terbanyak tanpa mempedulikan kualitas intelektual dan spiritual calon pemimpin.

19 Oktober 2010

Bukti Ilmu Ekonomi Salah Kaprah: Sedih atau Senang yah ….

Hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2010 ternyata diberikan kepada para ekonom yang melawan arus ilmu ekonomi yang berkembang.   Dan para ekonom tersebut meneguhkan hasil analisis ilmu ekonomi Blog Titen.

Komite pemberian hadiah Nobel mengatakan bahwa paham ilmu ekonomi klasik mengajarkan hubungan antara suplay dan demand berkorelasi langsung padahal kenyataannya tidak demikian.  Jadi mengasumsikan semua baik-baiik saja menggunakan indikator ekonomi makro adalah sebuah usaha menggali kuburan sendiri. Statement komite hadiah Nobel  ini dapat anda temukan pula di artikel Blog Titen bukan?

Blog Titen mulai tertatik membuat analisa ekonomi setelah kasus krisi subprime mortgage. Mungkin  karena latar belakang pendidikan Blog Titen adalah teknik mesin, sehingga benar-benar menerapkan logika berpikir tanpa dipengaruhi oleh asumsi-asumsi umum ekonomi. Jadi maaf klo Blog Titen dengan narsis mengatakan bahwa analisisnya lebih objektif … hahahaha.

Asumsi-asumsi yang sudah terlanjur meracuni pamahaman para ekonom membuat para ekonom tidak mudah memahami pernyataan Blog Titen bahwa krisis subprime mortgage telah menghancurkan sendi-sendi/struktur ekonomi Amerika Serikat sehingga tidak akan mudah bangkit. Mungkin salah satu anggota Komite Hadiah Nobel yang bernama Tore Ellingsen telah berhasil membebaskan diri dari asumsi ilmu ekonomi klasik sehingga dia juga mengatakan hal yang sama dengan Blog Titen.

Pada saat Blog Titen membuka topic diskusi seperti ini di beberapa forum diskusi internasional seperti BBC Message-Board, pada umumnya tanggapannya positif. Dengan kata lain, sesungguhnya para ekonom sudah menyadarinya namun masih terpenjara dalam sumsi-asumsi yang dipercayainya.

DI awal tahun 2010, Blog Titen mencoba mengangkat tema bahwa pelaksanaan FTA serta berbagai bencana akan meruntuhkan struktur ekonomi Indonesia. Tapi sayang, tema ini sepi tanggapan pada saat itu. Baru akhir-akhir ini bermunculan peringatan akan runtuhnya struktur ekonomi kita setelah ada berita tentang ancaman kekurangan bahan pangan akibat bencana alam. 

Sayangnya, para penerima hadiah nobel bidang ekonomi ini hanya membeberkan betapa ngawur asumsi-asumsi dalam ilmu ekonomi, tapi tidak memberikan solusi bagi krisis subprime mortgage. Blog Titen pernah mengusulkan solusi dengan cara “membangun peradaban baru” untuk mengatasi keruntuhan struktur ekonomi. Tapi sayang, solusi ini sepi tanggapan. Mungkin karena solusi ini harus mendobrak berbagai imu pengetahuan yang selama ini kita asumsikan benar, membuat banyak pihak merasa alergi.

Akhir-akhir ini, Blog Titen berusaha merumuskan solusi yang tidak mendobrak ilmu pengetahuan, yaitu konsep ekonomi berbasis komunitas. Tapi solusi ini juga masih sepi peminat. Jadi, Blog Titen cuman berharap bahwa masih banyak orang yang mau memandang ekonomi dengan benar-benar objektif dan merumuskan solusi lebih efektif demi dunia yang lebih baik kelak dikemudian hari.

Blog Titen merasa senang dengan klarifikasi hasil analisis ekonominya, tapi sekaligus juga sedih karena menyaksikan keruntuhan struktur ekonomi Indonesia. Jadi harus gemana ne? Sedih atau senang?

16 Oktober 2010

Menciptakan Perubahan dengan Profesionalitas, bukan Loyalitas.

Munculnya lagu SBY dalam ujian CPNS yang menuai cemooh, meneguhkan artikel Blog Titen yang ditulis pada Februari 2010. Kita pun tentunya masih ingat saat SBY berpesan agar para pembantunya memiliki loyalitas terhadap dirinya. Loyalitas yang menuai cemooh seperti inikah yang diharapkan SBY?

Loyalitas kepada pimpinan memang penting, terlebih bagi organisasi kejahatan macam Mafioso, Yakuza ataupun Triad. Sedang untuk menyelenggarakan Negara, lebih diutamakan profesionalitas dimana loyalitas ditujukan kepada bangsa dan Negara, bukan kepala negaranya.

Kenapa loyalitas kepada pemimpin negara tidak begitu penting? Karena struktur kepemimpinan Negara sudah diatur oleh undang-undang. Jadi tidak bisa seenaknya mengambil alih pimpinan. Sedangkan dalam organisasi mafioso, setiap saat anggota mafioso bisa membunuh pemimpinnya dan merebut kekuasaan.

Sistem loyalitas buta dapat membentuk system yang tak jauh beda dengan system kartel gaya mafia obat bius. Jadi Blog Titen merasa khawatir jika budaya loyalitas buta berkembang di Indonesia dan menginspirasi tumbuhnya berbagai macam organisasi kejahatan.

Setiap ada perkembangan budaya buruk di sekitar kita, sebagian dari kita akan menyarankan agar melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Namun sayangnya, tidak ada bukti empiris yang dapat menerangkan bagaimana perubahan individu dapat menciptakan sebuah perubahan besar dalam waktu singkat. Yang ada adalah bukti empiris yang menggambarkan bagaimana pemerintahan dapat mengubah budaya bangsanya.

Kelemahan besar dari anjuran untuk memulai perubahan dari diri sendiri adalah adanya resistensi dari system social yang dibentuk oleh pemerintah. Contoh yang paling nyata adalah Aung San Syu Kia atau Che Guevara, mereka memiliki pandangan moral untuk menciptakan perubahan namun pandangan tersebut baru sebatas konsep dan belum diimplementasi.

Mengapa Muhammad ditempatkan sebagai orang yang paling berpengaruh dalam peradaban manusia, padahal sebagian besar penduduk bumi memeluk agama yang berbasis pada ajaran Isa (Yesus)? Adalah karena Muhammad sendiri berhasil melembagakan pandangan moralnya di dalam Negara Islam yang ia pimpin sendiri. Sedangkan Isa (Yesus) sudah keburu dibunuh oleh tentara Romawi akibat fintah dari Bani Israel (Yahudi). Diperlukan pengorbanan yang tidak sedikit serta pertumpahan darah yang panjang sebelum ajaran Isa (Yesus) dilembagakan oleh Kerajaan Romawi.

Melembagakan perubahan tidak hanya dilaksanakan oleh Muhammad, Nelson Mandela pun melakukannya. Demikian pula dengan Winston Churchill, Mao Zedong, Chiang Kai Sek, dan seterusnya. Bahkan Soekarno dan Soeharto pun melakukannya di awal-awal pemerintahan, sebelum mereka berdua terjebak oleh loyalis-loyalis buta yang merangkap pula sebagai opportunis.

Perhatikan Firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Kenapa Allah menggunakan kata ganti “kaum” dan bukan menggunakan kata ganti individu?
Kelak, jika aku berkesempatan bisa ketemu sama Quraish Shihab, aku akan menanyakannya dan menuliskannya di Blog Titen ini hehehe ….. (ngomong-ngomong soal Shihab, aku pernah usul ke Metro TV untuk mewancarai kesulitan yang dialami Foke. Beberapa hari kemudian Najwa Shihab mewancarainya. Kayaknya aku harus berterima kasih pada keluarga Shihab kali ya …. Dan Metro TV tentunya! Hahahaha …….)

15 Oktober 2010

Memantau Kinerja Kemenhut: Wasior Pasca Eksplorasi Via Google Earth

Blog Titen tidak tahu apakah penggunaan Google Earth oleh Pak Dhe Menteri Kehutanan terinspirasi oleh Blog Titen atau tidak. Tapi walau bagaimanapun, salut Buat Pak Dhe Menteri karena sepertinya baru satu menteri ini yang membuat terobosan dalam pekerjaannya. Biasanya para menteri melaksanakan pekerjaan secara seremonial, tapi kali ini Pak Dhe Menteri Kehutanan sepertinya tidak disertai dengan tai-tai protokoler. Ini benar-benar angin segar bagi kinerja kementrian KIB II.

Seperti yang disiarkan Metro TV saat Pak Menteri muter-muter pake helikopter di langit Wasior, terlihat banyak tempat telah mengalami erosi yang parah. Jika emang engga ada pembalakan liar maka areal erosi di wilayah Wasior ini adalah laboratorium yang sangat berharga untuk menyelidiki proses erosi alamiah. (Terima kasih Metro TV udah menayangkan gambar perbukitan Wasior dari udara).

Mungkin Blog Titen kurang ajar, karena melalui artikel ini Blog Titen menyarankan agar Pak Dhe Menteri menyempurnakan pekerjaanya dengan turun ke areal erosi dan menyelidiki areal erosive perbukitan Wasior. Penyelidikan juga akan mengklarifikasi pernyataan Pak Dhe Mentri Lingkungan Hidup yang menuduh gempa sebagai biang kerok erosi. Jika benar tanah menjadi rawan erosi akibat gempa, apakah daerah lain selain Wasior juga mengalami erosi parah yang sama? Tentunya dampak gempa engga bakal terlokalisir di area sekitar Wasior saja, bukan?

Pak Dhe Menteri Kehutanan juga harus bisa menjelaskan asal kayu-kayu gelondongan yang membentuk “bendungan erosi” dan membuktikan bahwa kayu-kayu tersebut bukan hasil pembalakan liar. Penjelasan yang logis dapat membungkam pihak-pihak yang berspekulasi tentang adanya pembalakan liar, bukan?

Hasil penyelidikan yang paling penting adalah identifikasi karakter perbukitan yang rawan erosi. Hasil identifikasi ini akan sangat berguna untuk mengkaji resiko hutan di perbukitan di seluruh Indonesia, selanjutnya bisa disusun rencana pencegahan agar tragedy Wasior tidak terulang. Sebenarnya pekerjaan ini lebih cocok dilaksanakan oleh Situasion Room (OCC) Bina Graha karena melibatkan banyak pihak. Tapi kelihatannya Eyang Kuntoro sudah terlalu sepuh untuk bertindak gesit dalam memimpin Bina Graha, jadi Pak Dhe Menteri Kehutanan-lah yang bisa menggantikannya untuk satu masalah ini. Dan mungkin Pak Dhe Mentri Kehutanan akan menjadi “pahlawan” bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Terakhir, Blog Titen mendukung terobosan-terobosan untuk menunjukkan bahwa bekerja untuk negara bukanlah rangkaian seremonial, membual dan  tidur di dalam ruangan ber-AC. Bekerja untuk Negara juga harus berani kotor,  berkeringat, mengalami keletihan serta tidak manja minta diperlakukan sebagai warga terhormat.

By the way any way bus way, kalo Pak Dhe Menteri Kehutanan terinspirasi oleh Blog Titen maka harus dikaji ulang penilaian bahwa pemerintah tuli terhadap masukan dari anak negeri. Ini merupakan berita bagus sebab anak negeri sendirilah yang tahu kebutuhan negeri sendiri, bukan para ahli dari Harvard maupun Oxford.

Maju trus Kemenhut!

14 Oktober 2010

Bangsa yang Haus akan Inspirasi

Menyaksikan upaya penyelamatan 33 penambang emas-tembaga di Chili yang sedemikian dramatis mendapat perhatian seluruh bangsa Chili, mengingatkan aku pada kemenangan Tim Rugby Afrika Selatan.  Penyelamatan penambang dan kemenangan tim rugby sama-sama menjadi inspirasi bagi ikatan nasionalisme warga negara. Inspirasi seperti inilah yang kini sangat dibutuhkan oleh Indonesia.

Inspirasi nasionalisme akan menjadi ‘bahan bakar’ utama bagi setiap elemen bangsa dalam melawan berbagai keterbatasa demi untuk membangun Negara. Persis seperti pertanyaan Nelson Mandela yang berbunyi How to get them to be better than they think they can be? dan Mandela menjawab sendiri pertanyaannya dengan “Inspiration”. Sehingga puisi berjudul “Invictus” yang menginspirasi Nelson Mandela untuk membangun Afrika Selatan, menjadi judul film yang mengisahkan perjuangan Nelson Mandela dalam memberikan inspirasi bagi warga Afrika Selatan.

Kini, Afrika Selatan yang semula terancam oleh perang sudara akibat perbedaan warna kulit, telah mampu mensejajarkan diri dengan Negara-negara maju dengan dipercaya sebagai penyelenggara World Cup 2010. Tingginya kriminalitas Afrika Selatan di tahun 90-an membayangi pelaksanaan World Cup 2010 sehingga dunia sinis dengan pelaksanaannya. Ternyata, FIFA pun mengakui bahwa prestasi keamanan World Cup South Africa 2010 adalah yang terbaik. Ini tak lepas dari hasil kerja keras Nelson Mandela dalam membangun ikatan nasional sehingga bangsa Afrika Selatan dapat bersatu padu mengamankan penyelenggaraan World Cup 2010.

Tak heran jika Theme Song World Cup 2010 yang berjudul “Waving Flag”, sangat terasa ‘sentuhan’ Nelson Mandela-nya. Dan Waving Flag bukan hanya untuk menginspirasi Afrika Selatan tapi untuk menginspirasi dunia:

Give me freedom, give me fire, give me reason, take me higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin , as we lose our inhabition,
Celebration its around us, every nation, all around us

Singin forever young, singin songs underneath that sun
Lets rejoice in the beautiful game.
And together at the end of the day.

WE ALL SAY

When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom Just like a wavin’ flag
And then it goes back
Membaca kisah perjuangan Mandela pula, kita bisa menyadari bahwa Mandela tidak menunggu rakyat kulit hitam maupun putih  Afrika Selatan untuk berubah dari semula bermusuhan menjadi bersatu padu. Mandela sendirilah yang mendorong, mempelopori dan memberikan contoh bagi perubahan rakyatnya. Sedangkan di Indoensia kadang muncul pemikiran bahwa pembangunan sangat sulit dilaksanakan karena budaya rakyat Indonesia yang jelek. Pemikiran seperti ini harus segera disingkirkan, Nelson Mandela telah membuktikan bahwa sebuah pemerintahan dapat mengubah budaya rakyatnya.

Sangat jelas terlihat bahwa Indonesia sangat membutuhkan inspirasi yang dapat mendorong seluruh elemen bangsa untuk berubah dan mendobrak segala keterbatasan untuk membangun Negara. Selama ini kita sering mendengar para birokrat yang berkilah “kekurangan anggaran” sehingga membenarkan tindakannya untuk tidak maksimal dalam melaksanakan pembangunan. Kebiasaan ini harus segera dimusnahkan, kita tidak bisa terus menerus mengharap hujan emas dari langit, kita harus bisa memanfaatkan setiap “batu bata” yang ada untuk membangun negeri.

Bisa kita saksikan saat ini, betapa sebagian elemen bangsa Indonesia saling tawuran satu sama lain. Kita juga saksikan banyak pihak yang menunda dan menghindar dengan berkilah “menurut peraturan” atau “menunggu dari pusat” dan sejenisnya. Dimanakah inspirasi yang mempererat nasionalisme dan membangun effort untuk mendobrak segala keterbatasan?

Mungkin karena negeri ini sedang berorientasi pada pembangunan ekonomi sehingga semuanya ditujukan pada peningkatan kekayaan materi sehingga mengabaikan pembangunan untuk kekayaan jiwa. Pembangunan yang beorientasi pada materi hanya akan menyuburkan korupsi. Ada baiknya jika para pakar ekonomi kita didampingi oleh budayawan dan pakar sosiologi, agar dapat membangun jiwa bangsa Indonesia, agar dapat memahami makna “efek psikologis yang berdampak sistemik” hahaha …

By the way any way bus way, klo artikel ini ditutup sampe sekian kayaknya Blog Titen cuman bisa mbacot (ngomong) dan engga bisa kasih usulan solusi yah ….. Oke deh, kita lanjutkan artikelnya.

Dalam artikel sebelumnya, Blog Titen mengusulkan agar pembangunan beorientasi pada pertanian dan kelautan. Jadi artikel ini dilanjutkan dengan pembahasan bidang pertanian.

Apakah ada penelitian yang menunjukkan berapa minimal luas tanah garapan pentani agar petani bisa hidup layak? Rasanya, penelitian semacam ini dapat menjadi pangkal pengambilan kebijakan yang bertujuan untuk mensejahterakan petani (atau jangan-jangan malah belum ada penelitian macam ini). Jadi usaha-usaha untuk memperlancar distribusi pupuk maupun penelitian bibit unggul takkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani jika luas tanah garapan petani tidak cukup untuk mensejahterakannya.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan garapan petani, mungkin kita bisa bikin system penanaman dalam pot seperti gambar berikut:
 
Dengan penanaman sesuai gambar di atas, maka jumlah tanaman yang ditanam bisa jauh lebih banyak. Tapi bukan berarti gambar di atas bisa diaplikasikan begitu saja, perlu kajian dari varietas tanaman yang bisa ditanam dalam pot, kemungkinan pola serangan hama, peraturan perundangan yang berlaku hingga keberpihakan pemerintah. Jadi jangan dicopy-paste seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Karena penulis Blog Titen adalah Sarjana Mesin, maka kurang afdol jika konstruksi penanaman di atas tidak dikaji oleh Sarjana Pertanian. Sarjana Mesin cuma dapat menyumbangkan konstruksi untuk mengatasi keterbatasan lahan, lahan yang engga subur, sistem distribusi air termasuk konstruksi untuk mengolah limbah pupuk dan pestisida. Lagian, konstruksi ini membuat tanaman yang di atas bisa bebas kebanjiran, hahaha ….

Jika pola penanaman dalam pot itu berhasil, maka bangsa Indonesia bisa menjadi pioneer dalam menangani masalah pengalihan fungsi hutan untuk tanaman bahan biofuel yang akhir-akhir ini banyak diprotes oleh aktivis lingkungan hidup dunia. Peningkatan hasil pertanian harus diikuti dengan industry pengolahan hasil pertanian sehingga semakin banyak eleman bangsa yang terlibat dalam pembangunan berbasis pertanian ini. Makin banyak elemen bangsa yang terlibat, makin kuat pula ikatan nasionalisme kita.

Saat ini, kebanggaan bangsa Indonesia atas kekayaan alamnya telah luntur akibat penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis asing. Peningkatan industry berbasis pertanian ini bisa menjadi sumber inspirasi bangsa  untuk membangkitkan lagi kebanggaan atas kekayan alam Indonesia.

Ah sudahlah, capek nulis terus. Dengerin Waving Flag aja yuks ….

11 Oktober 2010

Google Earth: Mencari Penyebab Banjir Wasior adalah Tugas OCC Bina Graha.

Kontroversi penyebab banjir bandang Wasior cuman bikin ribut dan semkin menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang cuma bisa mbacot (ngomong) dan tak bisa kerja! Daripada ikut-ikutan nambah ribut, mendingan buka Google Earth untuk mengkaji lingkungan sekitar Wasior.

Dan inilah dari gambar Google Earth yang diunduh tanggal 10 Oktober 2010.

Sayangnya, gambar pemukiman Wasior tidak terlihat pada gambar di atas, jadi cuman bisa kira-kira. Namun, dari gambar di atas dapat dilihat adanya areal terbuka di daerah A. Jika terjadi hujan deras, tanah di daerah A bisa erosi dan mengendap di daerah B. Endapan ini akan membendung air yang datang dari daerah C. Karena ‘bendungan’ ini dibuat dari lumpur erosi, maka tidak akan kuat menahan aliran air yang terus-menerus dari daerah C, makanya ‘bendungan’ itupun jebol dan mengakibatkan banjir bandang.

Pertanyaannya, apakah areal terbuka di daerah A sudah ada sebelum banjir bandang? Ataukah areal itu terbuka setelah terjadi banjir bandang?  Coba kita pakai Google Earth History untuk mengetahui kondisi sebelum terjadinya banjir bandang. Ternyata ...





Gambarnya makin tidak jelas! Brengsek! Padahal kalau saja seluruh gambar bisa terlihat jelas, kita bisa memperkirakan apakah banjir bandang ditimbulkan akibat pembalakan liar, bencana alam, atau hal lain ...

Sebenernya, semua daerah rawan bisa dikaji dengan pencitraan satelit. Tekstur tanah Jakarta juga bisa dikaji untuk menentukan pembangunan jalur saluran air yang membebaskan Jakarta dari banjir ataupun air menggenang ...

Katanya, pemerintah kita sudah punya "Situsion Room" di Kantor Bina Graha Jakarta, yang katanya bisa mengamati kondisi di seluruh wilayah tanah air. Aku membayangkan Situasion Room ini seperti sebuah Observatory Commads Center (OCC) yang juga bisa menganalisa kondisi geografis tiap meter persegi wilayah NKRI.

Tapi mungkin kita harus maklum, OCC Bina Graha ini masih terlalu muda usianya sehingga belum bisa menjangkau analisa geografis di daerah terpencil seperti Wasior. Yah, setidaknya artikel ini bisa memberikan gambaran tentang harapan seorang warna negara kelas teri mengenai apa yang bisa dilakukan oleh OCC Bina Graha. Mohon agar masukan ini tidak dikategorikan sebagai omong doang, toh Blog Titen udah berusaha melalui akses Google Earth dan mengeluarkan biaya untuk sewa di warnet, tapi yah harap maklum kalo emang cuman segitu kemampuan aksesnya.

Memang OCC Bina Graha ini berdiri atas masukan dari pakar asing, Lie Kuan Yew dan McKinsey. Blog Titen membuat tulisan tentang OCC setelah pemerintah terlebih dahulu menerima usulan yang sama dari kedua pihak asing tersebut.  Apakah gambaran pekerjaan OCC Bina Graha yang dipaparkan di artikel ini juga menunggu dukungan dari pakar asing untuk dilaksanakan?

Selanjutnya: Memantau Kinerja Kemenhut: Wasior Pasca Eksplorasi Via Google Earth

10 Oktober 2010

Kekacauan Sosial: Peringatan yang tidak Diindahkan

Membaca lagi artikel FTA ASEAN-CHINA: Terlambatkah Kita Menyadari Perubahan Struktur Sosial? membuat aku bertanya-tanya, kenapa tanda-tanda perubahan struktur sosial yang sedemikian gamblang tidak mendapatkan respon yang layak?

Apakah cuma Blog Titen yang memberikan peringatan sehingga tidak bisa menjangkau para pengambil kebijakan? Kayaknya banyak kok yang kasih peringatan. Tapi kok ya engga ada respon yah ...

Harus diakui, peringatan di Blog Titen engga kasih gambaran yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan perubahan struktur sosial. Ini emang karena Blog Titen belum menemukan cara bagaimana menunjukkan perubahan struktur sosial melalui media blog. Apakah karena hal seperti ini sehingga peringatan akan adanya perubahan struktur sosial menjadi tidak tersampaikan?

Disisi lain, klo ngeliat pemerintah yang hobinya membela diri demi pencitraan, wajar saja klo peringatan dari pinggiran macam ini engga dipedulikan. Pembelaan diri pemerintah adalah wujud penolakan terhadap berbagai masukan dan peringatan dari anak negeri. Engga cukup membela diri, justru acapkali pemerintah menuduh para pemberi masukan, peringatan dan kritikan sebagai Barisan Sakit Hati. Pemberian label Barisan Sakit Hati ini adalah bentuk pernyataan bermusuhan terhadap para pemberi masukan peringatan dan kritikan, padahal katanya pemerintah menerapkan zero enemy policy. Dimana konsistensi antara hati, mulut dan tindakan?

Masih ada sisi lain yang membuat pemerintah tidak peka dengan permasalahan domestik, yaitu kebiasaan untuk lebih patuh terhadap intelektual produk asing daripada negeri sendiri. Hal ini terlihat dari kebijakan BLT yang dihentikan setelah ada penilaian dari intelektual asing, padahal sudah banyak intelektual negeri sendiri yang sudah memperingatkan sebelumnya.

Mereka-mereka yang belajar di negeri asing sesungguhnya cukup mempelajari cara berpikirnya atau metodanya saja, bukan memperdalam materi pelajarannya. Sebab materi pelajaran mereka adalah materi untuk negeri mereka sendiri, bukan untuk negeri kita. Klo materi itu dipaksakan ke negri kita maka hasilnya adalah berbagai macam salah urus.

Para intelektual produk asing memang cerdas, tapi belum tentu pintar mengaplikasikan di negeri sendiri. Sebab mereka lebih memahami bangsa asing, bukan bangsa sendiri. Sialnya lagi, mereka bisa-bisa lebih memuja bangsa asing daripada bangsa sendiri.


Mungkin keberhasilan China menguasai perdagangan dunia adalah karena menteri perdagangannya tidak pernah makan genteng kampus yang memuja Adam Smith dan Keynesian, sehingga ia bisa melihat kelemahan negara-negara yang memuja doktrin ekonomi liberal.

09 Oktober 2010

Bola dan Politik: Pencitraan yang Gagal?

Melihat senyum SBY yang sedemikian lebar manakala Timnas PSSI berhasil membobol gawang Tim Uruguay, membuatku berpikir, jangan-jangan SBY mencoba meniru strategy pencitraan ala Nelson Mandela.

Pada awal masa pemerintahannya, Nelson Mandela menghadapi situasi  yang berpotensi menimbulkan  perpecahan perang saudara antara kaum kulit putih dengan kaum kulit hitam. Mandela pun melakukan berbagai kebijakan simpatik, mulai dari memotong gajinya sendiri untuk disumbangkan pada kaum miskin kulit hitam hingga melawan mayoritas kulit hitam di DPR yang mencoba menyudutkan kaum kulit putih.

Salah satu strategy yang paling efektif adalah dengan memanfaatkan semangat olah raga. Saat itu, tim Rugby yang didominasi orang kulit putih, memiliki prestasi buruk di tingkat internasional. Presiden Mandela memberikan dukungan penuh pada tim Rugby dan akhirnya berhasil menjuarai turnamen internasional, dimana Mandela menyaksikan secara langsung pertandingan finalnya. Ia menyalami pemain Afrika Selatan maupun pemain lawan (klo ga salah dari New Zealand) sebelum pertandingan, persis seperti yang dilakukan SBY.

Hasilnya, tim Afrika Selatan berhasil memenangkan pertandingan. Rakyat Afrika Selatan, baik yang berkulit hitam maupun putih, membaur dalam euphoria kemenangan dan membentuk ikatan nasionalisme yang tidak membedakan warna kulit. Sebuah strategy yang hebat untuk menyatukan sebuah bangsa yang terancam pecah akibat perbedaan warna kulit.

Tapi hasil antara Timnas Indonesia dan Timnas Uruguay tidak seperti hasil di Afrika Selatan. Timnas Indonesia dibantai habis-habisan di depan mata Presiden. Pencitraan ala Nelson Mandela pun buyar tak karuan.

Menyusun strategi pencitraan melalui olah raga tidak akan sama seperti menyusun strategi kemenangan pemilu, sebab kemanangan pemilu bisa dibeli dengan uang sedangkan sportifitas tidak berorientasi pada uang. Penyusunan rencana strategy pemanfaatan kegiatan olahraga adalah sebuah perencanaan strategis, bukan perencanaan model juru masak.

Dalam hal strategy pencitraan ala Nelson Mandela, SBY bukanlah sosok yang tepat untuk menirunya.  Terlalu banyak perbedaan karakter antara SBY dengan Nelson Mandela.  Disamping itu, pertandingan bola antara Indonesia vs Uruguay bukanlah jenis pertandingan yang dapat dimanfaatkan untuk strategy pencitraan. Lagi pula, para pembantu SBY sepertinya tidak memahami perencanaan strategis. Jadi wajar jika dalam penyusunan rencana pencitraan melalui laga Indonesia vs Uruguay, para penyusun rencana tidak mempertanyakan "Apa yang akan dilakukan Mandela jika Tim Afrika Selatan kalah?"

Jika Tim Afrika Selatan kalah, mungkin Mandela akan mengatakan kepada rakyatnya, "Kini kita rasakan getirnya kalah sebagai satu Negara, Afrika Selatan".  Pernyataan ini bisa mendorong rakyat Afrika Selatan untuk bahu membahu agar tidak kalah di tahun mendatang, nasionalisme dan persatuan tetap akan terbangun meski kalah dalam pertandingan.  Jika SBY mengatakan hal yang sama pasca dibantai Uruguay, justru cacian dan makian yang akan ia dapatkan. Itulah perbedaan Mandela dengan SBY, dan itulah uniknya perencanaan strategis ...

04 Oktober 2010

Secara Ekonomi, Kita Tersesat ....

Orang dari dari Harvard membuat kesimpulan penelitian yang ngawur tentang ukuran negara yang berkorelasi negatif terhadap keterbukaan perdagangan. Naskah dari Journal of Public Economy dengan judul “Openness, Country Size and Government” yang diterbitkan tahun 1997, menyatakan kesimpulan tersebut.

Pada awalnya, seorang mahasiswi cantik asal India yang kukenal lewat Facebook The Economist meminta tolong agar aku memberikan pandangan tentang artikel penelitian Harvard tersebut, untuk membantu dirinya dalam menyusun thesis tentang ekonomi Pakistan. Aneh juga mahasiswi satu ini, udah tahu klo aku jebolan Teknik Mesin tapi masih juga percaya dengan logika analisis ekonomiku, hehehe … Terserahlah, yang pasti mahasiswi ini terlalu cantik untuk diabaikan begitu saja ... (gubraks!)

Kepada mahasiswiku yang cantik ini, aku sampaikan bahwa penelitian dalam artikel Harvard itu mengasumsikan semua Negara di muka bumi menggunakan mahzab ekonomi kapitalis-liberal. Hal ini terlihat dari dasar persamaan yang dibangun berdasarkan utilitas individual dan mengabaikan utilitas komunal. Padahal kenyataannya, tidak semua Negara takluk oleh ilmunya Adam Smith, negara besar seperti China yang komunis sudah barang tentu menolak mentah-mentah paham kapitalis-liberalis. Sehingga pada kenyataannya, justru Negara besar bernama China menunjukkan betapa ngawur hasil penelitian Harvard tersebut.

Memang, persamaan yang dibangun dalam penelitian Harvard tersebut engga salah. Negara besar yang mencoba mati-matian mengadopsi paham ekonomi kapitalis-liberal terbukti harus terseok-seok menghadapi perdagangan bebas. Negara besar tersebut tak lain dan tak bukan adalah negeri kita sendiri, Indonesia. Dan Negara kecil terbukti meraih sukses besar dalam perdagangan bebas, dan Negara itu tak lain adalah tetangga kita sendiri, Singapura.

Mungkin ada baiknya kita belajar kepada China yang mampu menyatukan komunitas UKM menjadi satu industri besar yang kuat. Strategi penyatuan komunitas ini sebenarnya bukan hal yang asing di Indonesia, hanya saja termarginalkan oleh kelompok Mafia Barkeley yang memaksakan paham kapitalis-liberal yang cenderung individualis. Penyatuan komunitas ala Indonesia yang aku maksudkan di sini adalah KOPERASI.


Yah, mungkin Indonesia udah terlalu tersesat dalam rimba ekonomi. Aku harap negeri seperti India tidak akan mengalami pengalaman pahit yang sama. Jadi, kepada mahasiswiku yang cantik, aku akan mendorong dia agar tidak takut melawan arus pemikiran ekonomi barat. Siapa tahu dia bisa menyusul pendiri Greemen Bank, mendapat hadiah Nobel!

Sekarang saatnya menikmati lagu Kuch Kuch Hota Hai sambil baca-baca berita dari Pakistan untuk menulis kajian ekonomi Pakistan ... Setidaknya pemikiranku masih laku meskipun di negeri orang ....

26 September 2010

Dasar Perencanaan Strategis: Belajar dari Pesulap Damian dan Rencana Teroris.

Perencanaan strategis bukanlah urutan tindakan seperti yang dipaparkan dalam buku resep masakan maupun resep dokter. Penambahan soda pada resep masakan bertujuan agar adonan mengembang. Sedangkan penambahan soda pada rencana strategis bertujuan agar adonan dapat dijadikan sabun sekaligus dapat pula dijadikan bom untuk tercapainya tujuan perencanaan strategis.

All roads are lead to Rome, itulah kredo yang menjadi dasar penyusunan sebuah rencana strategis. Para pesulap sering menggunakan kredo ini dalam pertunjukannya. Salah satunya adalah Damian yang ditayangkan di Trans 7 pada  malam Minggu kemarin.

Damian memiliki sepuluh buah kantung kertas, sembilan kantung kosong dan satu kantung berisi pisau yang sangat tajam. Kantung-kantung itu diacak, beberapa relawan diminta untuk memilih kantung yang mereka anggap kosong kemudian ditepuk dengan tangan, baik ditepuk oleh relawan penonton maupun oleh Damian sendiri. Jika ternyata kantong yang mereka tepuk berisi pisau, maka pisau tersebut akan tertancap di telapak tangan. Namun, akhirnya, sembilan kantung berhasil ditepuk tanpa ada tangan yang tertancap pisau. Yang tersisa tinggallah satu kantung yang berisi pisau.

Dalam pertunjukan Damian, kantung manapun yang dipilih oleh para relawan penonton tidak akan membuat kantung berpisau ditepuk dengan tangan, kantung berpisau akan tersisa di akhir pertunjukan. Kok bisa? Yah, karena Damian mengaplikasikan perencanaan strategis dimana tujuan tetap tercapai meski melalui jalan yang berubah-ubah.

Struktur perencanaan strategis bukanlah struktur yang berbentuk seperti pohon, melainkan struktur yang berbentuk seperti lingkaran dengan tujuan perencanaan sebagai titik pusat lingkaran.  Jenis perencanaan seperti ini sudah dikenal sejak jaman kuno dan biasanya digambarkan dengan symbol ular yang menggigit ekornya sendiri.

Simbol ular yang menggigit ekornya sendiri juga menunjukkan bahwa tidak akan ada hasil lain selain yang sudah direncanakan. Persis seperti pertunjukan Damian di atas, dimana tidak akan ada hasil lain selain satu kantung berpisau yang tersisa.

Jika misalnya dalam pertunjukan Damian tersisa dua kantung kertas A dan B. Pisau berada di kantung B, namun relawan pemirsa memilih kantung B sebagai kantung tak berpisau. Damian tentunya takkan menyuruh relawan untuk menepuk kantung B tersebut, tapi Damian sendiri yang justru akan mengorbankan tangannya untuk menepuk kantung A.

Pada saat Damian mengangkat tangannya hendak menepuk kantung A, detak jantung pemirsa makin cepat dan hormone dofamin dalam darah meningkat pula. Pada dasarnya, orang menonton pertunjukan karena ingin menambah hormon dofamin dalam darahnya. Dalam titik ini, bisa dikatakan bahwa Damian telah berhasil membuat pertunjukan yang sempurna. Dan ketika kantung A pecah setelah ditepuk Damian tanpa ada pisau di dalamnya, para pemirsa merasa lega. Tinggalah satu kantung B yang sudah pasti ada pisaunya. Sekali lagi katakan, “Sempurna…. “

Kembali pada pembahasan mengenai perencanaan strategis. Bagaimana dengan perencanaan strategis para teroris? Mengapa teroris nekad menyerang markas Polisi? Benarkah tujuan serangan itu adalah HANYA untuk menunjukkan eksistensi mereka?

Bagaimana jika perencanaan para teroris adalah perencanaan strategis sehingga penyerbuan di Hamparan Perak adalah pancingan agar kepolisian dan TNI memobilisasikan seluruh sumber dayanya untuk mengurusi terorisme? Sehingga terbentuk celah-celah kelengahan lain yang mengancam keutuhan NKRI?

23 September 2010

Terrorism Psywar Itupun sudah Diidentifikasi Intelejen Militer

Di acara TV One, seorang petinggi militer menduga bahwa teroris menyerang institusi-institusi yang menjadi sumber ketidakadilan. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati masyarakat (psywar). Hanya intelejen militer-lah yang dapat membaca fenomena ini, karena intelejen militer memiliki awareness/concern terhadap  isu-isu strategis, bukan sekedar penyelidikan kejahatan seperti layaknya intel polisi.

Penyerangan pos polisi di Tangerang oleh sekelompok orang tanpa menggunakan senjata api adalah bentuk dugaan ini. Penyerangan kecil yang sukses membuat beberapa anggota polisi pontang-panting akan menginsipirasi gerakan perlawanan terhadap kepolisian.

Penilaian buruk terhadap institusi penegak keadilan di Indonesia, serta perilaku para politisi karbitan yang membuat geram, akan menjadi kambing hitam yang empuk untuk dijadikan serangan teroris. Kebangkrutan akibat FTA serta bencana kebakaran, banjir dan seterusnya, banyak menghancurkan sendi-sendi perekonomian membuat masyarakat terjebak dalam berbagai bentuk hutang sehingga semakin tidak punya banyak pilihan. Serangan teroris yang tepat sasaran tanpa menimbulkan kerugian di pihak masyarakat awam, bukan mustahil akan menuai legitimasi dari masyarakat........... sekali lagi, jika dugaan dan kecurigaan itu BENAR.

Artikel ini bukan untuk mendukung para teroris.

Bukan pula untuk "melindungi" SBY karena tujuan terorisme itu bukan untuk menjatuhkan SBY dalam arti denotatif.

Pengungkapan ini bukan berarti akan menghentikan para teroris, jika teroris benar-benar merencanakan hal di atas. Terorisme bukanlah tindakan sporadis seperti layaknya kejahatan kriminal, melainkan tindakan yang terencana untuk mencapai tujuan tertentu. Pengungkapan ini bisa jadi justru akan membuat para teroris melaksanakan Plan B yang jauh lebih canggih.

Bagaimanapun, Plan B belum perlu dilaksanakan, karena tujuan terorisme masih dapat tersimpan rapi dan jauh dari dugaan kebanyakan masyarakat.

Tulisan ini hanya untuk membuat para pembaca Blog Titen menjadi lebih aware dan siap menghadapi kemungkinan terburuk pasca berakhirnya misi terorisme ..... alias menjadi lamunan tapi relevan hahahaha ...


Up date: BAHKAN DPR PUN UDAH MULAI MENCELA KEPOLISIAN

Guyonan di Tengah Uji Kelayakan Agus Suhartono

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ditengah-tengah uji kepatutan dan kelayakan calon Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono yang dimulai sejak pagi tadi, hingga siang ini terdengar celutukan-celutukan lucu yang terlontar sesama anggota dewan. Celutukan muncul ketika pimpinan sidang dialihkan dari Ketua Komisi Pertahanan Mahfudz Siddik ke Wakilnya, Tubagus Hasanuddin. Begitu mendapat palu sidang sebagai tanda peralihan pimpinan, Hasanuddin, eks sekretaris militer Presiden ini melanjutkan persidangan.

"Terima kasih dan atas izin pimpinan sidang sebelumnya saya akan memimpin sidang selanjutnya," kata dia di tengah-tengah peserta sidang yang tampak mulai banyak yang mengantuk. "Biasanya kalau sama Angkatan Darat ungkapan terima kasih adalah seluas-luasnya, kalau Angkatan Udara setinggi-tingginya, kalau Angkatan Laut sedalam-dalamnya," kata purnawirawan TNI ini.

"Kalau polisi sebanyak-banyaknya," timpal Effendi Choirie sesaat sebelum Hasanuddin mempersilakan beberapa anggota Dewan untuk bertanya. Tawa pun menggelegar di ruang sidang.
Belum selesai tawa peserta sidang , celutukan lain muncul, "Kalau polisi sebesar-besarnya." Tawa mereka pun makin panjang.

22 September 2010

Perang Melawan Teroris sudah menjadi Psywar?

Sepertinya, Blog Titen terlambat memberikan warning akan adanya perlawanan balik dari para teroris. Artikel Dunia Intelejen: Sinyal-sinyal Kekacauan? baru nongol pada 14 Agustus 2010. Ditambah lagi, artikel itu engga secara eksplisit mengatakan akan adanya balas dendam dari para teroris. Hanya menyatakan bahwa operasi intelejen yang sedang dilaksanakan negara  adalah operasi "Asal Bapak Senang" dengan kode sandi "Operasi Gantung Diri".

Serangan terhadap markas kepolisian menunjukkan bahwa peperangan melawan teroris sudah bukan lagi kejar-kejaran seperti layaknya kartun Tom & jerry,  tapi sudah naik ke level psywar alias perang psikologis. Polisi sebagai instansi yang tidak lagi dihargai oleh sebagia besar masyarakat, mulai dilawan oleh organisasi teroris. Masyarakat akan memilih, polisi atau teroris. ..............this is a psywar.

Tapi ada opsi ketiga, yaitu perusahaan jasa security swasta. Perusahaan macam ini sudah tidak lagi dikelola dengan managemen preman, tapi sudah mulai professional. Bukan tidak mungkin perusahaan- perusahaan macam  ini akan membangun kekuatan intelejennya sendiri.

Jadi, apakah kepercayaan terhadap perusahaan jasa security akan mengambil alih kepercayaan terhadap kepolisian?

Satu pesan dari Blog Titen, "Mesiu takkan mampu menghancurkan ideology, jadi berperanglah secara cerdas bukan arogan.".

20 September 2010

Mengurai Pembangunan Salah Kaprah ....

Hingga Agustus 2010, belum ada studi ilmiah mengenai kontrol akses pornografi via internet.  Yang ada baru informasi yang bersumber pada ‘tiga gadis Rusia’ yaitu Katanya, Katanya dan Katanya. Jadi, apakah dasar pemblokiran pornografi internet yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia sudah menjalani studi yang layak? Atau hanya euphoria gerakan moral yang tidak pasti efek domino-nya?

Kita mengakses pornografi karena secara alami kita menginginkan adanya hormone dofamin di dalam darah kita. Pornofgrafi membuat tubuh memproduksi dofamin. Pemblokiran tidak akan menghentikan keinginan kita memproduksi dofamin. Sehingga pemblokiran situs porno di internet akan bermetamorfosa ke media lain, seperti ponsel. Dengan menggunakan ponsel sebagai media pornografi, maka penikmat pornografi akan terlibat dalam interaksi sosial sehingga  makin mudah berubah menjadi pelaku pornografi.

Baru bulan September 2010, journal Behavior Therapy menerbitkan studi mengenai para penikmat pronografi. Sayangnya, masih premium access, jadi aku engga bisa kasih banyak info. Tapi pemerintah tentu bisa mengaksesnya, bukan? Bisa dipelajari sebagai dasar untuk melaksanakan riset sejenis di Indoensia, jangan ditelan mentah-mentah seperti biasanya.

Membuat kebijakan luhur tanpa memperhatikan realitas, sepertinya udah menjadi makanan sehari-hari pemerintahan kita.  Ambil contoh, kegiatan studi banding kepramukaan ke Afrika Selatan. Apakah sudah diketahui betul kondisi kepramukaan Indonesia? Kondisi-kondisi apakah yang membuat Afrika Selatan dapat dipilih sebagai tujuan studi banding? Dan seterusnya, semuanya bull shit.

Membuat program yang muluk-muluk tanpa memperhatikan realitas adalah ajaran pembodohan yang dilakukan oleh Mafia Barkeley kepada Indonesia. Mereka memberitahukan bahwa luar negeri lebih bagus dan kita harus mencontohnya. Para Mafia Barkeley mengajarkan pada murid-muridnya, murid-muridnya pun mengajarkan hal yang sama kepada generasi selanjutnya. Akhirnya, kita pun menjadi bangsa yang sinis terhadap produk negeri sendiri.

Menunjukkan kebodohan-kebodohan Mafia Barkeley adalah salah satu jalan untuk membuka kesadaran bangsa ini akan perlunya berorientasi pada realitas, bukan berdasarkan buku teori karangan Profesor Doktor Luar Negeri.

16 September 2010

Endapan Lumpur Pulau Jawa dan Amblesnya Tanah Pulau Jawa

Sudah disampaikan bahwa ada lapisan lumpur purba yang membentang dari timur hingga ke barat yang menjadi peredam bagi Pulau Jawa dari dorongan lempeng Samudera Hindia, dan lapisan lumpur ini telah dirusak oleh pengeboran Lapindo sehingga Pulau Jawa terancam tenggelam. 

Sudah berapa banyak tanah ambles di Pulau Jawa pasca semburan Lapindo?  Sudah berapa banyak rembesan gas baru yang muncul di Pulau Jawa pasca semburan Lapindo? Berapa banyak gempa di Pulau Jawa pasca semburan Lapindo? Biarlah para pakar lulusan universitas luar negeri yang beken memunculkan berbagai macam teori, tetapi toh semua kejadian ini sudah diramalkan setelah peristiwa Lapindo. Dengan pelan tapi pasti, "teori konyol" Lapindo mengakselerasi tenggelamnya Pulau Jawa makin menekati kebenaranya. Anyway, teori tenggelamnya Pulau Jawa ini emang tidak layak diperhatikan oleh Bangsa Indonesia, karena disampaikan oleh orang miskin!

Bangsa Indonesia pada umumnya sudah kehilangan kemanusiaan, segala aktivitas dilaksanakan atas dasar petimbangan uang. Jadi tak heran jika suara orang yang berduitlah yang bakal didengar. Sudah sangat sulit ditemukan aktivitas yang murni bertujuan untuk meningkatan harkat kemanusiaan. Pemerintah yang seharusnya berorientasi pada peningkatan kualitas hidup bangsa juga sudah terjebak dalam “transaksi” keuangan alias politisasi. Kebijakan Negara dan pelaksanaan pembangunan umumnya didasarkan pada uang, sangat jarang yang mengacu pada pandangan-pandangan kemanusiaan dan nasionalisme. Jadi jangan heran kalau tugas-tugas mulia yang seharusnya dilaksanakan pemerintah justru diabaikan dengan alasan tidak ada anggaran. Tapi untuk program pencitraan pepesan kosong, anggarannya justru berhamburan.

Jadi wajar klo Tuhan memberikan hukuman  untuk menunjukkan bahwa uang takkan menyelamatkan kita dari bencana alam. Karena kasih sayang Tuhan, hukuman dilaksanakan secara perlahan untuk memberi kesempatan bagi kita bertobat. Dan Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali jika kaum itu sendiri yang merubahnya.

Jika kita hendak bertobat, mungkin kita harus berterimakasih terlebih dahulu kepada para kapitalis rakus yang mengebor Lapindo, karena pengeboran ini membuat kuasa  Tuhan semakin tampak nyata.

Akankah kita bertobat?

04 September 2010

Peraturan Pengadaan Barang Pemerintah: Pembodohan Bangsa Indonesia?

Sewaktu melakukan inspeksi Genset di sebuah instansi pemerintah, tanpa sengaja aku memperhatikan kode nomer seri mesin. Kode ini menarik perhatian karena merupakan kode yang diberikan untuk mesin yang diproduksi sebelum tahun 2000. Sedangkan para pegawai instansi tersebut mengatakan bahwa genset itu baru selesai dilelangkan beberapa bulan yang lalu. Maka aku ambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar genset ini adalah genset rekondisi, bukan genset baru. Yah, inilah hasil pengadaan dengan sistem LELANG.

Aku engga tahu apa yang menjadi dasar dari pemerintah menyusun sistem pengadaan dengan cara lelang terbuka. Lelang adalah menciptakan suasana kompetisi, padahal bangsa Indonesia tidak memiliki budaya berkompetisi. Justru bangsa Indonesia memiliki sistem kekerabatan yang sangat erat. Jadi tak heran jika sistem kompetisi membuat bangsa ini makin tidak karuan. Lihat saja betapa banyak kekacauan yang ditimbulkan oleh sistem kompetisi Pilkada!

Sistem lelang sangat tepat diterapkan pada masyarakat yang kompetitif seperti pada masyarakat barat. Dan masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat barat. Mungkin dulu para Mafia Barkeley yang genius memahami ilmu barat mengaplikasikan ilmunya secara dungu. Tentulah mereka tahu bahwa masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat barat, tapi kenapa tidak mempertimbangkan karakter lokal masyarakat kita? Kenapa mereka tidak mendesain sistem yang lebih baik? Dasar! Bener-bener kreatifitas kualitas moron!

Dampak pemaksaan sistem barat oleh Mafia Bakeley tidak cuma pembangunan yang carut marut. Sistem pengadaan barang pemerintah memberikan sumbangan besar bagi pembodohan bangsa. Contohnya seperti genset di atas, kita engga perlu punya pengetahun dan skill tentang genset untuk menjadi rekanan penyedia genset, yang penting harganya murah. Dengan kata lain, pemerintah tidak menghargai skill dan pengetahuan kita. Makanya, jangan heran klo di negeri ini IJAZAH hanya untuk formalitas.

Buat apa anggaran pendidikan 20% dari APBN klo pemerintah sendiri tidak menghargai kecerdasan bangsanya sendiri? 

Artificial Intelligence: Akankah Mengalahkan Sel Kelabu di Kepala Kita?

Dalam film Echelon Conspiracy, dikisahkan bahwa computer memiliki kemampuan untuk memahami kata-kata abstrak seperti “Freedom”, “National Security”, ‘Democracy” dan sejenisnya. Program computer yang bernama “Echelon” ini dapat menyerap informasi baru dan bahkan meng-upgrade dirinya sendiri. Aku membayangkan jika computer memiliki kemampuan ini, maka komputer akan menjadi spesies baru yang membuat spesies manusia musnah dari muka bumi.

Film ini juga mengingatkan aku saat memainkan game strategy “ROME: TOTAL WAR”. Sepertinya, computer dengan mudah menebak strategi yang akan aku mainkan. Contohnya, ketika kau mencoba mengumpulkan pasukan infantry dalam kelopok-kelompok kecil untuk menjadi satu pasukan besar, computer segera membentuk pasukan kalvaleri gerak cepat dan memburu pasukan-pasukan kecil infantriku.

Berkali-kali system Artificial Intelligence pada game “ROME: TOTAL WAR” membuatku kelabakan. Tapi untunglah aku bisa memenangkan game ini dengan sukses besar, yang berarti otak di dalam kepala ini masih belum bisa dikalahkan oleh computer dalam urusan strategy. 

Faktor penentu kemenanganku dalam game “ROME: TOTAL WAR” adalah keterbatasan opsi yang dimiliki oleh computer dalam menyusun strategy guna melawan strategiku. Komputer akan mengkalkulasi kemungkinan menang dan kalah dalam setiap pertempuran. Komputer juga “jujur” dan “lebih manusiawi” karena computer tidak akan membuat pasukan yang lemah untuk dijadikan umpan. Sedangkan aku sering mengirim pasukan-pasukan lemah sekedar untuk mengacaukan system pertahanan computer. Pasukan lemah ini akan dibantai tanpa ampun. Dan ketika pasukan computer sibuk membantai pasukan lemah yang aku kirim, aku datangkan pasukan yang jauh lebih kuat.

Bagemana klo computer memiliki jumlah opsi yang sama seperti manusia? Mungkin “logika Jurassic Park” ada benarnya:

Tuhan menciptakan dinosaurus dan Tuhan membuang manusia dari surga
Dinosaurus membunuh manusia maka Tuhan membunuh dinosaurus

Manusia menciptakan computer dan manusia membuang Tuhan dari ingatannya
Manusia membunuh Tuhan maka komputer membunuh manusia.

19 Agustus 2010

Berdamai dengan Mental Korup dan Budaya Suap

Saat diskusi tentang unemployments di Facebook The Economist sampai pada pembahasan tentang korupsi sebagai salah satu penyebab pengangguran, aku sadar kalo aku sedang mencoba berdamai dengan Mental Korup dan Budaya Suap.

Pada dasarnya, budaya patron-klien Indonesia yang tidak mengenal pemisahan antara kepemilikan publik dengan kepemilikan privat. Sehingga ketika VOC memperkenalkan sistem pemisahan kepemilikan, maka terjadilah berbagai salah urus yang berujud korupsi dan suap serta nepotisme. Mental korup dan budaya suap tidak dihilangkan oleh VOC, justru untuk melancarkan politik adu domba (Devide et Impera). Jadilah mental korup dan budaya suap makin berurat berakar. Tak heran jika di tahun 60-an saja sudah ada ekonom kondang, Benjamin Higens, yang menilai Indonesia sebagai bangsa yang sulit berkompetisi dalam percaturan global dan kesulitan ini menurutnya bersifat kronis.  

Jelang kemerdekaan, Soekarno dan Hatta sempat ragu memproklamirkan kemerdekaan. Aku yakin, keraguan mereka bukan karena takut terhadap Jepang, Belanda maupun sekutu, melainkan khawatir dengan kelemahan bangsa sendiri.
Disisi lain, sebagai seorang muslim yang memahami sikap dzalim sebagai sikap tidak menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, aku percaya bahwa korupsi dan suap adalah salah satu bentuk kedzaliman karena merusak tatanan birokrasi. Dan sebagai orang yang pernah terpaksa mengeluarkan uang pungli kepada aparat pemerintah, berarti aku juga termasuk orang yang dzalim. Karena orang dzalim bukan saja orang yang melakukan perbuatan dzalim, orang yang diam membiarkan perbuatan dzalim pun sudah dianggap sebagai orang yang dzalim. Jadi, jika seluruh anak di Indonesia mendapatkan akte kelahiran dengan memberikan uang kepada aparat atau instansi pemerintah, berarti sudah tidak ada lagi orang yang tidak dzalim di Indonesia.

Pertentangan batin akibat perilaku dzalim ini sangat mengganggu, terlebih aku kadang harus bekerja  sama dengan instansi pemerintah dalam pekerjaan pengadaan. Untunglah, tidak semua instansi meminta upeti. Namun untuk yang meminta upeti, aku berusaha untuk meminimalkan perilaku dzalim ini dengan cara yang unik yaitu dengan menggantikan uang yang hilang akibat upeti menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual.

Contohnya, jika ada instansi yang memiliki anggaran 50 juta untuk pengadaan mesin terus minta disisihkan 5 juta untuk keperluan lain, maka aku menyusun penawaran dengan harga 45 juta untuk harga mesin ditambah 5 juta untuk biaya konsutan. Sehingga aku tidak hanya memberikan mesin seharga 45 juta tapi juga memberikan laporan analisis konsultan yang senilai dengan 5 juta. Sehingga instansi harus membayar aku penuh 50 juta kemudian aku memberikan sumbangan untuk instansi sebesar 5 juta. Laporan analisis konsultan sendiri berisi tentang prosedur operasi, instalasi, perawatan dan upgrade yang disesuaikan dengan kemampuan instansi, termasuk potensi pengembangannya yang berguna untuk pengembangan instansi itu sendiri. 

Entahlah, apakah caraku berdamai dengan mental korup dan budaya suap ini dibenarkan atau tidak oleh agamaku, Islam. Yang penting, aku merasa lebih nyaman karena aku bukan pengkhianat negeri sendiri. 

16 Agustus 2010

Insiden Kepulauan Riau: Jalan Lebar Menuju Kudeta?

Dalam tulisan “Suksesi Terhadap SBY” dengan penuh keyakinan aku menyebutkan bahwa usaha penggulingan SBY takkan berhasil karena faktor-faktor pendukungnya belum lengkap, yaitu faktor jalur unik yang tak terbantahkan. Insiden di kepulauan Riau melengkapi factor-faktor pendukung kudeta.

Buku “Coud d’Etat: A Practical Handbook” karangan dari peneliti senior CSIS Washington, Edward Luttwak, menyebutkan mengenai factor-faktor pendukung kudeta, strategi kudeta dan proses berjalannya kudeta. Untuk factor pendukung kudeta, Luttwak menyebutkan tiga hal, yaitu factor keterpurukan ekonomi, pemerintahan yang independen serta dominasi aliran politik tertentu.

Dalam hal strategi kudeta, Luttwak menyatakan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menjatuhkan wibawa sang pemimpin, disusul dengan perubahan struktur kekuasaan dan dilanjutkan dengan pengambilalihan kekuasaan pada kondisi status quo. Sedang proses berjalannya kudeta ditandai dengan pernyataan-pernyataan para pejabat resmi yang mendua. Hal ini ditujukan untuk memecah kekuatan pemerintah resmi karena akan ada pihak yang pro maupun kontra.

Anyway, kudeta gaya Luttwak udah engga lagi ngetrend-ngetrend amat. Ada dua factor yang bikin calon pemberontak harus berpikir dua kali  sebelum melancarkan kudeta, faktor pertama yaitu dukungan internasional. Tanpa dukungan ini, dijamin pasca kudeta bakal susah. Padahal, engga mudah mendapatkan dukungan internasional. Hal ini dicontohkan oleh kudeta di Republic of Fiji oleh Panglima Bainimara (mudah-mudahan ga salah nulis namanya) di tahun 2006. Kudeta Bainimara ini menghasilkan kecaman dari Australia, Selandia Baru, AS dan PBB. Bahkan kudeta di tahun 2004 terhadap Pemerintah Guinea digagalkan bukan oleh Guinea sendiri, melainkan oleh oleh Zimbabwe!

Sedangkan faktor kedua adalah faktor intelejen.

Kudeta yang cukup berhasil terjadi di Thailand, hal ini karena kudeta mendapat dukungan dari raja dan rakyat. Dan penentu utama keberhasilan kudeta Thailand adalah fakta bahwa Thailand tidak punya minyak sehingga tidak banyak campur tangan asing.

Apakah kudeta yang sukses selalu didukung oleh Amerika? Tidak juga. Para pemimpin negara-negara kaya minyak di Amerika Selatan, Ortega, Chaves, Castro dan  Morales, terus-menerus diserang oleh gerakan-gerakan anti-pemerintah yang didukung Amerika. Banyak tuduhan mendera mereka, dari pendukung ladang obat bius sampai simpatisan komunis yang mengancam demokrasi. Tapi mereka dapat terus bertahan. Hanya Presiden Noriega yang berhasil diciduk oleh Divisi Lintas Udara ke 82 Amerika Serikat.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejarah mencatat kesuksesan kudeta tahun 1965 yang didahului dengan kondisi ekonomi yang buruk. Inilah faktor pertama dalam bukunya Luttwak. Bagaimana kondisi perekonomian Indonesia saat ini?

Faktor kedua adalah pemerintahan yang independen serta dominasi aliran politik tertentu. Bagaimana dengan arogansi koalisi partai yang dibangun presiden? Sudahkan memenuhi criteria ini?

Sedangkan strategi kudeta yang pertama adalah menurunkan wibawa pemimpin. Bagaimanakah wibawa presiden dengan kasus insiden di kepulauan Riau?

Salah satu ciri dari pelaku kudeta adalah mereka bermuka dua. Bagaimana dengan para staff SBY sekarang?

Boleh jadi jalan menuju kudeta makin lebar. Tapi ada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu siapakah yang mau melakukan kudeta? Dengan situasi dunia yang seperti sekarang ini, hanya orang yang cukup gila yang mau merebut kursi presiden.

14 Agustus 2010

Dunia Intelejen: Sinyal-sinyal Kekacauan?

Bisnis informasi intelejen palsu kini mulai terjadi di Indonesia, dan bukan cuma satu kali Presiden kita dibuat malu oleh kesalahan informasi intelejen. Kini sepertinya intelejen telah menjalankan operasi yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh CIA, sebuah operasi “Asal Bapak Senang” dengan kode sandi  “Operasi Gantung Diri”.

Bukan lagi sebuah isu, melainkan telah dikonfirmasi sebagai fakta, bahwa CIA telah mengalami kehancuran parah sejak peristiwa 11 September. Kehancuran itu dimulai dengan sikap CIA yang memberikan informasi-informasi bohong demi menyenangkan atasannya terutama Presiden Bush. Seluruh informasi itu menjadi senjata makan tuan yang membuat CIA luluh lantak.

Bagi orang yang memahami fungsi intelejen, pasti akan setuju dengan David Kay, Kepala Pengawas Utama Persenjataan CIA. Dia mengatakan bahwa manfaat intelejen adalah untuk mencegah terjadinya perang. Tapi menurutku, manfaat itu belum lengkap karena intelejen bukan hanya untuk mencegah perang, tapi juga untuk meraih kemenangan tanpa perang. Orang Jawa bilang, menang tanpo ngasorake alias fungsi intelejen adalah meraih kemenangan tanpa membuat pihak yang kalah merasa kalah.

Agen-agen terbaik CIA tentulah paham dengan manfaat intelejen. Sehingga pada saat bos CIA, George Tenet,  memberikan informasi palsu yang mendukung kebijakan Bush untuk menyerbu Afghanistan dan Iraq, satu demi satu agen-agen terbaik CIA mengundurkan diri dan bergabung dengan korporat-korporat kaya seperti Lockheed Martin dan Booz Allen Hamilton. Orang-orang dari korporat kaya ini tanpa tedeng aling-aling merekrut agen-agen  CIA di kafetaria markas CIA sendiri. Akhirnya, yang tersisa di CIA hanyalah para agen lapangan dan analis intelejen dengan pengalaman kurang dari lima tahun.

Dengan kualitas sumber daya manusia yang terbatas, CIA tak mampu lagi menempatkan para agen lapangan untuk mengumpulkan informasi yang benar. Para analis intelejennya cuma membuat analisis berdasarkan berita dari CNN, BBC dan sejenisnya, engga jauh berbeda dengan apa yang aku lakukan sekarang. Sehingga CIA harus melakukan outsourcing demi mendapatkan agen intelejen yang memadai.

Di sisi lain, agen-agen intelejen korporat semakin Berjaya. Dengan terbuka, Lockheed Martin mengumumkan iklan lowongan pekerjaan bagi para analis kontraterorisme untuk menginterograsi tawanan teroris di penjara Guantanamo. Kejayaan intelejen swasta makin berkibar ketika pada Februari 2007 berdiri sebuah perusahaan intelejen swasta dengan nama Total Intelligence Solution.

Total Intelligence Solution, atau singkatnya Total Intel, didirikan oleh para petinggi intelejen CIA yang semula tergabung dengan operasi melawan terror pada pemerintahan Bush. Pada tahun 2005, mereka meninggalkan jabatannya dan bergabung dengan Blackwater USA, sebuah perusahaan jasa keamanan elit gaya Romawi, Praetorian Guard, yang berkerja di wilayah Baghdad. Setahun kemudian mereka meninggalkan Blackwater dan mendirikan Total Intel. Dan Total Intel ini tidak hanya bekerja di wilayah Timur Tengah, tapi juga di sini, di Asia Tenggara.

Cobalah amati struktur perekonomian Indonesia, Anda akan menyadari bahwa struktur distribusi produk China tengah dibikin kacau balau. Inilah usaha untuk mematahkan dominasi kapitalisme China di Indonesia. Padahal struktur distribusi produk China di Indonesia membonceng struktur distribusi produk lokal. Akibatnya, distribusi produk lokal pun terganggu, harga-harga bergejolak tak karuan. 

Hingga saat ini, aku belum bisa melihat seperti apa perlawanan para intelejen China. Aku Cuma menduga bahwa para intelejen China mengembangkan metode spionase yang jauh berbeda dengan ilmu-ilmu spionase standar. Dugaanku, mereka mengembangan ilmu spionase berbasis pada ilmu paradox budaya timur atau sejenis dengan synchronicity-nya Carl Gustav Jung sehingga bisa sedemikian smooth and undetected. Ah, rasa penasaan ini bikin aku pengen bergabung dengan Total Intel untuk menguraikan metode spionase China. Ada yang bisa merekomendasikan aku? Hehehe .... (Dolar Booooo ......)

Kini, pada saat intelejen-intelejen global berperang di Indonesia, justru intelejen Indonesia berkutat dengan isu yang sudah mulai basi, yaitu terorisme. Parahnya lagi, ada usaha-usaha untuk menciptakan industri terror yang justru akan membuat pengawasan intelejen ekonomi menjadi lemah. Persis seperti industri terror di Amerika pasca peristiwa 11 September yang berakhir dengan krisis Mortgage.

Mungkin belum terlambat bagi kita untuk berhenti bermain tipu muslihat dan mulai menatap kenyataan bahwa kita adalah bangsa dengan Sumber Daya Manusia yang besar dalam kuantitas namun terlalu sedikit yang berkualitas. Persis seperti yang dialami oleh Inggris pada Perang Dunia II, yang juga terjepit diantara dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Sehingga Winston Churchill pun mengatakan, “Never in the field of human conflict was so much owed by so many to so few". Pada akhirnya, ketika Jerman bertekuk lutut, seluruh asset Jerman diambil oleh Amerika dan Rusia, tidak menyisakan sedikitpun untuk Inggris.

Tapi ada satu pelajaran menarik dari Inggris, yaitu bahwa meskipun sumber dayanya sangat minim namun memberikan sumbangan besar terhadap kemenangan Perang Dunia II. Sumbangan yang dimaksud adalah sumbangan hasil kerja para analis intelejen Inggris yang sangat akurat memberikan informasi pergerakan pasukan Jerman.

Sepertinya, memang, dalam kondisi yang serba terbatas maka kita harus banyak bergantung pada kinerja para analis intelejen untuk menemukan potensi tersembunyi dalam kondisi yang serba kekurangan. Jadi kepada intelejen Indonesia, mohon agar tidak mencurahkan seluruh energy pada kasus terorisme, sisakan juga untuk ekonomi kita.

Para intelejen ekonomi harus bisa menemukan sisi positif ditengah kondisi terburuk sekalipun. Contohnya, kondisi penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis asing sekilas merupakan kondisi terburuk bagi Indonesia. Tapi coba pertimbangkan hal berikut: jika sumur Lapindo dibor oleh perusahaan asing, hampir bisa dipastikan pemerintah dan rakyat bersatu padu menuntut ganti rugi sehingga ganti rugi akan sepadan. Nah, klo dibor oleh perusahaan nasional, justru malah menyedot APBN buat mengatasinya dan ganti ruginya engga kunjung beres.

Berkaitan dengan terorisme, ada baiknya kita kaji pernyataan mantan menteri Luar negeri AS, Colin Powell, setelah menyadari apa yang telah ia kerjakan bersama Bush, “Apakah ancaman terbesar yang kita hadapi saat ini? Orang akan menjawab terorisme. Namun adakah teroris di dunia ini yang dapat mengubah cara hidup orang Amerika atau sistem politik kita? Tidak. Bisakah mereka merobohkan gedung? Ya. Bisakah mereka bisa membunuh seseorang? Ya. Tapi apakah mereka bisa mengubah kita? Tidak. Hanya kita yang bisa mengubah diri kita sendiri …” 
  

Memang, musim sudah berganti dalam dunia intelejen, tak ada salahnya kita mulai menyadari bahwa musuh kita tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri.

My Enemy is Myself: Puncak Proses Belajar Manusia?

Jika kita bisa memahami Synchronicity-nya Carl Gustav Jung dari sudut pandang Fisika Quantum, kita akan menyadari bahwa perjalanan sang waktu diawali dan diakhiri pada “titik” yang sama. Sebagaimana ajaran agama yang mengajarkan surga sebagai tempat awal perjalanan umat manusia (Adam dan Hawa) sekaligus menjadi tempat akhir manusia setelah kiamat nanti. Tapi, memahami kedua ilmu tersebut dapat membuat kita melakukan kegiatan yang lebih berdosa daripada kegiatan syirik. Kalo syirik cuman menyembah selain Tuhan, sedang pemahaman ilmu ini membuat kita tidak ingin menyembah siapa-siapa karena kita sendirilah yang ingin menjadi Tuhan! Pada kondisi seperti inilah kita baru menyadari bahwa musuh kita bukanlah teroris, Bani Israel, kaum Kapitalist, kemiskinan, penindasan  dan bukan pula setan. Musuh kita adalah diri kita sendiri.

03 Agustus 2010

Pengumuman Redenominasi Rupiah: A Call of “War” for Global Unification?

Jiiiaaahh! …… Gertakan Blog Titen terhadap Mafia Barkeley mendapat tantangan dengan gertakan yang jauh lebih hebat, yaitu redenominasi Rupiah! Apakah ini memang karena rencana kaum Kapitalis Global tak terbendung lagi, atau keberhasilan strategy “memancing harimau turun gunung” sehingga bisa lebih gamblang menjelaskan background Century Gate? Entahlah, yang jelas tak ada angin tak ada badai, wacana redenominasi Rupiah sudah mulai diwacanakan oleh Gubernur BI. .

Redenominasi Rupiah akan memarginalkan uang receh. Padahal belum lama Menteri Perdagangan mencanangkan Gerakan Cinta Koin untuk meningkatkan fungsi uang receh. Lhadalah … kok saling bertubrukan. Redenominasi Rupiah akan menguntungkan Kapitalis Global seperti yang akan dijelaskan di paragraf-paragraf akhir artikel ini, tapi akan menjadi berita buruk bagi Kapitalis China yang jago dalam hal produk berharga receh.  Apakah gajah kapitalis China sedang bertempur dengan gajah Kapitalis Global?

Sekilas, takkan terjadi apa-apa dalam redenominasi Rupiah, tapi redenominasi Rupiah akan menyederhanakan transaksi yang berarti dapat mengurangi jumlah peredaran uang di masyarakat yang selanjutnya akan membuat ekonomi melambat dan timbul kekacauan alias chaos. Usaha untuk mengurangi jumlah dana masyarakat sudah dilakukan sejak lama melalui suku bunga yang gila-gilaan. Tapi sayang usaha ini belum membuahkan hasil. Bahkan Bank Century sebagai salah satu asset penyedot dana masyarakat sudah dipertahankan sedemikian rupa, tetap saja perekonomian Indonesia tumbuh. BTW, [mupeng mode: on] tentunya banyak yang masih inget bagaimana marketing Bank Century memberikan “on bed extra service” kepada para nasabahnya, bukan? Slurp, ah …. [mupeng mode: off] 

Mengurangi peredaran uang pernah dilakukan pada tahun 1929 dan menghasilkan Malaise alias kelesuan ekonomi global. Berbagai institusi keuangan mengalami kebangkrutan sehingga  jatuh ke tangan kelompok-kelompok tertentu dengan harga sangat murah.  Tahun 1998, perbankan Indonesia juga mengalami kebankrutan namun tidak jatuh ke tangan kelompok tersebut, justru berada di tangan Negara dengan nama Bank Mandiri. Mungkin, Bank Mandiri adalah kegagalan kerbau-kerbau Mafia Barkeley dalam mengabdi pada tuannya.

Apakah Operasi Malaise 1929 akan dilancarkan di Indonesia?

Jika redenominasi dilaksanakan oleh seorang nasionalis sejati, maka tidak akan melalui tahap membuat pernyataan dan tidak juga mengumumkannya melalui media. Semua dilaksanakan secara diam-diam tanpa menimbulkan gejolak. Sebab, pengumuman redenominasi melalui berbagai media massa dapat menciptakan kepanikan, apalagi jika plus dikompori  dengan melambatnya perekonomian.

Walaupun demikian, scenario chaos memiliki probabilitas yang relative kecil secara konsepsi. Prediksi  yang paling akurat adalah bahwa mata uang regional ASEAN akan relative sama nilai tukarnya dengan US Dollar. Hal ini akan memuluskan rencana Kapitalis Global dalam membentuk mata uang bersama seperti halnya Euro. Dengan adanya mata uang tunggal ASEAN maka makin mudah mengontrol perekonomian Asia Tenggara.

Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diperhatikan yaitu factor China. Kapitalisme China memiliki struktur yang lebih kuat di Indonesia dan Asia Tenggara dibanding kapitalis barat, dan akan menadi lawan yang sangat berat. Jadi kepada kapitalisme barat bisa kita tanyakan, “Can you beat Chinese Capitalists in South East Asia?

Apakah kita hanya akan berjongkok sambil bertopang dagu dengan mulut sedikit ternganga melihat pertarungan kedua gajah kapitalis ini? ( ih, ini posisi  jelek banget sih! :P ).

01 Agustus 2010

Renungan Jelang Ramadhan 3: Mengapa Islam disamakan dgn terroris?

Kita semua bisa memahami bahwa hampir semua peradaban manusia di muka bumi biasanya mengikuti suatu siklus, pertumbuhan kemudian kehancuran. Makanya, peradaban Fir’aun Mesir engga bertahan sampe sekarang karena emang sudah masuk fase kehancurannya. Begitu pula dengan peradaban Mesopotamia, Mohenjodaro dan Harappa, Yunani, Maya, Aztec. Mungkin hanya peradaban China yang sanggup bertahan selama ribuan tahun.  Mungkin karena daya tahan peradaban yang luar biasa inilah, dalam agama Islam terdapat hadist Rasul yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”

Pertanyaannya, apa yang membuat peradaban China dapat bertahan sedemikian lama? Jawabnya adalah, “Karena peradaban China memiliki kemajuan luar biasa dalam hal filosofi strategy perang.” Beda dengan bangsa-bangsa penakluk lainnya seperti Sparta atau  Viking, mereka dikenal karena keberaniannya dan bukan karena strateginya.

Begitu maju filosofi ilmu perang di China hingga hampir setiap manusia di muka bumi ngerti apa itu Sun Tzu.  Dan kapitalis global, yang membangun struktur strategy  penguasaan ekonomi dunia, dibikin kalang kabut oleh permainan strategy China.  Startegy Yunani “Divide and conquer”, mendapat persaingan sepadan dengan filosofi Sun Tzu, “A good General not only know how to win the battle, but he also know when the winning is impossible.”

Tak ubahnya seperti peradaban China, Islam juga mengajarkan seni filosofi perang kepada umatnya. Inilah yang ditakutkan oleh pihak-pihak yang tidak ingin melihat Islam menjadi agama yang besar dan kuat. Maka dibuatlah program agar umat muslim tidak mempelajari seni filosofi perang dalam Al Quran. Caranya? Dengan mengidentikkan Islam sebagai agama terrorist sehingga umat Islam merasa sungkan belajar filosofi perang.

Anyway, kemungkinan Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan seni filosofi perang. Tapi bukan berarti Islam dikembangkan melalui jalan pedang. Karena seni filosofi perang bukan hanya untuk melakukan pertempuran, tapi juga untuk berdagang, bercocok tanam (perang melawan hama), menjalankan roda pemerintahan, dan masih banyak lagi.

Dan sebuah filosofi kuno menyatakan, “If you want to make a peace, build a very strong army.” Bahkan perdamaian pun diraih dengan seni filosofi perang, bukan?

Welcome to the Quantum World!

Renungan Jelang Ramadhan 2: Al Quran dan Fisika Quantum

Dalam satu kesempatan, aku nonton Tafsir Al Misbah yang dibawakan Quraish Sihab di Metro TV.  Saat itu dibahas ayat-ayat Al Quran yang menceritakan kisah Isra’ Mi’raj. Alhamdulillah, sebuah pengetahuan kecil menambah keimananku pada Al Quran.

Dalam salah satu ayat Al Quran diceritakan bagimana malaikat Jibril “turun” ke bumi untuk menjemput Baginda Nabi Muhammad S.A.W. Tapi istilah yang dipakai dalam Al Quran tidak tepat kalo diartikan “turun”. Sebab kata ‘turun” sepertinya malaikat Jibril datang dari luar angkasa di atas sana dan turun ke hadapan Baginda Nabi layaknya pesawat UFO.  Tidak, Al Quran tidak menggambarkan demikian.

Yang dikatakan Al Quran lebih tepat digambarkan begini: Malaikat Jibril menjulurkan tubuhnya dari tempat dimana ia berada menuju ke hadapan Baginda Nabi Muhammad S.A.W. Jadi malaikat Jibril tidak meninggalkan tempat asalnya, hanya menjulurkan tubuhnya. Mentiung, Orang Jawa bilang.

Penjelasan dalam bahasa Al Quran ini sejalan dengan teori relativitas ruang dan waktu. Malaikat Jibril berasal dari dimensi yang berbeda dengan dimensi dimana kita berada, sehingga kehadirannya dimuka bumi secara fisik, tidak sesuai dengan sunatullah. Jadi satu-satunya jalan bagi Jibril untuk menjemput Baginda Nabi adalah dengan menembus ruang dan waktu, engga kayak pesawat angkasa luar kita. Jadi, Al Quran sudah menggambarkan ilmu fisika modern dengan tepat.

Udah ah, engga mudah bikin penjelasan Fisika Quantum. Yang pasti, aku cuman pengen menyampaikan bahwa belajar ilmu pengetahuan dapat menambah keimanan kita jika kita benar-benar objektif mempelajarinya.

 Kepada Bapak Quraish Sihab dan Metro TV, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’a) yang terus menerus mengalirkan pahala. Amien.

Renungan Jelang Ramadhan 1: Spiritual Quotient

Usai menuliskan divine experience yang aku temukan dalam lagu gereja meskpun aku seorang muslim, aku jadi berfikir, adakah ulama Islam yang sejalan denganku? Bahwa Allah tetap bisa ditemukan di dalam Gereja, Pura, Klenteng, Kuil, Pagoda, Sinagoga …

Tersesatkah keimananku?

Ternyata ada! Dia adalah Muhyiddin Ibn Al Arabi (1165-1240) atau yang dikenal dengan nama Syaikh Akbar. Dia menuliskan begini:

“Hatiku mampu menerima berbagai bentuk. Biara bagi Sang Rahib, Kuil bagi arca-arca, padang rumput bagi rusa-rusa, peziarah bagi Ka’bah, lembaran Taurat, Al Qur’an.”

“Jangan ikat dirimu pada sebuah keyakinan secara eksklusif sehingga engkau mungkin mengingkari  yang lain. Karena dengan demikian engkau akan kehilangan banyak kebaikan, tidak, engkau gagal mengenali kebenaran yang sejati. Tuhan Yang Maha Ada dan Maha Berkuasa, tidak dibatasi oleh keyakinan apapun, sebab dia berfirman, ‘Kemanapun engkau memalingkan pandanganmu, maka disanalah ada wajah Allah’ (QS Al Baqarah: 115)

Semua orang akan mengagungkan apa yang dipercayainya, Tuhannya adalah apa yang diciptakannya sendiri. Dan memujinya berarti memuji diri sendiri. Akibatnya dia akan menyalahkan keyakinan orang lain,y ang takkan dilakukannya jika seandainya dia adil, tetapi kebenciannya didasarkan pada kebodohan.”

Membaca tulisan Al Arabi di atas, sepertinya keimanan menuntut kecerdasan dan objektifitas. Bahkan mungkin kecerdasan dan objektifitas adalah parameter kualitas keimanan kita.

Makanya Allah mengangkat derajad orang yang berilmu alias ilmuwan, sebab mereka selalu bersikap objektif dalam memandang berbagai persoalan.

REVISI: Semula artikel ini menyebutkan QS Al Baqarah 109, yang benar adalah QS Al Baqarah 115. Mohon maaf atas kesilapan ini.

30 Juli 2010

How to Train Indonesia Become a Tiger : Sebuah Pertanyaan Moral.

Dengan kredo “Tidak ada kebenaran absolute kecuali Tuhan´maka kita bisa membenarkan realitas yang buruk serta menyalahkan realitas yang baik. Berdasarkan hal inilah maka diperlukan seorang “Raja Tega” untuk mengubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat.

Soekarno adalah salah satu Raja Tega yang baik. Ia menahan diri untuk tidak segera mengekploitasi kekayaan alam dengan bantuan kapitalis asing. Ia menjawab kelaparan masyarakat dengan batu beton seperti Tugu Monas. Semua ini dilakukan demi menunggu kepulangan para putra-putri bangsa yang tengah belajar di negeri orang untuk mengekploitasi kekayaan alam sendiri.

Rencana Soekarno tak pernah terwujud, kekayaan alam kita udah terlanjur jatuh ke tangan kapitalis asing. Hal ini karena Soekarno tidak dapat mengambil jalan lain selain konfrontasi dan akhirnya kalah.

Raja Tega Soeharto tidak dapat mewujudkan sinergi saling mengutungkan antara bangsa ini dengan para kapitalis asing. Kegagalan Soeharto dikarenakan “Mafia Barkeley” miskin ide dan kreatifitas untuk membangun sinergi , alias hanya menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. Kerbau-kerbau inilah yang membuat hubungan Indonesia dengan kapitalis global berakhir menyakitkan di tahun 1998.

Sulit melihat bahwa krisis 98 adalah upaya kapitalis global mengeruk keuntungan, sepertinya emang dirancang untuk menurunkan Soeharto. Terlebih lagi, ujung tombak kapitalis global di Indonesia, yaitu para Mafia Barkeley, sempat tersingkir di pemerintahan Gus Dur.  Jika krisis 98 adalah untuk mengeruk keuntungan, tentunya para Mafia Barkeley takkan sempat tersingkir dan rencana kapitalis global takkan pernah terendus sedemikian gamblang.

Kini, bangsa ini berada diantara dua raksasa yaitu raksasa China dan raksasa kapitalis global. Raksasa China merontokkan daya saing pengusaha local, raksasa kapitalis global menguasai berbagai sumber kekayaan alam. Bangsa ini hanya menjadi kuli yang memungut remah-remah sisa kedua raksasa tersebut.

Pepatah mengatakan,” Dua gajah bertarung, pelanduk mati ditengahnya”. Inilah yang aku khawatirkan. Terlebih lagi, situasi “peperangan” ini mudah membawa situasi menjadi tak terkendali. Ditambah lagi, kita berada dalam transisi sistem kalender bintang Suku Maya tahun 2012.Kepada raksasa kapitalis global, bisa kita sampaikan, “You need our local power to control when the situation is beyond your control”. Kepada raksasa China, bisa kita sampaikan, “Cingcao capcay kwetiau bakpao bakwan fuyunghay (artinya: you need our local power to keep purchasing your products)”. .


Sayangnya, membangun kekuatan local bukan perkara mudah karena diperlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Saat ini, berbagai pengorbanan itu sudah berlangsung. Kebakaran, banjir, wabah dan berbagai bencana lainnya akan menjadi proses untuk mematikan sendi-sendi ekonomi dan mengurangi jumlah penduduk (penduduk makin sedikit brarti makin mudah diatur, bukan?). Juga ada ”kematian” akibat kalah bersaing yang menghasilkan PHK.

Untunglah Tuhan maha adil sehingga prinsip Ketidakpastian Heisenberg (Heisenberg Uncertainty) berlaku di setiap peristiwa, orang sering mengatakannya sebagai “Blessing in Disguise” alias “Ndilalah” orang Jawa bilang. Sehingga, dalam pengorbanan bangsa Indonesia ini juga akan ditemukan fenomena ndilalah ini, kalau kita mau objektif mencarinya sambil mengusir politisi dengan mengacungkan jari tengah. Selama ada politisi, selama itu pula kita tidak akan pernah menemukan akar masalah secara objektif dan terus menerus didera konlik kepentingan.

Dari semua pengorbanan di atas, dapat dipetakan struktur ekonomi mana yang masih bertahan, hancur atau justru meningkat potensinya. Struktur yang hancur dibiarkan hancur, struktur yang bertahan difasilitasi pertahanannya tapi engga perlu didukung pengembangannya, sedang struktur yang meningkat potensinya harus dieksploitasi sesegera mungkin.

Salah satu struktur ekonomi yang meningkat adalah bidang pertanian. Para korban PHK banyak yang kembali ke desa dan menjadi petani. Mereka  berpengalaman di kota sehingga memiliki adaptasi yang lebih baik terhadap teknologi dibanding yang asli petani. Jumlahnya pun banyak, murah lagi.  Jadi, bisa dirancang sebuah system untuk memobilisasi potensi ini guna menciptakan Swa Sembada Beras. Atau klo pemerintah masih senang dengan profit impor beras, bisa dimobilisasi untuk membangun struktur ekonomi perdagangan energy biofuel pengganti minyak tanah. Dan masih banyak alternative laen.  Tugas kayak gini adalah tugas Situasion Room (OCC) Bina Graha. How are you Sit Room?

However, tulisan ini hanya bermaksud menunjukkan kebenaran “No pain, no gain” dan berharap agar pengorbanan masyarakat saat ini kelak akan ada hasilnya, bukan pengorbanan sia-sia.  Engga kembali ke Jaman Belanda di tahun 1942, dimana para prajurit pribumi yang direkrut pemerintah Kolonial Belanda   berjuang sia-sia meregang nyawa di Subang menahan serbuan Jepang, sementara para petinggi militer dan para pejabatnya melakukan pesta dansa di Sositet Bandung. Dan akhirnya Hindia Belanda pun tetap jatuh ke tangan Jepang. Sia-sia banget, khan?

Namun pertanyaannya adalah, apakah kebjakan untuk membuat rakyat menderita demi masa depan yang lebih baik dibenarkan secara moral? Ini yang aku engga tahu jawabannya.

Adakah usaha yang selalu mengikuti penilaian moral yang baik?  Tuhan sendiri tidak mengguyuri orang beriman dengan anugerah kenikmatan, kadang juga dihujani cobaan dan ujian.



(dalam artikel ini ada joke yang disisipkan sebelum pemaparan realitas, joke dapat membuat Anda tersenyum dan menyetujui justifikasi realitas yang disampaikan. Jadi, jangan terkecoh!)

di edit pada 1 agustus 2010 

Update 22 Sept 2010


Inilah alasan mengapa aku pake istilah TIGER:

McKinsey Quarterly:  Riding Asia’s digital tiger

Asia is the world’s hottest area of Internet growth, but the dynamics on the ground vary widely by nation.
SEPTEMBER 2010 • Vikash Daga, Nimal Manuel, and Laxman Narasimhan
Source: Marketing & Sales Practice
 
Asia’s emerging markets are poised for explosive digital growth. The region’s two largest economies—China and India—already boast some 500 million Internet users, and we forecast nearly 700 million more will be added by 2015 (Exhibit 1). Other emerging Asian nations have the potential to grow at a similarly torrid pace. We estimate that within five years, this billion-plus user market may generate revenues of more than $80 billion in Internet commerce, access fees, device sales, and so forth (Exhibit 2).
To better understand the consumers, growth prospects, and problems, we surveyed more than 13,000 individuals across China, India, and Malaysia—countries at very different stages of their digital evolution.1 The key finding? While there were some notable differences in the types of content consumers favor and the devices they use, significant demand is waiting to be unlocked in all three nations. That could lead to growing markets for digital content and services and to new opportunities around digital marketing, including efforts to reach consumers via Internet sales channels.
..............................................

Ada kesalahan di dalam gadget ini