02 Maret 2011

Pergeseran Peradaan Global

Blog Titen sering mendapat cemooh saat menceritakan pertarungan antara  kekuatan ekonomi baru sebagai penantang konspirasi kekuatan ekonomi lama. Wawancara dengan perusahaan perikanan multinasional MPG di Metro TV menunjukkan kekuatan ekonomi baru sedang tumbuh di wilayah timur dengan konsep yang jauh berbeda dengan konsep barat. Jika kekuatan lama berorientasi pada usaha memanipulasi informasi agar terkesan baik, kekuatan baru justru muncul apa adanya dengan segala kebaikan dan keburukannya.

Terus terang, Blog Titen baru mengetahui tentang perusahaan bernama MPG dari wawancara di Metro TV tersebut. Selama ini, Blog Titen hanya membaca sistem perekonomian dunia yang mengarah pada persaingan dua buah kekuatan. Itu saja.

Kesamaan pandangan antara Blog Titen dengan MPG adalah bahwa krisis ekonomi yang terjadi di barat telah meruntuhkan struktur ekonomi. Sedangkan perbedaan utama antara Blog Titen dengan MPG adalah MPG tidak percaya bahwa pergeseran kekuatan ekonomi ini adalah sebuah siklus.  MPG mengganggap bahwa cara-cara manipulasi untuk menciptakan pencitraan atau kesan suatu produk atau merek hanya bisa dijalankan di barat, sedangkan di wilayah timur harus dengan pendekatan jiwa yang berakar pada kebenaran  informasi. Pendekatan MPG ini mungkin didasari pada pemahaman mengenai perbedaan cara pandang antara barat dan timur.

Jika kita perhatikan lebih mendalam perjalanan sejarah peradaban manusia, maka kita bisa melihat benang merah hubungan pasang surut antara spiritualitas dengan rasionalitas. Spiritualitas akan membuka cara pandang kita terhadap berbagai permasalahan, rasionalitas akan menterjemahkan cara pandang menjadi utilitas untuk mengatasi masalah. Sehingga kualitas spiritualitas dan rasionalitas akan terus berkembang, hanya saja tidak dapat dilakukan bersamaan melainkan secara bergantian dalam skala tertentu.

Spiritualitas telah membuat bangsa Mesir mengembangkan rasionalitas untuk membangun Piramid namun rasionalitas tak mampu menjawab misteri wabah yang melanda Mesir kala itu, sehingga peradaban Mesir mengalami kemunduran oleh spiritualitas baru yang dikenal sebagai ajaran Nabi Musa. Kebangkitan spiritualitas jaman aksial telah melahirkan rasionalitas tata kota bagi kerajaan Romawi namun rasionalitas tak mampu menata wilayah jajahan Romawi yang sudah sedemikian luas, sehingga Romawi mengalami kemunduran kemudian muncul spiritualitas baru yaitu Kristen dan Islam. Perkembangan spiritualitas Islam telah melahirkan rasionalitas tata pemerintahan bagi kerajaan islam namun rasionalitas justru menimbulkan perpecahan di kalangan muslim sendiri, sehingga Kerajaan Islam mengalami kemunduran kemudian spiritualitas Kristen mengalami kegairahan Renaisance.

Gairah spiritualisme Kristen abad ke lima belas telah melahirkan rasionalisme industri hingga ke era informatika, namun banjirnya informasi yang masuk ke otak tidak membuat kita semakin bijak. Banjirnya informasi malah justru dapat membuat kita terjebak dalam paradoks dimana di saat berbagai informasi semakin terungkap justru membuat kita mudah terjebak dalam pandangan-pandangan yang sempit.  Informasi tentang susu formula bisa membuat kita merasa tidak perlu memperhatikan perkembangan kecerdasan si anak karena sudah diyakini cerdas berkat susu. Informasi kurikulum sekolah bisa membuat kita merasa tidak perlu memberikan pendidikan di rumah. Dan seterusnya.

Rasionalitas dalam ilmu ekonomi modern mengajarkan agar kita berusaha seminimal mungkin untuk mendapatan hasil maksimal mungkin. Rasionalitas ini sangat bertentangan dengan hukum alam yang selalu seimbang. Keseimbangan ini yang tidak menjadi dasar petimbangan bagi pengambil kebijakan moneter Amerika Serikat ketika perekonomiannya tengah booming kredit kepemilikan rumah sehingga pada akhirnya menghasilkan kebijakan yang berakhir dengan krisis Subprime Mortgage.

Fase rasionalitas modern segera berakhir, para top manager dan pemimpin negara telah disibukkan oleh berbagai tuntutan dan kepentingan sehingga mulai kehilangan kemampuan rasionalitas, padahal permasalahan makin kompleks untuk di rasionalkan. Kini, kemajuan peradaban tengah beralih ke belahan bumi timur yang masih teguh memegang prinsip-prinsip spiritualitas.

Spiritualitas di belahan bumi timur memang belum menemukan bentuk untuk dapat memecahkan kompleksitas era informasi. Namun spiritualitas sudah mulai memberikan petunjuknya yaitu betapa penting sebuah transparansi.

Apakah kekuatan ekonomi lama yang bermain dengan pencitraan akan mengubah pola untuk mengikuti tuntutan transparansi ataukah akan terus melawan hingga titik darah penghabisan? Mari kita saksikan bagaimana panggung dunia menayangkannya.

1 komentar:

Akhmad Setiawan mengatakan...

Komen pertama

Ada kesalahan di dalam gadget ini