24 Mei 2010

Hore! Pemerintah Mulai Sadar akan Pembangunan Berkarakter

Membaca berita di Detik bahwa pemerintah mulai sadar pentingnya pembangunan berkarakater, membuat blog Titen perlu mengucap syukur. Pasalnya, pembangunan berkarakter adalah tema utama Blog Titen. Terlebih lagi konsep pembangunan ini menggunakan Pendidikan sebagai unsur yang paling mendasar. 

Penyusunan konsep dilakukan oleh Wapres Boediono, dihadiri antara lain Mendiknas M Nuh, Mendagri Gamawan Fauzi, Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik, dan Menko Kesra Agung Laksono. Memang kalo pendidikan untuk pembangunan berkarakter hanya dibangun dari integrasi 4 menteri tidaklah cukup, sebab pendidikan untuk pembangunan berkarakter tidak hanya terkait dengan sistem administrasi, budaya dan sosial, akan tetapi juga terkait dengan kondisi ekonomi dan politik. Makanya Blog Titen yang semula hanya menuliskan artikel yang hanya menyinggung pendidikan, terpaksa menjadi sok tahu terhadap bidang-bidang budaya, sosial, ekonomi dan politik. Walau bagaimanapun, penyusunan konsep ini adalah langkah yang patut diacungi jempol, karena perencanaan kita masih carut-marut, bahkan tidak sehebat perencanaan jaman Orde Baru.

Latar belakangnya sederhana saja, bagaimana mungkin kita dapat meniru pola pendidikan berkarakter modern ala barat, sedangkan budaya, ekonomi, politik dan kondisi sosial masyarakat kita teramat jauh berbeda dengan negara barat?

Budaya barat memberikan distingsi yang jelas antara positif-negatif, baik-buruk, tinggi-rendah dan seterusnya. Sedangkan budaya timur adalah budaya yang menemukan bentuk penyatuan dari dua hal yang kelihatannya berbeda. Pertanyaannya, apakah kita akan memperkuat kemampuan budaya timur atau akan membebek terhadap budaya barat?

Jika kita mengkaji Fisika sebagai sains hasil pendidikan barat, kita akan menemukan ketidakpastian Heisenberg (Heisenberg's Uncertainty). Dikatakan bahwa semakin teliti kita mengukur kecepatan maka makin tidak tepat kita mengukur posisi, makin kita teliti mengukur posisi maka makin tidak tepat kita mengukur kecepatan. Prinsip ketidakpastian ini ditemukan oleh Heisenberg saat mengukur posisi dan kecepatan elektron. Dalam Fisika Newtonian, posisi dan kecepatan memiliki hubungan yang sejajar, tapi apa lacur jika ternyata hubungan keduanya memiliki pertentangan? Ini adalah fenomena yang tidak bisa dipahami dengan filosofi barat. Sehingga, pasca penemuan prinsip Heisenberg, para ilmuwan fisika sempat mengeluarkan pernyataan bahwa ilmu fisika sudah mati.

Namun, muncullah Einstein dengan teori relativitasnya sehingga terlahir ilmu fisika generasi baru, yaitu fisika quantum. Sayangnya, tak banyak yang dapat memahami fisika quantum. Bahkan ada ilmuwan yang pernah mengatakan, "Tak ada yang memahami Quantum kecuali Einstein."

Hingga kini memang teori relativitas dipandang sebagai hubungan antara pengamat dengan objek yang diamati, belum ada pemahaman baru untuk dapat menyatukan hasil observasi dari dua pengamatan yang berbeda. Dan seperti yang telah dibahas di atas, menemukan penyatuan dari dua hal yang kelihatannya berbeda adalah ciri budaya timur.

Sepertinya, Fisika Quantum adalah fisikanya filosofi timur. Apakah kita akan meremehkan kemungkinan ini sehingga kita tidak perlu mengembangkan kemampuan asli budaya timur dan menjiplak habis budaya barat? Perlu kita sadari, bahwa kemampuan budaya timur telah lama dikembangkan oleh para leluhur kemudian diturunkan kepada kita melalui struktur sosial dan juga kode genetik. Maka membuang kemampuan asli kita sama juga dengan melubangi tempurung kemampuan kita sendiri sehingga apapun yang dimasukkan akan kembali bocor, alias tempurung kemampuan kita akan tetap kosong.

Kita perlu mengkaji kenyataan yang kita hadapi saat ini. Sekarang kita sedang mencoba menjalankan sistem demokrasi yang tak lain hasil budaya Yunani alias barat. Hasilnya? Dua belas tahun reformasi tanpa arah yang jelas, boro-boro ngomongin hasilnya.

Kini kondisinya udah susah, mau menjiplak barat habis-habisan sudah terlanjur carut marut. Mau kembali kepada budaya leluhur juga sudah tak kalah rumit. Tapi satu hal yang dapat dilakukan, yaitu membuka kesadaran, seperti yang dibahas oleh Blog Titen melalui artikel tentang iklan.

Jadi, kepada para penyusun konsep pembangunan berkarakter, saya mohon untuk tidak terjebak dalam "pendidikan ideal" yang diformulasikan oleh para ilmuwan barat.  Tidak salah para ilmuwan barat menyatakan bahwa konsep pendidikannya sudah ideal, tapi perlu disadari bahwa idealisme itu hanya sesuai untuk kultur dan situasi barat. Kita sendirilah yang harus menyusun konsep yang ideal untuk kultur dan situasi bangsa kita sendiri. Gunakanlah OCC Bina Graha untuk memahami kultur dan situasi bangsa, integrasikan konsep pendidikan ini dengan bidang kementrian yang lain seperti ekonomi dan hankam. Dan jangan lupa, mulailah dengan membuka kesadaran generasi bangsa untuk memiliki cita-cita luhur, bukan hanya cita-cita ekonomis yang pada akhirnya menghasilkan budaya menghalalkan segala cara.

Ini adalah langkah besar untuk kehormatan dan kejayaan harkat dan martabat masa depan sang Merah Putih.

By the way anyway busway, semua yang diusulkan oleh Blog Titen sudah mulai terakomodir, dari OCC, integrasi hingga ke pendidikan. Jadi, sepertinya aku sudah harus mulai menyusun artikel penutup, meskipun sayang banget sebab Blog Titen telah sudah memiliki 800-1000 kunjungan tiap bulannya. Thanks for Titeners! 

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini