14 Agustus 2010

Dunia Intelejen: Sinyal-sinyal Kekacauan?

Bisnis informasi intelejen palsu kini mulai terjadi di Indonesia, dan bukan cuma satu kali Presiden kita dibuat malu oleh kesalahan informasi intelejen. Kini sepertinya intelejen telah menjalankan operasi yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh CIA, sebuah operasi “Asal Bapak Senang” dengan kode sandi  “Operasi Gantung Diri”.

Bukan lagi sebuah isu, melainkan telah dikonfirmasi sebagai fakta, bahwa CIA telah mengalami kehancuran parah sejak peristiwa 11 September. Kehancuran itu dimulai dengan sikap CIA yang memberikan informasi-informasi bohong demi menyenangkan atasannya terutama Presiden Bush. Seluruh informasi itu menjadi senjata makan tuan yang membuat CIA luluh lantak.

Bagi orang yang memahami fungsi intelejen, pasti akan setuju dengan David Kay, Kepala Pengawas Utama Persenjataan CIA. Dia mengatakan bahwa manfaat intelejen adalah untuk mencegah terjadinya perang. Tapi menurutku, manfaat itu belum lengkap karena intelejen bukan hanya untuk mencegah perang, tapi juga untuk meraih kemenangan tanpa perang. Orang Jawa bilang, menang tanpo ngasorake alias fungsi intelejen adalah meraih kemenangan tanpa membuat pihak yang kalah merasa kalah.

Agen-agen terbaik CIA tentulah paham dengan manfaat intelejen. Sehingga pada saat bos CIA, George Tenet,  memberikan informasi palsu yang mendukung kebijakan Bush untuk menyerbu Afghanistan dan Iraq, satu demi satu agen-agen terbaik CIA mengundurkan diri dan bergabung dengan korporat-korporat kaya seperti Lockheed Martin dan Booz Allen Hamilton. Orang-orang dari korporat kaya ini tanpa tedeng aling-aling merekrut agen-agen  CIA di kafetaria markas CIA sendiri. Akhirnya, yang tersisa di CIA hanyalah para agen lapangan dan analis intelejen dengan pengalaman kurang dari lima tahun.

Dengan kualitas sumber daya manusia yang terbatas, CIA tak mampu lagi menempatkan para agen lapangan untuk mengumpulkan informasi yang benar. Para analis intelejennya cuma membuat analisis berdasarkan berita dari CNN, BBC dan sejenisnya, engga jauh berbeda dengan apa yang aku lakukan sekarang. Sehingga CIA harus melakukan outsourcing demi mendapatkan agen intelejen yang memadai.

Di sisi lain, agen-agen intelejen korporat semakin Berjaya. Dengan terbuka, Lockheed Martin mengumumkan iklan lowongan pekerjaan bagi para analis kontraterorisme untuk menginterograsi tawanan teroris di penjara Guantanamo. Kejayaan intelejen swasta makin berkibar ketika pada Februari 2007 berdiri sebuah perusahaan intelejen swasta dengan nama Total Intelligence Solution.

Total Intelligence Solution, atau singkatnya Total Intel, didirikan oleh para petinggi intelejen CIA yang semula tergabung dengan operasi melawan terror pada pemerintahan Bush. Pada tahun 2005, mereka meninggalkan jabatannya dan bergabung dengan Blackwater USA, sebuah perusahaan jasa keamanan elit gaya Romawi, Praetorian Guard, yang berkerja di wilayah Baghdad. Setahun kemudian mereka meninggalkan Blackwater dan mendirikan Total Intel. Dan Total Intel ini tidak hanya bekerja di wilayah Timur Tengah, tapi juga di sini, di Asia Tenggara.

Cobalah amati struktur perekonomian Indonesia, Anda akan menyadari bahwa struktur distribusi produk China tengah dibikin kacau balau. Inilah usaha untuk mematahkan dominasi kapitalisme China di Indonesia. Padahal struktur distribusi produk China di Indonesia membonceng struktur distribusi produk lokal. Akibatnya, distribusi produk lokal pun terganggu, harga-harga bergejolak tak karuan. 

Hingga saat ini, aku belum bisa melihat seperti apa perlawanan para intelejen China. Aku Cuma menduga bahwa para intelejen China mengembangkan metode spionase yang jauh berbeda dengan ilmu-ilmu spionase standar. Dugaanku, mereka mengembangan ilmu spionase berbasis pada ilmu paradox budaya timur atau sejenis dengan synchronicity-nya Carl Gustav Jung sehingga bisa sedemikian smooth and undetected. Ah, rasa penasaan ini bikin aku pengen bergabung dengan Total Intel untuk menguraikan metode spionase China. Ada yang bisa merekomendasikan aku? Hehehe .... (Dolar Booooo ......)

Kini, pada saat intelejen-intelejen global berperang di Indonesia, justru intelejen Indonesia berkutat dengan isu yang sudah mulai basi, yaitu terorisme. Parahnya lagi, ada usaha-usaha untuk menciptakan industri terror yang justru akan membuat pengawasan intelejen ekonomi menjadi lemah. Persis seperti industri terror di Amerika pasca peristiwa 11 September yang berakhir dengan krisis Mortgage.

Mungkin belum terlambat bagi kita untuk berhenti bermain tipu muslihat dan mulai menatap kenyataan bahwa kita adalah bangsa dengan Sumber Daya Manusia yang besar dalam kuantitas namun terlalu sedikit yang berkualitas. Persis seperti yang dialami oleh Inggris pada Perang Dunia II, yang juga terjepit diantara dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Sehingga Winston Churchill pun mengatakan, “Never in the field of human conflict was so much owed by so many to so few". Pada akhirnya, ketika Jerman bertekuk lutut, seluruh asset Jerman diambil oleh Amerika dan Rusia, tidak menyisakan sedikitpun untuk Inggris.

Tapi ada satu pelajaran menarik dari Inggris, yaitu bahwa meskipun sumber dayanya sangat minim namun memberikan sumbangan besar terhadap kemenangan Perang Dunia II. Sumbangan yang dimaksud adalah sumbangan hasil kerja para analis intelejen Inggris yang sangat akurat memberikan informasi pergerakan pasukan Jerman.

Sepertinya, memang, dalam kondisi yang serba terbatas maka kita harus banyak bergantung pada kinerja para analis intelejen untuk menemukan potensi tersembunyi dalam kondisi yang serba kekurangan. Jadi kepada intelejen Indonesia, mohon agar tidak mencurahkan seluruh energy pada kasus terorisme, sisakan juga untuk ekonomi kita.

Para intelejen ekonomi harus bisa menemukan sisi positif ditengah kondisi terburuk sekalipun. Contohnya, kondisi penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis asing sekilas merupakan kondisi terburuk bagi Indonesia. Tapi coba pertimbangkan hal berikut: jika sumur Lapindo dibor oleh perusahaan asing, hampir bisa dipastikan pemerintah dan rakyat bersatu padu menuntut ganti rugi sehingga ganti rugi akan sepadan. Nah, klo dibor oleh perusahaan nasional, justru malah menyedot APBN buat mengatasinya dan ganti ruginya engga kunjung beres.

Berkaitan dengan terorisme, ada baiknya kita kaji pernyataan mantan menteri Luar negeri AS, Colin Powell, setelah menyadari apa yang telah ia kerjakan bersama Bush, “Apakah ancaman terbesar yang kita hadapi saat ini? Orang akan menjawab terorisme. Namun adakah teroris di dunia ini yang dapat mengubah cara hidup orang Amerika atau sistem politik kita? Tidak. Bisakah mereka merobohkan gedung? Ya. Bisakah mereka bisa membunuh seseorang? Ya. Tapi apakah mereka bisa mengubah kita? Tidak. Hanya kita yang bisa mengubah diri kita sendiri …” 
  

Memang, musim sudah berganti dalam dunia intelejen, tak ada salahnya kita mulai menyadari bahwa musuh kita tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini