01 Februari 2011

Bahkan Profesionalitas KPK pun Bisa dimanfaatkan

Kisruh antara KPK dan DPR langsung muncul ke permukaan pada Rapat Dengar Pendapat pasca penangkapan para politisi. Akhirnya, negara harus membiayai debat kusir sah dan tidaknya dua pimpinan KPK hadir di DPR.

Jika ada anggota DPR yang keberatan dengan kehadiran dua pimpinan KPK, maka KPK bisa saja mempersilakan dua pimpinannya untuk meninggalkan ruang sidang. Toh Eyang Kakung Bibit juga udah paham klo rapat ini adalah rapat politik, jadi ga masalah. Tapi ada anggota dewan lain yang ngotot "membela KPK" agar tidak memulangkan dua pimpinannya. Maka, jadilah perdebatan antar anggota dewan sendiri, KPK hanya menjadi boneka. Sehingga proses pemberantasan korupsi di Indonesia malah tidak dibahas sama sekali. Lebih jauh lagi, konflik awal antar anggota dewan ini akan terbawa-bawa sehingga membuat pembahasan selanjutnya  akan sulit untuk fokus pada proses pemberantasan korupsi.

Sulit diabaikan fakta bahwa protes anggota dewan terhadap pimpinan KPK adalah dampak dari ditangkapnya para politisi dalam kasus pemilihan gubernur Bank Indonesia. Dan inilah sesungguhnya akar dari tidak fokusnya pembahasan dewan terhadap proses pemberantasan korupsi di Indonesia karena parta-partai yang selama ini ngotot membongkar kasus Century akan kehilangan konsentrasinya. Pertanyaannya, apakah penangkapan ini adalah unsur yang sengaja atau tidak?

Jika melihat usia kasus suap pemilihan gumbernur BI ini, maka tak tertutup bagi munculnya kecurigaan bahwa penangkapan itu sengaja dilakukan untuk mendisorientasi pemberantasan korupsi di Indonesia. Posisi KPK yang mendapatkan kepercayaan besar dari masyarakat sebagai satu-satunya lembaga yang bersih dan profesional, akan menjadi pintu masuk yang ampuh untuk melakukan disorientasi pemberantasan korupsi.

Jika saja ada pihak-pihak yang sengaja membuka bukti-bukti penerimaan uang suap kepada para politisi dan menutup rapat bukti si pemberi suap, maka seprofesional apapun lembaga KPK tentu akan termakan olehnya. Maka timbullah konflik yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tapi engga perlu nyesel-nyesel amat, toh konflik ini akan bisa menggiring pada pembongkaran kasus korupsi antar anggota dewan sendiri meskipun menutupi kasus yang jauh lebih besar.

Melawan mafia yang sudah sedemikian kuat berurat berakar memang susah. Dan sudah menjadi 'hukum alam' bahwa mengalahkan pihak yang jauh lebih kuat adalah dengan cara-cara yang membuat pihak kuat merasa tidak kalah. Dan itu bukan perkara mudah.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini