03 Maret 2011

Iblis Reshuffle

Hak prerogatif diberikan kepada Presiden untuk menjalankan amanah demi kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan koalisi partai. Fasilitas negara juga digunakan untuk kepentingan negara dan bukan kepentingan partai. Jika wewenang tidak digunakan untuk bangsa dan negara melainkan untuk kepentingan partai pendukungnya, maka yang terjadi adalah berbagai salah urus.

Mana yang lebih mendesak untuk dibahas, kemacetan di Pelabuhan Merak atau koalisi yang pecah? Mana yang lebih mulia, memastikan pembangunan rumah murah atau merayu partai koalisi? Mana yang lebih bijak, pidato realitas bangsa atau menggertak koalisi yang bandel? Dan mana yang lebih penting, jabatan presiden atau nasib bangsa dan negara?

Daripada ribut-ribut saling tuduh, mendingan kita renungkan ucapan Nelson Mandela, "In order to build the nation, We should use every available bricks that we have." Mandela sangat konsisten dengan ucapannya ini sehingga ia tidak membalas dendam atas perlakuan orang kulit putih pada dirinya. Justru Mandela mengorbitkan ikon orang kulit putih yaitu Tim Rugby Afrika Selatan, hingga meraih juara dunia. Tak cukup sampai disitu, Mandela juga berhasil membuat bangsa Afrika Selatan menjadi layak sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepak Bola.

Mandela begitu pemaaf hingga mampu membawa Afrika Selatan mencapai persatuan, baik sebagai bangsa atupun sebagai kekuatan pengembangan pembangunan. Padahal saat itu Nelson berada dibawan ancaman perang antara kulir hitam vs Kulit putih. Mengapa Mandela bisa sedemikain pemaaf? Jawabnya bukan karena Mandela memiliki gelar profesor doktor melainkan karena Mandela memiliki kualitas spiritual yang tinggi.

Tanpa spiritualitas, manusia akan mudah diperbudak oleh nafsu kekuasaan yang keji. Nafsu kekuasaan di dalam diri Soeharto telah membuat Soekarno diperlakukan bagai binatang meskipun sudah jelas-jelas Soeharto berhasil merebut kekuasaan. Nafsu kekuasaan pula yang membuat Bani Umayyah membunuh Hasan bin Ali  meskipun Hasan sudah menyerahkan penuh kekuasaan pada Bani Umayyah. Tidak cukup sampai di situ, saudara kembar Hasan, yaitu Husein, pun dipenggal oleh Bani Umayyah. Itulah nafsu kekuasaan yang bisa membuat iblis kalah keji dibanding manusia.

Dalam iklim demokrasi, sangat berat mengharapkan munculnya penguasa yang amanah karena siapa pun yang menjadi penguasa harus diawali dengan nafsu kekuasaan demi memenangkan pemilu. Namun kita masih bisa melakukan usaha-usaha untuk mengingatkan agar penguasa tidak diperbudak oleh nafsu kekuasaan. Kita juga bisa mengembangkan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas spiritual pemimpin saat ini ataupun para calon pemimpin masa depan.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini