14 Oktober 2010

Bangsa yang Haus akan Inspirasi

Menyaksikan upaya penyelamatan 33 penambang emas-tembaga di Chili yang sedemikian dramatis mendapat perhatian seluruh bangsa Chili, mengingatkan aku pada kemenangan Tim Rugby Afrika Selatan.  Penyelamatan penambang dan kemenangan tim rugby sama-sama menjadi inspirasi bagi ikatan nasionalisme warga negara. Inspirasi seperti inilah yang kini sangat dibutuhkan oleh Indonesia.

Inspirasi nasionalisme akan menjadi ‘bahan bakar’ utama bagi setiap elemen bangsa dalam melawan berbagai keterbatasa demi untuk membangun Negara. Persis seperti pertanyaan Nelson Mandela yang berbunyi How to get them to be better than they think they can be? dan Mandela menjawab sendiri pertanyaannya dengan “Inspiration”. Sehingga puisi berjudul “Invictus” yang menginspirasi Nelson Mandela untuk membangun Afrika Selatan, menjadi judul film yang mengisahkan perjuangan Nelson Mandela dalam memberikan inspirasi bagi warga Afrika Selatan.

Kini, Afrika Selatan yang semula terancam oleh perang sudara akibat perbedaan warna kulit, telah mampu mensejajarkan diri dengan Negara-negara maju dengan dipercaya sebagai penyelenggara World Cup 2010. Tingginya kriminalitas Afrika Selatan di tahun 90-an membayangi pelaksanaan World Cup 2010 sehingga dunia sinis dengan pelaksanaannya. Ternyata, FIFA pun mengakui bahwa prestasi keamanan World Cup South Africa 2010 adalah yang terbaik. Ini tak lepas dari hasil kerja keras Nelson Mandela dalam membangun ikatan nasional sehingga bangsa Afrika Selatan dapat bersatu padu mengamankan penyelenggaraan World Cup 2010.

Tak heran jika Theme Song World Cup 2010 yang berjudul “Waving Flag”, sangat terasa ‘sentuhan’ Nelson Mandela-nya. Dan Waving Flag bukan hanya untuk menginspirasi Afrika Selatan tapi untuk menginspirasi dunia:

Give me freedom, give me fire, give me reason, take me higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin , as we lose our inhabition,
Celebration its around us, every nation, all around us

Singin forever young, singin songs underneath that sun
Lets rejoice in the beautiful game.
And together at the end of the day.

WE ALL SAY

When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom Just like a wavin’ flag
And then it goes back
Membaca kisah perjuangan Mandela pula, kita bisa menyadari bahwa Mandela tidak menunggu rakyat kulit hitam maupun putih  Afrika Selatan untuk berubah dari semula bermusuhan menjadi bersatu padu. Mandela sendirilah yang mendorong, mempelopori dan memberikan contoh bagi perubahan rakyatnya. Sedangkan di Indoensia kadang muncul pemikiran bahwa pembangunan sangat sulit dilaksanakan karena budaya rakyat Indonesia yang jelek. Pemikiran seperti ini harus segera disingkirkan, Nelson Mandela telah membuktikan bahwa sebuah pemerintahan dapat mengubah budaya rakyatnya.

Sangat jelas terlihat bahwa Indonesia sangat membutuhkan inspirasi yang dapat mendorong seluruh elemen bangsa untuk berubah dan mendobrak segala keterbatasan untuk membangun Negara. Selama ini kita sering mendengar para birokrat yang berkilah “kekurangan anggaran” sehingga membenarkan tindakannya untuk tidak maksimal dalam melaksanakan pembangunan. Kebiasaan ini harus segera dimusnahkan, kita tidak bisa terus menerus mengharap hujan emas dari langit, kita harus bisa memanfaatkan setiap “batu bata” yang ada untuk membangun negeri.

Bisa kita saksikan saat ini, betapa sebagian elemen bangsa Indonesia saling tawuran satu sama lain. Kita juga saksikan banyak pihak yang menunda dan menghindar dengan berkilah “menurut peraturan” atau “menunggu dari pusat” dan sejenisnya. Dimanakah inspirasi yang mempererat nasionalisme dan membangun effort untuk mendobrak segala keterbatasan?

Mungkin karena negeri ini sedang berorientasi pada pembangunan ekonomi sehingga semuanya ditujukan pada peningkatan kekayaan materi sehingga mengabaikan pembangunan untuk kekayaan jiwa. Pembangunan yang beorientasi pada materi hanya akan menyuburkan korupsi. Ada baiknya jika para pakar ekonomi kita didampingi oleh budayawan dan pakar sosiologi, agar dapat membangun jiwa bangsa Indonesia, agar dapat memahami makna “efek psikologis yang berdampak sistemik” hahaha …

By the way any way bus way, klo artikel ini ditutup sampe sekian kayaknya Blog Titen cuman bisa mbacot (ngomong) dan engga bisa kasih usulan solusi yah ….. Oke deh, kita lanjutkan artikelnya.

Dalam artikel sebelumnya, Blog Titen mengusulkan agar pembangunan beorientasi pada pertanian dan kelautan. Jadi artikel ini dilanjutkan dengan pembahasan bidang pertanian.

Apakah ada penelitian yang menunjukkan berapa minimal luas tanah garapan pentani agar petani bisa hidup layak? Rasanya, penelitian semacam ini dapat menjadi pangkal pengambilan kebijakan yang bertujuan untuk mensejahterakan petani (atau jangan-jangan malah belum ada penelitian macam ini). Jadi usaha-usaha untuk memperlancar distribusi pupuk maupun penelitian bibit unggul takkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani jika luas tanah garapan petani tidak cukup untuk mensejahterakannya.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan garapan petani, mungkin kita bisa bikin system penanaman dalam pot seperti gambar berikut:
 
Dengan penanaman sesuai gambar di atas, maka jumlah tanaman yang ditanam bisa jauh lebih banyak. Tapi bukan berarti gambar di atas bisa diaplikasikan begitu saja, perlu kajian dari varietas tanaman yang bisa ditanam dalam pot, kemungkinan pola serangan hama, peraturan perundangan yang berlaku hingga keberpihakan pemerintah. Jadi jangan dicopy-paste seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.

Karena penulis Blog Titen adalah Sarjana Mesin, maka kurang afdol jika konstruksi penanaman di atas tidak dikaji oleh Sarjana Pertanian. Sarjana Mesin cuma dapat menyumbangkan konstruksi untuk mengatasi keterbatasan lahan, lahan yang engga subur, sistem distribusi air termasuk konstruksi untuk mengolah limbah pupuk dan pestisida. Lagian, konstruksi ini membuat tanaman yang di atas bisa bebas kebanjiran, hahaha ….

Jika pola penanaman dalam pot itu berhasil, maka bangsa Indonesia bisa menjadi pioneer dalam menangani masalah pengalihan fungsi hutan untuk tanaman bahan biofuel yang akhir-akhir ini banyak diprotes oleh aktivis lingkungan hidup dunia. Peningkatan hasil pertanian harus diikuti dengan industry pengolahan hasil pertanian sehingga semakin banyak eleman bangsa yang terlibat dalam pembangunan berbasis pertanian ini. Makin banyak elemen bangsa yang terlibat, makin kuat pula ikatan nasionalisme kita.

Saat ini, kebanggaan bangsa Indonesia atas kekayaan alamnya telah luntur akibat penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis asing. Peningkatan industry berbasis pertanian ini bisa menjadi sumber inspirasi bangsa  untuk membangkitkan lagi kebanggaan atas kekayan alam Indonesia.

Ah sudahlah, capek nulis terus. Dengerin Waving Flag aja yuks ….

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini