04 Oktober 2010

Secara Ekonomi, Kita Tersesat ....

Orang dari dari Harvard membuat kesimpulan penelitian yang ngawur tentang ukuran negara yang berkorelasi negatif terhadap keterbukaan perdagangan. Naskah dari Journal of Public Economy dengan judul “Openness, Country Size and Government” yang diterbitkan tahun 1997, menyatakan kesimpulan tersebut.

Pada awalnya, seorang mahasiswi cantik asal India yang kukenal lewat Facebook The Economist meminta tolong agar aku memberikan pandangan tentang artikel penelitian Harvard tersebut, untuk membantu dirinya dalam menyusun thesis tentang ekonomi Pakistan. Aneh juga mahasiswi satu ini, udah tahu klo aku jebolan Teknik Mesin tapi masih juga percaya dengan logika analisis ekonomiku, hehehe … Terserahlah, yang pasti mahasiswi ini terlalu cantik untuk diabaikan begitu saja ... (gubraks!)

Kepada mahasiswiku yang cantik ini, aku sampaikan bahwa penelitian dalam artikel Harvard itu mengasumsikan semua Negara di muka bumi menggunakan mahzab ekonomi kapitalis-liberal. Hal ini terlihat dari dasar persamaan yang dibangun berdasarkan utilitas individual dan mengabaikan utilitas komunal. Padahal kenyataannya, tidak semua Negara takluk oleh ilmunya Adam Smith, negara besar seperti China yang komunis sudah barang tentu menolak mentah-mentah paham kapitalis-liberalis. Sehingga pada kenyataannya, justru Negara besar bernama China menunjukkan betapa ngawur hasil penelitian Harvard tersebut.

Memang, persamaan yang dibangun dalam penelitian Harvard tersebut engga salah. Negara besar yang mencoba mati-matian mengadopsi paham ekonomi kapitalis-liberal terbukti harus terseok-seok menghadapi perdagangan bebas. Negara besar tersebut tak lain dan tak bukan adalah negeri kita sendiri, Indonesia. Dan Negara kecil terbukti meraih sukses besar dalam perdagangan bebas, dan Negara itu tak lain adalah tetangga kita sendiri, Singapura.

Mungkin ada baiknya kita belajar kepada China yang mampu menyatukan komunitas UKM menjadi satu industri besar yang kuat. Strategi penyatuan komunitas ini sebenarnya bukan hal yang asing di Indonesia, hanya saja termarginalkan oleh kelompok Mafia Barkeley yang memaksakan paham kapitalis-liberal yang cenderung individualis. Penyatuan komunitas ala Indonesia yang aku maksudkan di sini adalah KOPERASI.


Yah, mungkin Indonesia udah terlalu tersesat dalam rimba ekonomi. Aku harap negeri seperti India tidak akan mengalami pengalaman pahit yang sama. Jadi, kepada mahasiswiku yang cantik, aku akan mendorong dia agar tidak takut melawan arus pemikiran ekonomi barat. Siapa tahu dia bisa menyusul pendiri Greemen Bank, mendapat hadiah Nobel!

Sekarang saatnya menikmati lagu Kuch Kuch Hota Hai sambil baca-baca berita dari Pakistan untuk menulis kajian ekonomi Pakistan ... Setidaknya pemikiranku masih laku meskipun di negeri orang ....

2 komentar:

Irfan Fay mengatakan...

Hello Pak Titen,

Wah, beritanya bagus. Ini ada posting blog serupa, "Paten Ilmuwan Pemenang Nobel" di blog Senangs.

Liat juga facebook Senangs dan Twitter Senangs.

Keren deh. TQ!

Alifadian Yuhaniz mengatakan...

Terima Kasih Mas Irfan ...

Blog Nobelnya bagus, bikin bersemangat lagi neh ...

Ada kesalahan di dalam gadget ini