29 November 2009

Mombongkar Permainan Sulap Deddy Corbuzier

Membongkar permainan sulap adalah yang menarik bagi pemerhati fisika non-linier. Ada banyak trik sulap yang berhasil aku bongkar. Hari Minggu sore, 29 November 2009, Dedi menampilkan permainan sulap yang menarik. Ia menggunakan 7 buah balok yang membentuk formasi persegi panjang seperti pada gambar 1.

Gambar1. Formasi persegi panjang pertama terdiri dari 7 buah balok

Formasi persegi panjang dari 7 balok ini sesuai dengan ukuran frame warna ungu (gambar 2).
Gambar 2. Ukuran formasi pertama kotak persegi panjang yang sama dengan frame ungu

Kemudian ditambahkan satu balok berwarna hijau (gambar 3)
Gambar 3. Formasi persegi panjang pertama (7 balok) dan satu balok hijau

Dalam pertunjukannya, Dedy menunjukkan bahwa balok hijau dapat ditambahkan ke dalam formasi persegi panjang pertama menjadi formasi persegi panjang kedua dengan 8 buah balok (gambar 4)
Gambar4. Formasi persegi panjang kedua dengan 8 buah balok.

Logikanya, tambahan balok hijau akan mengubah luasan formasi. Sehingga fomasi persegi panjang kedua seharusnya lebih luas daripada formasi persegi panjang pertama. Sehingga formasi 8 balok ini tidak mungkin dapat masuk ke frame ungu seperti gambar 5.
Gambar 5. Frame ungu ukuran formasi persegi panjang pertama yang tidak sesuai dengan ukuran fromasi persegi panjang kedua

Namun Dedy menujukkan bahwa formasi persegi panjang kedua ini ukurannya sama persis dengan formasi persegi panjang pertama, karena tetap dapat masuk ke dalam frame ungu yang sama pula (gambar 6).
Gambar 6. Frame ungu yang sesuai dengan ukuran formasi persegi panjang kedua

Apakah benar ukuran formasi kotak kedua sesuai dengan frame ungu? Bagaimana mungkin?

Nah, Deddy sendiri memberikan petunjuknya, ia mengatakan “Think out the box. There is nothing is impossible, but it only take longer.” Jadi, frame biru dilengkapi dengan slot sehingga dapat ditarik dan menyesuaikan dengan ukuran formasi kotak 8 balok (gambar 7).

Gambar 7. Frame sebalah kiri sesuai dengan formasi persegi panjang pertama (7 balok). Frame ini dilengkapi dengan sistem slot sehingga dapat ditarik (seperti menarik antena) menjadi lebih lebar seperti frame sebelah kanan, sehingga sesuai dengan formasi persegi panjang kedua (8 Balok)

Buat Bung Deddy, you are great Master Mind! Engga cuma menghibur tapi juga memberi tantangan.

Dunia Intelijen: Musim Berganti

Dulu, misi intelijen sukses karena hanya intelejen yang punya akses internet sehingga menang karena menguasai dan mengelola informasi. Kini semua orang bisa akses internet sehingga kemenangan intelejen ditentukan seberapa besar kemampuan intelijen melakukan misi-misi yang "suci".

Kegagalan berbagai operasi intelejen akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Internet. Kegagalan intelejen Amerika dalam membentuk opini adanya senjata pemusnah massal di Irak adalah dampak dari keterbukaan informasi. Para agen amerika gagal memasang peralatan senjata kimia di pabrik susu Irak karena pabrik sudah lebih dulu dikunjungi wartawan. Sehingga bukti senjata pemusnah massal tidak pernah ada.

Informasi tak ubahnya seperti virus. Di awal masa kuliah tahun 1998, aku pernah bikin web tentang psycho-virus yang menerangkan bagaimana informasi yang disebar secara cepat dan luas akan lebih mudah menemukan "inang", kemudian berkembang, bermetamorfosa, ber-evolusi dan akhirnya menjadi "mahluk". Web ini menghilang seiring dengan habisnya masa free trial.

Di Indonesia, ada kasus Ibu Prita dengan RS Omni Internasional. Inilah salah satu bentuk psycho-virus yang dapat membuat jengah management RS Omni. Kasus Ibu Prita ini dapat digambarkan sebagai bentuk misi counter intelejen, hanya saja Ibu Prita adalah ibu rumah tangga biasa yang tidak punya kepentingan lain selain keluarganya, sehingga kecil kemungkinan kalu beliau akan memanfaatkan situasi ini. Kini, manajemen RS Omni harus lebih berhati-hati karena tuntutan terhadap Ibu Prita bisa menjadikan Ibu Prita sebagai icon keruntuhan RS Omni sendiri.

Setiap individu yang melek internet berpeluang untuk melaksanakan misi counter intelijen untuk mendisorientasi situasi namun belum tentu bisa mencapai tujuan tertentu. Karena misi-misi untuk mencapai tujuan tertentu masih tetap membutuhkan dukungan dari lembaga intelejen. Tapi pertanyaannya, lembaga intelejen seperti apa yang diperlukan? Toh lembaga-lembaga intelijen sekelas Amerika sendiri gagal dengan misi Senjata Pemusnah Massal Irak.

Para pakar intelejen yang bisa menjawab pertanyaan itu. Saya sebagai analis system non-linear tidak punya kapasitas yang cukup untuk menyusun jawabannya.

Ancaman Suksesi terhadap SBY

Teriakan "Lawan SBY" sudah menyebar. Satu demi satu elemen perlawanan pun mulai terbentuk. Akankah sampai pada pembentukan elemen perlawanan yang lengkap seperti di tahun 1998?

Salah satu elemen perlawanan adalah adanya Tokoh Tandingan. Dalam kasus SBY ini, tokoh tandingan yang kemungkinan muncul tak lain adalah mantan wapres Jusuf Kalla. Keberhasilan Kalla semasa menjabat Wapres mulai menguat. Kunjungan staf istana ke Kalla juga memperkuat posisi mantan Wapres ini.

Namun perlu disadari, bahwa tokoh perlawanan belum tentu akan menjadi tokoh pengganti. Ingat, di tahun 1998 ada banyak tokoh reformis, namun tidak sedikit yang tersingkir setelah Soeharto turun tahta.

Massa adalah salah satu elemen penting dalam suksesi. Namun adanya massa pendukung pemerintah yang juga turun ke jalan membuat elemen ini terasa pincang, meskipun ada bukti dan kecurigaan bahwa massa pendukung tersebur adalah masa bayaran.

Massa bayaran menunjukkan bahwa esensi gerakan massa perlawanan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baru pada lapisan masyarakat dalam level tertentu.

Setidaknya, masih perlu dua hal lagi untuk menyempurnakan gerakan massa. Pertama adalah 'sentuhan' agar massa kelas bawah menolak demo bayaran. Dan Idul Adha kali ini membuka kesempatan lebar untuk pembentukan elemen ini, namun hari ketiga Idul Adha, belum muncul adanya pembentukan elemen tersebut.

Elemen kedua adalah melemparkan isu negatif tentang SBY melalui "Jalur unik yang tak terbantahkan". Ada banyak kesempatan untuk memunculkan "Jalur" ini, Tapi toh tak kunjung muncul.

Dengan mempertimbangkan kemunculan kedua elemen terakhir, dapat ditarik dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah bahwa tidak ada pihak yang berencana secara sistemartis menjatuhkan SBY, semua poeristiwa adalah spontan. Kemungkinan kedua, Pihak yang ingin menjatuhkan SBY tidak menguasai misi intelejen di jaman internet. Namun kemunginan kedua ini sangat kecil.

Jika "lawan sby" adalah bentuk spontanitas, maka segala bentuk rekayasa untuk melawan spontanitas ini memiliki peluang yang sangat kecil. Ingat rekayasa perebutan markas PDI pada 27 Juli 1996? Justru rekayasa inilah yang menjadi indikasi awal lemahnya Soeharto.

Spontanitas hampir mustahil untuk dilawan dengan rekayasa. Hanya satu jalan yang efektif melawan spontanitas, yaitu kejujuran, termasuk kejujuran dalam tanda petik.

27 November 2009

Studi Kasus Bank Century: Misteri Dampak Sistemik

Istilah "Dampak Sistemik" yang melambung seiring dengan perkembangan kasus Bank Century bisa menjadi bumerang bagi pengambil kebijakan bailout Bank Century.

Kita tentulah paham dengan apa yang dimaksud dampak sistemik, yaitu munculnya persepsi negative yang timbul setelah Bank Century dinyatakan ditutup. Persepsi negative tersebut adalah ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dalam mengawasi kinerja perbankan, sehingga menimbulkan chaos.

Kini, dasar pengambilan keputusan itu dipertanyakan, apakah benar penutupan Bank Century berdampak chaos?

Persepsi negative bermula dari subyektivitas yang diyakini oleh sejumlah orang sebagai obyektivitas. Jika subyektivitas ini memiliki daya tular yg tinggi maka subyektivitas akan menjadi variabel penyebab chaos, meskipun hanya dibangun oleh sejumlah kecil individu namun dapat mempengaruhi sebagan besar komunitas. Dalam ilmu fisika nonlinier, karakteristik variabel ini dikenal dengan nama Lyapunov Multiplier.

Untuk menilai apakah timbulnya persepsi negative menimbulkan chaos atau tidak, digunakan matematika probabilitas dengan mempertimbangkan jumlah individu, penyebaran informasi, rasionalitas yang dihadapkan pada realita, dll. Dari informasi ini dapat diperkirakan eskalasi yang dapat terjadi (tentu saja ini kerjaan intelejen). Dan dengan probabilitaslah ilmu ekonomi memasuki ranah eksakta.

Untuk kasus Century, jika pemerintah mengumumkan "Bank Century ditutup karena pemilikinya korup" maka ada kemungkinan timbul persepsi bahwa perbankan Indonesia tidak aman. Tapi perlu dipertimbangkan bahwa persepsi masyarakat terhadap sby sangat positif pada saat itu, sehingga cenderung akan timbul persepsi "Wah pemerintahan sby cepat tanggap, engga kayak tahun 98 dimana BDNI dan Bank BHS dibiarkan menguras dana nasabahnya"

Tindakan menangkap pelaku koruptor akan diapresiasi positif dan justru isyu-isyu anti sby akan dianggap sebagai isyu yang berasal dari para koruptor.

Untuk mengukur dampak sistemik dalam kasus century, dapat dilakukan pendekatan kayak gini:
1. Berapa jumlah nasabah Century yang akan dirugikan (memiliki simpanan lebih dari 2 m) yang akan memaki pemerintah.
2. Berapa jumlah nasabah century yang akan berterima kasih kepada pemerintah yang telah menyelamatkan uang mereka dari jarahan manajemen bank century (nasabah dengan simpanan kurang dari 2m).
Secara logika, nomor dua akan lebih banyak suaranya dibanding yang momor satu.

Analisis variable-variable lainnya juga menujukkan bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintah masih lebih kuat dibanding ketidakpercayaan.

Namun kenyataannya, udah ngrampok dana LPS tidak semua nasabah dapat mengambil dananya kembali. Bahkan nama century pun diganti sehingga membuat 'nasabah century' menjadi nasaban tanpa bank. Lebih lanjut, justru penyelamatan Bank Century malah menimbulkan Hak Angket dan penurunan kepercayaan thd presiden berserta partainya.

Kenapa?

karena penyelamatan bank century telah menumbangkan semangat pemberantasan korupsi yang menjadi tiang utama penyangga kepercayaan publik, karena koruptor bank century ditangkap setelah dapet kucuran dana. Perahnya lagi, penangkapan itu tidak dilakukan oleh SBY ....

Kesurupan Siswa Sekolah dan Kemenangan blog Titen atas Pelarangan Ujian Nasional

"It is the supreme art of the teacher to awaken joy in the creative expression and knowledge"
- Albert Einstein -
Sistem penilaian adalah satu-satunya cara untuk mengetahui kemampuan seseorang. Namun sistem ini hanya efektif bagi kultur yang mengedepankan "tanggung jawab" seperti di dunia barat. Sedang dunia timur lebih mengedepankan "keyakinan dan kepercayaan" sehingga sistem pendidikan barat tidak boleh ditelan mentah-mentah.

Umumnya, orang barat akan merasa sangat malu jika tidak dapat menunjukkan kemampuannya yang sebanding dengan nilai-nilai hasil sekolahnya. Orang barat umumnya akan berusaha dengan berbagai cara untuk meningkatkan kemampuannya untuk mencapai nilai raport yang tinggi.

Sedang di Indonesia, umumnya orang akan malu jika tidak dapat mencapai target nilai tertentu di sekolahnya. Sehingga banyak orang yang mau menyuap demi mencapai target nilai tanpa peduli kemampuan yang sesungguhnya. Hal ini dapat dilihat dari adanya kasus perjokian dalam ujian, bahkan ada guru yang mengajarkan kecurangan pada siswanya dengan memberikan jawaban ujian nasional melalui sms.

Para pakar pendidikan kita yang berhasil lulus dari universitas-universitas beken di luar negeri, tentulah sudah memiliki kultur dan pandangan yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat Indonesia. Sehingga, para pakar pendidikan ini akan sangat kesulitan untuk menyusun kurikulum yang ANTI KESURUPAN!

Rasionalitas dalam kultur barat telah membuat perilaku keseharian mereka didominasi oleh parameter-parameter kuantitatif. Sehingga godaan-godaan dari ranah kepercayaan dan keyakinan menjadi sangat kecil. Sedang dalam diri orang timur, sudah tertanam kode genetik untuk mempertimbangkan kepercayaan dan keyakinan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Ilmuwan barat umumnya akan menelaah fenomena kesurupan sebagai gangguan psikologis yang dikenal dengan nama Multiple Personality Disorder (MPD). Namun, ilmuwan barat ini takkan mengerti bagaimana pasien MPD in disembuhkan oleh seorang kyai yang tak punya gelar pendidikan psikologi.

Sebagai orang timur, tentulah kita bisa mengerti bahwa kesurupan yang makin marak di kalangan generasi muda kita adalah petunjuk adanya penurunan kualitas "keyakinan dan Kepercayaan" terhadap keesaaan Tuhan. Mungkin karena pedidikan spiritualitas kita sudah terlalu dikesampingan sehingga kode genetik khas orang timur ini dengan mudah diganggu oleh kekuatan-kekuatan yang belum pernah (bahkan mungkin tidak akan pernah) diidentifikasi oleh sains.

Jadi, kalo mau menerapkan pendidikan dengan kultur barat, pastikan kode genetik khas orang timur sudah dicabut dari setiap individu bangsa Indonesia.

Jika meyakini bahwa kode genetik khas orang timur adalah hasil lompatan evolusi kemampuan manusia dalam upaya memahami alam semesta, mulailah dengan memahami bangsa sendiri sebelum studi banding ke luar negeri untuk menyusun kurikulum.

Sebagai pihak yang meyakini kode genetik orang timur adalah lompatan hasil evolusi dalam memahami alam semesta, maka pelarangan UN adalah satu tahap kemenangan yang membuka sejuta harapan.

20 November 2009

Sundel Bolong kalah sama Frankenstein

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam menjelaskan hubungan kausalitas antara satu fenomena dengan yang lain, telah menyingkirkan alam gaib dari keseharian kita. Sehingga, Tuhan yang berada di alam gaib pun makin jauh dari keseharian kita.

Selama ini, aku menjalankan ibadah sambil membayangkan bahwa aku menyembah sesosok mahluk yang memiliki kekuatan super hebat, berada di singgasana yang kupercaya sebagai tempat dimana Muhammad menerima perintah sholat 5 waktu. Sampai seseorang berkata kepadaku, “Tuhan bukanlah mahluk, Tuhan adalah Dzat yang maha tinggi dan berbeda dengan mahluk.”

Perkataan itu membuatku bertanya, “Jadi, siapakah yang aku sembah selama ini?” Ternyata selama ini aku menyembah sesosok mahluk yang tak lain adalah hasil kreasi atau imajinasi otakku sendiri, bukan Tuhan yang sesungguhnya.

Kini aku sadar, bahwa beribadah bukanlah menggunakan rasio melainkan menggunakan keyakinan alias iman.

Aku yakin, aku bukan satu-satunya orang yang mencoba memahami Tuhan dengan menggunakan analisis rasio kemudian terjebak dalam subyektivitas. System pendidikan yang hanya mengunggulkan kemampuan analisis rasional telah menenggelamkan potensi kemampuan spiritualitas manusia.

Fenomena kesurupan yang melanda dunia pendidikan kita mungkin adalah pesan khusus dari Yang Maha Kuasa untuk menyadarkan para pengambil kebijakan akan pentingnya spiritualitas.

Para psikolog boleh mengeluarkan jurus syndrome “Multiple Personality Disorder” untuk menjelaskan fenomena kesurupan. Tapi aku takkan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak, karena aku sudah punya pengalaman buruk dengan gravitasi.

Hampir semua manusia percaya bahwa massa bumi menyembabkan timbulnya gaya yang menarik semua benda ke bawah. Tapi adakah bukti bahwa bumi benar-benar ‘menarik’ tubuh kita ke bawah? Newton sendiri mengatakan “Tak perlu dibuktikan bahwa gravitasi adalah gaya tarik bumi ….”

Dengan kata lain, gaya tarik bumi adalah kebenaran yang tidak memiliki bukti, tapi kita mempercayainya sebagai kebenaran yang lebih benar daripada kebenaran kitab suci.

p.s. Teori Einstein menunjukkan bahwa gaya gravitasi adalah fungsi ruang dan waktu, bukan semata-mata karena bumi memiliki kemampuan menarik benda-benda ke bawah.

19 November 2009

Kunci Pemasaran dan Pemerintahan: Mendengar

Dapatkah hati kita mendengar saat telinga tertutup?

Majalah Swa-sembada edisi 3-13 September 2009 mengangkat Jason Lim yang telah berhasil meroketkan pemasaran Acer di Indonesia. Diakui bahwa kunci keberhasilan Jason Lim ini adalah "Mendengar".

Pernah di tulis di blog ini tentang seorang direktur perusahaan yang menyalahkan konsumen ( Teknologi dan Selera Pasar ). Ini sangat bertentangan dengan konsep dasar Jason Lim yang menyatakan, "Kami harus benar-benar mendengarkan konsumen".

Persis seperti jalannya pemerintahan saat ini, tuntutan publik yang sedemikian kuat tidak juga "didengar". Jika pemerintah saat ini tetep aja enggak mau mendengar, kita bisa belajar seperti apa episode akhir dari sistem yang tidak mau mendengar ....

16 November 2009

Pelajaran Perencanaan dari Era Orde Baru

Membaca info CPNS yang umumnya menempatkan lulusan ekonomi pada bagian perencanaan membuatku bertanya-tanya, apakah SDM dari Jurusan Teknik sudah mencukupi? Sebab perencanaan membutuhkan lebih sedikit ekonom dan lebih banyak tenaga teknis.

Rasio SDM ekonomi dan teknik ini dapat dilihat pada tim dari Amerika yang membuat perencanaan pembangunan listrik PLN pada tahun 1970. Perencanaan ini memproyeksikan kebutuhan listrik untuk 25 tahun mendatang, dan selama pemerintahan Orde Baru, tidak terdengar berita bahwa PLN kekurangan pasokan listrik.

Tim dari Amerika tersebut terdiri dari 11 orang, hanya 1 ekonom dan sisanya adalah insinyur. Perencanaan mereka tak bisa dibilang salah dalam memproyeksikan kebutuhan listrik, bukan hanya untuk lima tahun ke depan, tapi 25 tahun ke depan! Hebatnya lagi, ekonom itu bukan doktor ataupun profesor, cuma lulusan S1.

Mungkin, perencanaan pemerintah saat ini yang sering kacau balau, dapat dirunut penyebabnya pada komposisi penempatan SDM di bagian perencanaan!

15 November 2009

Studi Kasus Kaki Gajah: Pembangunan Salah Kaprah Lagi?

Lapindo dan Century adalah contoh nyata program pembangunan yang salah kaprah karena hanya dianalisis secara pendek. Kini kasus penyakit kaki gajah yang sudah merenggut nyawa manusia juga terindikasi sebagai hasil perencanaan yang salah kaprah.

Dari browsing sejenak, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa Kaki Gajah disebabkan oleh Cacing Filaria yang ditularkan lewat perantara berbagai jenis nyamuk. Adanya nyamuk dalam siklus penyakit ini membuat penyakit Kaki Gajah dapat menjadi Endemi di suatu daerah. Dan endemi itu sudah timbul di beberapa daerah di Nusantara.

Untuk menghentikan penyebaran cacing filaria, pemerintah membagikan obat diethylcarbamazine (DEC). Namun, sepertinya pembagian ini tidak dilakukan oleh dokter, melainkan oleh tenaga penyuluh. Jadi kecil kemungkinan pembagian obat ini mempertimbangkan kontra indikasi, jadi efek negative obat terabaikan.

Pertanyaannya adalah kenapa pembagian obat tidak dilakukan oleh dokter? Perencanaan yang matang tentunya tidak akan mempertaruhkan nyawa orang lain dengan memilih tenaga penyuluh untuk membagikan obat.

13 November 2009

Benang Merah Jaman Edan.

Kesadaran akan pentingnya kedudukan dan kewajiban masyarakat membuat para leluhur dapat meramalkan akan datangnya Jaman Edan di Bumi Nusantara. Kini, tak sedikit yang percaya bahwa Jaman Edan itu sudah terjadi.

Dasar ajaran asli tanah Jawa adalah bahwa seluruh umat manusia pada dasarnya sama tapi dibedakan oleh kedudukan dan kewajibannya. Kedudukan dan kewajiban menemukan bentuknya ketika pengaruh India memperkenalkan system kasta. Sedangkan ajaran bahwa umat manusia pada dasarnya sama menemukan bentuknya ketika Islam memasuki Pulau Jawa.

Kemungkinan, salah satu penyebar Islam, Sunan Kalijaga, menyadari akan adanya pergeseran dinamika social yang menyebabkan timbulnya Jaman Edan. Sehingga beliau menyisipkan ajaran asli Jawa melalui berbagai bentuk kesenian, contohnya kesenian wayang yang akan dijelaskan setelah paragraf berikut.

Namun sayangnya, imperialisme Eropa keburu datang ke tanah Jawa sebelum filosofi Jawa-Islam menemukan bentuknya. Ajaran bagi manusia untuk menyadari kedudukan dan kewajibannya digeser oleh system ekonomi kapitalis yang diperkenalkan oleh imperialis.

Perlu dicatat bahwa kedudukan dalam system kasta di Jawa bukanlah menunjukkan tingkatan derajad seseorang (ingat, setiap manusia pada dasarnya sama). Hanya membedakan perilakunya di dunia. Hal ini dapat dilihat dari tokoh pewayangan Arjuna dari kasta ksatriya yang selalu tunduk dan hormat kepada Semar dari kasta terendah yaitu pelayan. Bahkan anak-anak Semar, Petruk, Gareng dan Bagong sering berbicara kasar kepada Arjuna. Hal ini menujukkan bahwa hubungan kasta di Jawa bukanlah pembedaan derajad manusia, melainkan hanya membedakan perilaku atau tindakannya.

(perlu dicatat, tokoh semar tidak ada dalam epos wayang India, sehingga hubungan Arjuna dan Semar adalah gambaran asli hubungan dalam ajaran asli Jawa, dan merupakan pesan yang disisipkan oleh Sunan Kalijaga).

Kedudukan dan kewajiban seorang ksatria adalah menciptakan ketentraman dan kesejahteraan, namun kini banyak kesatriya pamong praja (pegawai pemerintah) telah lebur bersama kasta pedagang dan menciptakan money politic, lebur ke bersama kasta pelayan untuk melayani para cukong. Tak heran jika pembangunan Indonesia carut marut dan tumpang tindih karena banyak ksatriya pamong praja yang tidak menyadari akan kedudukan dan kewajibannya.

10 November 2009

Penghancuran Potensi Bangsa

Pertempuran akan menghasilkan arang dan abu, demikian pula pertempuran KPK vs POLRI. Jika keduanya telah lemah menjadi arang dan abu, Indonesia menjadi sapi perah yang empuk, gurih dan uenak tenan ..........

Di pihak kepolisian, Susno Duaji adalah sosok yang paling dihancurkan. Padahal ia memiliki sejarah sukses dalam memberantas mafia, dari mafia preman beserta beking-bekingnya sampai mafia berseragam Polisi, DLLAJR, TNI. Metode pemberantasan mafia yang dilakukan Susno memang terbukti di Yogyakarta, Jawa Barat dan Jakarta. Tidak tertutup kemungkinan metode ini diterapkan untuk membantai mafia peradilan, bahkan mafia yang dibeking presiden sekalipun!

Tapi sayang, meski tinggal selangkah lagi Susno mencapai tampuk kepemimpinan POLRI, dia direndahkan dan di olok-olok dalam kasus POLRI vs KPK. Kecil harapan metode pemberantasan mafia a la Susno yang terbukti efektif ini akan diterapkan untuk memberangus mafia peradian, dan mafia-mafia kakap lainnya.

Di pihak KPK, ada Antasari yang sukses menggiring besan presiden ke penjara. Tentunya diperlukan kualitas keberanian yang tidak main-main untuk menyeret kerabat pejabat sekelas presiden ke penjara.

Kini, keduanya tengah dijatuhkan dan injak-injak. Siapakah tokoh pengganti bagi keduanya?

Seiring dengan berjalannya waktu, penghancuran Susno dan Antasari mulai menunjukkan tanda-tanda adanya rekayasa, yang berarti bahwa ada pihak-pihak yang ingin memperbodoh pemerintahan Indonesia sehingga bisa dijadikan sebagai sapi perah.

Kita perlu menyadari bahwa kita hampir tidak dididik untuk menghargai nilai-nilai luhur, tapi cenderung menjadi penyembah angka. Simaklah berita tentang orang tua murid yang menggunakan mekanisme suap demi nilai untuk anaknya. Bahkan, tak sedikit guru yang mengajarkan cara curang demi mendongkrak prosentase kelulusan.

Dengan mental bangsa seperti di atas, tak heran jika rekayasa POLRI vs KPK akan memberikan hasil yang memuaskan bagi pihak-pihak yang hendak menjadikan Indonesia sebagai sapi perahan.

Mungkin saat ini seluruh elemen sudah cenderung mendukung keberhasilan "operasi sapi perah" ini. Tapi ada "pasukan" lain yang akan melawannya, yaitu "pasukan gaib' yang membuka kesadaran bangsa akan kondisi bangsanya sendiri.

03 November 2009

Studi Kasus KPK: untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia

Perkembangan kasus KPK vs Polisi semakin membuka mata bangsa Indonesia akan lemahnya sistem pembangunan. Mungkin kasus inilah yang akan mejadi pijakan bagi bangsa untuk merumuskan system pembangunan yang diimpikan oleh the founding fathers kita.

Kasus yang membungkus intrik di balik pembangunan system komunikasi terpadu, telah membuka mata kita akan kenyataan yang tak terelakkan. Bahwasannya Amerika yang tengah kesulitan menjual produknya karena kalah bersaing dengan China, mulai menggandeng pemerintah, terlebih pemerintahan yang dijejali mafia lulusan Amerika. Sehingga Amerika bisa menjual produknya yang dibungkus dalam paket pinjaman lunak.

Akan sangat berat bagi kita untuk menolak tipuan gaya Amerika ini, karena Amerika tengah membutuhkan banyak dana untuk meloloskan diri dari resesi. Kebangkitan ekonomi Amerika bisa meningkatkan nilai ekspor kita, bukan? Namun perlu dicatat bahwa para analis negara kreditor sudah mulai lemah. Bahkan Sri Mulyani yang dicap sebagai antek Amerika pun menyatakan kalau prediksi IMF banyak yang ngawur.

Dalam posisi ini, yang bisa kita lakukan adalah mempertimbangkan pinjaman Amerika untuk melakukan investasi yang sesuai sehingga mendongkrak kesejahteraan secara riil. Yaitu kesejahteraan yang dapat dilihat di setiap sudut negeri, bukan dari indikator makro ekonomi.

Hatta Rajasa menyatakan bahwa dibutuhkan Rp. 2.000 trilyun untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 7%. Dan cara-cara pemerintah yang telah kita ketahui dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi adalah dengan menaikkan gaji pegawai. Kenaikan gaji akan mendorong konsumsi rumah tangga yang akan terbaca sebagai pertumbuhan ekonomi.

Apakah pertumbuhan ekonomi secara konsumtif adalah jenis pertumbuhan yang kita harapkan? Aku rasa tidak. Kita masih tertinggal, kita membutuhkan banyak kegiatan investasi untuk mengejar ketertinggalan. Konsumsi rumah tangga tidak bisa dipastikan dapat mengejar ketertinggalan bukan?

Kita butuh banyak investasi dan kita butuh pinjaman. Diatas kebutuhan ini, ada kebutuhan yang lebih besar, yaitu kebutuhan untuk bersikap secara bijak.

01 November 2009

Dari Jebakan Hutang Hingga kasus Cicak vs Buaya

Pada tahun 70-an, Indonesia mendapat bantuan dari AMERIKA untuk membangun Pembangkit Listrik di Pulau Jawa. Proyek pembangunan pembangkit tersebuttak alin kontraktor Amerika sendiri. Jadilah uang pinjaman dikembalikan ke AMERIKA dengan meninggalkan hutang di Indonesia.

Jaringan listrik membuat masyarakat Pulau Jawa lebih produktif, pertumbuhan ekonomi meningkat. Namun jaringan listrik juga membuat masyarakat Jawa membutuhkan berbagai peralatan listrik dan elektronika. Tingkat konsumsi masyarakat pun meningkat.

Kebijakan menaikkan gaji PNS makin menyuburkan konsumerisme, membuat kebutuhan makin banyak dan beragam. Pemerintah pun harus mengimbangi dengan membangun infrastruktur-infrastruktur baru. Infrastruktur baru dibangun dengan utang baru. Demikian seterusnya hingga utang tak terkendali, membuat negara-negara kreditor hampir tidak percaya kalo Indonesia bakal bisa mengembalikan utang.

Pemerintah Orde Baru telah lama lewat, pemerintahan baru MUNGKIN juga terjebak dalam pola yang sama. Gaji PNS terus dinaikkan untuk menggenjot konsumsi rumah tangga demi naiknya indicator makro berupa angka pertumbuhan.

Proyek titipan pun masih berlaku di pemerintahan baru. Pengadaan Sistem Radio Komunikasi Terpadu (SKRT) yang semula ditolak tiba-tiba disetujui oleh DPR karena ada surat yang menyatakan bahwa SRKT adalah kerja sama dengan AMERIKA. Jangan heran kalo pengadaan tidak melalui tender terbuka dan merk pesawat radionya dari AMERIKA, yaitu Motorolla.

Sayangnya pengadaan SRKT oleh Masaro meninggalkan kasus korupsi. Bahkan direkturnya, Anggoro Wijoyo, muncul dalam transkrip hasil penyadapan dalam kasus Polisi vs KPK.

Mungkin kita bisa melihat secara lebih jernih. KPK punya banyak jasa dalam pemberantasan korupsi. Susno Duaji dalam Kepolisian telah membersihkan Jakarta, Jawa Barat dan Yogyakarta dari premanisme sehingga membuat warganya lebih nyaman. Haruskah kita hujat kepolisian habis-habisan? Haruskah kita biarkan KPK dikebiri?

Ada sebuah mekanisme sistemik yang membuat adu domba ini bisa terjadi. Ada baiknya jika kita mencari sumber mekanisme sistemik adu domba ini daripada menghujat Kepolisian.

PS: ada baiknya jika proyek titipan dianalisis lebih tajam sehingga dapat dilaksanakan dengan menguntungkan kedua belah pihak (negara kreditor dan negara kita), kalo kita tidak mungkin menolak proyek dana pinjaman dari negara maju. Lagi pula para analis negara pemberi utang juga udah mulai kendor. Di sisi lain, kita emang membutuhkan investor asing, bukan?

Ada kesalahan di dalam gadget ini