23 Maret 2010

Iklan: Evolusi Kesadaran Manusia FTA ASEAN-China

"Why does this applied science, which saves work and makes life easier, bring us so little happiness? The simple answer runs: Because we have not yet learned to make sensible use of it."
- Albert Einstein -

Fungsi dasar iklan adalah memberitahukan adanya sebuah produk untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi karena produk tersebut harus bersaing dengan produk lain, maka iklan tidak cukup hanya memberitahukan. Iklan harus bisa memberikan nilai tukar, yaitu memberikan image/brand/citra kepada suatu produk kemudian mempertukarkannya dengan nilai di dalam diri para konsumennya.

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi dengan iklan perang tarif antar operator telpon seluler. Perang iklan ini menjadikan mengembalikan iklan ke dalam fungsi dasarnya. Sehingga, iklan pun dibuat tanpa mempedulikan aspek 'branding'. Publik pun akan memilih operator bukan karena citra dari sebuah merk melainkan harganya yang murah.

Perang tarif antar operator ini mulai terjadi sejak diluncurkannya operator seluler berbasis CDMA yang menawarkan tarif lebih murah. Selanjutnya, hampir semua operator segera banting harga tanpa mempedulikan image/citra merk-nya.

Sikap tidak peduli merk ini menjalar ke produk lain, yaitu produk China. Kita tentu ingat, sebelum antar operator ponsel melakukan perang tarif, kita disuguhi dengan motor buatan China dengan merk Jialing. Merk ini mendapat cap sebagai barang murahan dan tidak mendapat tempat di Indonesia. Kini. Made in China bukan lagi barang murahan, seiring dengan membaiknya kualitas produk-produk China.

Walau bagaimanapun, branding yang dibentuk oleh produsen motor dari Jepang terjaga dengan sangat baik sehingga sampai saat ini tak tertembus oleh merk-merk China. Berbagai event digelar untuk menunjukkan perbedaan signifikan antara motor China dengan Motor Jepang. Disinilah letak pentingnya nilai tukar dari image sebuah merk produk.

Namun, China tidak tinggal diam. Pabrik sepeda motor China mengisi pangsa pasar yang tidak diolah oleh produsen sepeda motor Jepang, yaitu sepeda motor roda tiga. Dengan mengisi celah ini, produsen China dapat mulai membangun jaringan after sales service yang kelak akan dapat mengatasi kegagalan merk Jialing.

Tidak hanya merk Jialing, produk alat-alat otomotif kendaraan roda empat juga sudah mulai menguasai pangsa pasar Indonesia. Ini merupakan langkah awal yang hebat sebelum meluncurkan produk kendaraan beroda empat buatan China ke Indonesia.

Mungkin benar kata para leluhur kita, seorang pemburu harus tahu sampai kapan dia harus menunggu ...

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini