10 Februari 2011

Kerusuhan Terorganisir Berkedok Agama menuju Jasmine Revolution

Akhirnya, “Pita Biru” yang disematkan pada para penyerang Jama’ah Ahmadiyah di Pandeglang ,mulai diangkat sebagai berita oleh Metro TV. Benar-benar jeli rupanya kini Metro TV, detail peristiwa memang harus di amati dengan objektif, tidak perlu buru-buru menyimpulkan “konflik antar umat beragama” sebelum kita tahu benar siapa sesungguhnya “Pasukan Pita Biru” ini.

Pasca bentrok di Pandeglang dan Temanggung, para analis banyak berdebat tentang konflik agama, hampir tidak ada yang mengatakan bahwa agama hanya dimanfaatkan untuk menciptakan kerusuhan. Makanya, pada saat acara Suara Anda di Metro TV membahas tentang konflik agama sebagai gejala revolusi senyap bangkitnya keyakinan bahwa agama lain adalah musuh, aku malah nge-tweet ke account @SUARAANDA_ begini: “Bukan Revolusi Senyap, tapi potensi konflik yang dikontrol”. Kini, jika Metro TV menayangkan adanya “Pasukan Biru” maka semua akan paham maksud dari tweet tersebut.

Lalu dari mana aku tahu kalo kerusuhan di Pandeglang adalah penyerbuan yang terencana? Gampang saja. Pertama, aku melihat pita biru itu sewaktu televisi menyangkan bentrokan meskipun aku tidak yakin. Kedua, orang yang kalap mengamuk karena merasa dihina tidak akan berperilaku seperti para penyerang di Pandeglang.  Yang kedua inilah yang bikin aku yakin klo penyerangan itu sesungguhnya tidak bermotif agama.

Pertanyaannya adalah, untuk apa menimbulkan konflik? Pertanyaan ini sesungguhnya harus dijawab oleh Badan Intelejen Negara, tapi sulit. Perlu diingat, polisi dididik untuk selalu curiga karena harus menjaga kemanan dan ketertiban. Tanpa kecurigaan, polisi takkan dapat melaksanakan tugasnya. Makanya jangan jengkel klo Anda tertangkap di lampu merah kemudian polisi akan mencari cacat kendaraan Anda. Karena memang seperti itulah seharusnya polisi bekerja!

Masalahnya, bisakah kita mengharapkan analisis intelejen dari seorang polisi? (kepala BIN dari kepolisian, ‘kan?). Sayang sekali, jawabannya adalah TIDAK! (dengan huruf besar plus tanda pentung). Intel polisi memiliki tugas yang observatif (memata-matai untuk mencari bukti) dan bukan analisis! Karena analsis harus dilakukan secara benar-benar objektif dan tidak boleh berdasarkan kecurigaan. Jadi jangan heran kalo di Twitter saya menulis: Maklum, kepala BIN-nya polisi, disuruh cari kelinci malah bawa musang babak belur yang mengerang “Oke, oke, aku kelinci!”
Lalu apa sebenarnya tujuan dari adanya kerusuhan berkedok agama itu?  Benarkah hanya untuk pengalihan isu? Tidak, pengalihan isu tidak menggunakan tema kerusuhan. Pengalihan isu mafia pajak adalah dengan menghidupkan lagi kambing hitam lama, yaitu Eyang Kakung Bibit dan Pak Lik Candra. Sedangkan kerusuhan justru lebih dilancarkan oleh kelompok yang menginginkan dibongkarnya kasus mafia pajak.

Kenapa kelompok pembongkar mafia memilih jalan kekerasan? Semula mereka melakukan pembongkaran kasus Gayus dengan harapan akan muncul system pemerintahan yang lebih fair. Namun karena kasus Gayus sudah hampir dapat dipastikan akan masuk peti es, maka itu dipilih jalan radikal. Kerusuhan itu dirancang untuk menunjukkan betapa buruk kinerja kepolisian dan negara. Dan rencana tersebut sangat berhasil, bukan? Hampir semua pihak mengumpat bahwa polisi telah bertindak bodoh dan negara tidak mampu memberikan perlindungan bagi warganya. Berbagai media massa berhasil mengangkat kasus di Pandeglang dan mengundang amarah banyak pihak. Tapi kasus tawuran pelajar yang juga menimbulkan korban jiwa di Sumatera seperti hilang dari media massa sehingga tidak ada yang prihatin dengan kondisi generasi muda bangsa.

Bagaimana cara menggiring media massa? Sekarang, kita lihat kasus Gayus yang nonton tenis di Bali. Wartawan olah raga yang memotretnya mengaku ada yang membicarakan wajah mirip Gayus di barisan penonton.  Wartawan inipun mencari wajah tersebut dan menemukannya. Akhirnya, foto Gayus nonton tenis pun beredar di media massa. Pertanyaannya, siapakah yang mulai mengatakan bahwa ada wajah mirip Gayus di barisan penonton? Seberapa besar kemungkinan Anda dapat mengenali wajah Gayus padahal benak Anda berisi pertandingan tenis? Ataukah ada seorang agen intelejen yang mulai menyebarkan desas-desus adanya wajah Gayus, sehingga seorang wartawan olah raga yang jauh dari kasus hukum dan politik, menjadi  terdorong untuk mencari wajah Gayus?

Dengan cara yang sama seperti di Bali, wajah Gayus  dapat tersimpan dengan baik di dalam benak orang Indonesia yang melihat wajah Gayus di luar negeri. Dengan cara yang sama pula, kasus wajah Gayus dapat mendominasi media massa. Dan itu semua adalah kerja kelas intelejen, bukan kelas intel polisi. Jika polisi mencoba melakukan tugas intelejen maka hasilnya akan seperti proses penangkapan Gayus di Singapura, tersiar kemana-mana.

Apakah agen intelejen yang menyebarkan desas-desus adanya wajah mirip Gayus dapat dituntut secara hukum? Tidak, bukan? Begitulah cara kerja intelejen. Jika polisi yang bekerja dalam ranah aturan hukum mencoba mengejar intelejen ini maka akan sangat sulit, bahkan mendekati mustahil. Kalau mengejar agen intelejen hasilnya cuma sia-sia, maka hal itu sebenarnya sudah lebih baik. Karena mengejar agen intelejen malah justru bisa menjadi boomerang bagi kepolisian. Hal ini sudah terlihat dalam penanganan kasus kerusuhan di Pandeglang, dimana polisi baru menahan beberapa ulama untuk dimintai keterangan namun sudah mendapatkan ancaman dari sebagian besar jawara dan ulama Banten.

Untuk melawan aksi intelejen, tidak mungkin dilakukan dalam ranah hukum, oleh karena itu kita mengenal istilah counter-intelligence.

Lalu, jika keburukan pemerintah sudah dipaparkan dan kerusuhan sudah dipancing, apa yang hendak dilakukan?  Tak lain dan tak bukan adalah untuk mempengaruhi kelompok masyarakat kelas menengah yang mudah digerakkan dengan social-media seperti Facebook dan Twitter. Sehingga bisa dilancarkan misi seperti pada Jasmine Revolution di Jazirah Arab. Tidaklah mudah untuk menggerakkan masyarakat kelas menengah. Terlebih dengan membanjirnya produk murah dari China sehingga membuat kelompok kelas menengah lebih bisa bertahan dalam ekonomi sulit dan malas bergerak melawan pemerintah. Namun dengan adanya berbagai kerusuhan, akan mudah memancing kelas menengah untuk turun ke jalan.

Yang menjadi masalah adalah jika terjadi gerakan besar-besaran dari kelompok kelas menengah maka masyarakat kelas bawah akan menjadi martir yang sempurna. Pada situasi saat ini, nelayan sudah berani mempertaruhkan nyawa untuk menantang ombak besar demi sesuap nasi. Tidak diperlukan waktu lama untuk membuat nelayan berani mati ini membawa bom dan berlari ke Istana Negara jika melihat adanya harapan dari gerakan masyarakat kelas menengah. Mereka berpikiran sederhana, daripada mati sia-sia di tengah laut lebih baik mati memperjuangkan harapan. Dan mereka ini bukan hanya dari kalangan nelayan, ada banyak kelompok masyarakat kelas bawah yang dapat melakukannya dalam kondisi inflasi global seperti sekarang ini.

Kelompok yang menghendaki pembongkaran mafia berkeinginan untuk bisa melaksanakan kegiatan ekonomi secara fair di Indonesia. Mereka akan mengikuti semua aturan dan taat membayar pajak asalkan dana pajak digunakan benar-benar untuk mensejahterakan masyarakat di lingkungan sekitar tempat mereka melakukan kegiatan ekonomi. Sehingga, kegiatan ekonomi mereka takkan terganggu oleh masyarakat sekitar. Inilah kredo kekuatan ekonomi baru yang tumbuh pasca tahun 2000.

Sedangkan kelompok yang melindungi mafia adalah kelompok lama yang menggunakan cara-cara kotor untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Kelompok ini sangat senang dengan pemerintahan yang represif sehingga kegiatan usahanya akan diamankan secara represif pula. Kelompok seperti ini tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga di Mesir dan Tunisia. Kelompok lama ini sudah terbukti tak mampu menahan serangan dari kelompok baru di Jazirah Arab meskipun pemerintah Amerika dan Israel sampai harus turun tangan langsung.

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel-artikel Blog Titen sebelumnya bahwa Indonesia bagaikan pelanduk diantara dua gajah yang sedang bertarung. Jika tidak berhati-hati, maka pelanduk dapat kegencet dan mati.

Mungkin belum terlambat bagi pemerintah untuk memperbaiki kinerja Badan Intelejen Negara agar bisa mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang bertarung di Indonesia. Sehingga dapat dirancang misi counter-intelligence ataupun tawaran kompromi untuk mencegah hal-hal yang jauh lebih buruk. Untuk melaksanakannya, maka langkah pertama adalah mengembalikan kepemimpinan BIN kepada militer.

Revolusi Mesir menjelang usai. Entah akan kemana lagi kekuatan Revolusi Jasmine akan bergerak. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan bergerak ke Indonesia, bukan?

2 komentar:

PlenyenK mengatakan...

Wah, senang bisa baca blog-mu Fed... Bagus!... Membuat pembaca berpikir di luar kotak, hehehehe... Untuk topik yang ini, sebenarnya revolusi yang akan dimainkan di Indonesia ujungnya dua, sebab bila dihitung kelompok menengah ini mungkin kekuatannya tidaklah begitu besar...

Justru yang aku lihat, revolusi ini malah rentan digunakan oleh person/organisasi yang dituju untuk direvolusi... Bisa jadi malah akan lahir pengukuhan atas kelompok-kelompok mafia dalam waktu yang sangat panjang... :-)

Alifadian Yuhaniz mengatakan...

Yups, kelompok menengah umumnya bakal cari aman-aman saja. Emang, konflik yang ada saat ini menggiring pada pengukuhan salah satu kelompok. Tapi blog ini didesain untuk bikin orang terdiam dan merenung, bukan bergerak membela salah satu kelompok manapun :D
Lha Blog-mu kok dibiarkan nganggur ki piye?

Ada kesalahan di dalam gadget ini