16 Oktober 2010

Menciptakan Perubahan dengan Profesionalitas, bukan Loyalitas.

Munculnya lagu SBY dalam ujian CPNS yang menuai cemooh, meneguhkan artikel Blog Titen yang ditulis pada Februari 2010. Kita pun tentunya masih ingat saat SBY berpesan agar para pembantunya memiliki loyalitas terhadap dirinya. Loyalitas yang menuai cemooh seperti inikah yang diharapkan SBY?

Loyalitas kepada pimpinan memang penting, terlebih bagi organisasi kejahatan macam Mafioso, Yakuza ataupun Triad. Sedang untuk menyelenggarakan Negara, lebih diutamakan profesionalitas dimana loyalitas ditujukan kepada bangsa dan Negara, bukan kepala negaranya.

Kenapa loyalitas kepada pemimpin negara tidak begitu penting? Karena struktur kepemimpinan Negara sudah diatur oleh undang-undang. Jadi tidak bisa seenaknya mengambil alih pimpinan. Sedangkan dalam organisasi mafioso, setiap saat anggota mafioso bisa membunuh pemimpinnya dan merebut kekuasaan.

Sistem loyalitas buta dapat membentuk system yang tak jauh beda dengan system kartel gaya mafia obat bius. Jadi Blog Titen merasa khawatir jika budaya loyalitas buta berkembang di Indonesia dan menginspirasi tumbuhnya berbagai macam organisasi kejahatan.

Setiap ada perkembangan budaya buruk di sekitar kita, sebagian dari kita akan menyarankan agar melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Namun sayangnya, tidak ada bukti empiris yang dapat menerangkan bagaimana perubahan individu dapat menciptakan sebuah perubahan besar dalam waktu singkat. Yang ada adalah bukti empiris yang menggambarkan bagaimana pemerintahan dapat mengubah budaya bangsanya.

Kelemahan besar dari anjuran untuk memulai perubahan dari diri sendiri adalah adanya resistensi dari system social yang dibentuk oleh pemerintah. Contoh yang paling nyata adalah Aung San Syu Kia atau Che Guevara, mereka memiliki pandangan moral untuk menciptakan perubahan namun pandangan tersebut baru sebatas konsep dan belum diimplementasi.

Mengapa Muhammad ditempatkan sebagai orang yang paling berpengaruh dalam peradaban manusia, padahal sebagian besar penduduk bumi memeluk agama yang berbasis pada ajaran Isa (Yesus)? Adalah karena Muhammad sendiri berhasil melembagakan pandangan moralnya di dalam Negara Islam yang ia pimpin sendiri. Sedangkan Isa (Yesus) sudah keburu dibunuh oleh tentara Romawi akibat fintah dari Bani Israel (Yahudi). Diperlukan pengorbanan yang tidak sedikit serta pertumpahan darah yang panjang sebelum ajaran Isa (Yesus) dilembagakan oleh Kerajaan Romawi.

Melembagakan perubahan tidak hanya dilaksanakan oleh Muhammad, Nelson Mandela pun melakukannya. Demikian pula dengan Winston Churchill, Mao Zedong, Chiang Kai Sek, dan seterusnya. Bahkan Soekarno dan Soeharto pun melakukannya di awal-awal pemerintahan, sebelum mereka berdua terjebak oleh loyalis-loyalis buta yang merangkap pula sebagai opportunis.

Perhatikan Firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Kenapa Allah menggunakan kata ganti “kaum” dan bukan menggunakan kata ganti individu?
Kelak, jika aku berkesempatan bisa ketemu sama Quraish Shihab, aku akan menanyakannya dan menuliskannya di Blog Titen ini hehehe ….. (ngomong-ngomong soal Shihab, aku pernah usul ke Metro TV untuk mewancarai kesulitan yang dialami Foke. Beberapa hari kemudian Najwa Shihab mewancarainya. Kayaknya aku harus berterima kasih pada keluarga Shihab kali ya …. Dan Metro TV tentunya! Hahahaha …….)

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini