17 Februari 2011

Kondisi Indonesia, Februari 2011

Apa hendak dikata, dunia sudah berubah. Isyu-isyu sistem monopoli kapitalis seperti semakin menunjukkan kebenaran sehingga gerakan-gerakan melawan korporatokrasi semakin mudah mendapatkan dukungan. Rezim-rezim represif dan sistem pemerintahan korup yang selama ini menjadi anjing penjaga setia korporatokrasi semakin mendapatkan tantangan, baik dari masyarakat maupun dari kekuatan ekonomi baru yang dibangun di negri yang menerapkan hukuman mati bagi pelaku korupsi dan suap, China.

Setelah melihat negara diperdaya oleh kerusuhan Cikeusik dan Temanggung, rasanya semakin kasihan melihat Pak Presiden yang terdiam dengan ancaman dari organisasi massa FPI. Kasihan pula dengan para pejabat Bank Century yang divonis bertahun-tahun dan denda bermilyar-milyar padahal tak menikmati dana kucuran Bailout. Kasihan pula dengan para ibu yang bingung memilih susu formula untuk balitanya. Kasihan pula dengan para cerdik cendekia yang dibikin pusing memikirkan Ahmadiyah. Kasihan dengan lembaga pengadilan yang sidangnya sering disertai kisruh di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Kasian, kasian, kasian ... betul, betul, betul?

Mendiamkan ancaman FPI adalah pilihan yang cukup bijak, tapi sayangnya, apapun reaksinya maka hasilnya akan sama saja. Jika pemerintah menanggapi maka akan muncul kesan bahwa FPI adalah organisasi yang sangat kuat dan mampu mengguncang pemerintahan. Mendiamkan ancaman dari FPI akan membuat masyarakat yang semula geram kepada FPI menjadi geram pula terhadap pemerintah. Kesan FPI kuat dan rasa geram itu akan muncul di kalangan masyarakat kelas menengah. Dan itulah rencana tahap kedua, bukan? Inilah yang disebut Blog Titen dengan "Perencanaan Strategis".

Ibu-ibu pejabat Bank Century yang didakwa penjara dan denda akan menjadi ikon kambing hitam akibat pemerintah yang engga becus ngurus Bank Century. Ibu-ibu yang khawatir dengan bakteri susu formula dilanda rasa jengkel akibat ulah pemerintah yang tak kunjung terbuka dan engga becus ngurus kesehatan warganya. Kaum ibu adalah pembujuk paling ampuh bagi kaum bapak. Ibu-ibu juga memiliki ikatan perasaan yang sangat kuat. Lagi-lagi, para ibu tersebut dari kalangan kelas menengah! Ingat kasus Bunda Prita?

Usaha agar pemerintah melakukan perbaikan iklim investasi yang fair udah dilancarkan sejak kasus Centrury, tapi ... udah ah ... segini dolo ...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

asem...ceritanya berhenti secara tiba-tiba

Alifadian Yuhaniz mengatakan...

Sori, belum saatnya. Sabar yah ...

Ada kesalahan di dalam gadget ini