06 Mei 2010

Situasional Room (OCC), Pasca Sri Mulyani dan Perubahan Struktur Ekonomi Global

"It is a magnificent feeling to recognize the unity of complex phenomena which appear to be things quite apart from the direct visible truth."  _Albert Einstein_

Berbagai indikator ekonomi mengalami tekanan setelah pengumuman pengunduran diri Mbok Dhe Sri Mulyani. Hal ini dapat dipahami karena baik pihak yang selama ini mendukung ataupun membenci kebijakan Mbok Dhe Sri Mulyani, sama-sama khawartir. Pihak pendukung khawatir kalau perekonomian Indonesia ambruk tanpa Mbok Dhe Sri Mulyani. Pihak yang membenci kebijakan Mbok Dhe Sri khawatir kalau kebijakan pengerukan modal asing selama ini dilakukan akan menjadi bom waktu dalam waktu dekat. Jadi kedua belah pihak sama -sama kuatir dan sama-sama berusaha mengambil langkah antisipatif, sehingga muncullah tekanan pada ekonomi makro.

Untunglah tekanan itu masih berkutat dalam indikator-indikator makro sehingga belum muncul tanda-tanda penampakan hantu "dampak sistemik" akibat pengunduran diri ini. Selama tekanan itu hanya datang dari "kaum intelek" yang termakan oleh komentar "politisi" dan "pakar ekonomi" yang tendensius menilai Mbok Dhe Sri, maka dampak sistemik itu akan tetap jauh.

Justru yang perlu diwaspadai adalah perubahan struktur ekonomi dunia.Diawali oleh Yunani, perekonomian dunia sedang memasuki babak baru yang berarti akan menyebabkan perubahan struktur ekonomi global. Aku sama sekali tidak dapat melihat bentuk struktur ekonomi dunia baru pasca tragedi Yunani. Hal ini karena aku belum bisa menilai sejauhmana kemampuan adaptasi dan inovasi China sebagai motor penggerak ekonomi dunia dalam menghadapi perubahan ini. Beberapa ekonom barat sudah menyusun prediksi bahwa China akan kolaps dalam waktu sembilan hingga dua belas bulan ke depan. Mungkin para ekonom barat tersebut sudah dapat mengukur kemampuan adaptasi dan inovasi China, serta faktor lain seperti perdagangan raw material dan energy yang jauh diluar jangkauanku.

Ketergantungan terhadap produk China tidak hanya menimpa beberapa ratus ribu orang Indonesia seperti jumlah nasabah Century, jika ekonomi China kolaps maka dampak sistemik bukan suatu hal yang debatable. Dan tentu saja kita berharap bahwa struktur baru ekonomi dunia tidak berakibat buruk terhadap perekonomian indonesia.

Sangatlah wajar kalau ekonom seperti Kwik Kian Gie pun berang dengan pengunduran diri Mbok Dhe Sri. Hal ini disebabkan karena seakan-akan kebijakan yang kemaren-kemaren meninggalkan bom waktu berupa economic bubble akibat capital inflow yang gila-gilaan, dimana bubble tersebut dapat meledak seiring dengan perubahan struktur ekonomi dunia. Makanya, tak sedikit pihak yang curiga bahwa pengunduran diri Mbok Dhe Sri Mulyani terkait dengan skenario World Bank untuk menjebak negara-negara seperti Indonesia dalam jebakan hutang alias "debt trap".

Di sisi lain, dalam struktur ekonomi dunia yang sudah melampaui norma-norma liberalisme menjadi neo-liberalisme, kita tidak mungkin menolak pijaman asing. Mungkin ini saatnya kita memandang dengan lebih arif dan bijak dalam menyikapi modal asing yang masuk ke Indonesia. Kita tidak bisa terus menerus menggunakan dana pinjaman untuk hal-hal yang kontra produktif. Contohnya, pinjaman dari Amerika untuk pengadaan radio komunikasi untuk departemen kehutanan melalui perusahaan Masaro. Apakah radio komunikasi ini sudah membuat hutan kita lebih lestari? Apakah pengusaha furniture Indonesia tidak kekurangan bahan mentah? Jika kedua pertanyaan ini dijawan dengan jawaban negatif, maka kita tidak sedang dijebak dalam hutang melainkan menjebakkan diri dalam jebakan hutang.

Penggunaan radio komunikasi dalam contoh di atas adalah masuk dalam bidang kegiatan riil yang tidak otomatis dapat dikontrol melalui kebijakan makro. Sehingga perlu diketahui kegiatan riil pemanfaatan radio komunikasi melalui observasi langsung. Untuk keperluan ini, pemerintah telah merencanakan pembentukan situasional room, atau semacam Observatory Command Center (OCC), di kantor Bina Graha untuk mengobservasi kegiatan riil di seluruh Indonesia.

Observasi ini memiliki fungsi yang sangat vital. Disamping mengawasi pemanfaatan modal asing seperti di atas, OCC juga dapat digunakan untuk merencanakan integrasi pengembagan potensi antar daerah untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Dapat pula mendukung sistem pertahanan dan keamanan dan yang paling pokok adalah untuk menjamin pemerataan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Adapun fungsinya dalam waktu dekat ini adalah mengawal dana asing yang masuk ke Indonesia untuk menjadi kegiatan riil produktif, sehingga negara akan enteng mengembalikan seluruh dana asing. Namun, OCC tentulah bukan satu-satunya, diperlukan berbagai usaha-usaha lain yang mendukung. Usaha dari Bank Indonesia untuk membentuk tim yang mengawasi resiko kredit perbankan juga akan memberikan kontriobusi yang tidak kecil. Bahkan jika China benar-benar kolaps, tumpukan capital inflow dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kekuatan ekonomi dunia yang baru, karena secara ekonomi makro kita tidak mengalami banyak masalah dalam hal SDM maupun raw Material. Tapi yang namanya pandangan makro kadang engga sejalan dengan kondisi mikro, dan pandangan makro pun kadang tidak dapat memahami mengapa hal-hal teknis kecil yang remeh bisa menjadi batu sandungan yang teramat besar.

Tinggal sekarang mari berdo'a agar pemerintah dapat menggunakan seluruh instrumen yang dimiliki secara arif dan profesional untuk masa depan yang lebih baik. Majulah Indonesiaku!

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini