26 Februari 2011

Peti Es untuk Century dan Gayus

Dalam kasus Century, pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa dana Century mampir ke luar negeri.  Baru-baru ini pemerintah juga melemparkan pernyataan  bahwa harta Gayus juga mampir ke luar negeri. Keduanya sama-sama menghadapi permasalahan yang sama yaitu masalah hukum yang berlaku di negara tersebut. Seakan masalah perbedaan hukum menjadi modus operandi untuk menempatkan kedua kasus dalam peti es.

Melemparkan dana keluar negeri dan menempatkan kasus dalam peti es bukanlah modus operandi baru dalam dunia kejahatan konspirasi. Pernyataan resmi menyebutkan bahwa sumber dana untuk serangan WTC  11 September juga dikatakan dari Pakistan kemudian disertai pernyataan bahwa penelusuran sumber dana tidak lagi relevan. Jadilah kasus terror 11 September masuk ke dalam peti es.

Mungkin sebagian besar pembaca Blog Titen tidak percaya adanya kejahatan konspirasi tingkat tinggi. Tapi perhatikan fakta berikut: Dari 19 pembajak pesawat dalam terror 11 september, 6 diantaranya masih hidup dan sama sekali tidak ada usaha menangkapnya karena sudah dinyatakan tewas oleh FBI. Gedung WTC runtuh dengan percepatan lebih besar daripada percepatan alami gravitasi yang berarti ada unsur kesengajaan untuk diruntuhkan. Laporan resmi menyebutkan bahwa struktur baja meleleh akibat terbakarnya bahan bakar pesawat, padahal BBM pesawat terbakar dengan suhu 500 Fahrenheit sedangkan baja baru meleleh pada suhu 2000 Fahrenheit.

Tidak hanya itu, group TIME dan FOX merilis film-film bertemakan nasionalime Amerika  seperti film Pearl Harbor. Hal ini ditujukan agar publik Amerika tidak lagi terfokus pada kejanggalan terror 11 September dan fokus pada upaya penyerbuan ke Afghanistan dan Iraq. Tapi sayangnya, pola intelejen era perang dingin ini sudah tidak relevan dilancarkan di era informasi. Hasilnya justru makin banyak warga Amerika yang menjadi muslim setelah terror 11 September.

Ada banyak hal janggal dalam peristiwa 11 September. Jika kejanggalan tersebut ditanyakan pada pemerintahan Bush saat itu maka akan dijawab dengan jawaban aneh. Jawaban khas pengalihan isyu ala media konservatif Amerika. Persis seperti pertanyaan “Apakah Anda menangis saat rapat?” dijawab dengan “Saya menangis kalau mendengar lagunya Betharia Sonata.”

Pola pengalihan ala media konservatif Amerika juga terlihat dari pertanyaan, "Apakah pernyataan pemblokiran media adalah dari pemerintah?" dijawab dengan "Pertama, pemerintah tidak bermaksud membungkan kebebasan pers. Kedua, marilah kita saling menasehati dalam kebaikan. Ketiga, bla ... bla ... bla ..." akhirnya esensi pertanyaan tidak terjawab. Jawaban-jawaban macam ini sudah jamak di negeri ini yang menunjukkan bahwa semakin banyak pihak yang berhasil dicuci otaknya sehingga menggunakan pola-pola sejenis.

Sama juga seperti pertanyaan, “Perlukah Pansus Mafia Pajak?”. Pertanyaan ini tidak dijawab dengan jawaban perlu atau tidak perlu, justru dijawab dengan, “Pansus Mafia Pajak hanya menguntungkan partai tertentu.” Memang benar jawaban tidak langsung berkesan menunjukan tingkat kecerdasan tinggi, yaitu kecerdasan untuk mengelabui dan mendisorientasi parlemen. Banyak pakar hukum yang ikut menari bersama irama pendisorientasian ini. Ini tidak cuman terjadi di Indoensia, jadi tak heran jika media internasional yang masih belum terkontaminasi konspirasi global mengangkat pertanyaan "Apakah Psy-Ops dilancarkan ke parlemen?"

Jika Pansus Mafia Pajak memang menguntungkan satu pihak secara nyata, apakah kita boleh sirik iri dan dengki sehingga berhak membatalkan pembentukan Pansus dan membiarkan pengkhianat bangsa berkeliaran mempecundangi negara? Ingat! Kita sudah dipecundangi sehingga kita diproyeksikan menjadi pengimpor beras sementara Amerika akan menjadi eksportir beras nomor tiga dunia!

Setelah Hak Angket Mafia Pajak resmi ditolak, pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa harta Gayus tersebar di empat negara. Namun pernyataan pemerintah ini dibantah oleh Gayus. Kita engga tahu bagaimana cara pemerintah menelusuri dana Gayus sehingga Gayus sebagai pemilik dana justru membantahnya. Coba kalau Pansus Mafia Pajak benar-benar terwujud, pemerintah dan Gayus dapat diselidiki oleh DPR dan disiarkan langsung melalui televisi. Rakyat Indonesia dapat menilai, siapa yang benar dan siapa yang menjadi pengkhianat bangsa.

Secara pribadi, aku engga masalah jika para pengkhianat bangsa berhasil menutupi kebusukannya. Toh bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf. Tapi aku mengharapkan ada perubahan dalam system pemerintahan agar negeri ini tidak mati lemas melayani nafsu syahwat iblis pihak-pihak yang mempecundangi negara yang aku sebut sebagai Mafia Berkeley.

Jaman Soeharto mungkin kita bisa ikut makmur meskipun menjadi budak Mafia Berkeley yang tak lain adalah antek konspirasi global. Tapi jaman sudah berubah, konspirasi global yang semula bisa mendominasi tanpa lawan kini mendapatkan lawan yang sepadan. Kita harus memiliki kemandirian agar tidak larut terurai dan mati, karena saat ini sudah mulai berkembang wacana di media-media milik konspirasi global mengenai skenario matinya sebuah pemerintahan. Dan skenario yang paling favorit adalah skenario revolusi Prancis yang terkenal karena pemancungan leher Maria Antoinette dengan pisau Guilotine. Skenario ini menjadi favorit karena para konspirator bisa menutupi jejaknya dengan cara membiarkan antek-anteknya dibantai. Jadi wajar kalo pemerintahan yang disetir oleh antek-antek konspirasi akan terus memupuk kebencian rakyat kepada pemerintahnya yang tujuannya tak lain agar para antek juga ikut terbantai. Kebijakan membantai antek sendiri ini diambil setelah antek-antek di Mesir dan Tunisia dibiarkan hidup malah justru mengancam konspirasi mereka.

Membantai antek sendiri bukanlah hal yang baru. Semua yang mempelajari sejarah intelejen perang Afghanistan pasti tahu benar bahwa Al-Qaeda adalah pos penjagaan buatan CIA di Celah Kaibar untuk mengawasi suplay sejata dari Uni Soviet. Pendirian pos ini merupakan salah satu bantuan CIA untuk mendukung Pejuang Mujahidin. Akhirnya para Pejuang Mujahidin Afghanistan berhasil mengusir Tentara Soviet pada Februari 1989. Para Pejuang Mujahidin yang semula bersembuyi di gua-gua segera turun ke kota-kota untuk memproklamirkan kekuatan baru yang disebut Al-Qaeda. Kini, Amerika tengah terang-terangan dan mati-matian mencoba membantai antek mereka sendiri, bukan?

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini