26 September 2010

Dasar Perencanaan Strategis: Belajar dari Pesulap Damian dan Rencana Teroris.

Perencanaan strategis bukanlah urutan tindakan seperti yang dipaparkan dalam buku resep masakan maupun resep dokter. Penambahan soda pada resep masakan bertujuan agar adonan mengembang. Sedangkan penambahan soda pada rencana strategis bertujuan agar adonan dapat dijadikan sabun sekaligus dapat pula dijadikan bom untuk tercapainya tujuan perencanaan strategis.

All roads are lead to Rome, itulah kredo yang menjadi dasar penyusunan sebuah rencana strategis. Para pesulap sering menggunakan kredo ini dalam pertunjukannya. Salah satunya adalah Damian yang ditayangkan di Trans 7 pada  malam Minggu kemarin.

Damian memiliki sepuluh buah kantung kertas, sembilan kantung kosong dan satu kantung berisi pisau yang sangat tajam. Kantung-kantung itu diacak, beberapa relawan diminta untuk memilih kantung yang mereka anggap kosong kemudian ditepuk dengan tangan, baik ditepuk oleh relawan penonton maupun oleh Damian sendiri. Jika ternyata kantong yang mereka tepuk berisi pisau, maka pisau tersebut akan tertancap di telapak tangan. Namun, akhirnya, sembilan kantung berhasil ditepuk tanpa ada tangan yang tertancap pisau. Yang tersisa tinggallah satu kantung yang berisi pisau.

Dalam pertunjukan Damian, kantung manapun yang dipilih oleh para relawan penonton tidak akan membuat kantung berpisau ditepuk dengan tangan, kantung berpisau akan tersisa di akhir pertunjukan. Kok bisa? Yah, karena Damian mengaplikasikan perencanaan strategis dimana tujuan tetap tercapai meski melalui jalan yang berubah-ubah.

Struktur perencanaan strategis bukanlah struktur yang berbentuk seperti pohon, melainkan struktur yang berbentuk seperti lingkaran dengan tujuan perencanaan sebagai titik pusat lingkaran.  Jenis perencanaan seperti ini sudah dikenal sejak jaman kuno dan biasanya digambarkan dengan symbol ular yang menggigit ekornya sendiri.

Simbol ular yang menggigit ekornya sendiri juga menunjukkan bahwa tidak akan ada hasil lain selain yang sudah direncanakan. Persis seperti pertunjukan Damian di atas, dimana tidak akan ada hasil lain selain satu kantung berpisau yang tersisa.

Jika misalnya dalam pertunjukan Damian tersisa dua kantung kertas A dan B. Pisau berada di kantung B, namun relawan pemirsa memilih kantung B sebagai kantung tak berpisau. Damian tentunya takkan menyuruh relawan untuk menepuk kantung B tersebut, tapi Damian sendiri yang justru akan mengorbankan tangannya untuk menepuk kantung A.

Pada saat Damian mengangkat tangannya hendak menepuk kantung A, detak jantung pemirsa makin cepat dan hormone dofamin dalam darah meningkat pula. Pada dasarnya, orang menonton pertunjukan karena ingin menambah hormon dofamin dalam darahnya. Dalam titik ini, bisa dikatakan bahwa Damian telah berhasil membuat pertunjukan yang sempurna. Dan ketika kantung A pecah setelah ditepuk Damian tanpa ada pisau di dalamnya, para pemirsa merasa lega. Tinggalah satu kantung B yang sudah pasti ada pisaunya. Sekali lagi katakan, “Sempurna…. “

Kembali pada pembahasan mengenai perencanaan strategis. Bagaimana dengan perencanaan strategis para teroris? Mengapa teroris nekad menyerang markas Polisi? Benarkah tujuan serangan itu adalah HANYA untuk menunjukkan eksistensi mereka?

Bagaimana jika perencanaan para teroris adalah perencanaan strategis sehingga penyerbuan di Hamparan Perak adalah pancingan agar kepolisian dan TNI memobilisasikan seluruh sumber dayanya untuk mengurusi terorisme? Sehingga terbentuk celah-celah kelengahan lain yang mengancam keutuhan NKRI?

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini