15 Oktober 2010

Memantau Kinerja Kemenhut: Wasior Pasca Eksplorasi Via Google Earth

Blog Titen tidak tahu apakah penggunaan Google Earth oleh Pak Dhe Menteri Kehutanan terinspirasi oleh Blog Titen atau tidak. Tapi walau bagaimanapun, salut Buat Pak Dhe Menteri karena sepertinya baru satu menteri ini yang membuat terobosan dalam pekerjaannya. Biasanya para menteri melaksanakan pekerjaan secara seremonial, tapi kali ini Pak Dhe Menteri Kehutanan sepertinya tidak disertai dengan tai-tai protokoler. Ini benar-benar angin segar bagi kinerja kementrian KIB II.

Seperti yang disiarkan Metro TV saat Pak Menteri muter-muter pake helikopter di langit Wasior, terlihat banyak tempat telah mengalami erosi yang parah. Jika emang engga ada pembalakan liar maka areal erosi di wilayah Wasior ini adalah laboratorium yang sangat berharga untuk menyelidiki proses erosi alamiah. (Terima kasih Metro TV udah menayangkan gambar perbukitan Wasior dari udara).

Mungkin Blog Titen kurang ajar, karena melalui artikel ini Blog Titen menyarankan agar Pak Dhe Menteri menyempurnakan pekerjaanya dengan turun ke areal erosi dan menyelidiki areal erosive perbukitan Wasior. Penyelidikan juga akan mengklarifikasi pernyataan Pak Dhe Mentri Lingkungan Hidup yang menuduh gempa sebagai biang kerok erosi. Jika benar tanah menjadi rawan erosi akibat gempa, apakah daerah lain selain Wasior juga mengalami erosi parah yang sama? Tentunya dampak gempa engga bakal terlokalisir di area sekitar Wasior saja, bukan?

Pak Dhe Menteri Kehutanan juga harus bisa menjelaskan asal kayu-kayu gelondongan yang membentuk “bendungan erosi” dan membuktikan bahwa kayu-kayu tersebut bukan hasil pembalakan liar. Penjelasan yang logis dapat membungkam pihak-pihak yang berspekulasi tentang adanya pembalakan liar, bukan?

Hasil penyelidikan yang paling penting adalah identifikasi karakter perbukitan yang rawan erosi. Hasil identifikasi ini akan sangat berguna untuk mengkaji resiko hutan di perbukitan di seluruh Indonesia, selanjutnya bisa disusun rencana pencegahan agar tragedy Wasior tidak terulang. Sebenarnya pekerjaan ini lebih cocok dilaksanakan oleh Situasion Room (OCC) Bina Graha karena melibatkan banyak pihak. Tapi kelihatannya Eyang Kuntoro sudah terlalu sepuh untuk bertindak gesit dalam memimpin Bina Graha, jadi Pak Dhe Menteri Kehutanan-lah yang bisa menggantikannya untuk satu masalah ini. Dan mungkin Pak Dhe Mentri Kehutanan akan menjadi “pahlawan” bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Terakhir, Blog Titen mendukung terobosan-terobosan untuk menunjukkan bahwa bekerja untuk negara bukanlah rangkaian seremonial, membual dan  tidur di dalam ruangan ber-AC. Bekerja untuk Negara juga harus berani kotor,  berkeringat, mengalami keletihan serta tidak manja minta diperlakukan sebagai warga terhormat.

By the way any way bus way, kalo Pak Dhe Menteri Kehutanan terinspirasi oleh Blog Titen maka harus dikaji ulang penilaian bahwa pemerintah tuli terhadap masukan dari anak negeri. Ini merupakan berita bagus sebab anak negeri sendirilah yang tahu kebutuhan negeri sendiri, bukan para ahli dari Harvard maupun Oxford.

Maju trus Kemenhut!

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini