23 Mei 2010

SIKLUS PERADABAN DUNIA

Setiap peradaban maju di muka bumi, selalu diawali dengan perkembangan spiritualitas yang membuat manusia memiliki sudut pandang baru terhadap alam semesta. Dengan sudut pandang baru inilah, berkembang ilmu-ilmu praktis yang menghasilkan kemajuan teknologi. Kemudian ketika kemajuan teknologi telah memberikan berbagai kenyamanan sehingga manusia merasa tak butuh spiritualitas, peradaban itupun mulai mengalami kemunduran.

Mengapa kisah-kisah dalam kitab suci diceritakan secara garis besar dan berkesan seperti dongeng? Karena kisah-kisah itu adalah simbol dari simpul-simpul siklus peradaban dunia yang hanya bisa dipahami dengan bahasa iman, bukan bahasa rasio atupun logika.

Dari kisah pembangkangan setan terhadap perintah Tuhan agar besujud kepada Adam, timbul pertanyaan, kenapa Tuhan tidak menghukum setan saja sehingga Adam dan Hawa bisa tetap di surga? Ternyata setan menolak bersujud kepada Adam karena menurut setan hanyalah Tuhan yang layak disembah. Jadi, meskipun melawan perintah Tuhan, namun perlawanan itu berdasarkan keimanan.

Jadi tak perlu heran kenapa Tuhan mengijinkan setan menggoda manusia. Karena setan akan memilah antara manusia yang layak untuk dia bersujud (masuk surga) dan yang tidak layak (masuk neraka). Sehingga kelak setan akan dimaafkan dan diangkat dari neraka, dan hanya dari golongan manusia tanpa iman yang layak untuk menetap abadi di neraka.

Ada cerita dimana seseorang yang diganggu oleh setan kemudian mengucapkan ayat-ayat suci untuk mengusir setan. Ternyata ayat-ayat suci itu tidak mempan, justru setan bisa menirukan ucapan ayat suci dengan jauh lebih fasih. Hal ini karena pada dasarnya setan adalah mahluk yang masih memiliki iman. Ayat-ayat suci itu hanya efektif jika diucapkan oleh manusia yang memiki kadar keimanan yang lebih tinggi dari setan, dimana setan seharusnya bersujud kepadanya.

Setan akan menjerumuskan sebanyak-banyaknya manusia agar memiliki keimanan yang jauh lebih rendah daripada keimanan setan. Setan akan menciptakan sebuah sistem yang membuat manusia lebih percaya bahwa segala nikmat yang ia peroleh adalah hasil usahanya sendiri, bukan atas bantuan Tuhan. Sebagaimana kaum Tsamud yang percaya bahwa tembok-tembok kemajuan peradaban yang telah mereka bangun akan melindungi mereka dari murka Tuhan. Ternyata, mereka dapat dibinasakan Tuhan dalam sekejap mata.

Setan juga menciptakan sebuah sistem agar manusia mencari kebahagiaan hanya di dunia dan melupakan akhirat. Dimulai dari meninggalkan ritual-ritual keagamaan yang menghubungkan manusia dengan dimensi ketuhanan, demi mencari nikmat dunia. Dan ketika ritual keagamaan sudah tidak lagi berarti, dan perburuan nikmat dunia di atas segala-galanya, maka murka Tuhan akan turun dalam sekejap mata. Lihatlah pasangan homo yang masih enjoy melakukan penetrasi, diawetkan oleh abu vulkanis di kota Pompeii untuk menjadi pelajaran bagi kita.

Murka Tuhan itu diturunkan agar sistem yang menciptakan manusia tanpa iman, tidak lagi berkembang. Murka Tuhan ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita yang masih hidup dan terselamatkan dari sistem anti Tuhan.

Sistem anti Tuhan tidak sesederhana sistem komunis yang atheis. Di negara komunis, orang masih dapat menjalankan berbagai ritual keagamaan, hanya saja pemerintah tidak akan memberikan keistimewaan bagi segala bentuk kegiatan keagamaan, tidak pula berusaha untuk memberantasnya, alias cuek bebek kwek-kwek-kwek. Sehingga umat beragama itu sendiri yang harus menjaga kemurnian ajaran agamanya.

Sedangkan dalam sistem liberal, terbuka kemungkinan untuk memanfaatkan agama demi mencapai kepentingan-kepentingan tertentu.  Sehingga tafsir-tafsir agama menjadi bias, dan dapat menggiring pada tergerusnya kualitas keimanan tanpa kita sadari. Persis seperti kaum Yahudi yang terjebak memperdagangkan Tuhan pada jaman Nabi Isa (Nasrani: Yesus). Sehingga Nabi Isa memberikan peringatan akan datangnya "kerajaan Tuhan", kemudian mengobrak-abrik perdagangan di kuil Bait Allah. Untunglah, atas seijin Allah, Nabi Isa 'dikorbankan', sehingga kepercayaan masyarakat terhadap Kitab Injil berkembang pesat. Bahkan kerajaan Romawi yang semula memusuhi habis-habisan, membangun 'benteng' untuk ajaran kitab Injil di Vatikan. Sehingga, hilanglah kemurkaan Tuhan.

Kini, kita yang telah memasuki peradaban maju yang dibangun berdasarkan sains, dimana tidak ada tempat bagi Tuhan di dalam sains. Cara berpikir sains juga sudah mulai digunakan untuk memahami keimanan dan spiritualitas. Pertanyaannya, bagaimana mungkin metode sains yang tidak bertuhan dapat digunakan untuk mempelajari ketuhanan?

Ini adalah saat yang tepat bagi kita, terutama para pemimpin dunia, untuk kembali pada kearifan spiritualitas. Karena peradaban dunia sepertinya tengah tengah beralih ke daerah-daerah yang mengembangkan spiritualitas Hindu dan Budha.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini