10 Mei 2011

Proses Pembobrokan Karakter Bangsa

Masyarakat Indonesia mendapatkan pelayanan sewenang-wenang dari berbagai pihak. Dari dibohongi pulsa telpon, tauladan buruk sinetron, sampai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Perilaku sewenang-wenang itu terus tumbuh tapi masyarakat Indonesia terkesan diam saja alias engga protest ataupun menuntut secara hukum. Paling cuman satu dua aja yang protes dan tidak menimbulkan efek yang luas.

Tapi benarkah masyarakat Indonesia diam saja? Tidak! Dalam diam itu masyarakat kita meniru tindakan bohong, perilaku sinetron hingga perilaku tak bertanggung jawab. Akhirnya, jadilah kita bangsa berkarakter buruk!

Kita ambil contoh PLN. Udah berapa banyak masyarakat yang dirugikan oleh pelayanan PLN selama bertahun-tahun? Tak terhitung. Apakah ada bentuk tanggung jawab PLN terhadap kerugian masyarakat? Tidak ada, seakan PLN tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ia timbulkan. Tapi gimana jika hak PLN mendapatkan iuran listrik mengalami keterlambatan? PLN akan memutus aliran listrik.

Nah, sekarang kita lihat perilaku masyarakat kita. Berapa banyak masyarakat kita yang banyak melalaikan kewajiban tapi banyak menuntut hak? Berapa banyak penumpang angkutan umum yang ikut merasa bertanggung jawab atas kebersihan terminal?

Selama berbagai bentuk praktek perilaku buruk itu berlangsung, pembangunan karakter akan mengalami tantangan berat. Satu satunya jalan adalah dengan membangun sistem pembangunan karakter yang dapat memunculkan kesadaran dari dalam diri pribadi masing-masing generasi bangsa, bukan cuman dari ceramah atau pemaksaan peraturan.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini