01 Agustus 2010

Renungan Jelang Ramadhan 3: Mengapa Islam disamakan dgn terroris?

Kita semua bisa memahami bahwa hampir semua peradaban manusia di muka bumi biasanya mengikuti suatu siklus, pertumbuhan kemudian kehancuran. Makanya, peradaban Fir’aun Mesir engga bertahan sampe sekarang karena emang sudah masuk fase kehancurannya. Begitu pula dengan peradaban Mesopotamia, Mohenjodaro dan Harappa, Yunani, Maya, Aztec. Mungkin hanya peradaban China yang sanggup bertahan selama ribuan tahun.  Mungkin karena daya tahan peradaban yang luar biasa inilah, dalam agama Islam terdapat hadist Rasul yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”

Pertanyaannya, apa yang membuat peradaban China dapat bertahan sedemikian lama? Jawabnya adalah, “Karena peradaban China memiliki kemajuan luar biasa dalam hal filosofi strategy perang.” Beda dengan bangsa-bangsa penakluk lainnya seperti Sparta atau  Viking, mereka dikenal karena keberaniannya dan bukan karena strateginya.

Begitu maju filosofi ilmu perang di China hingga hampir setiap manusia di muka bumi ngerti apa itu Sun Tzu.  Dan kapitalis global, yang membangun struktur strategy  penguasaan ekonomi dunia, dibikin kalang kabut oleh permainan strategy China.  Startegy Yunani “Divide and conquer”, mendapat persaingan sepadan dengan filosofi Sun Tzu, “A good General not only know how to win the battle, but he also know when the winning is impossible.”

Tak ubahnya seperti peradaban China, Islam juga mengajarkan seni filosofi perang kepada umatnya. Inilah yang ditakutkan oleh pihak-pihak yang tidak ingin melihat Islam menjadi agama yang besar dan kuat. Maka dibuatlah program agar umat muslim tidak mempelajari seni filosofi perang dalam Al Quran. Caranya? Dengan mengidentikkan Islam sebagai agama terrorist sehingga umat Islam merasa sungkan belajar filosofi perang.

Anyway, kemungkinan Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan seni filosofi perang. Tapi bukan berarti Islam dikembangkan melalui jalan pedang. Karena seni filosofi perang bukan hanya untuk melakukan pertempuran, tapi juga untuk berdagang, bercocok tanam (perang melawan hama), menjalankan roda pemerintahan, dan masih banyak lagi.

Dan sebuah filosofi kuno menyatakan, “If you want to make a peace, build a very strong army.” Bahkan perdamaian pun diraih dengan seni filosofi perang, bukan?

Welcome to the Quantum World!

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini