30 Desember 2009

Akar Permasalahan Bangsa: Logika Proses vs Logika Hukum

"The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift."
- Albert Einstein -
Dalam sebuah acara di TV One, seorang staf ahli hukum menyatakan bahwa penjelasan dalam buku Membongkar Gurita Cikeas melompat-lompat. Sedang para Dosen dalam berita di Detik.com menyatakan buku tersebut secara ilmiah adalah benar adanya. Staf hukum memandang dengan logika hukum, sedang para dosen memandang dengan logika proses. Perbedaan penilaian inilah gambaran akar permasalahan bangsa.

Penilaian logika hukum menjustifikasi kebenaran bukti tiap-tiap fenomena, sehingga ada istilah 'bukti kuat' dan 'bukti lemah'. Sedang penilaian logika proses akan menjadikan satu fenomena sebagai pijakan untuk fenomena berikutnya, sehingga ada istilah "efisiensi proses" dan "efektifitas proses".

Masing-masing logika memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dari logika proses dapat dilihat dari fenomena gaya gravitasi bumi. Newton dapat menghitung proses percepatan jatuhnya benda-benda ke bawah, tapi ia tidak bisa membuktikan dengan logika hukum bahwa bumi bisa menghasilkan gaya tarik gravitasi. Newton justru terang-terangan mengatakan bahwa gaya tarik bumi tidak perlu dibuktikan.

Orang-orang fisika yang tentunya memiliki logika proses, tidak mempermasalahkan dasar hukum gaya gravitasi. Cukup dengan fenomena yang terukur, orang-orang fisika berhasil memanfaatkan teori Newton untuk menciptakan berbagai kemajuan teknologi.

Sekitar seratus lima puluh tahun setelah Newton memformulasikan fenomena gravitasi, munculah Einstein yang mencoba memformulasikan dasar hukum gaya gravitasi dengan teori space-time gravity. Seratus tahun kemudian, barulah dilakukan berbagai percobaan untuk mencari dasar hukum gaya gravitasi.

Mengapa kita memerlukan dasar hukum gaya gravitasi? Karena selama ini fisikawan hanya bisa memanfaatkan fenomena gaya gravitasi dan tidak bisa merekayasa gaya gravitasi. Jika kita memiliki dasar hukum gaya gravitasi, kemungkinan besar teknologi teleport dapat terwujud.

Ironisnya, roket dan satelit yang dipakai untuk mencari dasar hukum gaya gravitasi dirancang berdasarkan teori Newton yang tidak berdasar hukum. Andai saja kita menunggu dasar hukum teori gaya gravitasi Newton, kita tidak akan pernah bisa menemukan dasar hukum gaya gravitasi itu sendiri.

Kita harus seimbang dalam menempatkan logika hukum dan logika proses pada tempatnya, bukan mengunggulkan salah satunya.

Andai saja kita menunggu dasar hukum bagi Presiden SBY dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, akankah proses pembangunan dapat segera berjalan?

Perlu disadari bahwa lembaga negara membutuhkan Badan Intelejen yang bergerak secara sembunyi-sembunyi untuk menerobos batasan-batasan logika hukum maupun logika proses dalam sebuah keseimbangan, demi tercapainya tujuan negara.

29 Desember 2009

Sumbangsih Pembangunan yang tak sebanding dengan Kritik

Seperti dugaanku, para pejabat terkait akan terkejut dengan laporanku. Keterkejutan ini emang wajar mengingat laporan macam ini tidak pernah ada.

Selama aku sakit, aku menjalani pekerjaan yang engga banyak aktivitas fisik, yaitu konsultan. Sebuah perusahaan yang sudah memenangkan lelang pengadaan Genset memintaku untuk jadi konsultan.

Sebenernya, lelang pengadaan Genset ini sudah pernah diadakan sebelumnya, tapi beberapa pemenang lelang menyatakan tidak sanggup melaksanakan pekerjaan. Mereka lebih memilih dimasukkan ke dalam daftar hitam selama dua tahun daripada diminta menyelesaikan pekerjaan. Seberapa sulitkan pekerjaan ini sesungguhnya? Hal inilah yang membuat pemenang lelang terakhir memintaku untuk menjadi konsultan setelah perusahaannya dinyatakan sebagai pemenang.

Setelah aku pelajari dokumen-dokumen serta survey lapangan, ternyata pengadaan ini tidak dibuat dengan perencanaan matang. Akhirnya, tugasku yang seharusnya tinggal memasang begitu saja malah harus terjun mulai dari perencanaan desain instalasi. Untunglah pekerjaan bisa diselesaikan dan perusahaan yang menyewaku untuk menjadi konsultan, bisa mendapatkan laba.

Selama proses pekerjaan, aku kerap berbincang dengan beberapa pejabat instansi. Dari situlah aku tahu bahwa genset yang aku pasang akan menjadi bagian penting dalam rencana-rencana instansi mendatang. Sehingga, dengan usainya pekerjaan, aku bikin laporan yang menerangkan sejak dari proses perencanaan, cetak biru instalasi, perawatan serta mencantumkan beberapa poin penting menyangkut rencana pengembangan instansi.

Pejabat terkait termangu-mangu ketika aku menerangan isi laporan sebelum meminta tanda tangan dan cap di lembar penerimaan pada halaman depan laporan. Ia menjadi pusing dengan penempatan gardu PLN yang belum diperhitungkan dalam rencana pengembangan di masa mendatang. Tapi ia tersenyum lebar saat aku menerangkan bagian akhir laporan yang berisi usulan solusi untuk masalah yang akan ia hadapi.

Pihak perusahaan yang menyewaku juga ikut senang dengan laporan yang udah di tanda tangani oleh pejabat instansi. Ia bisa menggunakan laporan ini sebagai media promosi bahwa perusahaannya mampu menyelesaikan kerumitan instalasi genset yang tidak mampu diselesaikan perusahaan rekanan lain.

Aku berharap, laporan itu bisa menjadi bahan untuk belajar bagi panitia pengadaan barang, terutama Genset. Mengingat tidak semua anggota panitia memiliki latar belakang dan pengalaman memadai untuk menangani permesinan. Sehingga proses pengadaan tidak lagi sekedar asal-asalan, seperti genset lama yang sudah terpasang di instansi, dimana kemampuan engine cuma 100KVA namun Generatornya berkemampuan 165KVA. Tak ayal lagi jika biaya perawatan genset lama sangatlah besar sebelum akhirnya genset tersebut rusak berat akibat kesalahan yang sangat mendasar.

Aku benar-benar berharap bahwa apa yang telah aku lakukan akan memberikan manfaat bagi pembangunan di Indonesia, meski tidak seberapa. Karna hanya sebatas itulah kemampuanku. Bagi rekan-rekan yang keberatan dengan kritik yang sudah aku tulis, mohon maaf jika sumbangsih yang aku berikan tidak sebanding dengan kritik yang aku lontarkan. Aku takkan ragu meminta maaf dan menarik kritikanku jika pemerintah telah menemukan jalan keluar yang lebih baik.

Sebagai catatan, aku sudah berinteraksi langsung dengan seluk beluk perencanaan instansi pemerintah sejak tahun 2003. Aku hanya mengharapkan negeri yang lebih baik untuk anak-anakku kelak. Aku juga berharap bisa menjaga spirit yang sudah kutulis dalam halaman persembahan skripsiku: "Dipersembahkan untuk masa depan Kejayaan, Harkat dan Martabat Sang Merah Putih".

Mimpi Menghancurkan PLN

"When I examine myself and my methods of thought, I come to the conclusion that the gift of fantasy has meant more to me than my talent for absorbing positive knowledge."
- Albert Einstein -

Padam lagi, lagi-lagi padam. Entah udah berapa kali lisrik padam dikala aku bekerja dengan komputer. Tiap kali listrik padam, kegeraman makin membesar. Apakah PLN tidak membuat prediksi kebutuhan listrik di tahun 2009 dan 2010 sehingga sekarang punya alasan besar yaitu "kekurangan pasokan daya listrik?"

Rasanya tidak adil kalo cuman menyalahkan PLN, karena PLN mungkin punya rencana membangun pembangkit-pembangkit baru. Tapi ada pihak lain yang tidak menyetujui rencana pembangunan tersebut. Dan pihak yang dimaksud adalah kambing yang sangat manis namun berwarna hitam, yaitu ... (mohon dibaca seperti gaya Rhoma Irama mengatakan "terlalu") ... pemerintah. ( Benar juga kata orang-orang tua bahwa di era demokrasi, menjadi pemimpin harus siap menjadi kambing hitam yang paling congek! )

Dari pada menunggu hingga listrik kembali menyala yang bikin darah tinggi, aku putuskan untuk naik ke ranjang. Tapi, dasar mata belum mengantuk, pikiran ini menerawang ke mana-mana.

Aku teringat saat aku Kerja Praktek di unit pembangkitan listrik PLN di Tambak Lorok, Semarang. Waktu itu, turbin gas sering mengalami kerusakan yang tidak masuk akal pada pipa burner. Setelah selidik sana-sini, akhirnya aku punya hipothesis bahwa kerusakan diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar solar impor dari Timur Tengah yang mengandung Vanadium. Vanadium ini memicu terjadinya korosi pada suhu tinggi sehingga menimbulkan proses kerusahan yang hampir tidak masuk akal. Kini, biarpun laporan kerja praktek itu mungkin hanya teronggok di Jurusan Mesin Universitas Diponegoro, tapi aku bahagia karena, aku dengar-dengar, unit pembangkitan itu kini sudah mengganti bahan bakarnya dengan bahan bakar gas.

Aku juga teringat dengan Mr. Houser yang senang dengan berbagai konsep pembangkit listrik tenaga gelombang. Juga dengan Wilf Oulette, insinyur dari Edmonton, Kanada, yang aku kenal sewaktu aku bikin skripsi tentang pembangkit listrik. Doi mengelola pembangkit listrik bertenaga kayu bakar ... aku pun tertidur setelah lelah pikiran menerawang kemana-mana ...

Aku bermimpi mendapat bantuan bertrilyun-trilyun rupiah. Bantuan itu aku pakai buat membeli tanah berhektar-hektar dan kujadikan hutan dengan tanaman produktif. Tepat di tengah hutan, aku bikin Tempat Pembuangan Sampah Akhir agar baunya engga menjangkau pemukiman.

Tak jauh dari tempat pembuangan sampah, aku membangun oven sebesar hanggar pesawat untuk mengeringkan sampah dan sebuah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas hasil pembakaran sampah. Sampah yang udah kering dijadikan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Udara panas sisa pembakaran dikondensasikan kemudian dialirkan ke dalam oven untuk mengeringkan sampah. Abu sisa pembakaran masih bisa dimanfaatkan untuk pengurukan, minimal buat abu gosok. Hutan disekelilingnya akan menjaga kadar Karbon Dioksida hasil pembakaran. Sehingga siklus pembangkit listrik dapat efisien dan terjamin sustainabilitasnya.

Aku engga perlu mengeluarkan uang untuk membeli BBM, justru aku mendapat uang dari para pembuang sampah. Bahkan aku bisa memberikan 'karir' bagi para pemulung sampah atau siapapun yang engga bisa sekolah, untuk memilah-milah sampah. Sehingga, kemungkinan besar aku bisa memproduksi energi listrik dengan harga jual yang jauh lebih rendah dari pada PLN. Dengan euphoria noeliberalisme yang makin kuat, tentulah masyarakat industri dan rumah tangga akan sangat sulit menolak tawaran energi murah ini. Dukungan dari masyarakat sekitar akan membuat aku bisa memiliki jaringan listrik sendiri, menyaingi PLN ...

Gubrak! Aku pun terjatuh dari ranjang ... hilang sudah mimpi indahku, listrik PLN pun belum juga menyala ... hicks!

Ya sudah, bobok lagi aja, sapa tahu mimpi lebih heboh, engga kayak Petronas yang cuma belajar dari Pertamina trus bisa melejit melebihi 'gurunya', tapi belajar menghancurkan Pertamina ... hahaha ... Gubrak!

26 Desember 2009

Neoliberalisme dan Ekonomi Kerakayatan

Ngomong-ngomong soal Neoliberalisme, definisi dari Elizabeth Martinez and Arnoldo García adalah definisi paling populer. Mereka mendefinisikan neo-liberalism sebagai seperangkat kebijakan yang menyebabkan orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, yang dilakukan oleh lembaga-lembaga dunia seperti IMF, World Bank (WB), dan sebagainya.

Jika kita tinjau kembali kebijakan IMF dan WB, sepertinya tidak keluar dari prinsip "Perdagangan Bebas" dan "Keunggulan Kompetitif" yang tak lain adalah prinsip liberalisme, tidak ada NEO dalam kebijakannya. Jadi, kenapa muncul opini publik yang menambahkan NEO dalam LIBERALISM?

Sepertinya, mekanisme ekonomi liberal telah melampaui batasan-batasan yang diberikan Adam Smith dalam memberikan doktrin pasar bebas alias liberal. Hal ini disebabkan oleh karena motif transaski pasar liberal tidak seluruhnya berkaitan dengan kebutuhan riil atau motif ekonomi. Adakalanya DEMAND muncul bukan karena pasar benar-benar membutuhkan tapi dimunculkan secara politis, keserakahan moral ataupun hidden agenda lain. Adakalanya pula SUPPLY memiliki hidden agenda yang tidak pernah diperhitungan dalam liberalisme.

Berbagai hidden agenda membuat keseimbangan pasar bebas menjadi kacau. Berbagai transaksi bisnis yang meracuni liberalisme, bersembunyi di bawah pantat hukum dan demokrasi. Sehingga berbagai kecurangan dapat melenggang dengan tenang. Berbagai kecurangan ini membuat hubungan SUPPLY - DEMAND tidak lagi murni sebagaimana diidealkan oleh paham liberalisme. Udah dosa kepada Tuhan, dosa kepada sistem pula!

Tidak cuma hidden agenda, globalisasi juga meruntuhkan idealisme liberal karena globalisasi memberikan lebih banyak pilihan bagi para pelaku ekonomi. Dari pilihan yang bersifat kompetitif hingga pilihan untuk melakukan praktek ekonomi curang, seperti penipuan hingga pembajakan ringan a la copy-paste. Apalagi jika pembajakan konten porno, dosanya kepada Tuhan berlipat ganda!

Runtuhnya idealisme liberal oleh liberalisasi yang tak terkendali inilah yang memunculkan istilah Neo dalam kata Liberalisme. Keruntuhan liberalisme juga membuat definisi Elizabeth Martinez and Arnoldo García mendekai kebenaran, yaitu yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Yang dimaksud kaya disini adalah kaya materi dan kaya kepintaran, sebab kaya materi saja bisa menjadi korban madoff-madoff baru yang akan makin banyak bermunculan seiring makin runtuhnya idealisme liberal.

Globalisasi yang juga menjadi titik keruntuhan liberalisme dapat dilihat dalam kasus serbuan produk China di Amerika, yang menghancurkan ekonomi kerakyatan sehingga menghasilkan krisis.

Serbuan produk China ke Amerika membuat produk asli US harus bersaing ketat made in China. Namun rupanya produk Amerika kalah, sehingga kegiatan produksi Amerika melambat. Bank Sentral Amerika pun memangkas suku bunga secara ekstrem. Hasilnya bukan peningkatan investasi industri, melainkan kredit kepemilikan rumah yang menjadi pangkal krisis subprime mortgage.

Apa yang dibutuhkan oleh industri Amerika untuk bersaing dengan China, bukanlah iming-iming gaya liberal berupa fasilitas kredit murah dari kebijakan moneter. Kredit murah diharapkan dapat mengisi DEMAND untuk membuka usaha baru, tapi kaum pengusaha Amerika sesungguhnya engga cuman butuh duit banyak. Masyarakat industri Amerika membutuhkan inovasi-inovasi baru agar harga produknya dapat bersaing dengan China, membutuhkan infrastruktur yang membuat biaya produksi dapat ditekan, dan ribuan ide agar dapat bertahan ditengah serbuan produk China.

Kini, otoritas moneter tidak lagi boleh angkuh dan sombong dapat menyelesaikan semua persoalan dengan uang. Karena globalisasi tidak melulu berkaitan dengan uang. Uang yang disediakan dengan ringan oleh Bank Sentral Amerika terbukti tidak mempan melawan serbuan China, bukan?

Karakter ekonomi neolib adalah nafsu yang besar untuk memperluas dan mengintensifkan pasar, dengan cara meningkatkan jumlah, frekuensi dan formalisasi transaksi. Nafsu ini dimiliki oleh siapa saja, tak peduli pengusaha besar maupun kecil. Siapapun yang berhasil melaksanakan karakter neolib maka akan menjadi pemenang.

Adapun 'cita-cita' neolib adalah menjadikan setiap aktivitas manusia sebagai transaksi bisnis. Sehingga neolib dapat dikatakan sebagai filosofi dasar yang terbentuk dengan sendirinya dari setiap pelaku pasar untuk mendapatkan kekayaan yang tak terhingga alias tak akan ada kata 'cukup'.

Untuk menyeimbangkan hal ini, maka memecah kekuatan ekonomi dalam unit-unit kecil akan menjadi senjata ampuh dalam menghadapi arus neo-liberal. Banyaknya unit kecil akan memunculkan semakin banyak jurus yang dimainkan untuk melawan arus kegagalan neoliberalisme. Mungkin pemecahan ini yang kita kenal sebagai ekonomi kerakyatan.

Terlebih lagi, mungkin kita pun membutuhkan cara pembelajaran yang benar-benar memaksimalkan potensi manusia, agar kita bisa benar-benar belajar dari alam.

Sebenernya udah lama pengen bikin tulisan ini, tapi kuatir kalau-kalau aku ini disangka anak buah Prabowo dari Partai Gerindra. Tapi melihat penyaluran kredit MKM yang pertumbuhannya tidak seberapa, jadinya perlu juga tulisan ini diluncurkan.

Studi Kasus Bak Century: Politisasi

"Politics is a pendulum swing whose swing between anarchy and tyranny are fueled by perpetually rejuvenated illusions"
- Albert Einstein -

Iklan bailout di televisi menyampaikan pesan bahwa kebijakan bailout adalah kebijakan yang sudah benar. Kemudian iklan ditutup dengan himbauan agar kasus Century tidak di politisasi. Masalahnya, justru iklan itu sendiri yang mempolitisasikan kasus Century.

Kenapa disebut sebagai politisasi? Karena iklan itu tidak memberi penjelasan empirik atas klaim kebenaran. Jika tidak ada penjelasan empirik namun sudah diklaim sebagai sebuah kebenaran, maka kebenaran itu bersifat politis. Jadi tak salah kalo iklan itu sendiri yang membawa kasus century dalam ranah politik.

Dampak sistemik dijadikan sebagai alasan utama bailout, tapi penjelasan dampak sistemik tidak pernah realistis maupun empiris. Penjelasan yang ada hanyalah analogi-analogi yang timpang, dari dianalogikan dengan kondisi 1998 hingga rumah yang terbakar. Analogi adalah penjelasan paling bodoh, karena analogi akan mempersempit sudut pandang kita terhadap realitas permasalahan sesungguhnya.

Sumber keteraturan atapun kekacauan (chaotic Attractor) tidak ditentukan oleh ukuran kuantitas, melainkan ditentukan oleh hubungan atau keterkaitan dengan sumber-sumber lain. Jika berbagai sumber besar sangat bergantung pada satu sumber kecil, maka sumber yang kecil ini berpotensi sistemik.

Sebagai contoh, kasus kecelakaan pesawat Boeing 747 Air Peru dalam suatu penerbangan malam. Kecelakaan ini disebabkan oleh selembar selotip yang menempel pada sensor altimeter. Jika dilihat dari ukuran, seloptip ini engga ada apa-apanya dibanding ukuran Boeing 747. Tapi gara-gara selotip ini, seluruh komponen badan pesawat termasuk pilot menjadi buta karenanya.

Kalau seadainya bank kecil yang bernama Century berpotesi sistemik dan bisa mengakibatkan penarikan dana nasabah besar-besaran di seluruh bank di Indonesia, maka sesungguhnya dampak sistemik itu timbul dari kebijakan awal Bank Indonesia sendiri dan dialihkan ke Bank Century.

..... well, sebenernya ragu mau menuliskan aline di atas selama ini. Tapi, justru isu konspirasi bank Century yang menyelamatkan bank-bank di Indonesia ... udah ah, ganti alinea ...

Siapakah yang berhak menyatakan bahwa kebijakan bailout adalah kebijakan yang benar?

Klo alasan BI adalah psikologis nasabah Indonesia akan panik dan melakukan penarikan besar-besaran, maka minimal perlu penjelasan secara empirik dari sosiolog.

Sayangnya, rapat KSSK tidak dihadiri oleh pakar sosiolog yag menguraikan secara empirik dampak sistemik. Dan sejak kapan pakar perbankan jadi psikolog/sosiolog?

Bagaimanapun, Blog Titen menuliskan kasus Bank Century sama sekali bukan untuk alasan politis. Tapi murni untuk mengingatakan otoritas moneter dan pemerintah agar terbuka dalam menjelaskan sistem pembangunan. Karena tantangan masa depan makin kompleks.

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

22 Desember 2009

Padamnya Lampu, Menyalanya Kegeraman menuju Neoliberalisme?

Setelah kerja di komputer selama beberapa jam, tiba-tiba listrik padam. Masih ada tersisa rasa sabar untuk menunggu nyala listrik. Tapi giliran komputer kembali bisa menyala, file yang kukerjakan corrupted alias engga bisa dibuka..... Bangsat! Setan Alas! Tuyul Tengil! Babi Bandotan! dan seterusnya sampe lupa istighfar.

Kalu udah jengkel akibat sesuatu yang diluar kemampuan kita kayak gini, tentunya butuh pelampiasan. Dan sasaran pelampiasan yang paling mudah adalah PEMERINTAH. Terlebih lagi, saat ini pemerintah sering menyajikan tarian yang berkesan mengulur waktu dan menutup-nutupi. Tapi tarian ini malah jadi tarian striptease, yang katanya makin bikin penasaran orang (maklum, aku belum pernah liat tarian gituan seh ...)

Saat ini kepercayaan publik terhadap pemerintah sedang menuju ke titik rendah, dan pelayanan publik justru sering mancing kemarahan. Di tambah lagi berbagai pernyataan-pernyataan politis yang engga sesuai dengan kenyataan bikin kita makin dongkol. Apakah berbagai perasaan negatif ini akan dibiarkan bertumpuk sehingga menjadi kemarahan yang tak terkendali?

Jadi inget sama iklan perusahaan energy "Chevron" yang sering muncul di televisi. Sepertinya jika pelayanan publik diserahkan pada pihak swasta seperti "Chevron" maka hasilnya akan lebih baik daripada dikelola pemerintah. Ini bukti bahwa arus perekonomian neolib emang sangat seksi dan montok, janji-janjinya jauh lebih profesional dibanding janji-janji politik. Jangan heran jika struktur perekonomian neolib makin mencengkeram dan mengakar.

Struktur perekonomian neolib bukanlah agenda konspirasi segelintir orang. Ekonomi neolib adalah hasil perkembangan sistem ekonomi yang digerakkan oleh seluruh manusia bumi yang punya satu macam keinginan, yaitu mencapai kekayaan sebanyak-banyaknya. Hampir tidak ada orang yang tidak pengen kaya, bukan? Keinginan inilah yang menjadi dominasi tunggal yang absolut dalam sistem perekonomian.

Sulit untuk mengerti bahwasannya dominasi tunggal dalam kehidupan di dunia adalah sumber keterpurukan kehidupan dunia sendiri. Makanya, Tuhan mengijinkan seluruh manusia di muka bumi menganut beberapa macam agama, tujuannya adalah agar tidak terjadi dominasi tunggal di muka bumi yang membawa celaka.

Kini, tinggal bagaimana pemerintah kita menata kembali pelayanan publik, agar kita bisa mengalir bersama neolib tapi tidak hanyut karenanya. Kepada pemerintah, mohon tulisan ini dianggap sebagai bentuk saran dan dukungan dalam mengatur negara, bukan upaya mengambil alih kekuasaan.

Kembali ke padamnya listrik, mungkin akan sangat berbeda kalo aku punya UPS yang bisa jadi batere sementara jika listrik PLN mendadak padam. Sepertinya, PLN mau kasih aku pelajaran kayak gini, "Makanya, kalo ga mampu beli UPS jangan beli PC, dodol!"

Tapi, apakah kalo aku punya UPS maka perasaan negatif itu akan hilang sama sekali?

21 Desember 2009

Sistem Wisata Short-Time a la Jogja

Adalah kabar yang sangat menggembirakan ketika koran lokal Yogyakarta memuat berita bahwa wisata Jogja adalah wisata short-time. Maksudnya adalah wisatawan cuma datang ke jogja dalam waktu singkat, cuma lihat-lihat terus pulang tanpa kesan. Bukan short-time dalam arti mesum ...

Kenapa Yogyakarta menjadi pariwisata short-time? Jelas karena struktur fasilitas pariwisatanya emang membentuk sistem wisata short-time.

Pariwisata bukanlah sekedar bisnis pemandangan alam ataupun situs purbakala. Jika periwisata hanya mengandalkan kedua hal tersebut, maka tak ayal lagi jika menjadi pariwisata short-time. Pariwisata juga harus menawarkan "experience" agar wisatawan tidak bosan dan buru-buru berkemas pulang.

Kesadaran akan bentuk wisata short-time adalah awal yang baik untuk mulai menata kembali pariwisata Yogyakarta, terlebih kesadaran ini muncul dari kalangan pejabat pemerintahan. Kini, tinggal bagaimana mempertemukan potensi pariwisata Jogja dengan pelayanan yang sesuai untuk menghasilkan wisata long-time.

Namun, melihat pembangunan pariwisata dewasa ini, kelihatannya akan sangat berat untuk mengubah pola wisata short-time menjadi wisata long-time. Struktur pariwisata Yogyakarta sudah terlanjur dibangun untuk wisata short-time, jadi sistem wisata short-time akan tetap dominan dalam beberapa waktu mendatang. Kemudian, pembangunan struktur wisata long-term akan mudah menjadi bias dengan wisata short-time.

Untuk membangun wisata long-time, diperlukan perencanaan yang bener-bener matang. Untuk perencanaan yang matang, minimal diperlukan lima data yang akurat. Yaitu potensi wisatawan, potensi wisata, pelaku bisnis wisata, kebijakan-kebijakan pemerintah (provinsi maupun kabupaten) yang mempengaruhi bisnis pariwisata, serta yang tak kalah penting adalah ketersediaan anggaran.

Sehingga perencanaan tidak terlalu muluk-muluk hingga jauh panggang dari api, melainkan perencanaan yang realistis dengan tingkat keberhasilan tinggi.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa berguna bagi pemerintah Yogyakarta dalam membangun pariwisata, sebagai masukan dari orang yang kurang kerjaan mempelajari "mekanisme sistem", yang pengen denger lagi gaung "Jogja Never Ending Asia".

Gaya Hidup Modern yang Tidak Sehat : Dilawan atau Diseimbangkan?

Awalnya cuma menggerakkan kedua lengan tangan untuk mengurangi rasa nyeri di punggung. Lama kelamaan, gerakan itu berkembang menjadi sebuah tarian. Dan seorang teman yang melihat gerakan tersebut mengira kalau aku sedang latihan seni bela diri.

Sewaktu punggungku terasa sangat nyeri dan tak kuasa berbaring, aku pun duduk dan mencoba merasakan kenyerian punggung. Tiba-tiba, sel-sel otot lengan seperti tertarik sehingga kedua tanganku mulai bergerak-gerak seperti orang menari. Beberapa saat setelah melakukan tarian, rasa nyeri dipungung sedikit berkurang sehingga aku pun bisa tidur. Keesokan harinya, nyeri punggung sama sekali hilang.

Engga Cuma rasa nyeri punggung, keluhan nyeri di perut juga bisa dihilangkan dengan cara yang sama. Mekanisme system penyembuhan macam apakah ini?

Setelah seorang teman berkomentar kalau mekanisme system penyebuhan itu seperti ilmu bela diri, maka aku pun mulai cari-cari info tentang ilmu bela diri. Setelah korek info dari sana-sini, diperoleh pemahaman tentang adanya ilmu bela diri yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip keseimbangan alam.

Prinsip keseimbangan alam ini sejalan dengan prinsip keseimbangan system mekanisme tubuh. Rasa nyeri pada punggung adalah bentuk tidak seimbangnya system dalam tubuhku, yang menyebabkan organ punggung harus menanggung rasa nyeri. Gerakan-gerakan mirip senam yang kulakukan sepertinya adalah untuk merangsang dikeluarkannya hormon penahan rasa sakit sekaligus merangsang organ-organ lain agar “meringankan beban” yang ditanggung oleh punggung.

Menelusur lebih jauh tentang system tubuh, bisa dipahami bahwa penyakit-penyakit modern, sejenis dibetes dan stroke, adalah disebabkan karena pola gaya hidup yang tidak diseimbangkan. Makanya, engga setiap orang yang gemar gula terkena penyakit diabetes. Orang-orang yang mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan gula dapat menjalani hidup "manis" hingga jauh diusia senja.

Sayangnya, aku udah terlambat menyadari hal ini. Ginjalku sudah keburu sakit.Sekarang, setiap habis mempraktekkan gerakan-gerakan untuk penyembuhan ginjal, kerongkongan terasa amat haus dan tiga gelas air putih langsung masuk ke perut. Padahal sebelumnya aku engga kuat minum air putih lebih dari tiga teguk.

Ini dalah metoda penyeimbangan sistem tubuh yang mudah, bisa dilaksanakan kapan saja, cukup 5 menit sudah bisa bikin sekujur tubuh basah oleh keringat dan nafas memburu. Tapi ada efek sampingnya kalo dipraktekkan sendiri di tempat umum, Anda bisa dikira orang gila!

Apakah gaya hidup modern harus dihindari agar tidak terkena penyakit? Ataukah harus disikapi sebagai tuntutan hidup yang harus diseimbangkan? Pilihan di tangan Anda

video

18 Desember 2009

Neoliberal: Bukan konspirasi tapi arus perubahan yang harus kita hadapi bersama.



Bapak ekonomi dunia, Ibnu Khaldun, telah meramalkan bahwa sistem perekonomian akan mencapai kondisi seperti apa yang disebut sebagai neoliberalisme. Sesuai dengan pendapat Ibnu Khaldun, kondisi pada neoliberalisme ini adalah siklus puncak pertumbuhan ekonomi, bukan sebuah upaya konspirasi.

Perkembangan teknologi mungkin akan mengubah perilaku kita, tapi manusia tetap saja merasa lapar. Sifat-sifat dasar manusia inilah yang membuat perekonomian menjadi sebuah system yang tidak sepenuhnya acak dan dapat dipelajari bagaimana system ini bergeser dari satu siklus ke siklus berikutnya dengan level yang berbeda-beda.

Puncak pertumbuhan ekonomi yang digambarkan oleh Ibnu Khaldun sejalan dengan “cita-cita” neoliberalisme, yaitu menjadikan dunia dimana setiap tindakan manusia adalah sebuah transaksi pasar.

Jadi jangan heran kalo ekonomi yang udah tumbuh menjadi neolib sekarang ini menginginkan agar setiap orang bisa bertransaksi hingga larut malam. Jadi, makin banyak toko yang buka 24 jam.

Nafsu neolib juga menginginkan jumlah duit yang besar dalam setiap transaksi. Adanya kartu kredit membuat belanja tidak lagi seperti ibu-ibu yang menenteng tas jerami ke pasar dengan dompet di ketiak. Sebab dengan kartu kredit, kita bisa membeli berton-ton beras yang tak mungin bisa dimasukkan ke dalam tas belanja ibu.

Neolib menciptakan berbagai bentuk transaksi baru tanpa harus ada barang, yang penting ada uang. Contohnya produk deposito, surat utang dan entah apa lagi jenisnya, aku engga tahu soalnya aku bukan orang kaya yang layak ditawari produk gituan. Produk-produk kayak gini nongol karena neolib menginginkan jumlah transaksi yang makin banyak dan makin variatif.

Makin banyaknya jenis transaksi, bertambah pula biaya jasa yang harus dibayarkan. Hal ini dapat membuat harga barang-barang yang diperdagangkan kadang tidak realistis. Persis seperti kasus perdagangan property di Amerika yang akhirnya kolaps di awal millennium ini.

Huaaa…….. ternyata jadi panjang sekaleee, padahal baru ngomongin ujungnya, belum ngomongin aspek social dan filosofis yang bikin neoliberalisme berbeda dengan liberalisme ….. disambung lagi kapan-kapan ah ….. klo ada mood, hehehe….

video

Dasar Ilmu Ekonomi?

Sejak abad pertengahan, ilmuwan arab telah mengidentifikasi akan adanya ekonomi neoliberal. Ilmuwan tersebut bernama Ibnu Kaldhun. Inilah ‘ramalan’ yang paling rasional dibanding peramal-peramal lain seperti Nostradamus maupun Joyoboyo dan Ronggowarsito.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita mengenal adanya ramalan ilmiah seperti ramalan cuaca. Meski akurasi ramalannya juga belum 100% benar, namun terasa lebih ilmiah dibanding ramalan Nostradamus.

Jika ramalan cuaca didasarkan pada pengetahuan fisika alam, pengetahuan seperti apakah yang dimiliki oleh Nostradamus, Ibnu Khaldun, Ronggowartsito, Joyoboyo dan berbagai peramal besar lainnya?

Kemungkinan besar, para peramal dapat “membaca” siklus dunia. Alam semesta bergerak dalam sebuah mekanisme system yang bersiklus. Dari siklus electron yang mengintari inti atom hingga siklus perputaran galaksi, dan tak lupa siklus haid yang bikin bingung kaum pria.

Benda-benda di sekitar kita juga memiliki frekuensi gelombang, yang berarti juga punya siklus. Keseluruhan siklus ini bersatu membentuk siklus fenomena, seperti bersatunya elektron, proton dan neutron yang membentuk materi.

Pengetahuan akan adanya siklus dalam system perekonomian inilah yang membuat Ibnu Khaldun dapat menangkap bahwa system ekonomi tidak sepenuhnya acak, sehingga ia pun dapat meletakkan dasar-dasar ilmu ekonomi.

14 Desember 2009

Film dan Karakter Bangsa

 "The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift."
- Albert Einstein -
Trend hasil budaya anak bangsa mencirikan budaya yang sedang berkembang. Jika budaya yang sedang trend adalah budaya film hantu, kemanakah arak perkembangan budaya kita?

Mungkina diantara kita masih ingat bahwa menjelang berakhirnya kekuasaan Soeharto, film Indonesia memproduksi film-film dengan tema hantu dan seks. Kini film-film nasional berhantu juga banyak gentayangan di bioskop-bioskop.

Bahkan video amatiran via ponsel pun engga kalah mengumbar heboh penampakan hantu. Video-video ponsel ini tentunya juga akan mendongkrak penjualan film hantu. Fenomena apakah yang sedang berkembang?

Aku membuat film berdurasi 15 menit yang menceritakan bagaimana ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah telah 'menyingkirkan' Tuhan dalam setiap kejadian, sehingga banyak anak-anak kita mulai tidak percaya bahwa mobil bisa berjalan atas kehendak dari Yang Maha Kuasa. Tak sedikit yang punya anggapan bahwa prosesi berdoa dianggap sebagai bagian dari kegiatan seremonial yang tak bermakna.

Tapi sayang, film itu dicekal pemutarannya oleh TVRI Jogja.

Apakah kita harus menyembunyikan kenyataan sisi negatif metode ilmu pengetahuan agar generasi muda tetap semangat menuntut ilmu?

Secara pribadi, aku tidak setuju. Spiritualisme adalah hasil evolusi manusia yang agung dan hanya dimiliki oleh spesies manusia. Mengabaikannya berarti sebuah langkah mundur yang akan merugikan kita semua.

Pesan video pendek berjudul "Akankah Tuhan Menolong Kita" di bawah ini mungkin baik, tapi video ini membajak lagu orang ... jadi jangan di gunakan untuk kepentingan komersil ataupun politik yah ...



video

13 Desember 2009

Studi Kasus Bank Century: Kejanggalan yang Nyata Terbukti

Dalam artikel pertama tanggal 10 September 2009, disebutkan adanya kejanggalan dalam perencanaan bailout Bank Century. Dan di hari Minggu tangal 13 Desember 2009, kejanggaan itu terbukti ketika Depkeu menayangkan rekaman video proses rapat pengambilan keputusan bailout.

Video menayangkan sikap keras Direktur Utama Bank Mandiri yang menginginkan pemilik Bank Century, Robert Tantular, beserta jajaran manajemen Bank Century, untuk dihadirkan dalam rapat. Permintaan ini ditolak dengan alasan waktu yang sudah habis. Dan inilah pangkal kejanggaan yang selama ini aku cari.

Wakil dari Bank Century harusnya menjadi "pembuka" rapat untuk dapat memahami situasi sehingga bahan-bahan untuk pertimbangan bailout atau likuidasi menjadi komplet. Keterangan dari wakil Bank Century akan membuat perhitungan untung-rugi bailout maupun likuidasi akan lebih cermat, serta perencanaan penanggulangan yang matang. Disamping itu, penjelasan wakil Bank century tentang sepak terjang selama setahun terakhir merupakan parameter penting untuk menentukan "dampak sistemik' yang dapat ditimbukan oleh bank ini.

Kalaupun keterangan dari wakil Bank Century adalah bohong alias tidak benar, maka hal ini semakin menunjukkan betapa perlu reformasi di tubuh BI agar tidak lagi kecolongan dalam mengawasi perbankan Indonesia. Akan tetapi, proses penanganan Bank Century secara "sistem" telah benar dan lebih mudah membongkar kebohongan tersebut.

Apakah kejanggalan seperti ini layak dipakai untuk mengkriminalkan Mbok Dhe Sri Mulyani dan Pak Dhe Boedinono? Jika melihat pengalaman gubernur Bank Sentral Amerika yang secara jujur mengakui telah melakukan kebijakan yang salah di awal millenium, maka kejanggalan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk mengirim Mbok Dhe Sri dan Pak Dhe Boed ke bui. Tapi kalau sudah ada unsur suap atau pengaruh-pengaruh non-profesional dari pihak yang harus ditaati oleh mereka berdua, akan lain ceritanya.

Awalnya aku punya keyakinan kalo Mbok Dhe Sri Mulyani mau mengakui adanya ketimpangan proses dalam Bailout Bank Century, seperti halnya mantan Gubernut Bank Sentral Amerika, Alan Greenspan. Namun setelah Mbok Dhe Sri menuding Pak Lik Bakrie, keyakinanku mulai luntur. Terlebih tudiongan ini pertama muncul di situs yang biasa aku baca, Wall Street Journal. Parahnya lagi, Pak Dhe Boed juga berkoar sehari kemudian di situs berita yang sama

Dalam pandanganku, Mbok Dhe Sri Mulyani adalah orang profesional bener-bener ngerti kalo tidak ada yang sempurna di muka bumi, sehingga memiliki sikap katria untuk menilai kemampuan dirinya sendiri sekaligus mampu mengakui kekurangannya.

Mengingat Mbok Dhe Sri Mulyani pernah mengakui secara terbuka kalo prediksi IMF salah melulu serta mengakui tuduhan subjektifnya terhadap Pak lik Bakrie, maka secara pribadi, aku masih memiliki kepercayaan akan profesionalisme itu walau sedikit ........

Ngomong-ngomong, aku engga punya background perbankan, jadi aku engga tahu alasan kenapa Dirut Bank Mandiri bersikeras untuk mendengar keterangan dari Bank Century, aku hanya menganalisa dari sudut pandang SISTEM secara umum. Dan memang, SISTEM engga bisa bohong karena menelanjangi batasan-batasan antar sektor disiplin ilmu dalam memahami globalisasi yang kompleksitasnya minta ampyun ...

oooOOOOooo

11 Desember 2009

Studi Kasus Bank Century: Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia

Banyak sudah oknum-oknum pengkhianat pembangunan yang ditangkap oleh KPK, tapi sistem pembangunan tak kunjung bergeming. Tak heran jika oknum-oknum baru terus bermunculan. Sistem yang ada seakan bukanlah sistem pembangunan manusia indonesia seutuhnya, melainkan sistem regenerasi oknum-oknum pengkhianat pembangunan.

Masih mending jika oknum-oknum tersebut 'patah tumbuh hilang berganti' namun sepertinya para oknum 'mati satu tumbuh seribu'.

Pertama kali menorehkan tulisan tentang Bank century pada 10 September 2009, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan disinilah mata air ketidakberesan itu dapat diketahui, dikaji dan ditanggulangi.

Awalnya, sempat menunjuk hidung Mbok Dhe Sri Mulyani dan Pak Dhe Boediono sebagai biang ketidakberesan. Namun seiring pengungkapan berbagai fakta dan data seputar bailout, sepertinya tidak adil jika seluruh ketidakberesan ditimpakan pada mereka berdua. Sebab segala bentuk sanksi bagi mereka takkan mengubah sistem pembangunan kita.

Kenapa Bank Century bisa dijadikan sebagai pemutus mata rantai kutukan bagi Indonesia?
Perlu kita sadari bahwa jika kita bertanya pada instansi-instansi pemerintah mengenai kendala dan hambatan yang mereka hadapai dalam melaksanakan pembangunan, maka sebagian besar akan memiliki jawaban 'Kurang Duit' alias 'kurang anggaran'. Alasan yang merata ini akan menghalalkan usaha-usaha pemerintah buat ngutang. Karna indonesia memiliki potensi alam segedhe 'gunung', tak heran banyak negara donor yang bersedia 'ngutangin'.

Apakah ada yang bisa menjamin jika setiap instansi diberi anggaran 1.000.000 trilyun rupiah maka Indonesia bisa mewujudkan cita-cita adil makmur berdasarkan Pancasila? Ataukah justru korupsi akan makin merajalela?

Kenapa selalu muncul alasan "kekurangan anggaran?"
Jawabnya sederhana, karena perencanaan pembangunan memiliki target yang tinggi namun tidak berintrospeksi pada kemampuan anggaran. Jadilah perencanaan pembangunan tak lagi objektif, cuma memperhitungkan obyek pembangunan tanpa memperkirakan subyek pelaku pembangunan .

Ada kalanya perencanaan pembangunan mengabaikan aspek sosial dan lingkungan sehingga banyak hasil pembangunan yang terbengkalai. Contohnya, pembangunan fasilitas umum kadang tidak disertai dengan program perawatan dan pengawasan yang memadai sehingga banyak fisilitas umum yang rusak. Akankah kita menunggu perubahan perilaku masyarakat untuk pembangunan yang adil makmur? Sampe kapan?

Ada kalanya pula pembangunan dilakukan dengan menjiplak habis pola pembangunan negara maju, padahal pola masyarakat kita jauh berbeda dengan masyarakat negara maju. Contohnya pembangunan Daerah Aliran Sungai (DAS) mengasumsikan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak membuang sampah di sungai sama seperti kesadaran di negara maju. Makanya pembangunan DAS jarang disertai dengan usaha-usaha mencegah pembuangan sampah ke sungai.

Dan yang paling parah adalah, adakalanya program pembangunan saling tumpang tindih tak karuan.

Alih-alih merencanakan pembangunan yang mempertimbangkan karakter masyarakat, malah yang terjadi adalah tuduhan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang bodoh, primitif, malas, dan seterusnya.

Kembali ke kasus Century, drama ini menunjukkan adanya tanda tanya besar bagi otoritas moneter pemerintah dalam mengkaji situasi, persis seperti pola pembangunan yang tidak mengkaji perilaku masyarakat kita.

Mari kita jadikan kasus Century ini sebagai bahan kajian untuk menjawab pertanyaan, "Bagaimana cara membangun negara Indonesia yang baik dan benar?"

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)



stat counter
stat counter

09 Desember 2009

Studi Kasus Bank Century: Antara Kebijakan dan Pidana

Mempelajari kekurangan sebuah kebijakan bukan berarti mengkriminalkan pengambil kebijakan, namun untuk memberi masukan dalam rangka menyusun sistem yang lebih baik. Seperi ide lembaga pengawasan yang mengawal pelaksanaan sebuah kebijakan dalam tulisan ini.

Tuntutan mundur terhadap Pak Dhe Boediono dan Mbok Dhe Sri Mulyani semakin kuat. Dalam kasus Century, keterlibatan kedua orang ini fokusnya pada saat pengambilan keputusan bailout. Belum ada cukup bukti bahwa keduanya memiliki peranan dalam aliran dana Bailout.

Keputusan bailout adalah sebuah kebijakan yang memilki dasar-dasar pertimbangan. Jika ditemukan adanya kekurangan informasi sebagai pertimbangan pengambilan keputusan, hal ini tidak dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengkriminalkan proses pengambilan keputusan. Hanya bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk lebih rakus mencari informasi.

Namun kebijakan akan menjadi kriminal jika Pak Dhe Boediono dan Mbok Dhe Sri Mulyani menerima suap untuk mengambil kebijakan ataupun menerima aliran dana bailout.

Bagaimana jika mereka tidak menerima suap maupun aliran dana bailout, namun dana bailout dirampok oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Kasus ini akan sama dengan kasus mantan gubernur BI yang mencairkan dana kemudian dirampok rame-rame, tapi justru sang gubernur yang harus menanggung semuanya. Inilah yag dikhawatirkan, karena para penikmat dana bailout akan mencari aman dengan mengumpankan pengambil kebijakan.

Memang, anggapan BI adalah sarang penyamun tak bisa ditepis begitu saja. Kenapa? Karena setiap uang yang dikeluarkan BI dapat dirampok oleh banyak pihak. Hal ini sudah dicoba diatasi dengan membentuk PPATK. Sayangnya, PPATK adalah lembaga analis yang tidak memiliki kuasa untuk menyelidiki dan menindak kecurangan. Sehingga pengawalan terhadap kebijakan menjadi tumpul. Baru KPK yang mampu memutus aliran dana haram melalui mekanisme penyadapan, yang kini tengah terancam dengan RUU.

Kembali ke permasalahan Bank Century, jika ternyata aliran dana bailout mengarah pada tindak pidana, apakah Pak Dhe Boediono dan Mbok Dhe Sri Mulyani layak dibui?

Jika hendak mempertimbangkan perbaikan system pengawasan pelaksanaan kebijakan perbankan, maka kedua tokoh inilah yang layak memperbaiki sistem, bukan dibui. Mereka berdua yang paham benar dimana sisi-sisi yang membuat mereka kecolongan.

Mekanisme pengawasan kebijakan bisa dimulai dengan memberika laporan PPATK kepada pejabat yang mengambil keputusan, bukan hanya instansi tertentu tapi semua pejabat pengambil kebijakan yang mengeluarkan dana besar. Sehingga, segala bentuk kesalahan pelaksanaan kebijakan dapat diketahui dan diatasi lebi awal. Jika kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang tepat, maka pengawasan ini akan membuat pejabat yang bersangkutan makin "bersinar", bukan terpuruk menjadi sasaran demonstrasi.

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)


hit counter
hit counter from website-hit-counters.com

07 Desember 2009

Studi Kasus Bank Century: Sistematika Dampak Sistemik

Pernyataan bahwa kebijakan BI yang manaikkan suku bunga sejak Mei 2008 dituding sebagai penyebab bank-bank kecil mengalami kesulitan, sudah banyak dimunculkan oleh pakar ekonomi. Seperti apakah proses kesulitan bank-bank kecil tersebut?

Begini, nasabah bank-bank kecil umumnya adalah "orang kecil" pula. Sehingga pada saat iklim investasi Indonesia sedang horny, orang-orang kecil inipun terangsang untuk berinvestasi. Tapi sayang suku bunga tinggi sehingga engga brani ambil resiko mengajukan kredit usaha. Lain halnya dengan bank-bank besar dengan nasabahnya juga 'orang besar' yang menganggap resiko kenaikan bunga bank engga seberapa.

Sehingga, bank-bank kecil kesulitan menyalurkan kreditnya agar seiring dengan bank-bank besar mencetak angka penyaluran kredit yang makin membengkak. Maka terjadilah ketimpangan seperti ungkapan "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". Bahkan penggelontoran kredit selama 2008, plus penggelontoran BLT, menambah jumlah peredaran rupiah. Tak ayal lagi jika perekonomian makin kisruh ditandai dengan nilai dollar yang mencapai 12.000 pada Oktober 2008.

Jadi engga heran kalo bank-bank kecil banyak yang mengalami kesulitan, termasuk Bank Century. Trus kesulitan bank-bank kecil yang terjadi secara sistemik ini menjadi latar belakang "Dampak Sistemik" bailout Century.

Mengkaji kebijakan BI dalam memutuskan tingkat suku bunga dalam kondisi tertentu adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Jangan sampai kelak ada kebijakan yang bikin perusahaan besar makin besar, UKM tersandung kesulitan.

Satu hal yang mungkin sangat penting untuk kita perhatikan, bahwa teori-teori ekonomi yang kita pelajari disusun sebelum jaman internet, sehingga paremeter-parameternya udah jauh berbeda. Ada baiknya kita mulai mengkaji ulang teori ekonomi yang diajarkan di sekolah/kampus.

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

hit counter
hit counters

Catatan Harian Analis: Jelang 9 Des 2009

Bagian I: 7 Desember 2009

Perang pernyataan antara presiden dan penggiat gerakan anti korupsi kian runcing. Apakah keruncingan ini akan menjadi tajam untuk meninggalkan luka perih?

Pernyataan presiden tentang adanya gerakan sosial yang perlu diwaspadai pada demonstrasi 9 Desember 2009 bertepatan dengan peringatan Hari Anti Korupsi Dunia, tidak menjelaskan apa yang dimaksud gerakan sosial tersebut. Pernyataan ini menjadi bias manakala Menpora menjelaskan bahwa presiden hanya mewanti-wanti akan adanya penumpang gelap dalam peringatan tersebut.

Tidak ada penjelasan detail mengenai penumpang gelap tersebut, namun Menpora menyebutkan tentang suksesi. Jadi penumpang gelap tersebut berkaitan dengan usaha menurunkan tahta presiden.

Jika kita menempatkan diri sebagai penumpang gelap. apa yang akan kita lakukan dalam Peringatan Hari Anti Korupsi Dunia tersebut? Apakah kita akan menggerakkan massa utnuk menguasai senayan dan Istana Negara dan memaksa presiden meletakkan jabatan? Sepertinya mustahil, peminat demonstrasi bukanlah kaum miskin yang kelaparan yang akan nekat demi sesuap nasi.

Memanfaatkan massa untuk menimbulkan kerusuhan adalah hal yang mungkin dilakukan. Tapi apakah kerusuhan akan menjamin presiden meletakkan jabatan seperti tahun 1998 lalu? Memang, kerusuhan bisa menurunkan Soeharto karena pemicu kerusuhan tak lain adalah orang pemerintah sendiri (tentara).

Berkaitan dengan kerusuhan, ada yang unik dengan demo anti korupsi tanggal 29 November lalu. Penggunaan panggung dan sound system dalam demo mendadak dilarang. Hal ini tentu saja membuat jengkel para demonstran. Tiba-tiba datang rombongan demonstran yang mendukung Kapolri yang meneriakkan "Nasi Padang" untuk menunjukkan bahwa mereka adalah demo bayaran. Demo pendukung Kapolri ini sepertinya pasang badan untuk memancing kejengkelan demonstran anti korupsi agar terjadi bentrok dan kerusuhan.

Menjadikan demo anti korupsi sebagai pemicu kerusuhan akan melemahkan gerakan demo anti korupsi itu sendiri. Jadi wajar jika presiden khawatir adanya pihak-pihak yang akan menjadikan demo 9 Desember 2009 sebagai pangkal kerusuhan untuk mendiskreditkan gerakan anti korupsi. Tapi tetap saja aneh, demo bayaran yang merupakan bentuk kasus penyuapan ini tidak pernah diusut oleh lembaga-lembaga berwenang pemerintah. Siapa sesungguhnya donatur demo tersebut?

KPK sebagai instansi pemberantasan korupsi telah dikerdilkan dengan undang-undang penyadapan, akankah gerakan moral anti korupsi juga akan dikerdilkan/mengkerdilkan diri?


Bagian II: 9 Desember 2009

Nada peringatan pemerintah akan adanya "penumpang gelap" membuatku tak yakin bahwa demo akan tertib. Jangan-jangan ada informasi inteligen yang tak bisa kusentuh. Padahal perhitunganku menunjukkan elemen pembentuk gerakan massa yang anarki belum terbentuk.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa gerakan memang betul-betul tidak terkonsep dan konsentrasi massa terpecah-pecah. Ini menunjukkan bahwa gerakan ini murni luapan emosi kaum intelek, sehingga tidak akan menimbulkan tindakan anarki.

Lain halnya dengan gerakan kaum bawah yang kelaparan. Gerakan ini memiliki 'sumbu' yang jauh lebih pendek daripada 'sumbu' mahasiswa. Gerakan seperti ini akan mudah menyulut anarki. Dan dilihat dari segi manapun, tidak ada indikasi munculnya gerakan kaum bawah yang kelaparan. Dengan kata lain, kekhawatiran akan adanya anarkhi ataupun pembonceng adalah isapan jempol.

Seperti yang disebutkan pada bagian I, satu-satunya pihak yang bisa menimbulkan kerusuhan adalah pemerintah sendiri dengan cara yang sama seperti cara perebuan markas PDI pada peristiwa 27 Juli 1996.

Pernyataan para pendukung presiden bahwa anarki berhasil dicegah karena sudah ada warning terlebih dahulu, adalah murni pernyataan politis yang berhasil meredam jumlah peserta demonstran sekaligus mengurangi tekanan pada pemerintah.

Di satu pihak, gerakan anti korupsi menjadi tumpul karena hasilnya engga signifikan. Tidak ada komitmen yang lebih kuat dan realisasi dari pemerintah utuk memberantas korupsi. Namun di lain sisi, pemerintah harus menanggung malu bahwasannya peringatan yang disampaikan adalah bullshit.

Jika bullshit ini tidak segera 'diklarifikasi' maka gerakan anti korupsi berikutnya bisa lebih garang.

04 Desember 2009

Dewi Themis, Lady Justitia, Ibu Prita dan peluang SBY

Kasus Ibu Prita hadir ditengah carut marutnya kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Sosok wanita yang tengah didera kasus hukum dan mencoba meraih keadilan mengingatkan kita pada legenda-legenda perempuan simbol keadilan dari Yunani dan Romawi: Dewi Themis dan Lady Justitia.

Kisah Dewi Themis dalam legenda Yunani kuno merepresentasikan keadilan yang coba dihadirkan manusia sebagai sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Dalam mitologi Romawi, dewi keadilan itu namanya Lady Iustitia adalah personifikasi dari dorongan moral yang bernaung di bawah sistem hukum.

Hadirnya mitos kedua dewi tersebut adalah usaha manusia untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup. Kehadiran Tuhan dan dalam representasi Dewi Themis menunjukkan bahwa keadilan bagian dari manusiawi yang harus dipenuhi atas nama Tuhan. Sedang dorongan moral pada Lady Justitia merujuk pada keadaan yang dapat diterima oleh masyarakat luas.

Apakah kasus Ibu Prita sudah memenuhi rasa ketuhanan dan diterima secara moral oleh rakyat Indonesia? Melihat kondisi plembaga peradilan hukum yang tengah dicaci-maki oleh publik, sepertinya jawaban masih mengarah pada : BELUM.

Terlebih Presiden yang pada masa kampanye dulu sempat memberikan perhatian, kini tengah mengkhawatirkan keamaman tahtanya dengan menyatakan adanya gerakan 9 Desember.

Kalau saja Presiden memberikan sedikit saja perhatian pada Ibu Prita, maka masyarakat masih dapat merasakan bahwa presidennya memperhatikan perlakuan keadilan bagi masyarakat. Tapi sayangnya, perhatian itu belum ada sehingga masyarakat sendirilah yang harus bergerak mengumpulkan udang 204 juta rupiah sebagai biaya keadilan.

Fenomena Bunuh Diri dan Kesurupan: Tuhan udah Jauh?

Peberitaan fenomena bunuh diri di akhir 2009 oleh media-media besar sama sekali tidak menyinggung keberadaan Tuhan, padahal ini adalah pembahasan soal kematian. Apakah Tuhan sudah sedemikian jauh hingga kematian pun tidak lagi dikaitkan dengan keberadaan Tuhan?

Berikut adalah kutipan dari artikel "Kesurupan Siswa Sekolah dan Kemenangan blog Titen atas Pelarangan Ujian Nasional" :

Sebagai orang timur, tentulah kita bisa mengerti bahwa kesurupan yang makin marak di kalangan generasi muda kita adalah petunjuk adanya penurunan kualitas "keyakinan dan Kepercayaan" terhadap keesaaan Tuhan. Mungkin karena pedidikan spiritualitas kita sudah terlalu dikesampingan sehingga kode genetik khas orang timur ini dengan mudah diganggu oleh kekuatan-kekuatan yang belum pernah (bahkan mungkin tidak akan pernah) diidentifikasi oleh sains.

Benarkan sistem yang berjalan di lingkungan sekitar kita telah menjauhkan kita dari Tuhan? Apakah kita lebih percaya dengan kebenaran sains daripada kebenaran kitab suci?

Mungkin parameter nilai kebenaran yang kita anut, kita diskusikan dan kita kerjakan bukanlah kebenaran hakiki, sehingga membuat orang-orang putus asa tak bisa menemukan cahaya Tuhan?

03 Desember 2009

Perjalanan Penanganan Krisis Global haruslah Terintegrasi

Kenapa setiap negara terkena imbas krisis global pada level yang berbeda-beda? Kenapa pula Indonesia sering masuk nominasi sebagai negara yang terkena dampak paling parah? Krisis tahun 2008 ini sepertinya bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk menyusun strategy dalam menghadapi krisis global.

Krisis ditandai dengan melemahnya perekonomian dunia. Krisis 2008 ini dimulai dengan melemahnya bisnis sektor property di Amerika. Kemudian menjalar ke nilai tukar dolar yang kemudian menjadi jembatan untuk mengguncang sektor-sektor lain berbagai penjuru.

Pada saat awal krisis mungguncang di awal tahun 2008, investasi di Indonesia sedang "horny". Hal ini dapat dapat dilihat dari penyaluran kredit sektor investasi dan Kredit Modal Kerja yang terus meningkat, dan mencapai klimaksnya pada Oktober 2008.

Kenapa pada awal tahun banyak investasi padahal dunia terancam resesi? Kenapa begitu besar kredit investasi dan modal kerja di tanamkan tapi kinerja ekspor melorot di akhir tahun?Apakah karena China mulai mencapai titik kulminasi dalam merebut konsumennya di Amerika dan mulai merambah Indonesia sehingga serbuan produk murah China semakin menjadi? Sehingga bertumbuhan investasi usaha-usaha berbasis produk China?

Jika melihat usaha pemerintah membagikan "dana shopping" melalui program BLT yang mencapai 14 trilyun, tentulah masyarakat indonesia menjadi market yang seksi untuk produk low end. Tak heran jika kredit investasi dan modal usaha meningkat demi membuka lahan bisnis baru yaitu bisnis gaya hidup kelas bawah. Jadi jangan heran kalo ponsel pembatu rumah tangga kita lebih canggih daripada ponsel yang kita bawa! (Istriku pake N8250, sedang pembantu pake ponsel yang bisa muter lagu mp3).

Mungkinkah seksi-nya BLT ini yang merangsang pengusaha untuk mencairkan tabungan, bahkan mengajukan kredit meskipun bunganya tinggi, demi terjun ke bisnis gaya hidup kelas bawah? Sehingga usaha-usaha otoritas moneter dalam mengerem peredaran rupiah mengalami kegagalan sehingga menembus angka 12.000 pada oktober 2008?

Ponsel dengan fitur bahasa Indonesia, menawarkan berbagai bentuk entertainment mulai game hingga layanan sms premium, telah mengajarkan budaya konsumerisme yang akut. Semua dapat diperoleh dengan uang BLT.

Jadi, apakah kehati-hatian otoritas moneter dalam menghadapi krisis global 2008 sudah efektif? Ataulah pemerintah belum bisa menyatu dengan keunikan rakyat Indonesia sehingga terus menerus mengandalkan ilmu-ilmu barat dalam menjalankan roda pemerintahan?

Merunut kembali penanganan otoritas moneter bukanlah mencari kesalahan, tapi menyadari betapa berat tugas otoritas moneter dalam menjaga kestabilan. Dan tugas ini akan makin berat jika kebijakan otoritas moneter bertabrakan dengan kebijakan bidang lain.

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Kejanggalan yang Nyata Terbukti (13/12/09)

Teori Ekonomi: Alat atau Peraturan?

Kenapa Indonesia sering menjadi negara terdepan yang mengalami dampak terparah akibat krisis Gobal?

Dalam menghadapi krisis 2008, ada berbagai macam jurus yang yang dimainkan oleh berbagai negara. Wajarnya gelombang pelemahan berbagai mata uang terhadap Dolar Amerika dihadapi dengan jurus menaikkan suku bunga untuk mengerem peredaran uang lokal. Namun kenyataannya tidak sedikit negara-negara lain yang menggunakan jurus penurunan suku bunga, terutama negara maju. Ada apa dengan prinsip dasar ilmu ekonomi kita?

Setelah ditelusur, ternyata alasan negara-negara maju yang justru memperlemah mata uangnya adalah agar harga produk ekspornya lebih kompetitif. Diperlukan data statistic yang sangat akurat untuk mendukung keputusan cerdas ini. Apakah data yang akurat seperti yang dimiliki negara maju sudah dimiliki oleh Indonesia?

Ada banyak kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintah dalam menghadapi krisis global. Kebijakan yang baik adalah menahan dampak negative krisis global, namun kebijakan yang memanfaatkan krisis global untuk membuat perekonomian negara lebih baik adalah kebijakan yang tidak cuma baik, tapi juga cerdas.

Kebijakan yang cerdas adalah kebijakan yang tidak mematuhi prinsip-prinsip dasar ekonomi namun bisa memanfaatkan prinsip-prinsip dasar ekonomi tersebut untuk kebaikan bangsa dan negaranya.

Update:
- Sistem Bantuan yang Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan?
- Lebih Parahkan?
- Misteri Dampak Sistemik
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan?
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita?
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan?
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi
- Sistematika Dampak sistemik

02 Desember 2009

Kebijakan Ekonomi Makro : Terjebakkah Kita?

Orientasi pada parameter ekonomi makro bukanlah kebijakan salah, hanya saja kalau orientasi berkembang menjadi obsesi, maka akan banyak yang harus dikorbankan.

Sampai dengan 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai melampaui Brasil (yang memang relatif rendah selama bertahun-tahun) dan Rusia sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di antara Rusia dan India (dan China).

Kehebatan Indonesia dalam menciptakan pertumbuhan emang bikin bangga bagi sebagian orang. Tapi, dimata seorang analis non-linier, angka pertumbuhan indonesia ini adalah sebuah ANOMALI sehingga perlu dipelajari lebih dalam.

Ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang dengan konsumsi rumah tangga. Berbagai program konsumtif diluncurkan, mulai dari yang murni untuk kegiatan konsumtif seperti BLT hingga program investasi kecil PNPM. Jadi tak heran jika tingkat konsumtif masyarakat Indonesia membuat angka pertumbuhan tetep tinggi di tengah lesunya perekonomian dunia.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi dunia menurunkan tingkat ekspor sehingga cadangan devisa berupa mata uang asing makin menipis. Padahal daya konsumtif masyarakat tetap tinggi dan membutuhkan banyak dolar untuk memenuhi permintaan impor.

Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia terus menerus meningkatkan suku bunga pada periode Mei-Oktober 2008, yang justru mempersulit investasi. Bank-bank kecil makin sulit menyalurkan kreditnya. Tak pelak lagi, banyak bank-bak kecil yang memiliki CAR kritis, termasuk Bank Century.

Jadi tak heran jika 28 Oktober 2009 nilai tukar dolar mencapai Rp. 12.000,-. Namun, krisis global yang dituding dan menjadi kambing hitam pelemahan. Apakah krisis global tak terelakkan, ataukah kebijakan pemerintah, yang justru membuat rupiah terpuruk dan perbankan terancam runtuh?


oooOOOOooo

01 Desember 2009

Studi Kasus Bank Century: Misteri Dampak Sistemik Terpecahkan?

Setelah browsing sana-sini, akhirnya dapet juga sedikit pencerahan tentang Dampak Sistemik. Sedikit pencerahan itu berasal dari rumor likuidasi bank, peraturan pemerintah dan Banking Pressure Index (BPI) yang ternyata kedua-duanya menunjukkan adanya upaya sistematis penciptaan dampak sistemik.

Menjelang Oktober 2008, tersebar rumor akan adanya bank yang dilikuidasi, rumor ini dinilai sebagai upaya untuk bikin kisruh perbankan Indonesia. Ternyata penyebar rumor ini adalah karyawan PT Bahana yang tak lain dimiliki oleh Bank Indonesia sendiri. Kenapa justru unsur Bank Indonesia sendiri yang menciptakan situasi mencekam bagi perbankan?

Salah satu alat ukur untuk memantau efek dampak sistemik adalah BPI. Para analis menyatakan bahwa sejak tahun 2000 BPI berada dalam level aman. Namun pada bulan oktober 2008 mendadak level BPI jauh melampaui batas aman menuju level membahayakan. Lompatan ini banyak disebabkan karena kelemahan Bank Indonesia dalam merespon situasi global sehingga malah menyebabkan perbankan semakin tertekan.

Tekanan terhadap perbankan Indonesia yang dilakukan oleh Bank Indonesia, seperti menyamakan target overnight rate dengan BI rate pada awal tahun 2008, telah menciptakan situasi yang tidak nyaman. Situasi ini sangat ideal untuk meloloskan perpu maupun mengubah peraturan perbankan dengan alasan ancaman krisis.

Apakah kondisi kritis pada Oktober 2008 adalah ciptaan Bank Indonesia melalui rumor dan kebijakannya? Sehingga meloloskan peraturan untuk bailout Century? Apakah lonjakan BPI ke level membahayakan pada Oktober 2008 disebabkan oleh kebijakan BI?

Ataukah ada yang salah dengan kebijakan ekonomi kita yang harus kita akui dan pelajari?

Tuhan pasti tahu, meskipun Dia bukan lulusan fakultas ekonomi.

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)


hit counter
hit counters

Ada kesalahan di dalam gadget ini