28 April 2010

Mimpi, Gempa dan Lapindo: Kian Terbukti Nyata

Baru tanggal 25 April kemarin aku menuliskan : Studi Kasus Lapindo: Gempa Jawa dan Lumpur Lapindo yang berisikan tentang munculnya semburan baru di Porong Sidoarjo setelah kunjungan presiden SBY pada  akhir Maret 2010.  Hal ini membuatku menggali kembali rasa penasaran akan hubungan semburan lumpur Lapindo dengan gempa di Pulau Jawa.

Lebih lanjut, aku juga menuliskan bahwa  pada tahun 2009 lalu, jaraknya relatif dekat dimana semburan lumpur membesar dan gempa Tasikmalaya terjadi pada bulan yang sama, yaitu September. Untuk tahun 2010 ini, gempa-gempa dangkal yang relatif kecil terjadi pada bulan Februari sedang semburan lumpurnya baru terjadi pada bulan April. Hingga kini (tanggal 25 April 2010), belum tercatat gempa dengan skala besar yang terjadi mengikuti kemuculan semburan baru ini.

Dan ternyata, tanggal 28 April 2010 ini, gempa itu benar-benar terjadi di Tasikmalaya pukul 2 dini hari (Kompas) ... Mungkin penelitian tentang Gempa Bumi di Pulau Jawa memang sudah saatnya ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, yaitu penelitian dengan metode Quantum.

Memang, tidak mudah mempelajari ilmu Quantum, bahkan aku sendiri pernah bertanya pada diri sendiri "Apakah aku masih waras?". Artikel mimpi gempa yang pernah ku tulis, bukanlah sebuah mimpi yang datang dengan tiba-tiba, melainkan sebuah proses quantum yang mungkin akan dianggap sebagai proses yang gila. Mirip dengan proses pertemuanku dengan Nyai Roro Kidul, hahaha.....

Pulau Jawa adalah pulau yang mendapatkan banyak berkat/barokah dari sang Maha Pencipta. Jadi tak heran jika pulau kecil ini begitu padat penduduknya karena banyaknya berkah yang berserak di pulau ini. Bahkan angkatan perang sekutu habis-habisan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Jepang di Laut Jawa. Namun sayang, begitu melimpah berkah itu hingga membuat kita lupa diri dalam keserakahan.

Mimpi gempa yang ku alami mungkin adalah peringatan bagi penduduk Jawa agar kembali pada ajaran keluhuran budi warisan para leluhur. Mungkin aku emang udah gila, tapi yang pasti aku bukan nabi atau orang suci. Aku hanyalah orang biasa yang narsis dan sok tahu ... tapi pendiam dan bersahaja (halah... narsis lagi).


Well, setidaknya jika mimpi gempa itu adalah peringatan bagi Orang Jawa, aku sudah mempublikasikannya melalui blog ini. Jadi jika mimpi itu adalah amanat dari Yang Maha Kuasa, maka lunas sudah amanat itu ...

(Catatan: Untuk gempa Tasikmalaya yang terjadi tanggal 10 Januari 2010, tidak ada tanda-tanda peningkatan aktivitas lumpur Lapindo, namun terjadi semburan lumpur gas pada 26 Desember 2009 pada tiga sumur bor Lengowangi II milik Joint Operating Body (JOB) Pertamina Petrocina di Desa Sekarkurung, Kebomas, Gresik )

Update 30 April 2010
Ternyata fenomena suara gemuruh bawah tanah pasca Gempa Jogja juga terjadi di Sumedang, Jawa Barat. Padahal semula hanya terjadi di Imogiri Yogyakarta.  Seakan-akan emang ada aktivitas bawah tanah yang bergerak ke arah barat.
Masih ditambah lagi dengan fenomena meledaknya sebuah rumah yang diduga kejatuhan benda dari luar angkasa. Semoga bener-bener ada benda luar angkasa yang jatuh. Sebab, jika ledakan itu adalah hasil aktivitas geologis, maka ledakan ini adalah early warning yang mengerikan.




26 April 2010

Lagi, Pemadaman Potensi Bangsa ....

SMA Negeri 68 Jakarta
Matematika Dapat 9,75 tapi Tak Lulus UN
Senin, 26 April 2010 | 11:32 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Predikat kelulusan ternyata tidak mudah diraih. Walaupun nilai pada satu mata pelajaran nyaris sempurna, status kelulusan tetap saja tertunda jika gagal pada mata pelajaran lain. Setidaknya, hal inilah yang dialami Prasetyo, siswa SMAN 68 Salemba, Jakarta Pusat.

Pras, demikian ia biasa dipanggil, mendapat nilai 9,75 untuk mata pelajaran Matematika. Namun apa mau dikata, nilai Biologi-nya jauh di bawah standar kelulusan. Siswa jurusan IPA ini pun harus bersabar guna mencapai predikat lulus dengan menempuh UN ulangan pada 11-13 Mei mendatang.
......................................................................
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/26/11323421/Matematika.Dapat.9.75.tapi.Tak.Lulus.UN
..................................................................

Lagi, satu putra bangsa yang memiliki potensi dan bakat bidang matematika harus "dibunuh" dengan biologi!

Aku hanya membayangkan, jika saja sistem pendidikan kita mengembangkan sistem pendidikan khusus untuk anak berbakat, maka:
1. Tidak akan ada lagi anak berbakat yang "dinormalkan" oleh pendidikan umum.
2. Muncul bisnis baru di bidang-bidang yang selama ini kurang peminat
.
.
.
.
.
XXX. Indonesia menjadi negara yang hebat! 

25 April 2010

Studi Kasus Lapindo: Gempa Jawa dan Lumpur Lapindo

Munculnya semburan baru di Porong Sidoarjo setelah kunjungan presiden SBY pada  akhir maret 2010,  membuatku menggali kembali rasa penasaran akan hubungan semburan lumpur Lapindo dengan gempa di Pulau Jawa.

Hingga saat ini, aku masih belum memiliki gambaran yang jelas mengenai aktivitas struktur lapisan tanah Pulau Jawa, dan masih berkutat dengan pengetahuan konyol ala infotainment. Yaitu kemunculan yang beriringan antara gempa di Pulau Jawa dengan aktivitas semburan lumpur. Klo dua artis cowok dan cewek sering muncul bareng, penelitian ala infotainment menyimpulkan bahwa keduanya pacaran. Nah klo yang muncul antara semburan lumpur dan gempa, disebut apa dong ...

Apakah Lumpur dan Gempa masih berjalan seiring sejalan hingga sekarang?

Pada tahun 2009 lalu, jaraknya relatif dekat dimana semburan lumpur membesar dan gempa Tasikmalaya terjadi pada bulan yang sama, yaitu September. Untuk tahun 2010 ini, gempa-gempa dangkal yang relatif kecil terjadi pada bulan Februari sedang semburan lumpurnya baru terjadi pada bulan April. Hingga kini, belum tercatat gempa dengan skala besar yang terjadi mengikuti kemuculan semburan baru ini.

Jika dalam waktu dekat terjadi gempa yang cukup besar dan dapat dirasakan, mungkin penelitian gaya infotainment ini harus ditingkatkan menjadi penelitian yang lebih serius yang mungkin bisa mengubah pandangan kita terhadap bumi ...

23 April 2010

FTA ASEAN-CHINA: Terlambatkah Kita Menyadari Perubahan Struktur Sosial?

Melihat kerusuhan di Priok dan Batam, aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Yang tinggal jauh di pedalaman Jogja pun bisa melihat bahwa FTA mengubah struktur ekonomi yang mempengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia yang dicontohkan dengan perubahan di Amrik,
"....... Dampak negatif serbuan produk murah China dapa dilihat pada krisis Subprime Mortgage di Amerika. Dengan pelan tapi pasti, produk murah China mengubah pola konsumsi dan investasi masyarakat Amerika. Didukung dengan fasilitas kredit murah hasil kebijakan ekonomi makro Bank Sentral Amerika, ancaman krisis terakumulasi bagai bola salju. Dan akhirnya bola salju berhasil meluluh-lantakkan perekonomian Amerika...."

bisa memberi peringatan agar jangan terlena,
".... pelaku ekonomi rill akan bergerak tanpa menunggu kebijakan pemerintah, baik bergerak untuk menuju situasi kondusif maupun ke arah yang lebih buruk. Dan pemerintah harus mengontrol semuanya...."

mengetahui potensi kekuatan kaum marginal yang bisa meledak setiap saat,
"....Mudah-mudahan FTA ASEAN-China tidak mempersempit ruang gerak kaum marjinal, mereka tetap bisa memberikan pemasukan anggaran bagi negara. Karena jika kau marginal ini lumpuh, maka dampak sistemik yang sesungguhnya akan benar-benar terjadi...
....Sudah saatnya kaum marginal ditempatkan pada lokasi, kondisi dan situasi yang layak. Bukan asal digusur atau diperlakukan seperti Nenek Minah ataupun Pak Dhe Lanjar, Jamkesmas saja belumlah cukup ...."

menunjukkan bahwa FTA ini adalah perang dan adu cerdas ala intelejen,
"....FTA ASEAN-China bukanlah aksi tipu-tipu, tapi murni adu kecerdasan di 'medan pertempuran'.
Mungkin Indonesia akan terseok-seok dalam menghadapi FTA. Ancaman kelumpuhan dunia usaha nasional tidak hanya datang dari China, bencana alam dan kebakaran satu demi satu melumpuhkan dunia usaha. Tapi, dengan memandang memandang perkembangan situasi secara jernih, tentu akan dapat kita temukan sebentuk "blessing in disguise". Kuncinya, jangan tabu dengan budaya sendiri ...
"

dan bahkan udah ngasih gambaran perlunya pemerintah mengarahkan perubahan sosial agar tidak menimbulkan kekacauan,
' ..........Perubahan akibat FTA diakibatkan penurunan tarif dan penghapusan kuota. Keduanya akan meningkatan intensitas perdagangan yang akan mendorong perubahan pola ekonomi dan sosial masyarakat yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Sehingga perlu kontrol agar perubahan tidak mengarah pada kondisi terburuk......"

(.... Wah pokoknya narsis abizz....!)

Apa hendak dikata, gelembung perubahan sosial mulai terkoyak. Luapan emosi kaum marginal dalam kerusuhan priok dan isu SARA dalam kerusuhan Batam bisa membuat investor berpikir berulang kali buat investasi di Indonesia. Aku berharap belum terlambat bagi pemerintah untuk menyadarinya.

Memang, menguraikan gerakan sosial yang berpotensi menimbulkan kerusuhan bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi memberikan penjelasan perubahan struktur sosial yang tidak hanya berkait dengan unsur ekonomi saja, melainkan akan menyinggung SARA dan kinerja Pemerintah.

Mungkin aku harus membuka-buka lagi penelitianku tentang "psycho-virus" (tulisan yang dibuat sebelum munculnya gerakan koin untuk Prita), karena psycho-virus inilah yang dapat menjelaskan kenapa kasus Bu Dhe Prita bisa meledak sedang kasus malpraktek yang menimpa Tante Juliana belum menjadi psycho-virus. Padahal keduanya sama-sama korban RS Omni.

By the way anyway busway, penjelasan tentang perubahan struktur sosial pun belum tentu dapat memberikan pencerahan karena pejelasannya tidak bakal menggunakan logika ilmiah ala fisika Newtonian. Mungkin hanya orang-orang seperti George Soros yang bisa memahaminya, atau orang-orang yang memahami bahwa realitas adalah relativitas yang paradoks.

Di sisi lain, aku juga engga mau bikin penjelasan mengenai "pasukan gaib" yang sering disinggung dalam Blog Titen, karena bakal banyak menerima tuntutan pencemaran "nama baik". Terlebih lagi, penjelasan itu akan seperti omelan pasien RSJ yang kehabisan obat. Lagian kalo aku harus ngejelasin, lalu apa dong kerjaannya BIN? Kalo aku kan dasar analisis dari berita "janggal" yang sempat ku baca, sedang BIN tentunya mempunyai database "peristiwa-peristiwa janggal" baik yang dimuat media ataupun tidak. Sehingga analsisi BIN seharusnya lebih mantap, engga seperti analisis kacangan di blog Titen ini.

14 April 2010

Lagi Riset buat Bikin Skenario Film: Lingkaran Kincir Angin

Riset adalah kegiatan yang sangat menyenangkan karena selalu membuka wahana baru ...

Setelah ikut workshop penulisan skenario film, gatal rasanya pengen nulis skenario ... maklum, mantan pembuat cerpen ...






Judul: Lingkar Kincir Angin
Daftar isi:
- Sinopsis Global
- Treatment Sinopsis
- Penokohan
- Setting 3 Dimensi
- Scene

- Sinopsis Global
Dua insan, pemuda di Jogja dan gadis di Leiden, dipertemukan oleh simbol Lingkar Kincir Angin. Ternyata simbol itu tak hanya mengubah jalan hidup mereka, tapi juga membuka sebuah rahasia yang terpendam semenjak kedatangan Jepang di tahun 1942.



- Treatment Sinopsis
 BABAK PEMBUKA
1942: Yogyakarta
Suasana sangat sepi. Tampak cahaya api berkobar dari jendela ruang kerja Meneer Spirtus. TIba-tiba EMPAT TENTARA JEPANG keluar dari pintu depan rumah Meneer Spirtus,  kemudian menaiki Jeep terbuka yang parkir di depan rumah Meneer Spirtus. Dari ujung jalan yang berlawanan arah dengan jeep. SUWITO memperlambat sepedanya dan memperhatikan KEEMPAT TENTARA JEPANG.  Saat Jeep mulai bergerak ke arahnya, SUWITO mengentikan sepedanya dan tetap duduk di atas sadel sembari terus menatap ke arah Jeep. TENTARA JEPANG I yang duduk di belakang pengemudi menatap SUWITO, SUWITO membalas tatapan itu. Menjelang jeep tersebut melintasi SUWITO, salah satu TENTARA JEPANG I itu meneriakkan Nippon Cahaya Asia. SUWITO membalas anggukan dengan pelan dan bingung. SUWITO kembali mengayuh sepedanya menuju kerumah Meneer Spirtus. SUWITO sangat terkejut melihat cahaya api dari jendela ruang kerja. SUWITO buru-buru masuk ke halaman rumah Meneer dan mengintip dari jendela ruang kerja. Api terlihat berkobar dari mini bar. Di atas meja kerja terlihat secarik kertas dengan logo lingkaran kincir angin pada bagian atasnya. ... dissolve to: (Judul film muncul di samping gambar lingkaran kincir angin)

2010: Leiden - Belanda
(disertai credit tittle) Hanya gambar lingkaran Kincir Angin terlihat jelas tergambar di bagian sebuah kertas yang sudah lusuh dan tergeletak di atas meja. Tineke memungut kertas terbut dan memasukkan ke dalam scanner. Sementara menunggu proses scan, Tineke menatap setumpuk amplop dengan wajah sedih. Setelah mendesahkan nafas panjang, ia  memungut sebuah pulpen perak kemudian memandangi pulpen tersebut... dissolve to:

2010: Yogyakarta
(disertai credit tittle) Sebuah pulpen perak digunakan menulis oleh Satriya di kantornya, untuk menyalin gambar grafis yang tertera di layar laptopnya. ... fade to black.


BABAK I
Tahun 1942
Sore itu Meneer Spirtus menyiapkan sebuah surat untuk anaknya yang mengungsi ke London setelah Negeri Belanda dikuasai tentara Jerman. Kemudian ia menitipkan surat tersebut kepada pembantu setianya, Suwito. Kepada Suwito ia berpesan bawa cepat atau lambat orang-orang Jepang akan menangkapnya, sementara ia tak tahu nasib anaknya di London. Ia menyuruh Suwito menyampaikan surat wasiat untuk anaknya tersebut kepada Meneer Van Broom yang hendak bertolak ke London hari itu juga. Suwito menuntun sepeda untuk berangkat ke rumah Meneer Van Broom ... disolve to

Tahun 2010
Satriya menuntun sepeda motor memasuki pelataran parkir tempat kursus fotografi kemudian berjalan memasuki ruang kelas bersamaan dengan tentor kursus. Sang tentor memberikan tugas kepada peserta kursus untuk mengambil gambar yang bercerita tentang sejarah. Ia mencontohkan dengan sebuah foto prasasti jaman kerajaan hindu dengan latar belakang Masjid modern, dikatakan bahwa foto tsb menceritakan sejarah perkembangan pengaruh asing di pulau jawa. Kemudian tentor membiarkan para peserta kursus mendiskusikan rencana pengambilan gambar. Terdapat beberapa usulan pengambilan gambar di Borobudur, prambanan, kraton, dan sebuah usulan dari Satriya untuk mengambil gambar di bekas ruang kerja Meneer Spirtus. Ruangan itu kini kosong dan tak terawat, mereka bisa meletakkan meja kerja yang mewah dengan aksesori jaman Belanda ketika ruangan itu berada di puncak kejayaan. Sehingga foto yang diperoleh adalah foto yang menceritakan kejayaan jaman dulu sekaligus kondisinya saat ini. Usulan tersebut diterima dan diputuskan untuk besok melihat bekas ruang kerja Meneer Spiritus.
CUT TO:
Satriyo mendatangi toko batik milik ibunya. Terungkap keinginan ibunya untuk segera menimang cucu. Kemudian Satriyo membantu ibunya menurunkan tas ... dissolve to:

BABAK II
Tineke meletakkan tas di lantai di rumahnya di Leiden. ia memeriksa dokumen dan foto-foto dan menemukan sebuah foto yang menunjukkan Meneer Spirtus bersandar di sebuah lokomotif pengangkut tebu yang sama persis dengan foto yang dimuat dalam blog yang dibuat oleh Satriyo ... dissolve to:

BABAK III
Tahun 1942
Suwito mengayuh sepeda melintasi lokomotif pengangkut tebu kemudian berbelok memasuki pekarangan rumah Meneer Van Broom. Terlihat para pegawai Meneer Van Broom tengah memasukkan berbagai barang ke dalam mobil. Meneer Van Broom sendiri berdiri di teras. Suwito menghampiri Meneer Van Broom dan menyerahkan surat dari Meneer Spirtus. Meneer Van Broom menanyakan kepastian bahwa Meneer Spirtus tidak akan meninggalkan tanah Jawa. Suwito mengiyakan, kemudian Meneer Van Broom mengatakan bahwa semenjak kematian istrinya Meneer Spirtus mencurahkan seluruh cintanya pada Pulau Jawa. Meneer Van Broom titip agar Suwito menjaga Meneer Spirtus dengan sebaik-baiknya. Suwito pun  segera pamit kemudian menuntun sepedanya ke luar pekarangan ... dissolve to

Tahun 2010
Foto Suwito tengah menuntun sepeda terpasang di ruang tamu rumah Satriya. Satriya tegah memandang foto itu sambil duduk di sofa. Ibunya muncul dari ruang tengah dan terheran-heran dengan tingkah Suwito. Kemudian mereka berbincang mengenai Suwito, yang tak lain adalah mertua Ibu Satriya alias kakek Satriya. Dari perbincangan diketahui bahwa kakek Suwito berpesan pada almarhum Ayah Satriya untuk mencari keberadaan keturunan Meneer Spirtus sekedar mengucapkan terima kasih karena telah merawat Suwito semenjak berusia 12 tahun.
Malam itu juga, Satriya langsung menuju ke warnet untuk mencari tahu mengenai Meneer Spirtus.Pencarian Satriya tidak sia-sia, ia menemukan sebuah blog yang ditulis oleh cucu Meneer Spirtus. Terihat icon messenger yang menyala menunjukkan bahwa penulis blog sedang on-line. Satriya segera mengontak penulis blog. Dari percakapan diketahui bahwa cucu Meneer Spirtus berama Tineke dan sangat lancar berbahasa Indonesia. Tineke sudah berencana akan ke Indonesia untuk mencari makam kakeknya. Satriya menyatakan siap mengantarkan Tineke karena Satriya tahu dimana makam Meneer Spirtus. Satriya juga menceritakan rencana pemotretandi ruang kerja Meneer Spiritus. Tineke teringat ada sebuah surat yang sudah luntur tak terbaca, Tineke menawarkan surat tersebut sebagai salah satu aksesori dalam foto yang akan dibuat. Surat yang sudah di-scan segera dikirimkan kepada Suwito. Suwito segera men-download surat tersebut. Sedikit demi sedikit gambar surat mulai muncul di layar monitor, dimulai dari bagian atas surat yang menunjukkan gambar lingkaran kincir angin... disolve to.

Tahun 1942
Tangan Meneer Spirtus tengah menggambar lingkaran kincir angin di atas sebuah kertas ketika Suwiito memasuki ruang kerja sambil membawa nampan dengan secangkir teh. Meneer Spirtus menceritakan bahwa ia mendapat informasi kalau Meneer Van Broom naik kapal Sieberg, namun kapal itu ditenggelamkan oleh kapal perang Jepang. Meneer Spirtus berencana untuk membuat surat lagi. Ia menanyakan apakah Surat itu bisa dititipkan kepada Suwito, Suwito menyatakan sanggup dan akan berusaha sekeras mungkin. Meneer Spirtus menceritakan bahwa saat pertama kali mengajari Suwito baca-tulis ia yakin bahwa kemapuan itu akan sangat berguna kelak dikemudian hari. Kemampuan baca tulis itu akan sangat berguna jika usai perang nanti Suwito mencari tahu dimana anak Meneer Spirtus berada. Meneer Spirtus memberikan sebuah pulpen perak kepada Suwito, Suwito menimangnya dengan rasa senang, tangannya bergerak-gerak seperti menuliskan sesuatu dengan pulpen perak itu ... dissolve to.


BABAK IV
Tahun 2010
Satriya tengah menimang pulpen perak ketika salah seorang rekan kerjanya mengingatkan bahwa jam kerja kantor sudah habis ... [to be continued]


- Penokohan

Satriya Tinarbuka
Seorang pemuda Jawa berusia 27 tahun, tinggi 160-165 cm dengan berat 50-60 kg, berambut lurus, berkacamata 'oakley", selalu berpenampilan rapi dan berperilaku santun yang sangat dipengaruhi oleh tata krama jawa, serta selalu bertindak dengan hati-hati. Sikap hormat dan ramah ditunjukkan kepada setiap orang.
Sebagai sarjana Teknik Komunikasi, ia bekerja di sebuah agensi iklan sebagai staf visual art director. Meski sudah sarjana, ia tetap mengikuti kursus fotografi demi memperdalam kemampuan seni visual.
Ayah Satriyo meninggal pada saat Satriyo berusia 10 tahun. Hal ini yang membuat Satriyo gemar mendengarkan cerita dari orang-orang tua mengenai kiprah almarhum ayah serta kakeknya. Karena sering membantu ibunya yang memiliki toko kain batik, Satriyo sering bertemu dengan para orang tua yang dengan senang hati menceritakan kisah masa lalu.
Satriyo gemar membaca buku-buku filsafat. Kegemaran ini membuat ibunya curiga, jangan-jangan Satriyo mencari istri yang sempurna karena orang yang senang berfilsafat biasanya menari kesempurnaan. Makanya, hingga di usia 27 tahun, Satriyo belum pernah memperkenalkan teman perempuannya sama sekali.
Sebagai seorang kutu buku, koleksi buku Satriyo tidak banyak namun sangat beragam jenisnya. Dari buku Das Kapital-nya Karl Marx yang masih dalam bahasa Inggris hingga buku Serat Centhini dalam bahasa Jawa.  Dapat pula ditemukan buku-buku modern hasil tulisan Malcolm Gladwell. Sedang buku cerita yang menjadi koleksinya adalah hasi karya Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, Mark Twain serta Dan Brown.

Meneer Spirtus/ Meneer Pieter Kerstens Klinkhamer
Berperawakan 180 cm, berambut putih, kumis tipis dan terihat kurus. Berperilaku tenang karena ingin meniru filsafat hidup orang jawa.
Datang ke hindia belanda ketika berusia 20 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan kereta api di Semarang. Ia kemudian menikah dengan perempuan Jawa dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun, istrinya meninggal saat melahirkan anak kedua. Kedua anak Meneer Spirtus dibawa le Belanda oleh orang tua Meneer Spirtus, sedang Meneer Spirtus sendiri tetap tinggal di Jawa. Ia pindah ke Yogyakarta dan bekerja menangani produksi spirtus di Pabrik Gula. Ia mengangkat anak dari kaum pribumi bernama Suwito dan tidak menikah lagi.
Meneer Spirtus sangat mencintai Jawa, namun ia tidak setuju dengan perjuangan Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara untuk memerdekakan Jawa. Ia justru memandang bahwa tradisi Jawa akan hilang jika orang-orang Jawa terjun langsung dengan kejamnya kapitalisme dunia. Tapi dia sangat mendukung ide perjuangan untuk mencerdaskan masyarakat Jawa yang dijalankan Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara.
Salah satu pernyataan Meneer Spirtus yang paling banyak diingat oleh teman-teman seperjuangannya adalah "Aku bangga dilahirkan sebagai orang Belanda, tapi jika aku dilahirkan kembali maka aku memilih dilahirkan sebagai orang bumiputera."
Pemikiran Meneer Spirtus banyak dipengaruhi oleh buku-buku yang ia baca. Ia banyak membaca buku filsafat yunani dan buku-buku filsafat Jawa.

Suwito
Seorang pemuda Jawa berusia 27 tahun, tinggi 160-165 cm dengan berat 50-60 kg, berambut lurus, selalu berpenampilan rapi dan berperilaku santun yang sangat dipengaruhi oleh tata krama jawa, serta selalu bertindak dengan hati-hati. Sikap hormat dan ramah ditunjukkan kepada setiap orang.
Setelah mendapatkan pelajaran baca-tulis dari Meneer Spirtus, ia sangat gemar membaca. Adakalanya ia mendiskusikan sebuah buku berdua dengan Meneer Spirtus, baik buku-buku filsafat jawa maupun buku-buku filsafat yunani.

Partinah (Ibu Satriyo)
Perempuan Jawa berusia 50 tahun, sangat menyayangi anak satu satunya, Satriyo. Sikapnya yang santun dengan emosi yang terkendali sangat mempengaruhi sifat Satriyo yang juga tenang.
Sejak pagi hingga petang mengabiskan waktunya di Toko Kain Batik yang ia kelola, dibantu beberapa orang karyawan. Selama berada di toko, ia mengenakan pakaian kebaya, namun di rumah ia mengenakan daster. Ia selalu berusaha pulang sebelum jam 6 sore sehingga bisa membuat masakah untuk anak tunggalnya, yang kemudian makan malam berdua, membicarakan tentag para pelanggan tokonya, teman-teman Satriyo hingga membahas desain batik. Dan sebuah pembicaraan yang paling sering dilakukan adalah menceritakan tentang gadis-gadis cantik dan baik-baik yang mungkin Satriyo tertarik. Namun satriyo tidak pernah menanggapi dengan serius. Sehingga, pada saat Satriyo bercerita akan ada gadis indo-belanda yang menginap di rumah mereka, dengan penuh semangat ia mencoba mengubah salah satu kamar tidurnya seperti kamar hotel bintang lima meski dengan banyak keterbatasan pengetahuan tentang fasilitas hotel mewah.

Tineke Kerstens Klinkhamer
Gadis Indo-Belanda berusia 27 tahun, tinggi 170-175 cm, berpakaian selayaknya wanita karir, mewarisi usaha real estate ayahnya yang bangkrut akibat krisis global 2007.
.......... dst



- Setting 3 Dimensi

Ruang Kerja Meneer Spirtus tahun 1942
Ruangan cukup luas berukuran 8 x 4 meter, dengan tinggi mencapai 3 meter. Pada dinding berukuran 4 x 3 meter terdapat jendela tanpa gordyn dengan empat daun jendela, dua daun jendela yang membuka ke arah luar dan dua jendela membuka ke arah dalam. Daun jendela yang membuka ke arah luar adalah daun jendela kayu yang rapat, sedang daun jendela yang membuka ke arah dalam memiliki kaca dan tertutup denga vitrage.
Daun jendela berwarna kuning gading, sedang bingkainya berwarna coklat tua. Dinding berwarna kuning gading. Lantai tegel hitam mengkilat.
Kursi kerja adalah kursi ukir dengan warna kuning emas, letaknya tepat membelakangi jendela. Meja kerja ukir berwarna emas tepat berada di depan kursi kerja, dengan tempat pena dan sebotol tinta di ujung meja.
Sebuah rak buku berisi berbagai macam buku dan aksesori memanjang di salah satu dinding. Buku-bukunya sangat beragam, mulai dari buku filsafat Yunani hingga buku-buku filsafat Jawa, disamping beberapa buku mengenai pengolahan tebu. Aksesori yang ada diataranya patung setengah dada, patung ksatriya, patung bunga tulip, dan miniatur kincir angin.
Tepan disamping rak buku terdapat almari penyimpanan minuman alkohol. Lemari dengan pintu kaca ini berisi beberapa botol minuman dengan bentuk beraneka ragam dan terdapat pula beberapa buah gelas kecil.
Pada bagian dinding yang lain terdapat jam Junghan kecil dengan angka romawi dan pendulum yang berayun-ayun. Di dinding itu pula terdapat foto Meneer Spirtus muda yang merangkul mesra seorang wanita pribumi yang tengah menggendong bayi, dengan latar belakang stasiun kereta api. Dalm foto tersebut Meneer Spirtus mengenakan topi tinggi pegawai kereta api. Tepat di sebelah foto ini terdapat sebuah foro anak laki-laki berusia 10 tahun yang berdiri bekacak pinggang di depan sebuah kincir angin. Di sebelah foto anak kecil ini, ada sebuah obyek yang tak lazim bagi orang Belanda yaitu sebuah wayang kulit.
Bagian tengah ruangan berisi sebuah meja bundar dengan empat kursi bundar mengelilinginya.


Ruang Kerja Meneer Spirtus Tahun 2010
..... dst

- Scene

Lingkaran Kincir Angin

BABAK PEMBUKA

SCENE 1: EXT HALAMAN RUMAH MENEER SPIRTUS - SENJA
CAST: SUWITO, TENTARA JEPANG 1, TENTARA JEPANG 2, TENTARA JEPANG 3, TENTARA JEPANG 4

Suasana sangat sepi. Tampak cahaya api berkobar dari jendela ruang kerja Meneer Spirtus. TIba-tiba EMPAT TENTARA JEPANG keluar dari pintu depan rumah Meneer Spirtus. Tiga dinataranya membawa senapan laras panjang lengkap dengan pisau bayonet, dan keempatnya mengenakan topi khas tentara Jepang tahun 1940-an. KEEMPAT TENTARA JEPANG itu kemudian menaiki Jeep terbuka yang parkir di depan rumah Meneer Spirtus. Dari ujung jalan yang berlawanan arah dengan jeep, SUWITO muncul sambil mengendarai sepedanya. SUWITO mengenakan pakaian putih dan berkalung tas kecil warna hitam. SUWITO memperlambat sepedanya dan memperhatikan KEEMPAT TENTARA JEPANG.  Saat Jeep mulai bergerak ke arahnya, SUWITO mengentikan sepedanya dan tetap duduk di atas sadel sembari terus menatap ke arah Jeep. TENTARA JEPANG I yang duduk di belakang pengemudi menatap SUWITO, SUWITO membalas tatapan itu. Menjelang jeep tersebut melintasi SUWITO, TENTARA JEPANG I itu berteriak:

TENTARA JEPANG I
(Mengepalkan tangan)
"Nippon cahaya Asia!"
(mengangguk tegas khas Jepang)

SUWITO
(membalas anggukan dengan pelan dan bingung kemudian pandangannya mengikuti Jeep yang berlalu)

SUWITO kembali mengayuh sepedanya menuju kerumah Meneer Spirtus. SUWITO sangat terkejut melihat cahaya api dari jendela ruang kerja. SUWITO buru-buru masuk ke halaman rumah Meneer Spirtus dan meninggalkan sepedanya ambruk di tanah.

SUWITO
(berlari menuju ke jendela ruang kerja)
"Ndoro Meneer!"
(mengintip dari jendela ruang kerja)
"Ndoro!"

Api terlihat berkobar dari mini bar. Di atas meja kerja terlihat secarik kertas dengan logo lingkaran kincir angin pada bagian atasnya.

MOVIE TITTLE TEXT, FADE IN:
"LINGKARAN KINCIR ANGIN"

DISSOLVE TO

SCENE 2: INT RUANG KERJA TINEKE - SIANG
CAST: TINEKE

MOVIE TITTLE TEXT, FADE OUT:
"LINGKARAN KINCIR ANGIN"
CREDIT TITTLE TEXT: BEGIN

Secarik kertas lusuh dengan logo lingkaran kincir angin di bagian atas tergeletak di atas meja. Hanya logo lingkaran kincir angin yang terlihat jelas, sisanya hanyalah bercak-bercak tinta yang larut seperti tulisan tinta yang dibuat di atas kertas basah. Disamping kertas terdapat sebuah laptop dalam keadaan meyala. TINEKE memasuki ruangan sambil membawa scanner dan meletakkan  scanner di samping kertas kemudian meyambungkan kabel-kabel scanner. Setelah scanner siap, TINEKE memasukkan kertas lusuh ke dalam scanner dan menjalankan program scanning. embari menunggu scanning, TINEKE menatap tumpukan amplop dari beberapa bank kemudian mendesah panjang dengan sedih. Pandangan TINEKE beralih ke jendela yang menunjukkan pemandangan kesibukan kota LEIDEN dengan latar belakang KINCIR ANGIN. Pandangan beralih pada sebuah pulpen perak yang tergeletak di samping laptop. Tangan TINEKE kemudian meraih pulpen perak yang dihiasi dengan ukiran kecil. TINEKE menimang-nimang pulpen perak tersebut ...

DISSOLVE TO:

SCENE 3: INT KAMAR SATRIYO - SIANG
CAST: SATRIYO

Pulpen Perak yang berada ditangan SATRIYA membentuk tulisan latin "Indonesia". Kemudian SATRIYO mencoba menyalin huruf-huruf tersebut ke dalam laptopnya yang tengah menjalankan program Macromedia Flash. Tak jauh dari laptop, terdapat foto SATRIYO denga latar belakang tugu Yogyakarta dengan becak yang tengah melintas. Terdengar suara PARTINAH memanggil.

PARTINAH (OS)
"Le ..., SATRIYO!"

SATRIYO
"Inggih, Bu!"

SATRIYO meninggalkan kamarnya
CREDIT TITTLE TEXT: END

FADE TO BLACK

BABAK 1

SCENE 4: INT RUANG KERJA MENEER SPIRTUS - SIANG
CAST: SUWITO, MENEER SPIRTUS

SUWITO dan MENEER SPIRTUS duduk di kursi kayu bundar. Meja bundar di hadapan mereka terdapat dua cangkir teh yang sudah hampir habis dan sebuah piring berisi pisang rebus yang tersisa dua potong. Beberapa helai kulit pisang tergelatak di samping kedua cangkir. Juga terdapat sebuah asbak yang sudah terisi dengan abu rokok, sebuah geretan dan satu kotak tembakau yang terbuka. Sebuah nampan tergeletak di salah satu kursi kosong. SUWITO duduk sopan sambil memangku sebuah buku yang berjudul "BHARATAYOEDA" dalam posisi terbuka dan dipegang dengan kedua tangannya, sedangkan MENEER SPIRTUS bersandar dengan santai sambil memegang pipa rokok.

MENEER SPIRTUS
"Jadi, apa hubungan Bima Dewaruci sama Bharatayuda?"

SUWITO
(Menutup buku dan meletakkan di atas meja sehingga judul buku terlihat)
"Saya ndak tau, Ndoro Mener."

MENEER SPIRTUS
(Menghisap pipa sambil mengangguk-anggukan kepala)
"Hm..."
(menghembuskan asap rokok kemudian berdiri)
"Kita lanjutkan esok. Sekarang aku minta suruh kamu ke tempat Meneer Van Broom."

SUWITO
"Ndoro Meneer mau ngungsi juga?"

MENEER SPIRTUS
(berjalan ke meja kerja)
"Ada yang harus aku lakukan disini, aku ndak bisa pergi. Aku mau titip surat buat anakku"

SUWITO
(berdiri dan mengembalikan buku ke rak)
"Ya. Saya dengar Meneer Van Broom mau ke London, ndak ke Ostrali seperti Ndoro-ndoro Gubernur yang sudah lebih dahulu mengungsi."

MENEER SPIRTUS
(membuka laci dan mengambil amplop dengan raut muka sedih)
"Ratu Wilhelmina pindah ke London, Van Broom mau kasih lapor situasi Hindia-Belanda."

SUWITO
(kembali ke meja bundar, mengambil nampan kemudian memberesi meja sambil sesekali menatap MENEER SPIRTUS)
"Meneer Van Broom tahu alamat putra Ndoro Meneer yang ngungsi di London?"

MENEER SPIRTUS
(menggeleng sambil menunjuk asbak dengan amplop di tangan kirinya)
"Van Broom akan mencarinya di London nanti."

SUWITO
(segera mengambil asbak, kotak tembakau dan geretan  di meja bundar dan dipindahkan ke meja kerja)
"Saya sebenarnya juga ingin lihat Ndoro Satriyo. Apa mungkin Ndoro Satriyo pulang ke Jawa?"
(Memandang potret putra Meneer Spirtus yang terpasang di dinding)

MENEER SPIRTUS
(membuang abu rokok ke atas asbak sambil tersenyum pahit)
"Sebentar lagi, Jawa dikuasai Jepang. Kita ndak tahu akan seperti apa jadinya nanti."
( berjalan ke samping SUWITO sambil membawa amplop, ikut memandangi photo)
"Kamu tahu, itu photo lima belas tahun yang lalu. Sekarang dia sudah besar dan namanya bukan lagi Satriyo, tapi Olke."

SUWITO
(Memandang ke arak MENEER SPIRTUS denga heran)
"Olke?"

MENEER SPIRTUS
(menarik nafas panjang sambil mengalihkan perhatian ke arah photo dirinya bersanding dengan almarhum istrinya yang menggendong bayi)
"Papi dan Mami tidak suka aku kawin sama Sri Maryati. Ketika Sri mati, Papi dan Mami mengambil Satriyo dan ubah namanya jadi Olke Kerstens Klinkhamer. Katanya mau dididik jadi warga Belanda terhormat, ndak seperti inlander bodoh yang hanya pantas diludahi."
(menoleh ke arah SUWITO, tersenyum dan memegang pundaknya)
"Orang Jawa sangat hormati orang asing, tapi orang Belanda ndak paham, malah anggap orang Jawa bodoh."
(duduk di kursi bundar)
"Aku setuju sama Douwes Dekker sama Hadjar, buat Hindia-Belanda merdeka. Tapi sebelum merdeka, orang bumiputera harus pintar, harus tahu kalau dagang dunia sangat kejam. Karena itu juga aku tetap di sini, ndak ngungsi."

SUWITO
(tersenyum)
"Kalo semua orang Belanda seperti Ndoro Meneer, Jepang ndak akan berani menguasai Hindia-Belanda."

MENEER SPIRTUS
(balas tersenyum sambil mengulurkan amplop)
"Cepatlah berangkat."

SUWITO menerima amplop sementara MENEER SPIRTUS kembali berdiri dan berjalan ke meja kerja untuk tembakau di pipanya, SUWITO mengambil nampan kemudian meletakkan gelas, piring, kulit pisang dan amplop ke atas nampan kemudian meninggalkan ruang kerja.

CUT TO

SCENE 5: EXT HALAMAN RUMAH MENEER SPIRTUS - SIANG
CAST: SUWITO

SUWITO menuntun sepeda melintasi mobil buick buatan Australia yang parkir di halaman rumah.

DISSOLVE TO

BABAK 2

SCENE 6: EXT HALAMAN TOKO ALAT FOTOGRAFI - SIANG
CAST: SATRIYO, TENTOR FOTOGRAFI

SATRIYO menuntun sepeda motornya untuk diparkirkan di tempat parkir. SATRIYO mengenakan jaket hitam dengan kemeja biru muda seragam kantornya, serta tas ransel warna hitam. Setelah menempatkan motor, SATRIYO bergegas melintasi sebuah baliho kecil bertuliskan "KURSUS FOTOGRAFI" kemudian berjalan beriringan dengan TENTOR FOTOGRAFI yang mengenakan baju hitam putih sambil membawa gulungan kertas panjang.

SATRIYO
(berjalan di samping TENTOR FOTOGRAFI)
"Sore, Pak"

TENTOR FOTOGRAFI
(menoleh ke arah SATRIYO)
"Sore. Langsung dari kantor, ya?"

SATRIYO
(membetulkan tas ransel)
"Iya."

TENTOR FOTOGRAFI
"Apa engga capek, habis kerja langsung kursus."

SATRIYO
"Mumpung masih bujang."

Langkah kaki keduanya sampai di depan pintu kelas.

TENTOR FOTOGRAFI
(membukakan pintu kelas untuk SATRIYO)
"Mumpung bujang ato karna belum laku."

SATRIYO tersenyum sambil menggelengkan kepala dan masuk ke ruang kelas diikuti TENTOR FOTOGRAFI.

SCENE 7: INT RUANG KELAS KURSUS FOTOGRAFI - SIANG
CAST: SATRIYO, TENTOR FOTOGRAFI, RICKY, YOSI, ANGGI, CITRA.

RICKY, YOSI, ANGGI, CITRA membetulkan duduk mereka saat SATRIYO dan TENTOR FOTOGRAFI memasuki ruang kelas. RICKY masih mengenakan seragam SMA-nya, YOSI seperti biasa mengenakan kaos berkerah, ANGGI mengenakan kaos oblong sedang CITRA mengenakan kemeja dan celana jeams. SATRIYO segera memilih salah satu tempat duduk.

TENTOR FOTOGRAFI
(berjalan ke arah White board)
"Selamat sore semuanya."

RICKY, YOSI, ANGGI, CITRA
(sembari masih membetulkan duduk masing-masing)
"Sore, Paaak.. "

TENTOR FOTOGRAFI
(mengambil lakban dari saku dan menempelkan gulungan kertas yang ia bawa di white board, sehingga tampak gambar batu prasasti dengan latar belakang masjid dan seorang laki-laki tua melintas di halaman masjid mengenakan pakaian surjan disertai tulisan PERJALANAN SPIRITUAL JAWA)
"Seperti janji saya kemarin, hari ini saya akan memberikan tugas dan ini adalah salah satu contohnya."
(berdiri menghadap peserta kursus)
"Seperti dapat dilihat di sini, gambar ini menunjukkan bahwa di pulau jawa terdapat pengaruh hindu, budha dan islam. Gambar ini bisa dibahas panjang lebar dari berbagai sudut pandang. Tugas untuk Anda sekalian adalah membuat foto yang memiliki cerita sejarah seperti ini. Cukup satu gambar saja untuk berlima"

Suasana kelas diam sejenak.

TENTOR FOROGRAFI
"Ada pertanyaan?"

Kembali kelas diam.

TENTOR FOROGRAFI
"Oke, silakan Anda sekalian berdiskusi mengenai gambar apa yang akan diambil."
(mengambil sebuah kursi, membalik posisi menghadap peserta kursus dan duduk di atasnya)

Para peserta kursus menggeser kursi masing-masing membentuk lingkaran mengikuti kursi TENTOR FOTOGRAFI.

TENTOR FOTOGRAFI
"Ada yang punya ide?"

RICKY
(mengacungkan jari)
"Saya!"

TENTOR FOTOGRAFI
"Silakan, Dik Ricky."

RICKY
"Begini, sewaktu aku ke Candi Borobudur, aku istirahat di Masjid, trus Candi Borobudur keliatan dari situ. Nah, kita bisa ambil gambar mesjid trus latar belakangnya Candi Borobudur ..."

ANGGI
"Ide bagus, cermin budaya generasi instan yang hanya menjiplak."
(menunjuk pada gambar yang ditempel di whiteboard)

RICKY
"Daripada generasinya Mas Satriya, generasi penipu!"

SATRIYA
"Lho, kok bisa?"

RICKY
"Minggu kemaren cerita kalo anaknya yang punya toko 'Restu' gini ... 
(mengacungkan kedua jempol) 
... namanya Salma, eh nggak taunya Salma'un!"

SATRIYA, TENTOR FOROGRAFI, YOSI, ANGGI, CITRA tertawa, sementara RICKY cemberut.

SATRIYA
(menunjuk RICKY sambil tertawa)
"Kamu beneran ke sana?"

RICKY
"Ya, iya lah ..."

YOSSI
"Obrolan sesama jomblo rupanya ..."

Semuanya tertawa.

TENTOR FOTOGRAFI
"Dik Ricky anak pertama ya?"

RICKY
"Iya."

TENTOR FOTOGRAFI
"Wah, bisa bermanja-manja sama para senior."
(menunjuk peserta kursus lain)

RICKY
(menggaruk pipi)
"hehehe ... mumpung."

CITRA
(mengangkat tangan)
"Pak."

TENTOR FOTOGRAFI
"Silakan, Mbak Citra."

CITRA
"Terima kasih. Saya cuma terinspirasi dari idenya Dik Ricky. Bagaimana kalo objek masjid diganti dengan sesuatu yang modern, seperti laptop, ponsel atau IPod."

TENTOR FOTOGRAFI
"Menarik, tapi apa yang akan Mbak Citra ceritakan dari alat modern dan candi borobudur?"

CITRA
(mengangguk-anggukan kepala)
"Ah iya, ... saya nggak kepikir sampai ke situ."

YOSSI
"Wartawati instan ...."

Semuanya tersenyum

TENTOR FOTOGRAFI
"Saya jadi inget sama foto yang menang hadiah Pulitzer, foto seorang anak kecil di Afrika yang tengah menangis kelaparan sambil mengais-ngais tanah mencari umbi-umbian, dan dibelakang anak itu ada seekor burung pemakan bangkai yang hinggap di atas ranting kering. Foto yang sangat dramatis dan membuka mata dunia. Tahu engga, apa yang terjadi kemudian pada wartawan foto-nya?"

Kelas terdiam

TENTOR FOTOGRAFI
"Sang wartawan foto merasa telah mengekploitasi nyawa seorang anak kecil. Dia bunuh diri seminggu setelah menerima hadiah Pulitzer."
(menarik nafas panjang sambil meluruskan duduk)
"Memang. Simbol. Gambar. Bisa memiliki makna yang sangat mendalam dan dapat mengubah jalan hidup kita."

YOSSI
"Seperti simbol swastika-nya NAZI yang bikin gerah Yahudi ..."

TENTOR FOTOGRAFI
"Yah, seperti itulah. Simbol swastika NAZI sudah memiliki muatan sejarah."

SATRIYO
(mengangkat tangan)

TENTOR FOTOGRAFI
'Ya, Mas Satriyo. Silakan."

SATRIYO
"Saya dari tadi berfikir tentang ruang kerja Meneer Spirtus yang waktu jaman Belanda bekerja di pabrik gula. Saat ini kondisinya engga terawat. Bagaimana kalo kita hadirkan perabot-perabot jaman Belanda di ruangan itu, buat nunjukin kejayaan masa lalu  sekaligus kondisinya saat ini."

TENTOR FOTOGRAFI
(mengangguk-angguk)
"Bagus, apakah hanya akan menunjukkan gambar masa lalu dan masa sekarang?"

SATRIYO
"Meneer Spirtus bisa dibilang pembela budaya jawa karena dia sangat senang sama budaya Jawa. Jadi, perabot yang dihadirkan bukan hanya perabot yang berciri Eropa, tapi juga berciri Jawa. Ntar bisa nunjukin kalau pemilik ruangan itu adalah orang Belanda yang yang sangat senang dengan budaya Jawa."

TENTOR FOTOGRAFI
"Bagus, ada yang mau menanggapi?"

ANGGI
"Itu juga sindiran buat generasi Jawa sekarang, kalau orang Belanda aja suka sama budaya Jawa masak orang Jawa jaman sekarang malah justru meninggalkan budaya Jawa."

YOSSI
"Iya yah ... Pamanku yang mau ambil Doktor Sastra Jawa aja harus ke Leiden, bukan ke yu-ji-em."

RICKY
"Yu-ji-em?"

ANGGI
"UGM, UGM."

SATRIYO
"Yah, seperti itulah maksudku."

TENTOR FOTOGRAFI
"Oke, semua setuju dengan ide Mas Satriyo?"

Semuanya mengangguk

RICKY
"Kok namanya Meneer Spirtus, lucu aja."

ANGGI
"Biasanya orang bule lebih seneng kalo dipanggil dengan nama aslinya. Malah justru nama marganya"

SATRIYO
"Itulah uniknya budaya Jawa. Orang Jawa jarang menyebut nama asli orang yang sangat dihormati. Contohnya nama Panembahan Sedo Krapyak yang artinya Panembahan Yang Meninggal di Krapyak. Engga banyak orang Jawa yang tahu nama asli Panembahan Yang Meninggal di Krapyak ini."

YOSSI
"Juga Ngabehi Loring Pasar"

SATRIYO
"That is it."

TENTOR FOTOGRAFI
"Kita perlu datang ke lokasi, jadi kita bisa buat perkiraan ukuran perabot yang cocok untuk pemotretan. Kapan Mas Satriya bisa menunjukkan tempatnya?"

SATRIYA
"Besok? Habis jam kerja tentunya."

YOSSI
"Kita kumpul di depan kantor Dik Satriya aja kalo gitu. Ada warung sotonya top banget."

ANGGI
(kepada RICKY)
"Sotonya, bukan Salma'unnya!"

Kelas tertawa

TENTOR FOTOGRAFI
(Bangkit dari duduk)
"Baiklah, silakan besok melihat lokasinya, kita bicarakan lagi minggu depan. Hari ini pertemuan kita cukupkan sekian. Terima kasih atas kehadirannya, sampai ketemu minggu depan."

TENTOR FOTOGRAFI mendahului keluar dari kelas diikuti peserta kursus. Terdengar pembicaraan antara ANGGI dan RICKI

RICKY (VO)
"Mas, besok aku boceng Mas Anggi ya, motorku mau dipake adiku buat les."

ANGGI (VO)
"Yoh ...."

CUT TO


SCENE 8: INT TOKO BATIK "CANTING" - SIANG
CAST: SATRIYO, PARTINAH, PEMBELI, KARYAWAN LAKI-LAKI 1, KARYAWAN PEREMPUAN 1, KARYAWAN PEREMPUAN 2

Dari balik etalase, PARTINAH yang mengenakan kebaya warna putih tengah melayani seorang pembeli perempuan tua yang mengenakan pakaian kebaya hitam. Ketiga karyawan PARTINAH nampak duduk-duduk di salah satu ujung di balik etalase.

PARTINAH
(mengelus-elus kain)
"Lha niki namung batik cap, kok Bu Harjo. Reganipun langkung murah."

PEMBELI 1
(Ikut mengelus kain)
"Nek dienggo yo ora kepenak, kasar. Yo wangun nek murah."

SATRIYO (OS)
"Assalmu'alaikum"

PARTINAH dan PEMBELI 1 menyahut salam

PEMBELI 1
(Menoeh ke arah Satriyo)
"Wah, anak lanang to! Piye kabare?"

SATRIYO
(berjalan masuk ke balik etalase)
"Sae. Mbah Harjo rak Sehat to?"

PEMBELI 1
"Pandongamu le. Iki lho ibumu, (menunjuk PARTINAH) selak pengen gendong  cucu. Opo ora mesakne."

SATRIYO
(Meletakkan tas dan melepas jaket)
"Lha belum ketemu sama yang cocok, nyuwun pangestune mawon, ben cepet."

PEMBELI 1
"Walah, durung terus, nganti entek pangestuku"

SATRIYO hanya tersenyum sambil meletakkan tas dan jaketnya di salah satu rak kemudian mengambil buku "BLINK" karya Malcolm Gladwell, duduk di atas kursi tinggi, membuka buku di atas etalase dan mulai membaca. Sementara itu terdengar pembicaraan antara PARTINAH dengan PEMBELI 1

PEMBELI 1 (VO)
"Yo wis nduk, aku ngenteni sing batik tulis wae yo."

PARTINAH (VO)
"Inggih, Mangke menawi sampun dugi, Satriyo dalem dawuhi sowan wonten panggenan Bu Harjo."

PEMBELI 1 (VO)
"Wah, maturnuwun banget yo."

PARTINAH (VO)
"Inggih, sama-sama."

PEMBELI 1
(Mengampiri SATRIYO)
"Jan, kamu itu mirip kakekmu, senengnya mbaca buku."

SATRIYO
(menutup buku)
"Lha wong wayahe inggih mbah ..."

PEMBELI 1
"Wis yo, ibumu di jogo si apik."

SATRIYO
"Inggih Mbah, maturnuwun."

PEMBELI 1 meninggalkan toko, SATRIYO memperhatikannya. PARTINAH yang sudah berada di samping SATRIYO mengambil buku dari tangan SATRIYO. SATRIYO membiarkan PARTINAH melihat-lihat buku yang ia baca.

PARTINAH
(mengembalikan buku)
"Walah, boso Landha, iki buku gang opo?"

SATRIYO
"Filsafat."

PARTINAH
"Jarene orang yang seneng filsafat bakal nyari yang sempurna, kamu nyari calon istri yang sempurna po?"

SATRIYO
"Inggih mboten. Filsafat niku malah ngajari ndak ada yang sempurna di muka bumi. Satriyo cuma nyari yang cocok, kok."

PARTINAH
"Yo wis, brarti isih iso ketemu jodo."

SATRIYO
"Inggih, mugi-mugi enggal angsal."

Sebuah mobil pick up berhenti di depan Toko Canting sambil membunyikan klakson dua kali. Bak belakangnya penuh dengan tas berornamen batik.

PARTINAH
(menunjuk ke arah pick up)
"Eh tulung diewangi ngedukake tas."

SATRIYO
"Inggih."

SATRIYO turun dari kursinya dan keluar dari balik etalase dan menuju ke bak pick up bersama para KARYAWAN. SATRIYO menganggakat sebuah tas ....

DISSOLVE TO


BABAK 3

SCENE 9: INT RUANG TENGAK KEDIAMAN TINEKE - SIANG
CAST: TINEKE

TINEKE meletakkan sebuah tas koper besar di lantai ruang tengah. Televisi menyala mempertontonkan acara stasiun televisi Belanda. Di meja rendah di depan sofa, sebuah laptop menyala dengan USB modem yang berkedip-kedip.

Sambil duduk d lantai, TINEKE membuka tas koper, dan mengambil sebuah map. TINEKE memeriksa isi map sekilas kemudian meletakkannya di lantai. Selanjutnya TINEKE mengambil sebuah pigura yang berisi potret Meneer Spirtus dan istrinya menggendong bayi dengan latar belakang lokomotif uap. TINEKE mengamati sekilas, kemudian mengambil pigura lain dari dalam koper. Foto Meneer Spirtus yang tengah berkacak pinggang di depan sebuah lokomotif penumpang dengan latar belakang stasiun dan terlihat kesibukan beberapa penumpang kereta api. Kembali TINEKE meletakkan pigura di atas map yang sudah ia periksa dan mengambil foto yang tidak berpigura dari dalam koper. Kali ini Meneer Spirtus tengah bersandar pada sebuah kepala lokomotif yang lebih kecil tanpa gerbong. Kening TINEKE berkerut melihat foto tersebut kemudian membadingkan dengan foro sebelumnya. Terlihat jelas perbedaan ukuran kepala lokomotif uap di kedua foto tersebut. TINEKE membalik foto yang tak berpigura dan terlihat tulisan kecil di sudut kiri atas "Meneer Spirtus".

Sejenak TINEKE menerawang memikirkan sesuatu kemudian menghadap laptopnya. Ia membuka search engine Google Netherland dan mengetik pada search bar "SUGAR FACTORY EAST INDIES" kemudian mengeklik tombol "search". Tak lama kemudian muncul hasil pencarian Google.  Ia membuka salah satu hasil pencarian Google dan menemukan sebuah artikel tentang pabrik gula di Jawa pada jaman Belanda. Terdapat foto lokomotif pengangut tebu, namun lokomotif itu berbeda dengan lokomotif yang ada di fotonya. Ia memilih lagi salah satu hasil pencarian Google dan membuka sebuah blog yang berjudul "SATRIYA TINARBUKA" yang berbahasa Indonesia. Sebuah artikel berjudul "PABRIK GULA MADUKISMO YOGYAKARTA" dengan sebuah foto kepala lokomotif yang menarik gerbong pengangkut tebu. TINEKE mengambil lembaran foto tanpa pigura dan menyadingkannya di layar laptop. Terlihat bentuk kepala lokomotif tempat Meneer Spirtus bersandar yang sama persis dengan foto lokomotif pengangkut tebu pada halaman web.

DISSOLVE TO

BABAK 4
SCENE 10: EXT JALAN LINTASAN LOKOMOTIF TEBU - SIANG
CAST: SUWITO, MASINIS LOKOMOTIF TEBU

Sebuah kepala lokomotif pengangkut tebu yang sama dengan yang dilihat Tineke, melintas di atas rel yang memotong jalan raya. Kemudian terlihat SUWITO yang tengah mengentikan sepeda menunggu lokomotif tersebut melintas. Dibelakang SUWITO, nampak mobil Ford buatan tahun 1930-an juga menunggu lokomotif melintas. SUWITO dan MASINIS LOKOMOTIF TEBU saling melambai dengan ramah.
Setelah lokmotif berlalu, SUWITO mengayuh sepedanya menyeberangi rel, mobil Ford yang dibelakangnya segera mendahului.


SCENE 11: EXT RUMAH MENEER VAN BROOM- SIANG
CAST: SUWITO, MENEER VAN BROOM, PEMBANTU LAKI-LAKI 1, PEMBANTU LAKI-LAKI 2

SUWITO memasuki halaman rumah Meneer Van Broom dengan sepedanya. Mobil Buick buatan tanun 1930-an terlihat parkir di halaman rumah. Terlihat MENEER VAN BROOM berdiri di teras mengatur kedua pembantunya untuk memasukkan barang-barang ke dalam mobil. SUWITO menyandarkan sepedanya pada sebuah pohon dan berjalan ke arah MENEER VAN BROOM yang memperhatikan kedatangannya.

MENEER VAN BROOM
(Menyambut SUWITO)
"Ah Suwito, Meneer-mu ndak mau ngungsi?"

SUWITO
(Berjalan mendekati MENEER VAN BROOM sambil mengambil amplop di saku baju)
"Iya Meneer, saya disuruh nitip surat buat anaknya Meneer."

MENEER VAN BROOM menunggu SUWITO berjalan ke hadapannya dan menerima amplop yang disodorkan SUWITO.

MENEER VAN BROOM
(membaca sampul amplop)
'Ik tak yakin bisa temuken Olke."
(menatap SUWITO)
"Apa Meneer pernah cerita anaknya?"

SUWITO
"Tidak, Meneer. Cuma tadi sebelum saya berangkat, Meneer bilang kalau anaknya sudah remaja."

MENEER VAN BROOM
(menggeleng-geleng)
"Ik tak paham, apa yang buat Meneer tak mau hubungi keluarganya di Leiden."
(menatap SUWITO)
"Sampaikan ke Meneer, Ik akan usaha temukan Olke."

SUWITO
(Sedikit membungkuk)
"Baik Meneer, saya pamit dulu."

MENEER VAN BROOM
"Ya, hati-hati dan jaga Meneer baik-baik."

SUWITO
"Baik, Meneer. Pareng."

SUWITO meninggalkan teras kemudian menuntun sepedanya keluar halaman ...

DISSOLVE TO


BABAK 5
SCENE 11: INT RUANG TAMU RUMAH SATRIYA- MALAM
CAST: SATRIYA, PARTINAH

Photo Suwito tengah menuntun sepeda dan Meneer Spirtus yang tersenyum di belakangnya, tepasang di ruang tamu rumah SATRIYO. SATRIYO tengah duduk bersandar di kursi sambil memandangi foto tersebut. PARTINAH muncul dari ruang tengah, menyibak gordyn pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah.

PARTINAH
(memasuki ruang tamu)
"Wealah, disini to kamu, Le... Lagi ngopo?"

SATRIYO
(membetulkan posisi duduk)
"Cuma liat fotonya Mbah Kakung sama Meneer Spirtus."

PARTINAH
(duduk di sebelah SATRIYO dan turut memandang foto)
"Tumben .."

SATRIYO
"Satriyo sama temen-temen kursus foto mau buat foto di bekas gudang spirtus."

PARTINAH
(bersandar)
"Kok le aneh-aneh. Enggak ada yang lain yang bisa di photo po?"

SATRIYO
"Ya, tugasnya emang gitu, kok."

PARTINAH
(kembali menatap foto)
"Kalo mau ke Belanda, butuh sangu piro yo? Sepuluh juta cukup ndak?"

SATRIYO
"Lha sing ajeng teng Belanda niku sinten."

PARTINAH
(menepuk pundak SATRIYO)
"Lha ya kamu sama isterimu besok."

SATRIYO
(heran)
"Lha kok saged?"

PARTINAH
"Ini pesen almarhum Bapakmu. Kamu disuruh nyari keluarganya Meneer Spirtus kalo sudah nikah, biar isterimu jadi teman di sana, biar krasan. Lha wong Bapakmu itu ke Belanda waktu kamu masih bayi ditinggal di sini, yo Bapakmu ndak krasan, terus buru-buru pulang."

SATRIYO
"Jadi, dulu itu Bapak belum ketemu, to?"

PARTINAH
"Ya belum, lha wong di sana engga ada yang tahu namanya Meneer Spirtus atau Meneer Klimisen. Tapi jangan bilang-bilang, ndak enak sama tetangga, dikiranya kita ndak tahu terima kasih, lupa sama Meneer Klimisen."

SATRIYO
"Lha ya ndak ada orang Belanda yang namanya Klimisen."

PARTINAH
"Simbah sama Bapakmu itu ndak tahu nama aslinya Meneer Spirtus, cuma kata Simbah, Klimisen, gitu. Trus anaknya namanya Olke Klimisen. Wis tho, ini amanat. Kamu harus tetep ke Belanda, yo. Nyambung silaturahmi, ojo nganti kepaten obor. Sawah yang dulu menghidupi Simbah sama Bapakmu itu pemberian Meneer Spirtus, Toko batik ibu itu juga hasil dari sawah itu. Ojo dadi kacang lali kulite."

SATRIYO
"Nggih, tapi saya nyari dulu lewat internet."

PARTINAH
"Internet kuwi rak kompiuter to? Kompiuter kok nggo nyari orang."

SATRIYO
(mencubit lengan ibunya dengan gemas)
"Hiiih, internet niku mung pados informasi. Pun, Satriyo dolan teng internet rumiyin."
(bangkit dari duduk)

PARTINAH
"Ojo kewengen, sesuk nyambut gawe ..."

CUT TO

SCENE 12: EXT HALAMAN DEPAN WARUNG INTERNET - MALAM
CAST: SATRIYO

SATRIYO memarkirkan sepeda motornya di bawah non box yang bertuliskan "WARNET 24 JAM". SATRIYO melepas helm  kemudian berjalan dan masuk ke warnet.

SCENE 13: INT BILIK WARUNG INTERNET - MALAM
CAST: SATRIYO

SATRIYO duduk di dalam bilik warnet, tangannya menggerakkan mouse kemudian mengetik dan membuka situs layanan e-mail. Terlihat SATRIYO mengisi 'user name' dan 'password'. Setelah halaman email terbuka, muncul icon "1 new Message(s)". SATRIYO segera menge-klik icon tersebut. dan membaca pesannya.

TINEKE (VO)
"Kepada Yang Terhormat Pengelola Blog SATRIYA TINARBUKA. Nama saya Tineke Klinkhamer. Saya sangat tertarik dengan tulisan di blog anda tentang Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta. Dalam artikel itu, ada foto lokomotif tebu. Kebetulan bentuk lokomotif tebu tersebut sama persis dengan foto kakek saya. Foto tersebut saya lampirkan di email ini. Melalui email ini, saya bermaksud menanyakan apakah Bapak/Ibu/saudara pengelola blog mengetahui informasi tentang kakek saya? Saya ingin sekali mengunjungi makamnya.
Perlu saya ceritakan sedikit mengenai kakek saya. Kakek saya bernama Pieter Kerstens Klinkhamer. Dia datang ke pulau Jawa pada tahun 1920 dan bekerja di Perusahaan Kereta Api di Semarang. Beberapa tahun kemudian menikah dengan perempuan Jawa bernama Sri Maryati. Sejak Nenek Sri Maryati meninggal, kakek pindah dari semarang dan tidak lagi menghubungi keluarga di Belanda. Tapi putra kakek, yaitu ayah saya, dibesarkan oleh kakek buyut di Belanda.
Demikian email dari saya, atas bantuannya diucapkan terima kasih. Hormat saya, Tineke."


dan seterusnya ...

04 April 2010

Film: The Divine Fate of Liberalism



Ternyata aku memiliki sejarah panjang juga dalam minat terhadap perfilman.

Berawal dari penggunaan informasi visual berupa gambar-gambar teknik saat studi di Teknik Mesin, aku mulai senang dengan berbgai usaha untuk menyampaikan pesan dengan menggunakan bahasa visual. Karena bahasa visual memiliki kesan yang lebih efektif daripada bahasa tulisan.

Setelah lulus dari Teknik Mesin, bekerja dalam bidang perencanaan. Ternyata penggunaan informasi visual makin penting untuk melaksanakan pekerjaan ini. Bayangkan aja, kita harus dapat mengkomunikasikan rencana pengembangan dengan para karyawan lain yang memiliki beragam latar belakang. Kalo cuma mengandalkan komukasi verbal, dijamin ada banyak perbedaan persepsi antar karyawan dalam menanggapai rencana pengembangan.

Setelah lepas dari perencanaan, aku bekerja di bagian marketing. Di bagian ini, informasi visual menjadi sangat penting. Produk harus bisa dikomunikasikan dengan publik yang ragam latar belakangnya jauh lebih variatif dibanding sekelompok karyawan perusahaan.

Sehingga, pada awalnya aku cuma belajar AutoCAD untuk membuat sistem komunikasi visual yang hanya dipahami oleh orang-orang berlatar belakang Teknik Mesin. Kemudian berkembang kepada animasi yang lebih atraktif menggunakan Flash Macromedia dan animasi 3 dimensi (Visual Nastran).

03 April 2010

Mengundang Realitas yang Tersembunyi

Iklan pada umumnya akan menciptakan realitas palsu, tapi disini aku mencoba mengundang realitas yang tersembunyi.

Ini adalah undangan terhadap realitas yang selama ini menjadi benturan antara modernitas dengan tradisi asli kita yang berbasis pada spiritualisme ...



Sedangkan berikut ini mencoba mengundang realitas yang jauh tersembunyi di dalam nurani, yaitu realitas ketuhanan ....


 Nah klo ini realitas demokrasi:


Ini realitas apaan yah ...



Ada kesalahan di dalam gadget ini