05 Februari 2011

Ilmu Kebenaran di era Informasi

Sueneng buanget rasanya mendengar kabar bahwa Harvard mulai mengubah kurikulumnya persis seperti Note yang aku tulis di account Facebook. Kritik pedas terhadap "Pertumbuhan Ekonomi" pun sudah direspon oleh Bernake yang mengatakan "Growth alone won't solve fiscal problems." Strategy recovery Amerika pun sudah mulai berubah, tidak lagi terlalu egois dengan kepentingan-kepetingannya. Bahkan mulai mempertimbangkan "Innovation Management" sebagai strategy mengusir resesi. Aku harap, para pengambil kebijakan dunia sudah mulai mengarahkan perubahan global pada bentuk keseimbangan baru alih-alih menciptakan persaingan baru, karena ancaman dunia bukanlah dari persaingan dagang melainkan perubahan iklim!

Meskipun latar belakang pendidikanku adalah engineering, tapi aku seneng bergaul dengan orang ekonomi karena orang-orang ekonomi lebih agresif, lebih mudah menyesuaikan diri dibanding orang-orang fisika. Makanya, pemikiranku tentang fisika sering berhadapan dengan jalan buntu sedang pemikiran ekonomi sedemikian mudah cair. Dengan catatan, "mudah cair" ini di luar negeri, bukan di negeri sendiri! Hahaha ... Kampret! :(

Dunia akan berubah dengan cepat, sedemikian cepat hingga kadang kita tak paham apa yang menjadi penyebab perubahan. Dapat dilihat dalam Revolusi Jasmine yang kini bergejolak di Jazirah Arab. Tak ada yang tahu, siapa yang berada di balik Revolusi Jasmine. Sekarang bukan lagi jaman dimana hanya perkataan orang-orang ternama yang akan didengar, namun perkataan yang mengandung kebenaran yang akan menjadi kekuatan massa. Tak peduli siapapun yang mengatakannya.

Di jaman informasi ini, informasi bohong dan palsu sangat mudah dikonfirmasi kepalsuannya. Informasi yang benar akan menjadi komoditas yang mahal, karena bisa menggerakkan massa seperti yang terjadi di Tunisia dan Mesir. Mungkin, era informasi ini adalah era dimana manusia dapat semakin mendekat pada kebenaran, yang berarti semakin mendekat kepada Tuhan.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini