31 Oktober 2009

Resesi Awal Millenium: Kuburan Negara-negara G8

Sudah bukan rahasia lagi kalo negara-negara maju memberikan pinjaman kepada negara-negara berkembang hingga akhirnya negara-negara berkembang ini terjebak dalam hutang. Namun pasca 90-an, peminjaman ini justru membuat lubang kubur bagi negara-negara G8 sendiri.

Sebelum tahun 90-an, pinjaman dari negara maju digunakan untuk membangun infrastruktur sehingga masih bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan negara berkembang.

Namun, setelah tahun 90-an pinjaman itu dipake buat investasi teknolgi komunikasi. Investasi ini memang membutuhkan berbagai alat elektronik agar warga bisa memanfaatkan hasil investasi ini.

Banyak hal yang ditawarkan dari investasi teknologi komunikasi, dari Maria "Miyabi" Ozawa hingga thesis doktoral dapat tersedia di sini. Tawaran yang menggiurkan ini berhasil dibidik oleh negara-negara berkembang sehingga sukses memanfaatkan teknologi informasi untuk bersaing dengan produsen negara maju. Harga yang murah menjadi kunci utama produk negara berkembang yang sulit disaingi oleh produk negara maju.

Kini, banyak produk negara maju yang beralih ke negara berkembang, terutama China. Harga yang ditawarkan demikian murah sehingga memancing impian sebagian besar warga negara maju untuk memiliki rumah. Impian ini berubah menjadi resesi.

Mungkin analisis dari para pakar pemberi hutang sudah tidak lagi valid, hanya mengandalkan data-data resmi tanpa klarifikasi dengan kondisi riil. Hingga 2009 ini pun negara-negara maju masih terun mengutak-atik angka perbankan, tak jua masuk ke analisis riil. Jadi harap maklum jika sampai 30 Oktober 2009 Amerika masih harus menutup 9 bank-nya dalam sehari.

Para pakar ini seharusnya turun ke lapangan untuk mendapatkan data-data ekonomi yang valid, bukan hanya mengandalkan data-data resmi dari pemerintahan. Jika melihat kondisi riil, maka para pakar ini akan paham bahwa perekonomian dunia hanya bisa disembuhkan dengan teknologi generasi baru.

Jadi, gimana cara mengingatkan para pakar yang sudah alergi masuk ke gang kumuh untuk mencari data, lebih senang mendapatkan data-data resmi yang bisa dibaca di ruang ber-AC?

(ternyata lebih enak ngomong soal ekonomi dunia, bisa blak-blakan tanpa kuatir "diciduk")

Studi Kasus KPK: Menang jadi Arang, Kalah jadi Abu?

Ada usaha untuk membuat kasus Cicak vs Buaya terpecah menjadi dua. Yaitu kasus penyalahgunaan wewenang dan kasus kriminalisasi. Kedua kasus ini akan membuat kedua belah pihak menang sekaligus kalah.

Jika Bibit-Chandra terbukti menyalahgunakan wewenang maka keduanya akan masuk penjara. Jika kriminalisasi terbukti benar, maka pejabat Kepolisian masuk penjara.

Apakah jika kriminalisasi terbukti benar akan menghapus hukuman bagi Bibit-Candra? Tidak. Bibit-Chandra bersalah karena penyalahgunaan wewenang, bukan karena korban kriminalisasi.

Jika ini yang akan terjadi, akankah orang melupakan keterkaitan pertentangan ini dengan Masaro dan Century?

Adalah benar kata orang bijak, menang jadi arang kalah jadi abu.

Mungkin benar pula kata Alifadian ( narsis! he....) bahwa pemenang sesungguhnya adalah pihak yang tidak berpihak.

29 Oktober 2009

Studi Kasus KPK: Penangkapan yang Tergesa?

Sore tadi dua pimpinan KPK non aktif ditangkap polisi, buah dari pertentangan Cicak vs Buaya. Penangkapan ditengah dukungan KPK masih tinggi dan di hari Kamis adalah pilihan tindakan beresiko tinggi.

Pertempuran antara Cicak vs Buaya telah mengarah pada pembentukan kesadaran bahwa ada pihak-pihak kuat yang tidak menghendaki KPK. Dan ketika mendekati klimaks, nama Presiden larut dalam kasus ini. Kisah ini pun makin klimaks dengan penangkapan pimpinan KPK non aktif.

Benar-benar tindakan penuh resiko, bisa menimbulkan tindakan anarki dari para pendukung KPK.

Jika tindakan anarki itu benar-benar ada, maka sudah saatnya mengakui keterkaitan sumber kasus Cicak vs Buaya dengan sumber perencanaan kasus radio komunikasi dan sumber bank century bahwa [ sory, masih harus di sensor].

27 Oktober 2009

Pihak yang Menang adalah yang Tidak Berpihak

Kenapa ratusan juta warga di sebuah negara berkembang dapat dikalahkan oleh seorang agen ‘economic hit man”? Karena seorang Economic Hit Man tidak pernah berpihak.

Banyak yang menanyakan, sebenarnya aku ini di pihak mana? Pro-pemerintah atau anti-pemerintah? Dengan membaca paragraph prolog artikel ini, pembaca kiranya sudah tahu dimana aku berpihak. Hanya saja, aku ini bukan agen Economic Hit Man (EHM).

Pengamatan yang tidak memihak akan dapat menilai pihak mana yang sesungguhnya lebih kuat tanpa menutup mata terhadap kekurangan yang ada. Hasil pengamatan akan memudahkan dalam menyusun rencana bagaimana memanfaatkan pihak yang kuat sekaligus melenyapkan pihak-pihak yang bertentangan. Dan itulah yang dilakukan oleh EHM.

Pengamatan objektif EHM telah menilai bahwa negara-negara berkembang sudah tidak lagi perlu dijebak dengan hutang. Kini mereka mengincar negara-negara G8 untuk dijebak ke dalam hutang.

Hanya pengamatan yang sangat objektif dan tidak berpihak yang bisa membuat para EHM mengalihkan jebakan ekonominya.

Studi Kasus Bank Century: Bom Lebih Besar dapat Tercipta

Banyak pernyataan yang menyebutkan bahwa kasus Bank Century adalah kasus penipuan terhadap nasabahnya, dan kasus bailout menjadi samar dan abu-abu. Tap pelak jika mulai muncul opini bahwa kasus bailout Bank Century tengah digiring menuju ke peti es. Entah sadar atau tidak, penggiringan ini bisa menjadi penggalian terhadap lubang kubur sendiri.

Penggalian kubur sendiri ini terjadi jika Bank Century terbukti melakukan tindak pidana terhadap para nasabahnya, kemudian dihembuskan persepsi bahwa pemerintah menggunakan APBN untuk mendukung kejahatan mafia perbankan, bukan mensejahterakan rakyatnya.

Asumsi ini tentulah menjadi hal yang buruk untuk pemerintahan SBY. Belum lagi dana negara yang dihabiskan untuk penanggulangan Lumpur Lapindo terkesan hanya untuk melindungi oknum-oknum tertentu.

Memang, SBY berhasil merangkul semua pihak. Tapi ini bukan berarti SBY dapat leluasa bergerak. Tetap harus berhati-hati, karena tidak mudah mengidentifikasi kekuatan mana yang terus memaksa pembongkaran kasus Bank Century.

Tidak mudah merumuskan “win-win solution” untuk kasus Bank Century, sebab semua informasi masih simpang siur. Lain dengan kasus Lapindo yang kasat mata.

Mungkin ada baiknya jika kasus Bank Century jelaskan secara terbuka pada pihak yang berkompeten, agar jelas duduk perkaranya sehingga dapat lebih mudah merumuskan ‘win-win solution”.

Next:
#1. Keberpihakan
#2. Jebakan Ala Economic Hit Man?


oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

25 Oktober 2009

Kisah Sedih Pendidikan

Seorang kawan bercerita saat ia membantu adiknya yang masih duduk di SD mengerjakan PR pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam PR itu diminta untuk menjawab pertanyaan “Mengapa kita tidak boleh tidur di bawah pohon di malam hari?”

Dengan berlagak sebagai professor, temanku membantu memberi jawaban bahwa oksigen di bawah pohon akan banyak berkurang sehingga menyebabkan seseorang pingsan jika tidur di bawah pohon.

Keesokan harinya, sang adik protes karena jawaban sang kakak ternyata salah. Menurut Bu Guru, jawabannya adalah “Karena banyak nyamuk.”

Perdebatan selanjutnya membuat sang kakak emosi karena adiknya lebih mempercayai jawaban Bu Guru dari pada jawaban kakaknya!

Mungkin sudah saatnya pemerintah tidak hanya memberikan teori dan praktek cara mengajar, tapi juga membuka kesadaran para guru untuk selalu melakukan cross check dalam memberikan pelajaran kepada siswanya. Terlebih guru SD, karena apa yang ditanamkan dalam pengajarannya akan membentuk masa depan anak didiknya.

Pendidikan Nasional: Mengutamakan Nilai daripada Proses Belajar?

Dalam acara pemberian penghargaan The Best Ideas and Innovation Award, Kusmayanta Kardiman mengutip ‘metode’ inovasi Ki Hajar Dewantara yaitu: Niteni, Nirokake lan Nambahake (mengidentifikasi, menirukan dan menambahkan). Ketiga langkah tersebut merupakan penyederhanaan yang sangat membantu guru dalam mengajarkan inovasi pada anak didiknya.

Setelah dewasa, aku baru menyadari bahwa Kepala Sekolah SD N Kertek I (di sebuah desa di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah) juga menggunakan metode yang sama. Pak Kepala Sekolah ini mengajarkan Kesenian Tradisional Jawa. Pada era 80-an, unsur tradisional dipandang secara sinis sebagai keterbelakangan dan kebodohan.

Disamping tiga langkah Ki Hajar Dewantara, Pak Kepala Sekolah juga menambahkan CINTA. Aku ingat betul saat ia berpesan “Untuk bisa mempelajari kesenian Jawa, mulailah dengan mencintainya.”

Entah kenapa, nasehat itu terngiang di kepalaku hingga sekarang. Sejak saat itu, aku pun berusaha mencinta Kebudayaan Jawa, dan sampai sekarang aku masih senang mempelajarinya.

Kelihatannya system pendidikan kita belum mengajarkan bagaimana cara mencintai belajar. Sistem pendidikan kita masih cenderung berorientasi pada nilai yang harus di raih pada test akhir. Setelah nilai diraih, proses belajar pun terhenti.

Jika proses belajar berlangsung terus, maka proses niteni (identifikasi) juga akan berlanjut. Dengan demikian, nirokake (menirukan) akan mejadi lebih mudah. Selanjutnya nambahake (inovasi) akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dan aku ini memang murid yang kurang ajar, aku lupa nama Kepala Sekolah SD-ku! Benar-benar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

(Setelah menerima penghargaan dari Kusmayanta Kardiman, tiga metode inovasi Ki Hajar Dewantara selalu terngiang. Dan blog ini diberi nama ‘Titen” yang merupakan kata dasar dari “Niteni”, adalah terinspirasi dari pesan Kusmayanta. Kepada Bapak Kusmayanta, mohon maaf kalo kelak saya lupa nama Bapak, cuman inget pesannya saja, hehehe …..).

24 Oktober 2009

MEKANISME OBSERVASI PEMBANGUNAN YANG TERINTEGRASI

Kompas 24/10/09 mengutip perkataan SBY tentang Kepala Unit Kerja Presiden. Hal ini mengingatkan aku pada dua hal, yaitu BPI dan konsep Observatory Command Center.

Biro Pusat Intelejen (BPI) memiliki tugas yang sama seperti Unit Kerja Presiden-nya SBY yang berkerja untuk Presiden Soekarno. Hanya saja, BPI justru memanfaatkan tugas dan fungsinya untuk kepentingan golongan. Sehingga masukan BPI kepada Presiden Soekarno tidak objektif. Akhirnya, BPI menggiring Soekarno pada kehancurannya sendiri.

Sewaktu bikin artikel tentang “Pembangunan Dahulu atau Pemberantasan Korupsi Dahulu”, aku membayangkan sebuah konsep Observatory Command Center (OCC). OCC sebagai sebuah unit kerja yang bertugas memantau seluruh ‘operasi’ pembangunan.

Unit keja OCC ini dikepalai oleh beberapa orang yang memiliki tugas dan wewenang yang sama. Jika hanya mengandalkan seorang Kepala, maka akan sangat mudah unit OCC ini tergelincir seperi BPI yang menghancurkan Soekarno. Kepala yang banyak bisa saling mengingatkan jika kinerja Unit OCC sudah mulai tidak objektif.

Para kepala ini memiliki kemampuan berpikir secara holistic yang luar biasa. Unit OCC juga dibantu oleh puluhan, bahkan ratusan, agen lapangan yang memberikan laporan perkembangan program kegiatan pembangunan kepada OCC. Laporan ini tentunya hanyalah sederet fakta. Orang-orang Mabes OCC yang super kreatif akan memplotkan fakta-fakta tersebut dalam sebuah jaringan integrasi ‘win-win solution’ yang berkelanjutan.

Jaringan kompleks yang dibentuk oleh OCC adalah sebuah ‘bendungan’. Pada saat yang tepat, ‘bendungan’ ini ‘dibuka’ sehingga menghasilkan ‘arus perubahan’ yang berkekuatan sangat besar.

Mirip dengan operasi intelejen penggulingan Soekarno yang memakan waktu sekitar 6 bulan untuk mengendapkan dan membendung semangat anti PKI pasca peristiwa G 30 S. Sehingga pada saat bendungan anti PKI dibuka pada Maret ‘66, mencincang anggota PKI menjadi kegiatan yang paling digemari oleh Bangsa Indonesia, biarpun mayat-mayat anggota PKI yang dibuang di sungai menyebabkan sungai terbendung dan menyebar bau busuk serta penyakit.

Jumlah Pembaca:


Article Writing
Article Writing

Pembangunan Terintegrasi dan Berkelanjutan: Impian atau Perencanaan

Impian adalah kegiatan subjektif, impian dari orang pintar akan berbentuk seperti sebuah perencanaan, tapi tetap saja merupakan sebuah impian yang jika gagal akan menjadi bencana. Sedang perencanaan adalah kegiatan objektif yang tidak akan menutup mata terhadap kemungkinan kegagalan.

Presiden SBY menginginkan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan kondisi seperti sekarang ini, keinginan presiden hanya dapat dipenuhi dengan semangat “kerja keras sampai mati”.

Usaha pembangunan yang terintegrasi dan berkelajutan pernah dicoba oleh Pemerintah Orba melalui Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Tapi sayangnya GBHN adalah sebuah perencanaan politis, bukan perencanaan teknis yang disusun oleh orang yang bener-bener bekerja. Jadi wajar kalau GBHN berakhir dengan penggulingan di tahun 1998.

Pembangunan yang terintegrasi dan berkelajutan membutuhkan teknologi komunikasi mutakhir untuk bisa memantaui setiap kegiatan pembangunan. Teknologi itu kini sudah dapat dipenuhi, tinggal SDM-nya yang menentukan.

Bisa dibayangkan, setiap menteri harus tahu kegiatan-kegiatan pembangunan di departemennya, termasuk program kegiatan UPT dan Dinas di daerah-daerah. Padahal struktur UPT dan Kantor Dinas berbeda antara satu daerah dengan yang lain akibat kebijakan otonomi.

Pebedaan struktur ini akan menimbulkan perbedaan prosedur, perbedaan prosedur mempersulit target pelaksanaan. Singkatnya, menyulitkan pemerintah pusat dalam mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan pembangunan.

Perbedaan struktur bisa diatasi dengan kebijakan Kepala Pemerintah Daerah untuk membabat habis prosedur yang menghambat. Tapi akan menjadi sulit lagi jika Visi dan Misi pemerintah daerah tidak sejalan dengan target-target yang telah ditetapkan oleh para menteri.

Belum lagi proses pembangunan yang selalu meminta persetujuan DPRD akan memperlama pelaksanaan kegiatan pembangunan. Belum termasuk protes dari masyarakat atau LSM yang menilai program pembangunan dengan sudut pandang yang berbeda,

Ini belum mempertimbangkan integrasi kegiatan pembangunan satu departemen dengan departemen yang lain. Belum lagi perbedaan budaya di satu daerah dengan daerah lain yang berbeda-beda akan menimbulkan kesulitan tersendiri.

Seorang pemimpi tidak akan pernah mempertimbangkan dan mencoba mengerti kesulitan-kesulitan kecil di atas. Namun seorang perencana akan memperhitungkannya. Mungkin memang sudah saatnya dibangun sebuah unit OBSERVATORY COMMAND CENTER sebagai media integrasi kegiatan pembangunan yang mirip dengan cara kerja Intelejen.

[next: mekanisme OCC]

Jumlah Pembaca:

freelance writers
freelance writers

21 Oktober 2009

Pertumbuhan Berbasis Utang

Angka pertumbuhan Indonesia yang positif tidak bisa membuat Indonesia dikategorikan sejajar dengan BRIC (Brazil, Russia, India, China). Kenapa? Telusur punya telusur, ternyata pertumbuhan positif itu adalah hasil utang! Pates aja engga ada lembaga internasional yang mensejajarkan Indonesia dengan BRIC.

Data dari Koalisi Anti Utang menunjukkan bahwa pemerintahan SBY periode 2004-2009 telah menambah utang negara [www.kau.or.id].

Yang aku kuatirkan adalah jika program recovery yang tengah dilancarkan oleh negara-negara maju mengubah tata ekonomi dunia dan menyebabkan Indonesia makin terjembab dalam utang.

Sistem perekonomian yang saat ini terfokus pada aktivitas China, akan segera di lawan oleh negara-negara maju. Sehingga pola perdagangan akan bergeser. Mangingat sektor manufaktur kita lemah dan pertumbuhan ekonomi positif dikarenakan oleh KONSUMSI, maka tak ayal lagi pergeseran sistem ekonomi dunia bisa bikin perekonomian kita akan makin terhimpit.

Mudah-muhan sistem intelejen yang dibangun oleh SBY periode 2009-2014 bisa memantau arah recovery negara-negara maju. Sehingga pemerintahan kita bisa melaksanakan langkah-langkah antisipatif agar tidak makin terbenam.

Jumlah Pembaca:


FREELANCE PROOF READER
FREELANCE PROOF READER

Solusi untuk Kasus Lapindo: Tak selamanya nafsu kapitalis harus berwujud setan

"All our lauded technologycal progress - our very civilization - is like the axe in the hand of pathological criminal."
- Albert Einstein -

Semburan Lumpur Lapindo telah sampai pada point of no return. Segala bentuk usaha untuk mengembalikan kepada kondisi semula sudah sangat sulit dan hampir mustahil.

Banyak orang pintar yang masih berpendapat bahwa menghentikan semburan Lumpur Lapindo adalah sebuah solusi. Padahal jika pada detik ini semburan berhasil dihentikan, apakah korban lumpurbisa mendapatkan lagi kehidupannya?

Ada kalanya solusi bukanlah eliminasi sumber permasalahan, melainkan tindak lanjut dari permasalahan itu sendiri.

Jadi, solusi yang mungkin terbaik bagi kasus Lumpur Lapindo adalah dengan mendorong riset pemanfaatan Lumpur Lapindo kepada group perusahaan milik Bakrie. Tentu saja riset yang dilakukan bukanlah riset dengan idealisme sekolahan/universitas yang hanya akan menjadi teks busuk di sudut perpustakaan. Melainkan sebuah riset yang dikelola dengan spirit kapitalis.

Untuk mendukung riset dengan spirit kapitalis ini, diperlukan intelejen industri untuk dapat menyusupkan hasil riset Lumpur Lapindo ke dalam mata rantai perekonomian. Masyarakat korban Lapindo bisa turut memanfaatkan lumpur sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Mungkin, solusi untuk kasus lapindo ini adalah solusi yang 'benar', bukan solusi ala Soeharto 'bereskan' (bereskan/bantai korban lapindo) ataupun solusi ala SBY 'lanjutkan' (lanjutkan penderitaan mereka huakakakakka). .... well, just kidding!

Jumlah Pembaca:


Freelance Writers
Freelance Writers

19 Oktober 2009

Nasib KPK dan Pelajaran dari Biro Pusat Intelejen

Proses pengebirian KPK telah berjalan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin karena kita tidak belajar dari Biro Pusat Intelejen (BPI).

Dalam dunia intelejen, fakta bukanlah realitas sesungguhnya, realitas adalah persepsi yang dibangun dalam benak kita.

Fakta bahwa Bung Hatta, Syahrir dan beberapa tokoh Angkatan 45 yang bertemu dalam suatu undangan upacara Ngaben di Bali, dipersepsikan sebagai pertemuan untuk merencanakan makar terhadap Presiden Soekarno. Persepsi ini dibangun oleh BPI dan dilaporkan oleh Soebandrio kepada Presiden Soekarno. Ia menyebut Bing Hatta, Syahrir dan beberapa tokoh Angkatan 45 sebagai Komplotran Bali.

BIP berhasil mempersepsikan fakta-fakta sedemikian menghasilkan sebuah kesadaran realitas bagi Soekarno, bahwa kelompok Nasionalis dan kelompok Agamis sudah tidak lagi setia dengan perjuangan Soekarno. Hanya PKI-lah yang tetap setia pada perjuangan Soekarno.

Realitas dalam benak Soekarno sedemikian kuat sehingga ketika gelombang penolakan faham komunis membahana di bumi Nusantara, Soekarno tak bergeming mempertahankan Partai Komunis. Sehingga Soekarno tidak lagi bisa menentukan sikap yang tepat dalam menghadapi keadaan

Operasi intelejen BPI untuk menanamkan realitas bahwa PKI satu-satunya partai pendukung Soekarno memang berhasil. Tapi sayangnya, operasi intelejen ini tidak mampu menyelamatkan PKI sendiri. Hal ini karena operasi intelejen hanya mendapatkan legitimasi dari Soekarno, bukan loegitimasi dari seluruh rakjat indonesia.

Orientasi operasi intelejen BPI di atas tidak ubahnya seperti operasi intelejen KPK dalam memberangus korupsi dan suap di Indonesia. Permasalahannya terletak pada legitimasi, tidak setiap WNI menyetujui penghapusan korupsi dan suap di Indonesia.

Memang, kasus suap atau korupsi hanya melibatkan beberapa orang. Tapi bila pelaku suap adalah seorang pengusaha yang memiki ribuan karyawan, maka suap itu menjadi sumber penghasilan bagi ribuan orang serta menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu anggota keluarga karyawan. Jadi wajar, kalo ada joke yang menceritakan bahwa Mister Jin yang keluar dari botol dapat memenuhi apapun permintaan kita kecuali menghapus korupsi di Indonesia.

Dengan kondisi demikian, sulit bagi KPK untuk mendapatkan dukungan publik kemudian melahirkan revolusi pemberantasan korupsi. Operasi-operasi intelejen yang berujung pada penangkapan berbagai pejabat telah menghasilkan dendam kesumat. Tak ayal lagi operasi intelejen KPK mendapatkan counter intelegent yang bertujuan melaksankan pengebirian KPK.

Legitimasi KPK dalam memberantas korupsi berada dalam dunia idealisme, alias di awang-awang, tidak bisa membumi. jadi wajar pengebirian KPK tidak cukup kuat untuk memancing demo besar-besaran.

Baik KPK maupun BPI telah meletakkan operasi intelejen dalam posisi yang kurang tepat. Bahkan BIN pun pernah melakukan kesalahan yang sama saat menjalankan operasi intelejen pembunuhan aktivis HAM Munir. Operasi dilaksanakan disaat publik masih memimpikan idealisme HAM. Jadi wajar kalo BIN yang seharusnya menjadi Badan Rahasia Negara diobok-obok, dibongkar dan dipermalukan.

Mungkin memang diperlukan banyak Badan Intelejen untuk menjalankan berbagai misi pembangunan dan pertahanan. Namun diperlukan satu Badan Intelejen yang bertugas menyeimbangkan misi dengan realitas.

Semoga lulusan STIN akan menghasilkan tenaga intelejen yang handal, selamat kepada para wisudawan STIN!

Jumlah Pembaca:
web copy writer
web copy writer

Kereta Api Progo Jogja-Jakarta: Perjalanan Penuh Makna yang Melebihi Makna Analitis

Sewaktu teman mengajak untuk menggunakan kereta kelas ekonomi buat jalan ke Jakarta, aku engga nolak, justru penasaran seperti apa rasanya naik kereta kelas ekonomi.

Dalam perjalanan yang melelahkan ini, duduk di sebelahku seorang ibu yang memangku putri kecilnya yang berusia 14 bulan. Awalnya aku bercanda dengan malaikat kecil yang montok, imut dan lucu. Akhirnya malaikat kecil itu pun tertidur pulas. Lambat-laun sang ibu muda itu pun larut bersama mimpi buah hatinya.

Aku membaca buku yang udah kusiapkan sebagai teman di perjalanan. Lagi asik baca, tiba-tiba si malaikat kecil menangis membuatku terkejut. Sang ibu muda pun terkejut dibuatnya.

Sang ibu berusaha membuat putrinya diam dengan mengayun-ayun, memberi minum, mencoba ngajak bicara dan menyanyi. Tapi sepertinya sang malaikat kecil cuek dan terus menangis.

"Bu, ini putrinya capek pengen ganti posisi tidur," kataku.

Sang ibu menurut, ia menggubah posisi pangkuannya. Dan malaikat kecil itupun segera kembali tidur tanpa rasa bersalah.

"Punya putra berapa?" tanya ibu muda yang udah lega anaknya tidur lagi.

Pertanyaan itu membikin aku berpikir, kok aku bisa tahu kalo si malaikat kecil itu pengen ganti posisi tidur. Aku belum pernah melakukan percobaan memposisikan bayi tidur dalam posisi tertentu hingga menangis karena pengen ganti posisi. Aku juga belum pernah membaca artikel tentang hal ini. Juga aku belum pernah dengar orang bicara tentang bayi yang pengen ganti posisi tidur. Aku engga ngerti kenapa aku tahu. Lalu, dari mana aku tahu?

Kemampuan jenis apakah yang membuatku bisa memahami kalo sang malaikat kecil pengen ganti posisi? Apakah kemampuan intuitif? Kreatif? Insting?

Aku tidak bisa menjelaskan kemampuan macam apa itu karna aku hanya bisa merasakannya. Aku yakin, ada banyak orang yang bisa merasakan kemampuan itu. Tapi yang jelas, apapun kemampuan itu, yang jelas kemampuan ini lebih dari sekedar proses analitis!

16 Oktober 2009

Objektifitas Pangkal Keberhasilan? Pelajaran dari Dunia Intelejen

Setelah bikin artikel tetang doa dan objektifitas, kusadari ternyata objektifitas memiliki peran yang sangat penting. Peranan penting ini dapat dilihat dari pelajaran dunia intelejen.

Bush menyerang Iraq dengan alasan senjata pemusnah massal. Tapi belakangan diketahui ternyata semuanya adalah aksi intelejen untuk menguasai sumber-sumber minyak Iraq. Bisa dikatakan bahwa operasi intelejen ini berhasil mencapai tujuannya. Tapi apakah tujuan operasi intelejen ini membawa dampak positif bagi Amerika?

Tidak, justru licinnya minyak Iraq bikin Amerika tergelincir dalam resesi. Justru yang diuntungkan adalah China. Kini Amerika tengah mengemis-emis ke China.

Sudah bukan rahasia lagi kalo CIA terlibat dalam penggulingan Presiden Soekarno. Dan siapakah yang menikmati hasil penggulingan Soekarno ini? Jepang di tahun 80-an dan Amerika saat itu harus mengemis-emis ke Jepang.

Jika sebuah operasi intelejen hanya ditujukan untuk mencapai tujuan-tujuan sesaat (seperti tujuan menguasai sumber kekayaan alam) maka analisis intelejen ini hanya beorientasi pada tujuan. Dengan demikian, analisis menjadi tidak sepenuhnya objektif sehingga dampak-dampak negatif yang timbul pasca operasi intelejen "tidak terlihat".

Dalam sejarah Indonesia, khususnya Jawa, intelejen di kenal dengan nama "Telik Sandi". Tapi filisofi Telik Sandi berbeda dengan filosofinya Intelejen modern.

Intelejen modern memiliki tujuan-tujuan yang akan membuat analisis mereka terkungkung dalam frame of reference yang sempit. Sedang prajurit Telik Sandi hanya bertugas memantau dan tidak diperkenankan melakukan aksi-aksi seperti layaknya James Bond.

Ketika Sultan Agung Hanyokro Kusumo menyerang Batavia untuk mengusir Belanda, Beliau menempatkan Laskar Mataram untuk mengepung Batavia. Ia meminta pangeran-pangeran dari Sunda untuk mensuplay bahan makanan kepada para prajurit Laskar Mataram. Tapi sayang, tak satupun pangeran Sunda yang mengirimkan bahan makanan.

Sebenarnya Sultan Agung bisa saja mengirimkan bahan makanan dari Jogja. Namun itu tidak dilakukan karena ia mempertimbangkan laporan para prajurit Telik Sandi. Bahwa ia akan kehilangan banyak kekuatan setelah mengusir Belanda, ini akan membuat Kerajaan Mataram menjadi lemah, para pangeran dari Sunda akan dengan mudah menghancurkan Mataram.

Demi kedamaian antara Mataram dengan Sunda, penyerbuan ke Batavia dibatalkan. Sultan Agung memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Raja. Sehingga kerajaan Mataram tetap eksis hingga sekarang.

13 Oktober 2009

Ulah Manusia dan Mekanisme Bencana

"Scientific research is based on the idea that everything that takes place is determined by laws of nature, and therefore this holds for the action of people. For this reason, a research scientist will hardly be inclined to believe that events could be influenced by a prayer, i.e. by a wish addressed to a Supernatural Being."
- Albert Einstein - 

Laporan Neal Adams Service yang ditujukan kepada PT. MEDCO P&E Indonesia menunjukkan bahwa gejala akan terjadinya underground blow out (UGBO) sudah terlihat sejak awal pengeboran, tapi kenapa gejala ini tidak membuat pengeboran dihentikan?

Sangat tidak mungkin bahwa gejala tersebut tidak terlihat karena laporan harian (daily report) pengeboran jelas-jelas menuliskan adanya bubble sejak 26 Maret 2006.

Apakah tenaga ahli pengeboran tidak tahu bahwa bubble itu adalah tanda akan terjadinya UGBO?

Apakah unsur kepemilikan perusahaan menjadi latar belakang diabaikannya beberapa petunjuk penting?

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa telah terjadi penilaian yang tidak objektif selama masa pengeboran sehingga terjadilah bencana.

Suatu penilaian akan menjadi tidak objective jika kesadaran observer terkungkung dalam nafsu keinginan yang kuat. Bahkan nafsu keinginan untuk berbuat baik pun bisa membuat penilaian menjadi tidak objective.

Itulah sebabnya kita diajarkan untuk berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan suatu usaha. Doa ini membuka kesadaran kita bahwa hasil usaha kita ditentukan oleh Tuhan.

Dengan meyerahkan seluruh hasil kepada Tuhan, maka kita akan lebih objective dalam melaksanakan usaha karena kesadaran kita tidak akan dikejar-kejar oleh berbagai keinginan dan godaan.

Mungkin Tuhan memberiku mimpi tentang gempa untuk memberikan pelajaran tentang doa.

Jadi, sudahkan kita berdoa hari ini?

Jumlah Pembaca:
Webcopy Writers
Webcopy Writers

12 Oktober 2009

Dari Mana Datangnya Legenda?: Sains dan Nyai Roro Kidul

"When I examine myself and my methods of thought, I come to the conclusion that the gift of fantasy has meant more to me than my talent for absorbing positive knowledge."
- Albert Einstein -

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini muncul setelah akhir-akhir ini aku banyak cari info seputar gempa, keruntuhan Mataram Kuno dan Nyai Roro Kidul. Legenda Nyai Roro Kidul ini membuatku teringat pengalaman unik saat aku meneliti ombak laut selatan.

Sedianya, aku pengen bikin skripsi tentang pembangkit listrik tenaga ombak. Sebagai langkah awal, aku melakukan observasi ombak di pantai selatan Jogja. Aku lupa nama pantainya, yang jelas di situ dekat sama mercusuar.

Saat itu sekitar pukul 3 sore, tidak ada orang lain selain aku di pantai. Dengan notes, pena dan stopwatch aku mencoba bikin gambaran kasar frekuensi ombak. Tapi sayangnya ombak terlalu acak, sulit buatku mendesain sistem penangkap energinya. Jadinya aku malah melamun memandang ke tengah laut.

Entah apa saja yang dibenakku, tapi aku ingat betul terlintas pertanyaan, "Apakah Nyai Roro Kidul itu ada?"

Sesaat setelah terlintas pertanyaan itu, wajahku seperti diusap dengan kain yang sangat lembut dan beraroma melati. Ingat, tidak ada satu orang pun di sekitarku. Angin bertiup dari laut menuju ke darat, wajahku benar-benar bisa membedakan antara tiupan angin dengan sentuhan kain. Dari mana datangnya sensasi ini?

Mungkin ini adalah jenis pengalaman yang membuat otakku merekam dengan sangat mendalam sehingga aku masih bisa membayangkan kain yang mengusap serta aroma harum melatinya.

Jika usapan kain dan aroma melati ini dari Nyai Roro Kidul yang hendak menunjukkan keberadaanya, kenapa dalam bentuk sentuhan dan bau? Ini bukti yang engga bisa didokumentasikan! Kalo aku bercerita sampe mulut berbuih pun orang akan sulit percaya.

Apakah bukti keberadaan ini emang hanya ditunjukkan ke aku? Tapi mengapa aku? Anyway, aku yakin ada banyak orang yang juga mengalami pengalaman unik sepertiku sehingga legenda Nyai Roro Kidul tetap hidup.

Tiap kali aku ke pantai selatan, aku mencoba mengulang pengalaman itu lagi. Dari puluhan kali mencoba, hanya sekali pengalaman itu berulang. Dari dua pengalaman itu, ada satu benang merah yang dapat ditarik, yaitu bahwa aroma melati hanya tercium pada saat kita sendiri tidak menyadari bahwa kita menunggu jawaban dari Nyai Roro Kidul.

Mungkin mirip dengan jenis kesadaran pada saat ide muncul di benak. Psikolog bilang kalo ide tuh muncul saat kesadaran kita sedang dalam keadaan terbuka. Aku sendiri engga bisa memberikan gambaran jelas tentang kesadaran yang terbuka. Mungkin kita bisa memahaminya lewat Einstein.

Einstein bisa bilang kalo kecepatan cahaya adalah kecepatan absolut. Apakah Einstein naik pesawat berkecepatan cahaya untuk membuktikannya? Tidak. Einstein menggunakan KESADARANnya untuk membuat hipothesis.

Einstein mengolah kesadarannya sedemikian hingga ia menyadari bahwa bintang-bintang di angkasa akan terlihat jauh lebih banyak jika kecepatan cahaya tidak absolut.

Leluhur orang jawa sangat menguasai ilmu olah kesadaran ini. Orang jawa bilang "Olah Bathin". Inilah imu yang bisa bikin kita terbebas dari berbagai premis awal sehingga kita bisa melakukan observasi secara benar-benar objective. Tapi sayang, kita menganggap ilmu ini sebagai bentuk ritual bodoh, sehingga ilmu ini hilang ditelan jaman.

Kekayaan alam bisa di eksploitasi oleh orang asing, kekayaan artefak peninggalan leluhur juga bisa diangkut ke negeri orang. Tapi kemampuan individual yang diwariskan leluhur takkan bisa diambil oleh orang lain, kecuali kita sendiri yang memusnahkannya.

Jumlah Pembaca:
ARTICLE WRITING
ARTICLE WRITING

10 Oktober 2009

Candi Kendulan: Petunjuk keruntuhan mataram kuno?

Pada awalnya cuman nemu berita tentang amblesnya tanah di sekitar lumpur Lapindo yang menimbulkan pertanyaan: Kalo tanah sekitar Lapindo sampe ambles, harusnya tekanan yang bikin lumpur menyembur sudah sangat berkurang alias mandeg. Tapi semburan terus berlangsung, bahkan sempet membesar. Lalu sebenernya dimana letak tekanan yang bikin lumpur terus menyembur?

Nah, pertanyaan itu bikin aku browsing sana sini untuk melanjutkan artikel tentang gempa. Tapi malah nemu blog seorang geolog yang bercerita tentang Candi Kendulan.

Dikisahkan bahwa Candi Kendulan pada fase awal terkubur oleh lapisan tanah endapan sungai dan soil. Padahal menurut logikaku, yang bisa mengubur candi di Yogyakarta dan sekitarnya adalah endapan lahar, tapi kenapa justru endapan sungai & soil?

Ini mengingatkan aku sama mimpi tentang keruntuhan kerajaan Mataram Kuno. Dalam mimpiku yang aneh, mula-mula aku melihat pasukan bersenjata tombak dan panah berjalan dalam barisan. Orang-orang mengelu-elukan pimpinan pasukan yang bernama Mpu Sindok. Trus aku melihat sebuah gerbang joglo dimana seorang perempuan cantik melepas kepergian tentara itu. Dari suara-suara disekitarku, aku tahu kalo putri itu bernama Diah Wawa.

Tiba-tiba tanah berguncang, kemudian miring. Dari belakang gerbang joglo muncul gelombang dengan buih berwarna putih, mirip tsunami, menenggelamkan joglo bersama Putri Dyah Wawa. Sang putri engga ketakutan, dia malah tersenyum bikin aku jadi bingung.

Trus, tiba-tiba aku seperti ambles ke dalam tanah sebelum air menyapu tubuhku dan berada dalam goa yang dipenuhi lumpur. Lumpur ini berkontraksi seperti layaknya suspensi. Tiba-tiba aku kesedot keluar, nongol dipermukaan tanah. Ternyata aku nongol di bekas pengeboran Lapindo. Mimpi ini terlalu jelas, bahkan aku bisa mengingat beberapa detailnya, makanya terus membayangiku.

Nah berkaitan dengan situs Candi Kendulan, mungkinkah endapan sungai dan soil yang dimaksud adalah endapan yang ditimbulkan oleh tsunami?

Jumlah Pembaca:
Freelance Writers
Freelance Writers

07 Oktober 2009

Mimpi Gempa Jawa dan Konfirmasi Final Report Lapindo

Ada dua laporan tentang Lapindo yang kutemukan kemarin. Pertama adalah Laporan dari TriTech Petrolium Consultant Limited yang ditujukan kepada MEDCO Energy International dan kedua dari Neal Adams Service yang ditujukan kepada PT. MENCO P&E Indonesia.

Kedua laporan sama-sama menyebutkan adanya keretakan formasi tanah yang terjadi jauh-jauh hari sebelum semburan 29 Mei 2006. Laporan pertama menyebutkan bahwa keretakan formasi terjadi pada tanggal 29-30 April 2006, sedang laporan kedua menyebutkan pada tangga 30 April terjadi loss. Tapi laporan kedua tidak menunjuk 30 April sebagai titik awal, tapi kemunculan gelembung (bubble) yang muncul 26 Maret 2006 sebagai indikasi awal terjadinya UGBO alias Underground Blow Out. Lebih lanjut laporan kedua juga menyebutkan bahwa bubble tersebut muncul karena terangkat oleh gas yang terjebak dalam lapisan tanah, bukan menyembur seperti layaknya ruang gas bertekanan.

Anehnya, menjelang pasca gempa Tasikmalaya aku bermimpi bahwa gas dan cairan lumpur Lapindo adalah suspensi-nya Pulau Jawa yang kini dikeluarkan oleh Lapindo Brantas Inc. Anehnya, proses keluarnya gas dari dalam tanah kemudian diikuti oleh keretakan (fracture) formasi tanah, sama persis antara mimpiku dengan kedua laporan di atas. Gile ......

Jumlah Pembaca:

Article Writing
Article Writing

Ada kesalahan di dalam gadget ini