17 Januari 2011

Intelejen Asing dan Instruksi Presiden

Sewaktu memberikan komentar via FB ke Metro TV tentang keterlibatan intelejen asing dalam kasus Gayus, aku dikatain tolol dan lebay. Tapi kemudian nongol berita bahwa calo pembuat paspor untuk gayus adalah warga negara asing! Nah lo, ada apa gerangan? Hehehe ...

Adalah tidak mungkin bngi seorang analis untuk bisa menunjuk hidung karena cuma mengamati perkembangan dan mengidentifikasi adanya sistem yang engga sewajarnya ada. Dengan sedikit memperhatikan detail, dapat disimpulkan bahwa ada unsur-unsur intelejen asing yang berekerja dalam kasus Gayus dan sudah jauh menyusup ke dalam sistem.

Ingat Adam Malik? Keluarganya menolak mentah-mentah bahwa ia adalah agen CIA tapi dokumen CIA jelas-jelas menunjuk dia sebagai agennya. Dan seperti itulah cara intelejen merekrut agennya dimana agen yang direkrut kadang tidak merasa direkrut.

Kekuatan intelejen asing yang bermain di Indonesia engga cuman satu. Tapi ada baiknya juga, kekuatan-kekuatan intelejen itu menghendaki Indonesia memiliki pemerintahan yang efektif dan efisien. Hanya saja masing-masing menghendaki cara-cara yang berbeda.

Masing-masing kekuatan sudah menyadari betapa parah sistem pemeritahan di Indonesia akibat reformasi yang tidak terkontrol dengan baik, yang hanya bisa melahirkan kebijakan transaksional. Mengharapkan seorang pemimpin yang memiliki karakter diktator cukup sulit sebab jalan konstitusi menuju RI 1 adalah jalan yang penuh lika-liku politik transaksional kotor.

Macetnya recovery ekonomi dunia membuat Indonesia menjadi negeri yang amat seksi sehingga kekuatan asing tergoda untuk meminangnya. Lihat saja kelakuan vendor Blackberry yang langsung menyetujui tuntutan Menkominfo Tifatul Sembiring, ini adalah bukti bahwa Indonesia menjadi sangat diperhitungkan. RIM dengan blackberrynya udah terlanjur masuk sehingga engga ada pilihan lain. Di luar sana, masih banyak yang ingin masuk ke Indoesia, tapi nunggu pemerintahannya efektif dolo ...

Indonesia adalah negara berpenduduk besar yang tidak punya basis manufaktur yang kuat, tidak seperti India dan China. Dengan kata lain, Indonesia adalah perawan yang seksi dengan kekayaan alamnya.

Dengan penduduk banyak tanpa basis manufaktur tapi tetap mencetak pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia adalah market yang bener-bener bikin horny. Tapi di jaman penuh ketidakpastian ini, siapa yang berani menjamin bahwa konsumen Indonesia bakal tidak bernasib sama dengan konsumen Amerika yang luluh lantak akibat sub-prime mortgage? Apalagi dengan kualitas pemerintahan saat ini yang ..... (silakan komen sendiri)

Mudah-mudahan, Instruksi Presiden 17 Januari 2011 kemarin tidak seperti instruksi sebelumnya dalam kasus century dan KPK, tenggelam dalam retorika tanpa ada perbaikan sistem sama sekali. Seperti instruksi-instruksi sebelumnya, instrukti itu terasa mengambang. Entah untuk mengaburkan permasalahan sesunguhnya atau emang engga ngerti duduk perkaranya ... entahlah.

Terakhir, untuk bisa mengelola Indonesia dengan baik maka diperlukan orang-orang yang bener-bener memahami bangsa Indonesia. Jadi, kalo Anda mengaku sebagai orang jawa, apakah Anda memahami tentang jawa melebihi pemahaman Clifford Geertz?

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini