01 Agustus 2010

Renungan Jelang Ramadhan 1: Spiritual Quotient

Usai menuliskan divine experience yang aku temukan dalam lagu gereja meskpun aku seorang muslim, aku jadi berfikir, adakah ulama Islam yang sejalan denganku? Bahwa Allah tetap bisa ditemukan di dalam Gereja, Pura, Klenteng, Kuil, Pagoda, Sinagoga …

Tersesatkah keimananku?

Ternyata ada! Dia adalah Muhyiddin Ibn Al Arabi (1165-1240) atau yang dikenal dengan nama Syaikh Akbar. Dia menuliskan begini:

“Hatiku mampu menerima berbagai bentuk. Biara bagi Sang Rahib, Kuil bagi arca-arca, padang rumput bagi rusa-rusa, peziarah bagi Ka’bah, lembaran Taurat, Al Qur’an.”

“Jangan ikat dirimu pada sebuah keyakinan secara eksklusif sehingga engkau mungkin mengingkari  yang lain. Karena dengan demikian engkau akan kehilangan banyak kebaikan, tidak, engkau gagal mengenali kebenaran yang sejati. Tuhan Yang Maha Ada dan Maha Berkuasa, tidak dibatasi oleh keyakinan apapun, sebab dia berfirman, ‘Kemanapun engkau memalingkan pandanganmu, maka disanalah ada wajah Allah’ (QS Al Baqarah: 115)

Semua orang akan mengagungkan apa yang dipercayainya, Tuhannya adalah apa yang diciptakannya sendiri. Dan memujinya berarti memuji diri sendiri. Akibatnya dia akan menyalahkan keyakinan orang lain,y ang takkan dilakukannya jika seandainya dia adil, tetapi kebenciannya didasarkan pada kebodohan.”

Membaca tulisan Al Arabi di atas, sepertinya keimanan menuntut kecerdasan dan objektifitas. Bahkan mungkin kecerdasan dan objektifitas adalah parameter kualitas keimanan kita.

Makanya Allah mengangkat derajad orang yang berilmu alias ilmuwan, sebab mereka selalu bersikap objektif dalam memandang berbagai persoalan.

REVISI: Semula artikel ini menyebutkan QS Al Baqarah 109, yang benar adalah QS Al Baqarah 115. Mohon maaf atas kesilapan ini.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini