14 Februari 2011

Akar Kesuburan Radikalisme

Sistem demokrasi yang kuncinya terletak pada kampanye, membuat pengerahan massa menjadi bisnis yang menarik. Munculah profesi Makelar Demokrasi  yang pekerjaannya adalah mengerahkan massa. Seiring dengan perkembangan dinamika politik, pengerahan massa tidak lagi ditujukan hanya untuk kampanye, melainkan juga untuk berdemonstrasi bahkan menciptakan radikalisme. Parahnya lagi, sepak terjang makelar demokrasi ini sudah juga dikenal oleh intelejen asing!

Jadi, apakah yang menyebabkan suburnya radikalisme di Indonesia pasca Reformasi? Maaf kalo aku memberikan jawaban “Demokrasi Kebablasan”. Tak heran jika Soekarno pernah membuat istilah “Demokrasi Terpimpin” dan Soeharto menelurkan kebijakan demokrasi represif yang tak lain adalah untuk mencegah terjadinya demokrasi yang kebablasan dan munculnya Makelar Demokrasi. BTW, di jaman orde baru, makelar demokrasi ini diberi nama oleh Soeharto dengan nama OTB alias Organisasi Tanpa Bentuk.

Para makelar demokrasi biasanya bergerak dengan tujuan-tujuan yang spesifik dan jelas, dari sekedar mendapatkan kekuatan tawar secara politis hingga mengangkat atau menjatuhkan seseorang atau kelompok. Tapi pada kerusuhan di Cikeusik dan Temanggung, sulit sekali ditemukan tujuan spesifiknya. Jika dilihat dari dampak peristiwa tersebut maka kita hanya menemukan bahwa negara semakin terlihat tak berdaya. Dan ini merupakan langkah awal untuk sebuah rencana besar mempengaruni masyarakat kelas menengah. Dampak lain adalah adanya pergantian jabatan di Kepolisian RI, klo yang satu ini no comments aja dweh!

Awalnya, makelar demokrasi bisa dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah makelar instan, mereka mengumpulkan massa dan memberikan upah kepada peserta massa. Makelar tipe ini bisanya bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana masyarakat hanya memikirkan uang. Makelar tipe kedua adalah makelar yang berbahaya karena bekerja dengan cara menghembuskan isu yang menghasut. Mereka biasanya bergerak di kantong-kantong radikalisme di daerah. Jadi jangan heran, demo yang berakhir ricuh dan bentrok kebanyakan terjadi di daerah, bukan di pusat.

Namun, sepertinya makelar tipe pertama sudah mulai mempelajari pola-pola radikal dan mereka mempelajarinya di Cikeusik. Para penyerang di Cikeusik bergerak dengan sedemikian terorganisir dan sangat berbeda dengan pelaku kerusuhan di Temanggung. Semangat militansi lebih terlihat di Temanggung daripada di Cikeusik. Kelihatannya, kerusuhan di Temanggung di gerakkan oleh makelar demokrasi tipe kedua, sedangkan di Cikeusik oleh makelar demokrasi tipe pertama yang mempelajari pola-pola radikalisme. Makelar demokrasi tipe pertama merasa perlu mempelajari radikalisme karena saat ini diperkotaan sudah banyak konflik tawuran yang potensial untuk digarap sebagai komoditas radikal.

Perbedaan yang paling mencolok antara Cikeusik dan Temanggung adalah jika para wartawan Metro TV yang mencoba meliput kerusuhan mendapat ancaman dari para perusuh di Temanggung, sedangkan cameramen di Cikeusik sepertinya tidak berusaha untuk melindungi diri, bahkan mencoba mencari sudut pengambilan gambar yang menarik. Para perusuh yang digerakkan oleh makelar tipe kedua biasanya memang akan menghindari kamera, sedangkan perusuh di Cikeusik justru malah merasa punya tampang photogenic. (Perhatikan tayangan tawuran di kota besar, para pelaku tawuran umumnya tidak berusaha menghalangi wartawan, bukan?)

Kerusuhan Cikeusik adalah tanda kemunculan pola baru dari Makelar Demokrasi perkotan yang harus dicermati karena berkaitan dengan radikalisme. Aku rasa, para pembaca blog ini tahu, ada momen besar yang berpotensi melanjutkan pelajaran Cikeusik ini, bukan?. Demikian pula dengan kerusuhan Temanggung yang menunjukkan bahwa makelar demokrasi radikal sudah tidak lagi bergerak di kantong-kantong radikal, melainkan sudah bisa menciptakan kerusuhan di daerah yang aman damai.

Sulit untuk mengetahui siapa-siapa yang menjadi pelaku makelar demokrasi. Yang pasti, mereka adalah kelompok-kelompok orang pintar yang menghabiskan waktu untuk mempelajari kondisi masyarakat. Sepertinya mereka tidak tergabung dalam satu kelompok jaringan sehingga aksi-aksi anarkis bersifat random. Akan menjadi berbahaya jika mereka tergabung dalam satu jaringan yang dikoordinir oleh intelejen asing, bukan?

Jika sebuah kampung yang penghuninya memiliki perbedaan latar belakang SARA dan hidup dengan damai, apakah itu berarti bahwa kampung ini bebas dari potensi konflik? Jika Anda mempelajari tulisan-tulisan Snouck Hurgronje, maka Anda akan memberikan jawaban “sama sekali tidak!”.  Jika disebarkan desas desus kemudian diskenariokan kejadian sebagai pemicu, maka kerusuhan kemungkinan akan pecah. Jika tulisan Hurgronje dipelajari ( DIPELAJARI bukan DIINGAT-INGAT layaknya pendidikan sejarah di sekolah!) maka kita akan sadar bahwa kerukunan kita pada dasarnya dilandasi oleh semangat menjaga ketentraman, bukan oleh sikap menerima perbedaan! Ingat itu!

Tidaklah sulit mendapatkan buku-buku Snouck Hurgronje.  Terlebih, buku ini sudah beredar secara internasional. Buku-buku ini pulalah yang menjadi dasar penyusunan operasi intelejen “Black Case” yang dilancarkan ke Indonesia pada tahun 60-an.

Pertanyaannya, apakah sebuah Surat Keputusan Bersama dapat mencegah munculnya aksi makelar demokrasi? Perlu disadari bahwa para makelar demokrasi itu beraksi karena uang dalam system demokrasi yang telah menumbuhkan hubungan “supply and demand”. Dan ini adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan karena sekali jiwa-jiwa radikal berhasi ditumbuhkan pada suatu komunitas maka akan sulit untuk menghapus radikalisme tersebut.

Lalu bagaimana melawan pertumbuhan radikalisme ini? Jika radikalisme ini ditumbuhkan dengan cara mempelajari tulisan Snouck Hurgronje maka untuk menemukan cara mengatasinya juga dengan cara mempelajari tulisan Snouck Hurgronje. Belanda dapat menjajah negeri kita sedemikian lama adalah juga tak lepas dari tulisan-tulisan Snouck Hurgronje. Kalau saja kita tidak dikuasai oleh Jepang, mungkin Indonesia akan menjadi negara seperti Australia dimana penduduk asli termarginalkan.

Mungkinkah kita bisa melawan pertumbuhan radikalisme? Soekarno berhasil mengendus kemunculan radikalisme melalui perjalanan panjang mengenal bangsanya sendiri. Soeharto mengendusnya melalui informasi dari para Economic Hit Man (EHM). Dan keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu keduanya memiliki jiwa sebagai negarawan yang dicirikan dengan tidak menunjukkan sikap takut kehilangan jabatan. Sehingga keduanya selalu berusaha mendengar dan merangkul semua pihak daripada sibuk membantah kritik dengan cara-cara konyol!

Sebagai penutup, perlu disampaikan bahwa "Jika sebuah pemerintahan mulai sering menyangkal pembeberan opini dan fakta dari warganya, itu adalah tanda bahwa analis intelejennya sudah tidak lagi bekerja. Karena analis intelejen tidak akan menyangkal informasi apapun kecuali aksinya sendiri."

Tahukah Anda, kenapa Obama memotong anggaran untuk dinas intelejennya di tahu 2011 ini? Karena dinas intelejen negara sudah dipencundangi oleh intelejen swasta! Kita juga perlu sadar, mengapa Obama memilih untuk memotong anggaran daripada meningkatkannya untuk melawan intelejen swasta.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini