23 September 2010

Terrorism Psywar Itupun sudah Diidentifikasi Intelejen Militer

Di acara TV One, seorang petinggi militer menduga bahwa teroris menyerang institusi-institusi yang menjadi sumber ketidakadilan. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati masyarakat (psywar). Hanya intelejen militer-lah yang dapat membaca fenomena ini, karena intelejen militer memiliki awareness/concern terhadap  isu-isu strategis, bukan sekedar penyelidikan kejahatan seperti layaknya intel polisi.

Penyerangan pos polisi di Tangerang oleh sekelompok orang tanpa menggunakan senjata api adalah bentuk dugaan ini. Penyerangan kecil yang sukses membuat beberapa anggota polisi pontang-panting akan menginsipirasi gerakan perlawanan terhadap kepolisian.

Penilaian buruk terhadap institusi penegak keadilan di Indonesia, serta perilaku para politisi karbitan yang membuat geram, akan menjadi kambing hitam yang empuk untuk dijadikan serangan teroris. Kebangkrutan akibat FTA serta bencana kebakaran, banjir dan seterusnya, banyak menghancurkan sendi-sendi perekonomian membuat masyarakat terjebak dalam berbagai bentuk hutang sehingga semakin tidak punya banyak pilihan. Serangan teroris yang tepat sasaran tanpa menimbulkan kerugian di pihak masyarakat awam, bukan mustahil akan menuai legitimasi dari masyarakat........... sekali lagi, jika dugaan dan kecurigaan itu BENAR.

Artikel ini bukan untuk mendukung para teroris.

Bukan pula untuk "melindungi" SBY karena tujuan terorisme itu bukan untuk menjatuhkan SBY dalam arti denotatif.

Pengungkapan ini bukan berarti akan menghentikan para teroris, jika teroris benar-benar merencanakan hal di atas. Terorisme bukanlah tindakan sporadis seperti layaknya kejahatan kriminal, melainkan tindakan yang terencana untuk mencapai tujuan tertentu. Pengungkapan ini bisa jadi justru akan membuat para teroris melaksanakan Plan B yang jauh lebih canggih.

Bagaimanapun, Plan B belum perlu dilaksanakan, karena tujuan terorisme masih dapat tersimpan rapi dan jauh dari dugaan kebanyakan masyarakat.

Tulisan ini hanya untuk membuat para pembaca Blog Titen menjadi lebih aware dan siap menghadapi kemungkinan terburuk pasca berakhirnya misi terorisme ..... alias menjadi lamunan tapi relevan hahahaha ...


Up date: BAHKAN DPR PUN UDAH MULAI MENCELA KEPOLISIAN

Guyonan di Tengah Uji Kelayakan Agus Suhartono

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ditengah-tengah uji kepatutan dan kelayakan calon Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono yang dimulai sejak pagi tadi, hingga siang ini terdengar celutukan-celutukan lucu yang terlontar sesama anggota dewan. Celutukan muncul ketika pimpinan sidang dialihkan dari Ketua Komisi Pertahanan Mahfudz Siddik ke Wakilnya, Tubagus Hasanuddin. Begitu mendapat palu sidang sebagai tanda peralihan pimpinan, Hasanuddin, eks sekretaris militer Presiden ini melanjutkan persidangan.

"Terima kasih dan atas izin pimpinan sidang sebelumnya saya akan memimpin sidang selanjutnya," kata dia di tengah-tengah peserta sidang yang tampak mulai banyak yang mengantuk. "Biasanya kalau sama Angkatan Darat ungkapan terima kasih adalah seluas-luasnya, kalau Angkatan Udara setinggi-tingginya, kalau Angkatan Laut sedalam-dalamnya," kata purnawirawan TNI ini.

"Kalau polisi sebanyak-banyaknya," timpal Effendi Choirie sesaat sebelum Hasanuddin mempersilakan beberapa anggota Dewan untuk bertanya. Tawa pun menggelegar di ruang sidang.
Belum selesai tawa peserta sidang , celutukan lain muncul, "Kalau polisi sebesar-besarnya." Tawa mereka pun makin panjang.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini