04 September 2010

Peraturan Pengadaan Barang Pemerintah: Pembodohan Bangsa Indonesia?

Sewaktu melakukan inspeksi Genset di sebuah instansi pemerintah, tanpa sengaja aku memperhatikan kode nomer seri mesin. Kode ini menarik perhatian karena merupakan kode yang diberikan untuk mesin yang diproduksi sebelum tahun 2000. Sedangkan para pegawai instansi tersebut mengatakan bahwa genset itu baru selesai dilelangkan beberapa bulan yang lalu. Maka aku ambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar genset ini adalah genset rekondisi, bukan genset baru. Yah, inilah hasil pengadaan dengan sistem LELANG.

Aku engga tahu apa yang menjadi dasar dari pemerintah menyusun sistem pengadaan dengan cara lelang terbuka. Lelang adalah menciptakan suasana kompetisi, padahal bangsa Indonesia tidak memiliki budaya berkompetisi. Justru bangsa Indonesia memiliki sistem kekerabatan yang sangat erat. Jadi tak heran jika sistem kompetisi membuat bangsa ini makin tidak karuan. Lihat saja betapa banyak kekacauan yang ditimbulkan oleh sistem kompetisi Pilkada!

Sistem lelang sangat tepat diterapkan pada masyarakat yang kompetitif seperti pada masyarakat barat. Dan masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat barat. Mungkin dulu para Mafia Barkeley yang genius memahami ilmu barat mengaplikasikan ilmunya secara dungu. Tentulah mereka tahu bahwa masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat barat, tapi kenapa tidak mempertimbangkan karakter lokal masyarakat kita? Kenapa mereka tidak mendesain sistem yang lebih baik? Dasar! Bener-bener kreatifitas kualitas moron!

Dampak pemaksaan sistem barat oleh Mafia Bakeley tidak cuma pembangunan yang carut marut. Sistem pengadaan barang pemerintah memberikan sumbangan besar bagi pembodohan bangsa. Contohnya seperti genset di atas, kita engga perlu punya pengetahun dan skill tentang genset untuk menjadi rekanan penyedia genset, yang penting harganya murah. Dengan kata lain, pemerintah tidak menghargai skill dan pengetahuan kita. Makanya, jangan heran klo di negeri ini IJAZAH hanya untuk formalitas.

Buat apa anggaran pendidikan 20% dari APBN klo pemerintah sendiri tidak menghargai kecerdasan bangsanya sendiri? 

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini