23 Maret 2010

Kebodohan dan Iklan Rokok

"Problems cannot be solved at the same level of awareness that created them."
- Albert Eistein -
Ada banyak iklan anti rokok seperti iklan di atas yang bermunculan di media publik. Memberikan citra bahwa kebiasaan merokok identik dengan kebodohan takkan membuat perokok bergeming. Bahkan salah-salah pembuat iklan anti rokok kayak gini yang justru terlihat tidak cerdas.
Dalam waktu dekat ini, iklan anti rokok akan makin gencar mengingat adanya aliran dana dari Bloomberg untuk kampanye anti rokok. Tak heran jika gerakan anti rokok memasuki ranah religius dengan dikeluarkannya fatwa pengharaman rokok.

Mungkin karena poster kampanye anti rokok tidak dibikin oleh seorang perokok makanya jadi kurang efektif alias tidak mengenai sasarannya. Sebagai seorang perokok aktif, aku bisa mengatakan bahwa kampanye anti rokok itu engga bakal berhasil. Masih terlalu jauh dari struktur kebiasaan merokok orang Indonesia. Entah kalo dana dari Bloomberg berhasil menguraikan struktur kebiasaan merokok, bisa jadi penutupan ratusan pabrik rokok di Kudus Jawa Tengah akan menjalar ke tempat lain.

Memang, produsen rokok saat ini seperti tokoh sinetron yang dianiaya, dimana serial sinetronnya engga pernah selesai seperti sinetron Tersanjung 1 yang berlanjut ke Tersanjung 2, 3, 4 dan seterusnya.

Tapi produsen rokok mungkin engga terlalu kuatir. Kampanye anti rokok sudah ada sejak aku masih Taman Kanak-kanak, tapi toh juga engga berhasil menghilangkan rokok dari bumi Indonesia.

Untunglah, aku tidak dibayar oleh perusahaan rokok untuk melawan kampanye anti rokok. Dengan sentilan kecil, bisa-bisa aku meluncurkan kampanye bahwa kampanye anti rokok adalah kegiatan bodoh .... huahahaha ...

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini