10 Mei 2010

Perserikatan China Menuntut Upah: Pelajaran Kemandirian Bangsa

Diberitakan dala The Economist 6 Mei 2010, pada akhir April 2010 Perserikatan Perdagangan China menuntut perbaikan upah. Perserikatan Perdagangan ini merupakan underbow Partai Komunis China sehingga dapat diartikan  mewakili Pemerintah China dan tuntutannya pun tidak seperti tuntutan demonstrasi buruh yang teriak-teriak di jalanan. Disebutkan bahwa TUNTUTAN ITU ADALAH HASIL PENELITIAN. Inilah yang paling menarik.

Jika tuntutan itu benar-benar hasil penelitian maka terjawab sudah keraguanku untuk menerima ramalan kolaps-nya ekonomi China. Keraguan karena belum bisa "membaca" kemampuan adaptasi dan inovasi China, terjawab dengan adanya tuntutan Perserikatan di atas. Tuntutan ini akan menjawab tantangan China ke depan dalam menghadapi penurunan permintaan dari negara-negara yang ekonominya ikut runtuh seperti Yunani, Spanyol dan Portugal. Jadi China akan meningkatkan kemampuan daya beli rakyatnya sendiri jika kehilangan pasar luar negeri. Langkah yang hebat, bukan?

Sebagai sebuah hasil penelitian, maka tuntutan perserikatan tersebut berarti sudah dipertimbangkan secara matang. Ini akan menjadi sebuah tuntutan yang hampir tak terbantahkan demi kelangsungan ekonomi China, yang juga berarti melanggengkan inverstor asing di China sendiri. Sehingga China menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri dan tidak bergantung pada pangsa pasar asing untuk produknya sendiri.

Kemampuan adaptasi China ini sungguh unik, bayangkan saja China sebagai nagara komunis tapi menguasai kapitalisme dunia, padahal Komunisme dan Kapitalisme bagaikan air dan api. Bagaimana konsepsi komunis yang menentang kapitalisme justru menguasai kapitalisme dunia? Jawabannya adalah "karena konsepsi komunisme dan kapitalisme di China dipahami dengan filosofi timur, bukan filosofi barat. Dan filosofi timur selalu menemukan bentuk penyatuan dari dua hal yang sepertinya bertentangan." Jadi, masih ingin mengekor barat secara membuta? Ingat, budaya timur dan barat tidaklah sama!

Dari pembahasan di atas dapat kita renungkan kembali "sistem demokrasi" yang telah dipraktekkan oleh nenek moyang leluhur kita. Jaman dahulu, jika nenek moyang kita hendak protes kepada raja, maka nenek moyang kita akan melakukan tapa bisu alias duduk diam dibawah terik matahari di depan pintu kerajaan, hingga sang raja berkenan menemui nenek moyang kita.

Dalam keadaan tapa bisu alias berdiam diri, kita akan menganalisa, mengkaji, dan menelaah apakah protes yang akan kita ajukan adalah baik dan benar. Sungguh sangat berbeda dengan penyampaian pendapat melalui mekanisme demonstrasi berpengeras suara. Demonstrasi berpengaras suara dan emosional adalah budaya barat, budaya kita lebih mengenal protes yang disertai introspeksi diri yang mendalam.

Mungkin, permintaan Presiden SBY untuk merumuskan sistem negara yang baik bagi Indonesia, adalah permintaan yang sangat baik demi masa depan bangsa. Hanya saja, permintaan itu disampaikan kepada forum rektor. Mungkin akan lebih baik jika permintaan tersebut dialamatkan kepada para pakar budaya atau mereka-mereka yang masih nguri-uri atau memelihara budaya leluhur.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini