16 Agustus 2010

Insiden Kepulauan Riau: Jalan Lebar Menuju Kudeta?

Dalam tulisan “Suksesi Terhadap SBY” dengan penuh keyakinan aku menyebutkan bahwa usaha penggulingan SBY takkan berhasil karena faktor-faktor pendukungnya belum lengkap, yaitu faktor jalur unik yang tak terbantahkan. Insiden di kepulauan Riau melengkapi factor-faktor pendukung kudeta.

Buku “Coud d’Etat: A Practical Handbook” karangan dari peneliti senior CSIS Washington, Edward Luttwak, menyebutkan mengenai factor-faktor pendukung kudeta, strategi kudeta dan proses berjalannya kudeta. Untuk factor pendukung kudeta, Luttwak menyebutkan tiga hal, yaitu factor keterpurukan ekonomi, pemerintahan yang independen serta dominasi aliran politik tertentu.

Dalam hal strategi kudeta, Luttwak menyatakan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menjatuhkan wibawa sang pemimpin, disusul dengan perubahan struktur kekuasaan dan dilanjutkan dengan pengambilalihan kekuasaan pada kondisi status quo. Sedang proses berjalannya kudeta ditandai dengan pernyataan-pernyataan para pejabat resmi yang mendua. Hal ini ditujukan untuk memecah kekuatan pemerintah resmi karena akan ada pihak yang pro maupun kontra.

Anyway, kudeta gaya Luttwak udah engga lagi ngetrend-ngetrend amat. Ada dua factor yang bikin calon pemberontak harus berpikir dua kali  sebelum melancarkan kudeta, faktor pertama yaitu dukungan internasional. Tanpa dukungan ini, dijamin pasca kudeta bakal susah. Padahal, engga mudah mendapatkan dukungan internasional. Hal ini dicontohkan oleh kudeta di Republic of Fiji oleh Panglima Bainimara (mudah-mudahan ga salah nulis namanya) di tahun 2006. Kudeta Bainimara ini menghasilkan kecaman dari Australia, Selandia Baru, AS dan PBB. Bahkan kudeta di tahun 2004 terhadap Pemerintah Guinea digagalkan bukan oleh Guinea sendiri, melainkan oleh oleh Zimbabwe!

Sedangkan faktor kedua adalah faktor intelejen.

Kudeta yang cukup berhasil terjadi di Thailand, hal ini karena kudeta mendapat dukungan dari raja dan rakyat. Dan penentu utama keberhasilan kudeta Thailand adalah fakta bahwa Thailand tidak punya minyak sehingga tidak banyak campur tangan asing.

Apakah kudeta yang sukses selalu didukung oleh Amerika? Tidak juga. Para pemimpin negara-negara kaya minyak di Amerika Selatan, Ortega, Chaves, Castro dan  Morales, terus-menerus diserang oleh gerakan-gerakan anti-pemerintah yang didukung Amerika. Banyak tuduhan mendera mereka, dari pendukung ladang obat bius sampai simpatisan komunis yang mengancam demokrasi. Tapi mereka dapat terus bertahan. Hanya Presiden Noriega yang berhasil diciduk oleh Divisi Lintas Udara ke 82 Amerika Serikat.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejarah mencatat kesuksesan kudeta tahun 1965 yang didahului dengan kondisi ekonomi yang buruk. Inilah faktor pertama dalam bukunya Luttwak. Bagaimana kondisi perekonomian Indonesia saat ini?

Faktor kedua adalah pemerintahan yang independen serta dominasi aliran politik tertentu. Bagaimana dengan arogansi koalisi partai yang dibangun presiden? Sudahkan memenuhi criteria ini?

Sedangkan strategi kudeta yang pertama adalah menurunkan wibawa pemimpin. Bagaimanakah wibawa presiden dengan kasus insiden di kepulauan Riau?

Salah satu ciri dari pelaku kudeta adalah mereka bermuka dua. Bagaimana dengan para staff SBY sekarang?

Boleh jadi jalan menuju kudeta makin lebar. Tapi ada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu siapakah yang mau melakukan kudeta? Dengan situasi dunia yang seperti sekarang ini, hanya orang yang cukup gila yang mau merebut kursi presiden.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini