01 Februari 2011

Tunisia, Mesir ... akankah Indonesia?

Setelah memperhatikan perkembangan Mesir dan aku hanya bayangkan kalo aku ingin merebut kekuasaan Presiden Hosni Mubarak, maka aku akan melibatkan kekuatan militer baik di jalanan maupun dalam lingkaran kekuasaan Presiden. Sehingga dengan lugunya aku mengatakan kepada ke Economist Intelligence Unit (EIU) bahwa konfliknya kurang meruncing karena belum melibatkan kekuatan politik maupun militer. Dalam waktu kurang dari tiga hari, markas polisi di bakar dan ribuan narapidana meloloskan diri dari penjara. Kejadian ini memaksa pemerintah Mesir untuk meningkatkan peran militer.

Seperti sebuah aba-aba, masuknya peran militer membuat banyak negara segera mengevakuasi warganya dari Mesir. Mengapa menunggu peran militer untuk engevakuasi warga dari Mesir? Sederhana, jika krisis di Mesir adalh sesuatu yang natural, maka militer hanya berperan di jalanan mengamankan warga. Namun pembakaran markas polisi dan pengangkatan Wakil Presiden dari kalangan militer menunjukkan bahwa krisis ini ditunggangi oleh kekuatan-kekuatan besar. Dan selanjutnya, Uni Eropa menghimbau Prsiden Mubarak mengikuti keinginan masyarakat Mesir sedang Israel mendukung Presiden Mubarak. Konflik kekuatan besar pun terbuka.

Jika saja konflik yang timbul di Mesir udah bikin Amerika dan Israel kalang kabut, maka kemungkinan konflik tersebut engga didalangi oleh Amerika sendiri. Tapi oleh sebuah kekuatan baru yang masih rapih tersembunyi, meski sudah berhasil melancarkan aksinya di Tunisia.

Makanya, para mafia di Indonesia akan meningkatkan kewaspadaannya dengan munculnya kekuatan baru yang anti otoritarian dan anti mafia ini. Hosni Mubarak yang sangat menjamin kepentingan Amerika saja bisa digoyang kayak gitu, khan?

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini