22 Januari 2011

Black Case Op: Musim Intelejen terus Berganti

Ternyata banyak yang mengira klo intelejen asing dalam kasus Gayus adalah orang seperti James Bond yang melakukan aksi heroik secara rahasia. Padahal intelejen asing itu lebih mirip John Perkins yang beraksi terang-terangan mempengaruhi orang lain untuk bertindak seperti yang ia inginkan. Makanya, Blog Titen bisa mengidentifikasinya meski engga detail.

Sedangkan perbedaan antara John Perkins dengan intelejen asing kasus Gayus adalah klo John Pekins memiliki akses langsung ke pemerintah sedangkan Intelejen asing kasus gayus tidak memilikinya.

John Perkins lebih sering disebut sebagai Economic Hit Man (EHM) daripada Intelejen. Rezim Soeharto memanfaatkan jasa EHM ini dalam pemerintahannya. Namun pada tahun 1992, Amerika mulai mengurangi anggaran intelejen sehingga berakhir pulalah fungsi EHM di Indonesia. Yang tersisa hanyalah antek-anteknya alias sebagai Mafia Berkeley yang tidak memiliki kapasitas sebagai EHM. Makanya pasca Soeharto pembangunan negeri kita terkesan stagnan. Orang-orang yang bergantung pada kreativitas EHM yang kini menduduki pemerintahan tak lain adalah mereka-mereka yang tidak tahu arah. Jadi jangan heran klo bangsa ini bertanya-tanya, mau dibawa kemana negeri ini?

Tahun 1992 adalah tahun yang penting dalam dunia intelejen dimana perang dingin telah berakhir. CIA diminta untuk merumuskan fungsi intelejen dalam 15 tahun kedepan, dan hasilnya adalah 3 jenis ancaman yaitu senjata pemusnah massal, terorisme dan perdagangan global. Ancaman ketiga, perdagangan global, membuat korporat-korporat global mulai membangun kesatuan intelejen swasta.

Sayangnya, kebanyakan kekuatan intelejen swasta dibangun oleh perwira-perwira intelejen yang dibesarkan dalam situasi perang dingin. Intelejen masa perang dingin dihadapkan pada musuh yang "nyata" sehingga menjadi error ketika membaca kekuatan laten ekonomi China. Walhasil, banyak korporasi kolaps saat kekuatan ekonomi China bangkit.

Para analis intelejen yang pada tahun 90-an masih berusia 20-an tahun, kini sudah mulai bisa membaca situasi. Mereka menyadari bahwa operasi-operasi intelejen seperti sabotase, penyadapan, penculikan dan sejenisnya, sudah tidak lagi efektif. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah berulang kali mengecoh agen-agen intelejen saat menjalankan operasi rahasia. Ada yang masih ingat dengan tewasnya lima perwira CIA di Afghanistan yang tertipu oleh informan Taliban?

Intelejen saat ini sadar bahwa pekerjaan mengumpulkan informasi secara rahasia sudah bukan lagi pekerjaan utama, alias sudah menjadi kisah klasik dunia intelejen. Kini pekerjaan intelejen benar-benar membutuhkan intelegensia/kecerdasan dimana mereka harus bisa memanfaatkan informasi yang ada guna menyebarkan pengaruh agar pihak lain melaksanakan misi sesuai keinginan para intelejen. Sasaran mereka adalah para politisi dan pejabat negara.

Dan sudah kita saksikan bagaimana seorang pejabat tinggi negara menimbulkan kekisruhan dengan meng-upload gambar paspor. Atau pegawai pemerintah yang lebih rendah membuat pernyataan yang menggegerkan usai vonis. Atau paspor Guyana yang ditinggalkan di email.  

Para pejabat sudah barang tentu akan berkelit kalo mereka dikerjai intelejen, dan itulah yang diharapkan oleh intelejen untuk menutupi keterlibatannya. Bahkan pejabat orde baru yang dengan jelas disebut-sebut oleh McAvoy dalam sebuiah wawancara terbuka  di tahun 2005 pun menolak tuduhan telah direkrut. Sehingga jika ada beberapa kelompok intelejen yang bersaing, maka satu sama lain akan saling berusaha membongkar kedok. Jadi jangan heran klo ada yang mengaku ke Gayus bahwa dirinya agen rahasia karena memang tujuannya untuk membongkar kedok intelejen lawan.

Apa yang dilaksanakan oleh intelejen jaman sekarang sebenarnya berasal dari misi intelejen di Jakarta tahun 1965-1966, atau dikenal dengan Black Case Operation (klo ga salah, hehehe ... ). Inilah misi CIA yang paling sukses dimana bisa menggerakkan berjuta-juta rakyat indonesia untuk berpesta pora membantai jutaan anggota PKI, tanpa perintah langsung dari CIA! Marshall Green menggambarkan kesuksesan ini dengan mengatakan, "Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu, kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai."

Black Case Operation telah menjadi kitab sucinya intelejen jaman sekarang. Kini, ribuan anggota CIA yang telah mempelajari metode pelaksanaan Black Case Operation telah tersebar seantero jagad, bekerja untuk berbagai negara maupun berbagai perusahaan. Siap melaksanakan metode tersebut dimana saja, termasuk di Indonesia. Itulah sebabnya, dokumen misi CIA di Indonesia pada tahun 1965-1966 tidak pernah di-decassified sampai sekarang, karena mengandung unsur yang sangat vital bagi kelangsungan dunia intelejen.

Oleh karena itu, pembahasan intelejen jaman sekarang sudah tidak lagi membahayakan. justru para intelejen itu menggunakan pembahasan semacam ini sebagai masukan baru untuk meng-upgrade misi mereka agar lebih adaptable, dan kita sendiri menjadi lebih aware. Dunia intelejen saat ini bukan lagi masalah kerahasiaan, melainkan masalah adu kecerdasan. Sebab kalo cuman main rahasia-rahasiaan, bakal dibobol oleh wikileaks!

Saat ini, para intelejen sepertinya tengah berundur diri mengingat ada banyak pejabat penting negara-negara maju yang digantikan, dipecat atau mengundurkan diri. Hal ini dapat berdampak pada kebijakan negara-negara maju yang akan mempengaruhi tujuan misi mereka. Mereka akan melihat perkembangan situasi dan melakukan adaptasi dengan misi masing-masing.

So, let's wait and see ...

BTW, tebak-tebakan yuk .... Amerika yang tiba-tiba membuka diri pada produk China adalah hasil pemikiran pemerintahan Obama atau hasil kerja intelejen ekonomi, hayo ....

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini