23 Februari 2011

Nasib Master Plan 2011-2025 yang malang

Harus diakui bahwa Raker Istana Bogor ini tidak dikomunikasikan dengan baik sehingga terkesan menjadi informasi angin lalu. Padahal siapapun yang ingin melihat bangsa ini maju maka Master Plan ini akan menjadi pusat perhatian. Tapi apa hendak dikata, banyak hal yang harus disadari oleh pemerintah. Menyadari bahwa pemerintah berada dalam posisi kepercayaan publik yang rendah adalah kesadaran pertama. Dengan menyadari akan hal ini, maka dapat disusun metode komunikasi untuk memanfaatkan momen-momen secara efektif.

Selain momen komunikasi, ada pula hal lain yang perlu diperhatikan yaitu cara komunikasi internal. Terlihat jelas bahwa presiden menjaga jarak dengan para audiens. Memang, gaya pidato yang menjaga jarak bukanlah gaya yang jelek, namun gaya seperti ini lebih cocok diberikan dalam urusan militer. Hal tersebut karena militer tidak perlu mengkaji perintah dari atasannya dan sang atasan sendiri akan memberikan perintah yang jelas sesuai dengan pangkat penerima perintah. Sedangkan dalam urusan pembangunan, diperlukan dialog, baik untuk mempertemukan pemahaman antara pemberi dan penerima perintah ataupun mengukur kemampuan penerima perintah.

Pidato Presiden akan menjadi lebih menarik dan memberikan pemahaman jika Presiden memberikan contoh. Tapi sepanjang pidato yang sekilas aku tongkrongin di TVRI, sama sekali tidak menyinggung contoh. Padahal kita harus mengakui kenyataan bahwa sebagian besar sarjana di Indonesia tidak dapat bekerja kalau tidak ada contoh!

Jadi, perkenankan aku kasih contoh. Misalnya pada saat Presiden menyinggung tentang insentif bagi kegiatan usaha industri yang memakai banyak tenaga kerja. Disini bisa diambil salah satu contoh jenis industri, misalnya industri rokok yang masih manual. Kemudian mulai diajak interaksi dengan audien dengan mengatakan, "Contohnya industri rokok. Ini banyak di daerah Kudus. Mana yang dari perwakilan kota kretek ini silakan acungkan jari ... bagaimana industri rokok di sana? Berapa banyak tenaga kerja terserap? Bagaimana kehidupan keseharian para tenaga kerja? Bagaimana siklus ekonomi di daerah pabrik rokok? Bagaimana pemerintah daerah mendukung pabrik rokok? ... Bagaimana dengan daerah lain? Surabaya misalnya ... berapa tenaga kerja yang terserap di Gang Dolly ..." (Eh jangan ding! ini contoh yang tidak boleh dicontoh! Koplak tenan ya ... :)

Tapi tidak adil kalo kita menuntut supaya Presiden menyisipkan sentuhan dialogis dalam pidatonya, toh Presiden memiliki gaya pidatonya sendiri. Tapi presiden 'kan bisa memiliki banyak staf yang bisa mewakili tipe pidato seperti di atas. Lagian usaha untuk melakukan pidato dialogis sudah dicontohkan oleh Menteri Negara BUMN yang meminta agar seluruh staf kementriannya dan para pimpinan BUMN untuk berdiri selama ia membacakan komitmen BUMN. Kalo perlu, putar kembali rekaman cara Soeharto berdialog dengan para petani, pasti dapat kita temukan bagaimana Soeharto memberikan contoh cara-cara pertanian sehingga kita bisa berswasembada beras kala itu.

Yang tidak kalah penting adalah bahwa hasil raker itu tidak terangkum dengan baik. Hasil raker masih terpecah-pecah dalam banyak program tanpa menyebutkan 'ruh' yang menjiwai keseluruhan program. Misalnya program kesejahteraan nelayan, program transport massal di DKI, program rumah sangat murah, program insentif industri penyerap tenaga kerja. Keempat program ini disampaikan sebagai point-point yang seakan masing-masing punya 'ruh' sendiri-sendiri. Sedangkan menurut pengamatanku yang cuma sekilas, raker itu sepertinya memiliki 'ruh' sebagai INVESTASI SOSIAL. Ingat, ini hanya pengamatan yang sekilas dan belum mencakup keseluruhan acara raker! Jangan di copy-paste kayak biasanya hehehe ...

Kita pasti pernah mendengar istilah "BERDIKARI" di jaman Soekarno, kita juga mendengar istilah "ERA TINGGAL LANDAS" di jaman Soeharto. Itulah ruh utama yang menjadi mainstream pembangunan yang ditanamkan oleh Soekarno dan Soeharto. Ruh utama itu disertai dengan ruh yang menjadi proses mencapai tujuan, diantaranya JAS MERAH dan STABILITAS NASIONAL. Jas Merah membuat Soekarno merangkul semua pihak yang berjasa dalam sejarah termasuk PKI. Stabilitas Nasional membuat Soeharto bisa menerapkan militerisme dalam setiap lini struktur masyarakat. INVESTASI SOSIAL adalah ruh proses juga yang bisa menginsiprasi persatuan antara kaum investor dengan masyarakat agar iklim usaha tidak didemo terus-terusan, karena investasi untuk kepentingan sosial bukannya kapitalis. Lalu apa menjadi ruh utama pembangunan kita saat ini?

Apakah REFORMASI bisa menjadi ruh sebuah pembangunan? Sayangnya tidak, reformasi hanya menggambarkan proses dan bukan hasil yang hendak di capai. Cobalah pemerintah menemukan ruh menjadi sumber seluruh kebijakan yang sudah dan akan diambil. Sebuah ruh yang bisa disebarkan melalui Twitter ataupun Facebook sehingga memberikan gambaran kemana pemerintah akan menuju. Ingat, ruh itu harus benar-benar menggambarkan kondisi pemerintah karena jika tidak maka hanya akan menjadi bahan tertawaan dan cemo'oh.

Lalu, ruh macam apa yang bisa dipakai pemerintahan sekarang? Sulit mencarinya karena selama ini pemerintah senang mengatakan hukum hukum dan hukum. Hukum ditujukan untuk menciptakan tatanan atau keteraturan sedangkan pembangunan adalah mendobrak satu tatanan untuk tercipta tatanan yang lebih baik dan berlangsung terus-menerus. Diperlukan kajian yang mungkin bisa mencapai waktu sampai dua bulan untuk merumuskannya. Masih ditambah lagi, cara penyampaian ruh tersebut juga harus melihat situasi dan kondisi agar tidak menjadi cemo'oh.

Wedeh ... kok lama-lama aku sok pinter yah ... ngga apa-apa dweh, buat promo iklan, sapa tahu ada pembaca Blog Titen yang jadi presiden, sapa tahu juga ada butuh konsultan methodist, hehehe ... *Jin iklan rokok pun berkata "Ngimpi!"

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini