16 Mei 2010

Studi Keseimbangan: Teroris, Ekonomi dan Bencana Alam

Densus 88 berhasil mengungangkap jaringan teroris yang merencanakan makar berkaitan dengan peringatan Kemerdekaan 17 Agustus 2010. Dan sepertinya, gencarnya pemberitaan tentang penangkapan teroris ini tidak menambah kekaguman masyarakat terhadap Densus 88, sehingga muncul kecaman atas tindakan "tembak di tempat" atas nama "Hak Asasi Manusia". Pemberitaan yang terus menerus dapat "menggeser keseimbangan" ke arah pengkerdilan Densus 88, menjadikan para teroris sebagai martir layaknya Nabi Isa (Orang nasrani menyebutnya Yesus) yang disalib oleh pemerintah kerajaan Romawi. Pergeseran keseimbangan ini pulalah yang membuat Pemerintahan Presiden Bush melarang pemberitaan tentang tragedi WTC, dengan alasan "terlalu menyakitkan untuk dikenang". Penanganan oeh Pemerintahan Bush ini sedikit terlambat, dan 'teori konspirasi tingkat tinggi" sudah keburu muncul di media publik sehingga membuat perang di Afghanistan dan Irak makin menyedihkan.

Dalam studi mengenai sistem keseimbangan, diketahui bahwa keseimbangan adalah sebuah kondisi yang terbatas dalam 'range' tertentu. Hal ini dapat dicontohkan dengan angka "Lyapunov Multiplier" dalam persamaan dinamik non-linier studi Fisika Quantum. Sistem yang menggunakan Lyapunov Multiplier menyatakan bahwa sebuah sistem akan stabil jika nilainya antara 0 sampai 1. Jika nilainya kurang maka sistem akan mati perlahan-lahan, jika terlalu besar maka sistem akan meledak.

Tidak mudah menggunakan Lyapunov Multiplier ke dalam persamaan yang mencerminkan kadaan relitas. Namun ada sebuah upaya untuk mengukur kestabilan sistem perbankan yang dilakukan oleh sebuah badan peneliti keuangan. Ukuran tersebut diberi nama "Banking Pressure Index" atau BPI. Disebutkan bahwa perbankan aman jika BPI bernilai kurang dari 0.5, jika diatas nilai ini maka perbankan tidak aman. Tapi tidak dijelaskan apakah tidak amannya sistem perbankan mengarah kepada kematian atau ledakan. Dengan kata lain, penyusunan BPI ini menggunakan prinsip keseimbangan yang tidak sama seperti prinsip keseimbangan dalam Fisika Quantum.

BPI mungkin memberikan gambaran yang tepat mengenai kondisi perbankan, namun grafik yang tiba-tiba dapat berloncatan secara liar, membuat kita sulit memprediksi kondisi perbankan untuk beberapa waktu ke depan. Jika BPI disertai dengan pengamatan perkembangan ekonomi makro dan mikro yang seimbang, maka dapat kita prediksi pola pergerakan grafik BPI dengan kondisi nyata, sehingga dapat dibaca apakah sistem perbankan menuju kepada kematian atau ledakan.

Aku engga tahu seperti apa grafik BPI pada saat ini, yang jelas bencana alam yang berkali-kali mendera bangsa Indonesia telah mematikan banyak sumber daya ekonomi. Belum lagi bencana kebakaran yang juga banyak melahap berbagai potensi ekonomi. Sialnya lagi, aku juga engga tahu pasti apakah titik-titik kematian potensi ekonomi akibat bencana dan kebakaran ini sudah melewati batas ambang atau belum.

Teroris bukan satu-satunya ancaman terhadap negeri Indonesia tercinta. Perubahan struktur ekonomi dunia dan bencana alam yang makin giat bermunculan di tanah air, adalah ancaman yang tidak bisa dianggap remeh. OCC Bina Graha harus segera difungsikan untuk memberikan rasa aman dan sekaligus arah pembangunan masa depan.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini