23 April 2010

FTA ASEAN-CHINA: Terlambatkah Kita Menyadari Perubahan Struktur Sosial?

Melihat kerusuhan di Priok dan Batam, aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Yang tinggal jauh di pedalaman Jogja pun bisa melihat bahwa FTA mengubah struktur ekonomi yang mempengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia yang dicontohkan dengan perubahan di Amrik,
"....... Dampak negatif serbuan produk murah China dapa dilihat pada krisis Subprime Mortgage di Amerika. Dengan pelan tapi pasti, produk murah China mengubah pola konsumsi dan investasi masyarakat Amerika. Didukung dengan fasilitas kredit murah hasil kebijakan ekonomi makro Bank Sentral Amerika, ancaman krisis terakumulasi bagai bola salju. Dan akhirnya bola salju berhasil meluluh-lantakkan perekonomian Amerika...."

bisa memberi peringatan agar jangan terlena,
".... pelaku ekonomi rill akan bergerak tanpa menunggu kebijakan pemerintah, baik bergerak untuk menuju situasi kondusif maupun ke arah yang lebih buruk. Dan pemerintah harus mengontrol semuanya...."

mengetahui potensi kekuatan kaum marginal yang bisa meledak setiap saat,
"....Mudah-mudahan FTA ASEAN-China tidak mempersempit ruang gerak kaum marjinal, mereka tetap bisa memberikan pemasukan anggaran bagi negara. Karena jika kau marginal ini lumpuh, maka dampak sistemik yang sesungguhnya akan benar-benar terjadi...
....Sudah saatnya kaum marginal ditempatkan pada lokasi, kondisi dan situasi yang layak. Bukan asal digusur atau diperlakukan seperti Nenek Minah ataupun Pak Dhe Lanjar, Jamkesmas saja belumlah cukup ...."

menunjukkan bahwa FTA ini adalah perang dan adu cerdas ala intelejen,
"....FTA ASEAN-China bukanlah aksi tipu-tipu, tapi murni adu kecerdasan di 'medan pertempuran'.
Mungkin Indonesia akan terseok-seok dalam menghadapi FTA. Ancaman kelumpuhan dunia usaha nasional tidak hanya datang dari China, bencana alam dan kebakaran satu demi satu melumpuhkan dunia usaha. Tapi, dengan memandang memandang perkembangan situasi secara jernih, tentu akan dapat kita temukan sebentuk "blessing in disguise". Kuncinya, jangan tabu dengan budaya sendiri ...
"

dan bahkan udah ngasih gambaran perlunya pemerintah mengarahkan perubahan sosial agar tidak menimbulkan kekacauan,
' ..........Perubahan akibat FTA diakibatkan penurunan tarif dan penghapusan kuota. Keduanya akan meningkatan intensitas perdagangan yang akan mendorong perubahan pola ekonomi dan sosial masyarakat yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Sehingga perlu kontrol agar perubahan tidak mengarah pada kondisi terburuk......"

(.... Wah pokoknya narsis abizz....!)

Apa hendak dikata, gelembung perubahan sosial mulai terkoyak. Luapan emosi kaum marginal dalam kerusuhan priok dan isu SARA dalam kerusuhan Batam bisa membuat investor berpikir berulang kali buat investasi di Indonesia. Aku berharap belum terlambat bagi pemerintah untuk menyadarinya.

Memang, menguraikan gerakan sosial yang berpotensi menimbulkan kerusuhan bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi memberikan penjelasan perubahan struktur sosial yang tidak hanya berkait dengan unsur ekonomi saja, melainkan akan menyinggung SARA dan kinerja Pemerintah.

Mungkin aku harus membuka-buka lagi penelitianku tentang "psycho-virus" (tulisan yang dibuat sebelum munculnya gerakan koin untuk Prita), karena psycho-virus inilah yang dapat menjelaskan kenapa kasus Bu Dhe Prita bisa meledak sedang kasus malpraktek yang menimpa Tante Juliana belum menjadi psycho-virus. Padahal keduanya sama-sama korban RS Omni.

By the way anyway busway, penjelasan tentang perubahan struktur sosial pun belum tentu dapat memberikan pencerahan karena pejelasannya tidak bakal menggunakan logika ilmiah ala fisika Newtonian. Mungkin hanya orang-orang seperti George Soros yang bisa memahaminya, atau orang-orang yang memahami bahwa realitas adalah relativitas yang paradoks.

Di sisi lain, aku juga engga mau bikin penjelasan mengenai "pasukan gaib" yang sering disinggung dalam Blog Titen, karena bakal banyak menerima tuntutan pencemaran "nama baik". Terlebih lagi, penjelasan itu akan seperti omelan pasien RSJ yang kehabisan obat. Lagian kalo aku harus ngejelasin, lalu apa dong kerjaannya BIN? Kalo aku kan dasar analisis dari berita "janggal" yang sempat ku baca, sedang BIN tentunya mempunyai database "peristiwa-peristiwa janggal" baik yang dimuat media ataupun tidak. Sehingga analsisi BIN seharusnya lebih mantap, engga seperti analisis kacangan di blog Titen ini.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini