23 Februari 2011

Penghambat Pembangunan: Indonesia Banget, Gitu Loh ...

Pidato presiden yang mengeluhkan kinerja Pemerintah Daerah sebagai pengambat pembangunan bukanlah hal yang baru. Sialnya, keluhan Presiden engga jadi heboh seperti keluhan Presiden tentang gaji dan kalah oleh riuhnya hak angket mafia pajak. Engga banyak media yang membahas mafia kebijakan pembangunan di daerah. Hal ini bisa dimaklumi karena mafia kebijakan pembangunan kelas kakap di pemerintah pusat masih bercokol, jadi wajar kalo mafia kebijakan kelas teri di daerah bukanlah hal yang menarik. Lebih keren kalo membahas mafia kebijakan pemerintah pusat yang telah menimbulkan ironi lebih dahsyat karena sukses menjebak Indonesia diproyeksi menjadi pengimpor beras tanpa ada perlindungan terhadap petani. 

Jika mafia kebijakan pemerintah pusat adalah orang-orang pintar menciptakan aturan hukum untuk melanggengkan kepentingan mereka, maka seharusnya pemerintah lebih cerdas memanfaatkan kepentingan mereka. Beruntung Indonesia memiliki banyak tukang kritik sehingga pembangunan masih ada yang memperhatikan, engga kayak Nigera yang ancur habis-habisan akibat ulah mafia kebijakan pemerintah pusatnya.

Pertanyaan terbesarnya, jika pemerintah pusat tidak bisa mengatasi mafia kebijakan kelas teri di daerah maka gimana mau mengatasi mafia kebijakan kelas kakap di pemerintah pusat?

Kegagalan pemerintah untuk mengatasi mafia kebijakan kelas kakap sudah terlihat ketika pemerintah mulai membonsai fungsi intelejen spionase. Hanya intelejen spionase yang mampu mengimbangi maupun menggembosi mafia kebijakan. Disamping itu, di dalam pemerintahan yang efektif, "sarapan utama" tiap pagi seorang Kepala Pemerintahan adalah President Daily Briefing yang dibuat oleh badan intelejennya. Dan dapat kita lihat bahwa badan intelejen kita dipimpin orang dari kepolisian, padahal kepolisian dididik sebagai intel reserse bukan intelejen spionase.

Coba kita liha Amerika Serikat. Di negeri ini ada banyak institusi negara yang menggunakan cara-cara intelejen. Dimulai dari CIA, NSA dan FBI. Meskipun sama-sama menjalankan pekerjaan intelejen, namun semua institusi tersebut tidak bisa digabung. FBI menjalankan tugas kepolisian dengan model intel reserse. Ketika FBI mencoba memasuki wilayah kerja CIA dengan menangkap orang-orang yang dicurigai sebagai anggota komunis, ribuan orang tak bersalah ditangkap dan dihukum tanpa proses peradilan yang adil. Kelakuan bodoh FBI ini menjadi sejarah buruk kepolisian Amerika Serikat. Akhirnya, FBI tidak diperkenankan melakukan kegiatan intelejen spionase dan terbatas pada intel reserse. Nah, di Indonesia, Badan Intelejen Negara malah diserahkan kepada kepolisian. Aneh bukan? Oleh karena itu, Mantan Kepala Badan Intelejen Negara, AM Hendropriyono menyatakan bahwa ada kesalahan manajemen badan intelejen kita.

Perbedaan utama antara intelejen ala CIA dengan dengan intelejen ala kepolisian adalah bahwa intelejen CIA bertujuan untuk menguasai keadaan atau menciptakan kondisi sedangkan intel-reserse polisi adalah untuk menangkap pejahatnya. Nah, dengan bercampur aduknya tugas kepolisian dan intelejen maka kita melihat kenyataan pahit di negeri ini, penjahatnya tak kunjung ditangkap dan keadaan pun diluar kendali! Hahaha ...

Intelejen spionase dan intelejen kepolisan memang tidak boleh dicampur aduk tapi harus dapat bekerja sama. Hal ini dicontohkan oleh kepolisan dan intelejen China dalam menghadapi aroma Jasmine Revolution. Dalam mencegah aksi demonstrasi Jasmine Revolution, polisi China tidak menggunakan peluru dan gas air mata serta pentungan. Hal ini tak lepas dari peran intelejen spionase yang memberikan gambaran mengenai bagaimana mengendalikan keadaan. Dengan keadaan yang terkendali, intel reserse dapat dengan mudah menjalankan tugasnya menangkap provokator.

Intelejen spionase akan menjalankan pendekatan-pendekatan ilmiah seperti ekonomi dan sosial, dengan pendekatan paling utama adalah pendekatan budaya. Pendekatan-pendekatan ini akan buyar jika disertai tuntutan untuk menangkap penjahat dengan pendekatan hukum. Sangat kecil kemungkinan intelejen spionase akan menggunakan pendekatan hukum sebab pendekatan ini adalah wewenang kepolisian. Sehingga sangat mengagetkan ketika AM Hendropriyono mengaku bahwa intelejen indonesia belum dapat bekerja karena menunggu aturan hukum! Apa-apaan ini? Sejak kapan dinas intelejen bergerak dalam aturan hukum? Bukankah Dinas Intelejen dibentuk karena disadari bahwa tidak ada hukum buatan manusia yang sempurna? Bener-bener negara sudah dipencundangi habis-habisan!

Mari menengok kembali ke jaman orde baru. Kebijakan ABRI Masuk Desa adalah usaha intelejen secara kultural untuk mencegah bentrok horizontal. Namun sayangnya pemerintah pusat tak mampu mengimbangi nafsu birahi mafia kebijakan alias mafia Berkeley sehingga pingsan di tahun 1998. Sialnya lagi, Mafia Barkeley berhasil menjadikan usaha-usaha mencegah bentrok sosial oleh militer sebagai tindakan represif anti demokrasi penyebab kegagalan pembangunan. Padahal otak udang para Mafia Berkeley yang engga mampu antisipasi kedatangan arus teknologi informasi itulah penyebab hancurnya struktur ekonomi tahun 1998. Jadilah militer sebagai kambing hitam kegagalan Orde Baru. Lebih sial lagi, Mafia Barkeley tetap bisa melenggang genit hingga sekarang sembari mempermainkan kasus Century dan Gayus.

Pertanyaan paling mendasar: Apakah sistem demokrasi menjamin pembangunan yang adil dan merata? Bukanlah demokrasi yang bertanggung jawab atas munculnya mafia demokrasi penyebab bentrok horizotal? Kenapa China yang tidak menerapkan demokrasi justru dapat mengalahkan pembangunan ekonomi di Amerika?

Perlu disadari perbedaan mendasar antara kebanyakan orang Amerika dengan kebanyakan orang Asia. Kebanyakan orang Amerika menilai bahwa agama adalah untuk mengatur kehidupan dunia yang tak jauh beda dengan aturan hukum undang-undang. Sedang kebanyakan orang Asia meyakini bahwa agama adalah jalan untuk mencapai kehidupan sesudah kematian.

Secara pribadi, aku lebih memilih jalan sebagai orang Asia karena dilandasi dengan semangat spiritualisme. Jika evolusi Darwin adalah benar maka hasil evolusi tertinggi spesies manusia adalah spiritualisme bukan cara berjalan diatas dua kaki maupun berpikir logika. Kalo manusia cuman bangga dengan kemampuan logikanya, maka ia sama seperti monyet yang juga bisa dilatih cara berpikir logika.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini