21 Februari 2011

Perang Intelejen Global dan Mafia Barkeley!

Pada awalnya, Jasmine Revolution dilatarbelakangi oleh kemiskinan di Tunisia namun kini berkembang menjadi isu demokrasi yang merambah ke daratan China. Bunga kecil Jasmine sebagai simbol gerakan yang berdasarkan realitas kemiskinan telah berubah menjadi gerakan bermotif politik demokrasi. Ini adalah perkembangan revolusi yang tidak berasal dari pencetus Jasmine Revolution sendiri.

Bergesernya pergerakan dari semula isu kemiskinan menjadi isu demokrasi adalah sesuatu hal yang tidak baik dalam kacamata Blog Titen. Isu kemiskinan adalah isu yang nyata sehingga dapat menghasilkan solusi yang nyata pula. Sedangkan demokrasi adalah konsep buatan manusia yang tidak tertutup kemungkinan mengandung kekeliruan. Memang demokrasi berjalan dengan baik di Amerika, tapi apakah kultur orang Asia sama seperti orang Amerika sehinga menjamin demokrasi ala Amerika juga berjalan baik di Asia?

Negara-negara Arab yang sedang dilanda perubahan akan mencari model atau contoh pemerintahan bagi negaranya. Sentimen 'anti Amerika' akan membuat sistem demokrasi ala Amerika akan mendapat tantangan keras. Sehingga tak tertutup kemungkinan negara-negara arab tersebut akan meniru cara pemerintahan China. Terlebih mayoritas penduduk Arab adalah kaum muslim yang tentunya akrab dengan hadist "Tuntutlah ilmu walau ke negri China". Sehingga, kehebatan semangat demokrasi perlu dicetuskan di China agar mengalahkan citra hadist, jadi tak heran jika aroma Jasmine Revolution sepertinya juga tercium di Beijing untuk mendiskreditkan model pemerintahan China.

Dan seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya, bahwa China adalah tempat tumbuhnya kekuatan ekonomi baru yang melawan demokrasi korup dan demokrasi represif. Jasmine revolution di Beijing adalah sebuah serangan balik yang sudah diramalkan sebelumnya.

Tanda bahwa Jasmine Revolution mulai terkontaminasi adalah sejak diangkatnya isu minoritas-mayoritas antar kelompok Sunni dan Syiah. Kemudian berkembang menjadi isu demokrasi yang merambah negara-negara yang bukan sekutu Amerika, yaitu Iran dan Libya. Di negara-negara sekutu Amerika, kelompok oposisi baru nongol setelah revolusi berjalan, sedangkan di Iran dan Libya kaum oposisi berada di garis depan.

Amerika sebagai promotor demokrasi mulai mendapat tuduhan sebagai dalang Jasmine Revolution. Namun tuduhan ini sepi-sepi saja karena sangat tidak logis jika Jasmine Revolution didalangi Amerika sementara negara-negara yang diobrak-abrik adalah sekutu Amerika sendiri. Tapi tuduhan ini tentulah bukan tanpa dasar karena memang ada pihak-pihak yang akhirnya membonceng Jasmine Revolution untuk kepentingan demokrasi. inilah bentuk perang urat-syaraf (psy-war) intelejen.

Jika tekanan terhadap China semakin kuat maka Indonesia akan menjadi lahan empuk untuk pengalihan ataupun pembalasan dari kekuatan ekonomi baru. Hal tersebut karena Indonesia adalah representasi sistem demokrasi yang hanya menghasilkan para pejabat korup yang justru kian parah setelah mereformasi diri di tahun 1998. Dan kekuatan-kekuatan itu sudah memulai psy-war di Indonesia bukan?

Kita harus memiliki intelejen yang sejati dan mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Misalnya jika Washington Post mengabarkan adanya penurunan significant dari populasi ikan-ikan predator di laut maka orang awam akan berfikir bahwa mereka mungkin harus mengganti ikan Tuna dengan ikan teri. Sedangkan seorang intelejen akan mendatangi pakar biologi dan memperhitungkan adanya skenario jika kadar oksigen air laut berkurang akibat terputusnya siklus ekosistem laut!

Kemampuan intelejen itu juga sangat berguna bagi pembangunan. Perubahan iklim sudah mendapat perhatian serius di kalangan Intelejen sejak awal tahun 2010. Sementara itu, intelejen kita justru malah di-downgrade. Jadi tak heran jika Indonesia diramalkan menjadi importir beras  sedangkan Amerika akan menjadi eksportir beras nomor tiga di dunia! Dan tentu saja Indonesia adalah pangsa pasar beras yang menggiurkan, bukan? Itulah hasil kerjaan para Mafia Berkeley dalam mempecundangi pemerintah ... :(

Percuma kalo mau menyalahkan para Mafia Berkeley karena mereka "bertindak sesuai dengan aturan hukum". Yang bisa kita lakukan adalah menyeimbangkan nafsu birahi para Mafia Berkeley tersebut agar bangsa ini tidak mati lemas karena melayaninya. Jadi, pernah ditulis dalam blog Titen ini mengenai upaya mengembangkan lahan pertanian untuk tanaman non-beras yang ditujukan untuk industri bio-fuel atau sejenisnya. Upaya ini bisa digunakan sebagai alternatif agar petani tetap hidup dengan lahannya, bukan kalah bersaing harga besar.

Jadi, di Indonesia, kekuatan lama berada di dalam lingkaran pemerintahan sedangkan kekuatan baru berada di luar lingkaran pemerintahan. Mudah-mudahan pemerintah bisa bijak dalam mengelola negeri sehingga terhindar dari hal-hal yang buruk!

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini