10 Oktober 2010

Kekacauan Sosial: Peringatan yang tidak Diindahkan

Membaca lagi artikel FTA ASEAN-CHINA: Terlambatkah Kita Menyadari Perubahan Struktur Sosial? membuat aku bertanya-tanya, kenapa tanda-tanda perubahan struktur sosial yang sedemikian gamblang tidak mendapatkan respon yang layak?

Apakah cuma Blog Titen yang memberikan peringatan sehingga tidak bisa menjangkau para pengambil kebijakan? Kayaknya banyak kok yang kasih peringatan. Tapi kok ya engga ada respon yah ...

Harus diakui, peringatan di Blog Titen engga kasih gambaran yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan perubahan struktur sosial. Ini emang karena Blog Titen belum menemukan cara bagaimana menunjukkan perubahan struktur sosial melalui media blog. Apakah karena hal seperti ini sehingga peringatan akan adanya perubahan struktur sosial menjadi tidak tersampaikan?

Disisi lain, klo ngeliat pemerintah yang hobinya membela diri demi pencitraan, wajar saja klo peringatan dari pinggiran macam ini engga dipedulikan. Pembelaan diri pemerintah adalah wujud penolakan terhadap berbagai masukan dan peringatan dari anak negeri. Engga cukup membela diri, justru acapkali pemerintah menuduh para pemberi masukan, peringatan dan kritikan sebagai Barisan Sakit Hati. Pemberian label Barisan Sakit Hati ini adalah bentuk pernyataan bermusuhan terhadap para pemberi masukan peringatan dan kritikan, padahal katanya pemerintah menerapkan zero enemy policy. Dimana konsistensi antara hati, mulut dan tindakan?

Masih ada sisi lain yang membuat pemerintah tidak peka dengan permasalahan domestik, yaitu kebiasaan untuk lebih patuh terhadap intelektual produk asing daripada negeri sendiri. Hal ini terlihat dari kebijakan BLT yang dihentikan setelah ada penilaian dari intelektual asing, padahal sudah banyak intelektual negeri sendiri yang sudah memperingatkan sebelumnya.

Mereka-mereka yang belajar di negeri asing sesungguhnya cukup mempelajari cara berpikirnya atau metodanya saja, bukan memperdalam materi pelajarannya. Sebab materi pelajaran mereka adalah materi untuk negeri mereka sendiri, bukan untuk negeri kita. Klo materi itu dipaksakan ke negri kita maka hasilnya adalah berbagai macam salah urus.

Para intelektual produk asing memang cerdas, tapi belum tentu pintar mengaplikasikan di negeri sendiri. Sebab mereka lebih memahami bangsa asing, bukan bangsa sendiri. Sialnya lagi, mereka bisa-bisa lebih memuja bangsa asing daripada bangsa sendiri.


Mungkin keberhasilan China menguasai perdagangan dunia adalah karena menteri perdagangannya tidak pernah makan genteng kampus yang memuja Adam Smith dan Keynesian, sehingga ia bisa melihat kelemahan negara-negara yang memuja doktrin ekonomi liberal.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini