19 Januari 2011

Sense of Economic Science

Ibnu Kaldhun began to build basic economic science to balance the social development. But modern economists use the science to gain more provit for their own and leave a lot of poverties in the other sides ...  cmiiw :)


Setelah mengirimkan proposalku ke The Economist agar Amerika membuka pasarnya bagi teknologi High End dari China, aku jadi sering mengamati bagemana perkembangan ekonomi Amerika. Dan memang, Amerika bergegas membuka diri terhadap China. Dengan terang-terangan Presiden Hu Jintau pun menyatakan harapannya agar produk high end China masuk ke Amerika. Aku pun berharap semoga produk high end China bisa menjadi "barang modal" bagi amerika untuk kembali membuka lapangan kerja baru dan menumbuhkan perekonomiannya sehingga perekonomian global kembali pada keadaan seimbang.

Engga cuman sampe di situ, pejabat moneter Amerika yang aku kritik karena mengambil kebijakan yang 'menyerang' ekonomi China pun sepertinya mulai dirombak. Tak heran jika penasehat Obama pun diganti.

Tentu saja perkembangan-perkembangan di atas disertai dengan harapan agar sekiranya ilmu ekonomi dapat kembali kepada fitrahnya, yaitu berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Konsekuensi yang harus dilaksanakan dalam rangka mewujudkan fitrah di atas, tentunya adalah perubahan parameter-parameter ekonomi yang radikal. Maka dari itu, aku mulai melempar ide untuk menyusun "distribution factor" dalam diskusi ekonomi global untuk mengukur hubungan pendapatan perkapita dengan pemerataan kesejahteraan.

Semoga ide ini akan bergerak ke arah yang benar, engga kayak ideku agar Amerika membuka diri terhadap produk high end China yang ditangkap masyarakat Amerika dengan istilah "Sputnik Fever". Padahal konsep awal ide sangatlah berbeda dengan "Sputnik Fever".

Bukan pertama kali sebuah ide dipelintir, dipolitisir, dibelokkan, dan apapun istilahnya. Blog Titen pernah mengusulkan untuk membentuk Observation and Command Center (OCC) yang kemudian terwujud menjadi Situasion Room di Bina Graha. OCC yang diusulkan adalah lembaga yang secara aktif mengkaji perkembangan, namun menjadi Situasion Room yang pasif menunggu laporan kinerja para menteri untuk diberi nilai. Cara kerja ini malah bikin situasi makin kisruh karena menjadi isu sentral dalam isu politis tentang reshufle kabinet.

Blog Titen cuma bisa maklum, toh blog ini ditulis oleh Sarjana Mesin yang lulus dengan IPK 2.4! sementara IPK adalah parameter umum untuk menilai apakah tulisan/omongan kita cerdas ato engga. Sudah gitu, tidak ada jabatan bergengsi yang melekat pada Blog Titen. Jadi klo idenya cuman dibajak dan disalahgunakan ... wwwaaaajjjaaaarrrrr! Lumayan bisa jadi bahan tertawaan!

Bagaimana pun, aku senang berucap, "Terimakasih Tuhan, telah Engkau damparkan aku di Teknik Mesin, ilmu yang mengkaji kebenaran pasti, bukan kebenaran atas dasar opini maupun statistik, sehingga mendekatkan aku pada kebenaran sejati-Mu."

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini