09 Oktober 2010

Bola dan Politik: Pencitraan yang Gagal?

Melihat senyum SBY yang sedemikian lebar manakala Timnas PSSI berhasil membobol gawang Tim Uruguay, membuatku berpikir, jangan-jangan SBY mencoba meniru strategy pencitraan ala Nelson Mandela.

Pada awal masa pemerintahannya, Nelson Mandela menghadapi situasi  yang berpotensi menimbulkan  perpecahan perang saudara antara kaum kulit putih dengan kaum kulit hitam. Mandela pun melakukan berbagai kebijakan simpatik, mulai dari memotong gajinya sendiri untuk disumbangkan pada kaum miskin kulit hitam hingga melawan mayoritas kulit hitam di DPR yang mencoba menyudutkan kaum kulit putih.

Salah satu strategy yang paling efektif adalah dengan memanfaatkan semangat olah raga. Saat itu, tim Rugby yang didominasi orang kulit putih, memiliki prestasi buruk di tingkat internasional. Presiden Mandela memberikan dukungan penuh pada tim Rugby dan akhirnya berhasil menjuarai turnamen internasional, dimana Mandela menyaksikan secara langsung pertandingan finalnya. Ia menyalami pemain Afrika Selatan maupun pemain lawan (klo ga salah dari New Zealand) sebelum pertandingan, persis seperti yang dilakukan SBY.

Hasilnya, tim Afrika Selatan berhasil memenangkan pertandingan. Rakyat Afrika Selatan, baik yang berkulit hitam maupun putih, membaur dalam euphoria kemenangan dan membentuk ikatan nasionalisme yang tidak membedakan warna kulit. Sebuah strategy yang hebat untuk menyatukan sebuah bangsa yang terancam pecah akibat perbedaan warna kulit.

Tapi hasil antara Timnas Indonesia dan Timnas Uruguay tidak seperti hasil di Afrika Selatan. Timnas Indonesia dibantai habis-habisan di depan mata Presiden. Pencitraan ala Nelson Mandela pun buyar tak karuan.

Menyusun strategi pencitraan melalui olah raga tidak akan sama seperti menyusun strategi kemenangan pemilu, sebab kemanangan pemilu bisa dibeli dengan uang sedangkan sportifitas tidak berorientasi pada uang. Penyusunan rencana strategy pemanfaatan kegiatan olahraga adalah sebuah perencanaan strategis, bukan perencanaan model juru masak.

Dalam hal strategy pencitraan ala Nelson Mandela, SBY bukanlah sosok yang tepat untuk menirunya.  Terlalu banyak perbedaan karakter antara SBY dengan Nelson Mandela.  Disamping itu, pertandingan bola antara Indonesia vs Uruguay bukanlah jenis pertandingan yang dapat dimanfaatkan untuk strategy pencitraan. Lagi pula, para pembantu SBY sepertinya tidak memahami perencanaan strategis. Jadi wajar jika dalam penyusunan rencana pencitraan melalui laga Indonesia vs Uruguay, para penyusun rencana tidak mempertanyakan "Apa yang akan dilakukan Mandela jika Tim Afrika Selatan kalah?"

Jika Tim Afrika Selatan kalah, mungkin Mandela akan mengatakan kepada rakyatnya, "Kini kita rasakan getirnya kalah sebagai satu Negara, Afrika Selatan".  Pernyataan ini bisa mendorong rakyat Afrika Selatan untuk bahu membahu agar tidak kalah di tahun mendatang, nasionalisme dan persatuan tetap akan terbangun meski kalah dalam pertandingan.  Jika SBY mengatakan hal yang sama pasca dibantai Uruguay, justru cacian dan makian yang akan ia dapatkan. Itulah perbedaan Mandela dengan SBY, dan itulah uniknya perencanaan strategis ...

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini